MAJALAH TOKOH INDONESIA 16
Susilo BY - Jusuf Kalla:
Presiden & Wapres Pilihan Rakyat
Inilah Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama hasil
pilihan rakyat secara langsung, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla (MJK). Keduanya paduan sepadan
dwitunggal kepemimpinan nasional yang setidaknya merepresentasi
Jawa-luar Jawa dan militer-sipil, sama seperti dahulu Indonesia memiliki
dwitunggal legendaris Bung Karno-Bung Hatta. Keduanya masing-masing
punya share dan portofolio tersendiri menuju Istana Kepresidenan
2004-2009.
Berdasarkan perhitungan dan penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada
Senin 4 Oktober 2004, calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
wakilnya Muhammad Jusuf Kalla berhasil meraih 69.266.350 suara atau
60,62% pada pemilihan presiden putaran kedua 20 September 2004. Pasangan
itu mengungguli Megawati Soerkarnoputri yang berpasangan dengan KH
Hasyim Muzadi, yang meraih 44.990.704 suara atau 39,38% dari total suara
sah 114.257.054. Sedangkan, gabungan suara yang tak sah serta pemilih
yang tak menggunakan hak pilihnya, biasa dikategorikan sebagai golongan
putih, mencapai 35.583.483 suara. Pasangan Megawati-Hasyim Muzadi hanya
menang di empat propinsi yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT),
Kalimantan Barat, dan Maluku. Sedangkan sisanya di 28 propinsi berhasil
dimenangkan oleh pasangan SBY-Kalla.
Kemenangan SBY-MJK menandai efektifitas ‘berkoalisi dengan rakyat’
sebuah wacana antitesa yang sebelumnya dibangun kubu SBY saat berhadapan
dengan kubu Megawati-Hasyim Muzadi yang disebutkan dibangun di atas
sintesa koalisi elit partai. Setelah kemenangan SBY-MJK diketahui,
memang menjadi mudah membenarkan wacana yang sebelumnya berkembang atau
sekaligus menyalahkan wacana lain dari kubu Mega-Hasyim. Seperti, tema
perubahan yang gencar dikumandangkan kubu SBY-MJK, yang bahkan yakin
menyebutkan sekitar 74% rakyat ingin perubahan, sebuah angka yang
dicerminkan oleh persentase pemilih yang tidak memilih Mega-Hasyim,
pasangan yang disebut sebagai pilihan anti perubahan atau status quo.
Kemenangan SBY-MJK juga menandai banyaknya mimpi dan harapan pembaharuan
di tengah kehidupan masyarakat yang masih sulit. Harapan, sebagai sebuah
visi atau mimpi, terkadang lebih indah dan nikmat dibanding tersadar
dalam realitas yang sesungguhnya. Maklum, ini adalah proses politik yang
sebagian orang mengatakan merupakan permainan “seni kemungkinan”.
Ekspektasi masyarakat akan perubahan, hidup yang lebih aman, lebih adil,
lebih demokratis, lebih sejahtera, dan segala nilai lebih lainnya sangat
jitu untuk meraih simpati dan popularitas.
Bahkan hingga masuk ke ukuran praktis, seperti janji dan harapan akan
ada minimal dua orang anggota kabinet berasal dari Aceh, minimal dua
orang anggota kabinet dari suku Minangkabau, empat orang anggota kabinet
diisi kaum hawa, dan beragam janji dan harapan lainnya yang jika
dimatrikulasi memang bisa saja mudah dipenuhi.
Dukungan Rakyat
Menebar janji dan harapan baru tergolong mudah, jauh lebih mudah
daripada mewujudkannya. Segala strata masyarakat di mana pun berada, apa
pun profesi dan tingkatan sosial-ekonominya, dalam hari-hari ke depan
segera akan menagih janji dan menggantungkan harapan kepada pemerintahan
baru. (Kendati yang memilih SBY-MJK 60,62% pemilih namun persiden
terpilih Susilo Bambang Yudhoyono akan mengayomi seluruh warga
masyarakat).
Di antaranya, guru ingin segera naik gaji, petani ingin segera
memperoleh hasil tani lebih, buruh ingin segera naik upah bebas dari
ancaman PHK dan bebas berserikat, nelayan ingin segera menangkap ikan
lebih, murid ingin segera mendapat pendidikan bermutu sedangkan orangtua
inginkan pendidikan anak yang terjangkau, pedagang ingin bebas dari rasa
takut berusaha, petani tebu ingin tak lagi ada gula impor ilegal, kernet
bis ingin mendapat penumpang lebih banyak, tapi penumpang pun tak mau
bersesak-sesak, dan bermacam harapan masyarakat lainnya.
Hal-hal itu masih ditambah harapan yang dibangun berdasarkan kesadaran
kolektif seluruh warga bangsa, seperti keinginan segera hilangnya
korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari bumi pertiwi, pandainya
kepolisian menyidik perkara, kejaksaan tegas mengajukan tuntutan,
pengacara tak menghalalkan segala cara dan tak harus memenangkan setiap
perkara kliennya, hakim adil dan jujur memutuskan perkara, keinginan
kehidupan sosial kemasyarakatan yang pluralis, toleran, damai, bebas
beribadah sekaligus bebas mendirikan gedung ibadah, kehidupan politik
yang lebih demokratis, bebas dari rasa takut (free of fear), pembangunan
infrastruktur jalan, pelabuhan, telekomunikasi, dan listrik yang lebih
memadai, pemerintah pusat yang lebih menghargai pemerintah daerah, dan
masih sederet harapan kolektif masyarakat lainnya. Kemenangan SBY-MJK
adalah pertanda lebih berharapnya masyarakat kepada pasangan ini untuk
mengemban amanah rakyat.
Namun perlu disadari bahwa SBY-MJK bukanlah manusia super, yang bisa
dengan mudah dan cepat memenuhi semua harapan itu. Tanpa dukungan semua
pihak, harapan itu tidak mudah diwujudkan. Karenanya berilah dukungan,
agar pemerintahan baru dapat mewujudkan janjinya.
Yang pasti keduanya tentu tidak terlalu lama larut dalam suasana bulan
madu. Kinerja 100 hari pemerintahan sudah ditunggu-tunggu oleh
masyarakat. Kinerja ini, sangat tergantung pada kemampuan para menteri
sebagai pembantu presiden.
Sementara, siapapun menteri atau pembantu presiden yang diangkat di
sebuah negara demokrasi yang baru tumbuh, seperti Indonesia, pasti
menghadapi resistensi walau sekuat, sepopuler dan seprofesional apa pun
mereka.
Selain itu, janganlah kelak pemerintah menjadi bulan-bulanan di lembaga
DPR, sebab pimpinan dan anggotanya dikuasai oleh kubu “kawan tanding
berdemokrasi” yakni Koalisi Kebangsaan. Namun jangan pula terlalu takut
sebab ada wasit ratusan juta rakyat yang adil menilai. Konstruksi
berbangsa dan bernegara agaknya sudah pas benar jika semua diarahkan
pada kebaikan, jangan mengedepankan syakwasangka dan interest sempit
semata. Belum apa-apa janganlah serta-merta membenturkan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
seolah-olah dirinya paling legitimate dibanding yang lain karena dipilih
langsung oleh rakyat tanpa instrumen pembatas berupa partai politik.
Sebab partai dibentuk sebagai pendiri negara demokrasi di sebuah negara
yang demokratis. DPD ada karena DPR, DPR ada karena partai, partai ada
karena rakyat..
Adalah lebih bijaksana jika semua instrumen dan institusi politik,
ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan, lebih
memberdayakan masyarakat dan swadaya masyarakat. Biarkan masyarakat
tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan kehendak dan janji-janji
Presiden dan Wakil Presiden, yang memang sedang sesuai dengan kehendak
rakyat yang terbukti dalam Pemilu.
Tugas pemerintah lebih ringan sebab hanya mengawasi dan mengarahkan
rakyat semata. Sebab adalah mustahil jika semua persoalan bangsa bisa
diselesaikan sendiri oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih, para
menteri, birokrasi, dan semua institusi resmi lainnya. Tugas pemerintah
adalah lebih melayani. Karenanya, Pemerintah harus kuat agar bisa
melayani rakyat tetapi harus seolah-olah tak ada, atau Pemerintah
seolah-olah tak ada tapi terasakan kuat bentuk pelayanannya. Kepada
Presiden dan Wakil Presiden pertama pilihan langsung rakyat, Presiden RI
ke-6, selamat mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara. ► e-ti/haposan
tampubolon
MAJALAH TOKOH INDONESIA
►24 ►23 ►22 ►21 ►20 ►19 ►18 ►17 ►16
►15
►14
►13
►12
►11
►10
►09
►08
►07
►06
►05
►04
►03
►02
►01
|
|
|
|