|
Volume 08
Gula dan Semut
Setiap hari kami menerima banyak surat, terutama melalui e-mail. Isi dan
maksud surat-surat itu beragam, baik berupa saran, pendapat, pertanyaan
(di antaranya menanyakan alamat tokoh), maupun kritik. Namun keberagaman
dan banyaknya surat itu, bagi kami, memiliki satu hakikat utama yakni
sebagai sumber inspirasi yang sangat berharga.
Setiap surat itu, apa pun isi dan maksudnya, kami maknai sebagai darah
baru untuk membangkitkan semangat kerja dan kreativitas kami.
Banyak surat yang menjadi sumber inspirasi bagi setiap crew, terutama
redaksi TokohIndonesia DotCom. Sehingga dalam rapat redaksi terbaru,
diambil satu keputusan bahwa setiap crew, terutama redaksi, wajib
membaca surat-surat itu setiap hari.
Kepedulian publik atas kehadiran website TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi
Tokoh Indonesia) sangat tercermin dari banyaknya surat yang kami terima.
Kehadiran kami, walaupun hanya ibarat sebuah titik di jagad maya,
tampaknya sudah terasa manis bagi publik. Sehingga banyak harapan, saran
dan kritik, mereka sampaikan.
Kami menyambut dan merespon semua harapan, saran dan kritik itu. Namun,
karena keterbatasan, tidak semua isi surat itu dapat kami penuhi dan
wujudkan. Di antaranya, permintaan informasi mengenai alamat tokoh,
sangat banyak yang tidak bisa kami layani akibat keterbatasan teknis
(data dan daya jangkau kami) dan akibat faktor lain yang lebih strategis.
Begitu pula saran untuk menampilkan sosok, biografi, tokoh tertentu,
sangat banyak kami terima dan banyak yang belum dapat kami layani. Salah
satu tokoh yang disarankan agar biografi dan karya-karyanya ditampilkan
dalam website ini adalah Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun.
Dia disebut sebagai seorang tokoh fenomenal berkaliber dunia. Kendati
ada juga surat yang menyampaikan pendapat berbeda. Salah satu surat itu
kami terbitkan pada edisi ini, yakni dari Sdr Ryutaro. “Saya harap TI
mengupasnya dengan suci,” tulisnya.
Dan, kami juga pantas berbesar hati dan berbahagia, karena tokoh
dimaksud merespon sangat terbuka surat permohonan wawancara kami. Bahkan,
sebelum wawancara kami diberi kesempatan luas untuk meninjau lebih
dahulu ‘setiap sudut’ Ma’had Al-Zaytun.
Sungguh, di situ kami menyaksikan sebuah wujud nyata konsep pendidikan
terpadu yang menempatkan pendidikan sebagai gula dan ekonomi jadi
semutnya.
Setelah menyaksikannya, tidak mudah bagi kami menyampaikan kata yang
bisa menggambarkan keberadaan pondok pesantren ini. Sungguh luar biasa!
Tak berlebihan bila kami menyebutnya sebagai Ponpes (Kampus) Peradaban
Berskala Dunia. Mengenai tokoh pendirinya, beliau adalah Pelopor
Pendidikan Terpadu. Penyajian kami, pastilah masih sangat jauh dari
sempurna, untuk menggambarkan apa, siapa dan bagaimana Ma’had Al-Zaytun
dan tokoh pendiri dan pemimpinnya itu.
Jakarta, Maret 2004
Redaksi
|
|
WAWANCARA
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (6)
Indonesia ini harus masuk dalam
‘zone of peace and democracy’ kalau ingin
menjadi negara yang beradab dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama
dengan negara-negara lain. Demikian Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
pemimpin Ma’had Al-Zaytun dalam percakapan dengan Tim Wartawan
TokohIndonesia DotCom.
|
|