| |
C © updated 26012003
-27042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr kompas |
|
| |
Nama :
KH Zainuddin Muhammad Zein (M.Z.)
Lahir :
Jakarta, 2 Maret 1951
Agama:
Islam
Pendidikan :
S1 IAIN Syarif Hidayatullah
Dr Hc Universitas Kebangsaan Malaysia
Istri :
Hj Kholilah
Putra Putri :
1. Fikri Haikal M.Z.
2. Lutfi M.Z.
3. Kiki M.Z.
4. Zaki M.Z.
Ayah:
Turmudzi
Ibu:
Zainabun
Organisasi
Ketua Umum DPP Partai Bintang Reformasi
Alamat :
Jl Gandaria Gg Haji Aom No.101 Kb Baru, Jaksel
|
|
| |
|
|
|
|
| ZAINUDDIN MZ HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
KH Zainuddin MZ
Terpilih Kembali Pimpin PBR
Jakarta, 27/04/2005: Dai sejuta umat KH Zainuddin MZ terpilih kembali
secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Bintang Reformasi periode
2005-2010 dalam Rapat Pleno Muktamar I PBR, 27/4/2005 petang. Tiga
kandidat lain, Zaenal Ma’arif, Djafar Badjeber dan Ade Daud Nasution
sempat menyatakan kekecewaan, karena menilai pemilihan ketua umum itu di
luar jadwal dan cacat hukum.
Pemilihan dilakukan lebih cepat dari jadwal yang sudah disepakati di
rapat pleno sehari sebelumnya. Menurut jadwal, pemilihan Ketua Umum PBR
dilakukan setelah rapat komisi selesai. Namun pemilihan telah dilakukan
sebelum ada rapat komisi dan tidak dilakukan dengan sistem satu delegasi
satu suara, seperti yang disepakati dalam rapat sebelumnya, tetapi
dilakukan secara aklamasi.
Sementara Zinuddin menilai pemilihan itu berlangsung secara sah dan
demokratis. Pemilihan dipercepat juga atas keputusan muktamar untuk
mencegah terjadinya politik uang. Muktamar adalah forum tertinggi
sehingga bisa mengalahkan AD/ART.
KH Zainuddin MZ
Dai 'Politisi' Sejuta Umat
Dai kondang sejuta ummat, KH Zainuddin MZ, telah memilih jadi politikus.
Ia masuk Partai Persatuan pembangunan (PPP) karena penasaran mengapa
partai berbasis Islam tidak memenangkan pemilu. Namun, tampaknya ia tak
betah berlama-lama di PPP. Ia bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP
Reformasi pada 20 Januari 2002 yang kemudian berubah nama menjadi Partai
Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga
secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini.
Pada saat dideklarasikan, ditegaskan bahwa partai ini dilahirkan bukan
karena haus kekuasaan, tetapi karena concern terhadap demokratisasi dan
keadilan. Bertekad menjadi smiling party dan menyatakan diri tidak
memiliki rasa dendam politik dan dosa masa lalu.
Menurutnya, Partai Persatuan Pembangunan Reformasi (PPP Reformasi) ini
adalah partai baru, bukan pecahan PPP, dan bukan pula PPP jilid dua.
Partai ini bertekad menjadi smiling party, partai berwajah murah senyum.
Selayaknya bayi yang baru dilahirkan, PPP Reformasi menyatakan diri tidak
memiliki rasa dendam politik dan dosa masa lalu. Karena itu pula mereka
bertekad untuk mempererat keutuhan bangsa dengan menata kembali sistem
politik, ekonomi, dan kehidupan demokrasi yang tercabik-cabik akibat
konflik kepentingan elite.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) P3R, KH Zainuddin MZ, menyampaikan
itu dalam pidatonya pada acara Gema Muharam 1423 H, Ta'aruf (Perkenalan)
Nasional PPP Reformasi, dan Tabligh Akbar, Minggu (24/3/02), di Gelora
Bung Karno Jakarta. Acara dihadiri puluhan ribu kader dan perwakilan
pengurus dari hampir seluruh provinsi di Indonesia.
"Seluruh kader PPP Reformasi tampillah dengan smiling. Kita sudah capek
dengan dendam. Siapa pun yang muncul dengan dendam tidak akan
menyelesaikan masalah, tapi malah membawa masalah," seru Zainuddin MZ
disambut gemuruh tepuk tangan para kadernya. Ia juga mengharapkan agar
para kadernya selalu hidup berdampingan dengan semua elemen bangsa,
bersanding, dan bukan bertanding.
Dalam kesempatan itu juga disahkan susunan DPP, Dewan Kehormatan, dan
Pimpinan Majelis Pakar Pusat (PMPP) PPP Reformasi Periode 2002-2007.
Selaku Ketua Umum DPP PPP Reformasi adalah KH Zainuddin MZ dan Sekretaris
Jenderal Djafar Badjeber. Sementara Ketua Dewan Kehormatan adalah
Hibatullah Siddiq, Ketua PMPP adalah Hidayat Syarif, dan Sekretaris adalah
Musni Umar.
Zainuddin MZ dalam pidatonya juga menyerukan bahwa PPP Reformasi bertekad
mewujudkan pemerintahan yang bersih, yaitu dengan menata sistem politik
agar tidak terjadi konflik kepentingan antara kepentingan partai dan
kepentingan rakyat.
Ditegaskan, dalam Anggaran Dasar PPP Reformasi telah dituangkan sebuah
pasal untuk mencegah terjadinya rangkap jabatan oleh para kader partai
yang menduduki jabatan pemerintahan. "Setiap kader partai yang terpilih
menjadi petugas negara diberi waktu enam bulan untuk melepaskan jabatannya
di partai, guna menghindari konflik kepentingan. Kita tidak ingin pemimpin
partai menghadiri acara partainya pakai mobil negara yang dibeli dengan
uang rakyat," serunya.
Zainuddin yakin, rangkap jabatan antara pejabat negara dan pimpinan partai
politik ini yang menyebabkan masalah menjadi rumit. "Konglomerat sulit
ditindak juga karena sudah dipajaki untuk menyumbang partai. Ini yang
menyebabkan negara terseok-seok. Hutan kaya, laut kaya, sumber alam kaya,
tapi rakyat menderita," tegasnya disambut tepuk tangan para kadernya yang
mengenakan seragam serba hijau berlambangkan Kabah dengan lima bintang
yang dilingkari merah putih itu.
Deklarator yang kemudian menjadi Ketua Umum DPP PPP Reformasi ini
menyatakan keprihatinannya terhadap agenda reformasi, dimana lima tahun
agenda reformasi bergulir, agendanya jelas, namun kerjaannya yang tidak
jelas. Ia juga menyinggung soal korupsi yang dikatakannya makin marak. "Ada
teman saya bilang, kalau pada Bung Karno, korupsi di bawah meja, dilakukan
dengan sopan dan malu-malu, sedangkan zaman Soeharto korupsi di atas meja
dilakukan dengan terang-terangan dan sekarang ini mejanya pun dikorupsi,"
tuturnya.
"Rakyat kecil dengan kredit murah Rp 4 juta hingga Rp 5 juta untuk
mengembangkan usahanya di kejar-kejar, sementara yang membobol uang negara
trilyunan rupiah enak saja mondar-mandir ke Singapura," tambahnya. Dari
sisi hukum, masih dirasakan sangat berpihak, kalau orang besar dan banyak
uang punya masalah antre orang membela, tetapi ketika yang kecil tergusur
tidak ada yang membantu. "Para penegak hukum kita lagunya adalah maju tak
gentar membela yang bayar," ungkapnya.
Atas keperihatinan inilah PPP Reformasi lahir atas dasar nilai-nilai
keagamaan, karena selama ini manusia Indonesia hanya diisi otaknya, tetapi
kurang diisi hatinya, sehingga muncul banyak orang pintar cuma sayang
tidak benar.
Masuk Partai karena Penasaran
Sesungguhnya apa yang membuat KH Zainuddin M.Z. dulu bisa terangsang masuk
PPP? Ternyata, jawabannya sepele, sebagaimana dikemukakannya kepada Jawa
Pos. "Karena saya penasaran mengapa partai berbasis Islam tidak
memenangkan pemilu. Ketika ia baru masuk, karena popularitasnya, ia dengan
cepat bisa langsung menempati posisi salah satu ketua DPP.
Namun, tampaknya, itu sekadar cerita masa lalu. Harapan PPP untuk
memanfaatkan dai sejuta umat untuk mendongkrak perolehan suaranya (jadi
vote-getter) yang jeblok pada Pemilu 1999 justru menjadi persoalan baru.
Pasalnya, Zainuddin hengkang dari PPP dan mendeklerasikan PPP Reformasi.
Dengan ketokohan dan senioritasnya, kini Zainuddin tampil sebagai komandan
PPP Reformasi yang sebagian besar diisi kalangan muda PPP. Tapi, dia
menolak jika peran dominannya dinilai datang tiba-tiba. Sebab, katanya,
dia bukan orang baru di PPP.
Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi
anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat
kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes,
sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa
partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya
sebagai vote-getter.
Bersama Raja Dangdut H Rhoma Irama, dia berkeliling berbagai wilayah
mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah -sebelum berganti
gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan mempengaruhi
dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas.
"Akibatnya, kita dapat teror. Saat itu ganas-ganasnya Golkar," tuturnya.
Totalitas Zainuddin buat PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama,
secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga
besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat
itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari
1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara
lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.
Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru
ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB
NU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes
Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik
sebagai kubu dalam NU.
Dai dan Politikus
Dai kondang sejuta umat KH Zainuddin M.Z. makin populer saja. Bukan
sekadar perannya sebagai dai, tetapi juga kiprahnya membidani lahirnya PPP
Reformasi. Bukankah dia dulu pernah alergi dengan politik? Lalu, mengapa
dia kini serius bikin PPP Reformasi? Berikut wawancara wartawan Jawa Pos
Alex Aji Saputra dengan KH Zainuddin M.Z.
Anda kok tiba-tiba menyibukkan diri dengan membidani lahirnya PPP
Reformasi. Bagaimana dengan tugas utama sebagai dai?
Dakwah saya tetap berjalan. Pekan lalu dari Makassar, malamnya ke Bandung.
Lalu, langsung ada kegiatan di Jakarta. Bersamaan dengan harlah (hari
lahir PPP, Red), saya berada di Cirebon dan sekitarnya. Selama dua hari,
lima kali acara paket dakwah. Jadi, dakwah tetap jalan. Orbit saya di situ.
Apakah posisi Anda di dua tempat itu tidak akan membingungkan umat?
Ya, memang ada persoalan. Seorang juru dakwah melihat persoalan masyarakat
dengan kaca mata putih. Sedangkan seorang politisi melihat masyarakat
dengan kacamata hitam putih. Tapi, hingga kini saya masih bisa menempatkan
diri untuk tetap objektif, kapan saya menempatkan diri sebagai juru dakwah
dan kapan sebagai politisi. Anda bisa lihat, di TV tak ada muatan politik.
Saya muncul sebagai juru dakwah. Mudah-mudahan itu tetap bisa saya jaga.
Bagaimana Anda melihat hubungan agama dan politik?
Politik itu pada dasarnya bersih. Seperti pisau, ia bisa memotong leher
ayam, bisa juga leher orang. Bergantung siapa yang memegang. Karena itu,
para pelaku politik harus mempunyai moral politik. Nah, moral yang paling
tinggi itu kan berangkat dari nilai-nilai agama. Jadi, ketika PPP
melandaskan asasnya pada Islam, seharusnya moralitasnya tinggi. Tidak ada
trik, tidak ada rekayasa. Apalagi money politics. Tidak ada keinginan
untuk membesarkan partai dengan kekuasaan.
***
Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau
pers menjulukinya 'Da'i Berjuta Umat'. Suami Hj. Kholilah ini semakin
dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman.
Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke
beberapa negara Asia. Sejak itu, da'i yang punya hobi mendengarkan
lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan
dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan
televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut
'Nada dan Da'wah.
Kemunculan da'i kelahiran Betawi, 2 Maret 1951 ini sangat fenomenal. Pada
masa kekuasaan dan pemerintahan Orde Baru da'wahnya menjadi menarik karena
mampu menembus berbagai sektor, kalangan dan golongan.
Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada
tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka'bah (PPP).
Jabatannya pun bertambah, selain da'i juga sebagai politikus.
Namun kemudian ia merasa terjepit ruang da'wahnya. Maka sejak tahun 1983
ia tidak lagi menggeluti urusan politik praktis. Pernyataannya yang sangat
terkenal saat itu adalah, "Saya tidak ke mana-mana. Tapi, saya ada di
mana-mana." Sejak itulah ia memfokuskan lagi profesinya sebagai da'i.
Anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga
Betawi asli ini sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Udin -nama
panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan
tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. 'Kenakalan' berpidatonya itu
tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di
Darul Ma'arif, Jakarta. Di sekolah ini Udin belajar pidato dalam forum
Ta'limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan
mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya.
Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus
mengalir
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber terutama
Kompas,
Jawa Pos dan Suara Hidayatullah
|
|