| |
C © updated 18032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/pembaruan |
|
| |
Nama:
Dra Hj Tien Santoso
Lahir:
Madiun, 11 November 1950
Agama:
Islam
Suami:
Iman Santoso
Profesi:
Dosen dan Penata Rias
Pendidikan:
- IKIP Jakarta
Karir:
- Pengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah Ikatan
Sarjana Wanita Indonesia, 1976-1984
- Staf Pengajar Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia, 1984
- Dosen Program Studi Tata Rias, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga,
Fakultas Teknik UNJ
- Pendiri dan Pemilik Sanggar Busana Indonesia (SBI)
Penghargaan:
- Anugerah Piagam Bhakti Budaya
- Dharma Budaya
- Kridha Budaya
- Pakarti Budaya
- Bintang Mas ke-3 dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta
- Kartini Award 2004 dari Iwapi
- Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004
|
|
| |
|
|
|
|
| TIEN SANTOSO HOME |
|
|
 |
Dra Hj Tien Santoso
Penata Rias Pengantin
Dra Hj Tien Santoso, pemilik
Sanggar Busana Indonesia (SBI), senang membagikan ilmu baik mengenai
tata rias maupun tata cara adat Jawa kepada semua orang. Perias pengantin dan pemerhati upacara adat Jawa,
kelahiran Madiun 11 November 1950, ini juga aktif sebagai pengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu
Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ.
Perias pengantin putri tokoh- tokoh terkenal dan
artis-artis ternama Indonesia, ini sering kali diundang ke berbagai seminar untuk memperkenalkan metode paes (hiasan
berwarna hitam pada dahi pengantin) proporsional.
Tien yang dipersunting
H Iman Santoso, seorang wartawan, mengaku mengenal tata rias dari ibunya yang senang merias.
Ayahnya seorang tentara, maka waktu SD dia belajar tari bersama
Kristiani (Ani Yudhoyono) di
Bandung yang juga anak tentara. Jadi, Tien dididik dalam lingkungan yang
kental dengan budaya dan disiplin.
Didikan dari kecil itulah yang tampaknya membuat Tien begitu lekat
dengan kebudayaan, baik mengenai upacara adat maupun tata rias
pengantin dalam bingkai disiplin. Sehingga dia berhasil menjadi salah satu penata rias terkenal di Jakarta.
Di rumah sekaligus sanggarnya yang terletak di Jalan Guntur, Jakarta
Selatan, terdapat ratusan foto orang yang pernah menggunakan jasanya
sebagai perias pengantin. Terdapat puluhan bintang film, sinetron,
penyanyi, dan pejabat dalam rangkaian foto-foto itu.
Keahliannya sebagai penata rias, juga disumbangkan kepada para
generasi muda.
Sebelum menjadi dosen tata rias, ia pernah secara suka rela mengajar
anak-anak putus sekolah atas permintaan Prof dr Yetty Rizali Noor yang
waktu itu adalah Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.
Dengan prinsip membagi ilmu tanpa memikirkan uang, ia juga pernah secara
sukarela mengajarkan
tata rias kepada para waria atas permintaan Pemprov DKI. Kala itu, dia
memang memperoleh uang dari DKI, tapi uang itu dia pakai untuk sewa Gedung Santikara di Menteng sebagai tempat para
waria itu belajar. Selain dibekali keterampilan tata rias, para waria
itu juga disediakan makan siang. Sehingga para waria itu bisa bikin salon, pintar make up, potong rambut dan setbagainya.
Dalam profesi sebagai dosen, pada mulanya dia mengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah
Ikatan Sarjana Wanita Indonesia pada 1976. Tahun 1984 lembaga itu menjadi
Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia. Selain itu, dia juga mengajar di IKIP
Rawamangun yang pada 1990 berubah namanya menjadi Universitas Negeri
Jakarta.
Tien mengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu
Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ. Dia menjelaskan, Program tata rias masuk
Fakultas Teknik, karena semua yang dipelajari harus bisa diukur. Di sana
juga ada fisika dan kimia. Ada pengetahuan anatomi, bedah plastik, dan
matematika serta statistik.
Setelah menjadi UNJ, Tien melihat banyak sekali orang yang hanya punya
sertifikat kursus dari Depdikbud atau Pendidikan Luar Sekolah tetapi sudah sukses
di lapangan. Mereka ini mempunyai kesempatan memperoleh master, doktor
atau profesor. Begitu pula mereka yang punya ijazah dari luar negeri.
Sehingga Tien berpikir kenapa tidak buat sertifikasi
dan akreditasi, serta portofolionya, dengan hanya mengambil sekian SKS untuk tingkat sarjana.
Harapkannya itu baru terealisasi pada 2002 yakni S-1 program
khusus tata rias. Kemudian, Tien berharap mereka yang sudah punya gelar S-1 itu akan menjadi pengajar
juga. Dia berpandangan untuk menjadi pengajar (dosen), selain mempunyai
keahlian akademik, dibutuhkan praktisi lapangan
yang qualified sehingga lulusan di bidang tata rias juga lebih baik.
Dia bahagia sebab sekarang di program tata rias UNJ, tenaga pengajarnya
adalah orang-orang
yang qualified di bidangnya. Seperti Make up oleh Andianto spesialis make
up, peralatan listrik untuk kecantikan oleh Ibu Endang Sugiarto, spa
oleh Kusuma Dewi, dan sebagainya.
Dalam usia yang sudah kepala lima, dia m,asih tekun menjalani kuliah S-2 pada jurusan manajemen
pendidikan. Dia masih bercita-cita mendirikan
sebuah sekolah tata rias. Dia berharap dapat kerjasama sama dengan anaknya, Levi
(bernama lengkap Pahlevi Indra Santoso, personel grup band The Fly), yang juga bercita-cita bikin sekolah
musik.
Dalam pengabdiannya, Tien pernah mendapatkan Anugerah Piagam Bhakti Budaya,
Dharma Budaya, Kridha Budaya, Pakarti Budaya, dan Bintang Mas ke-3 dari
Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta, Kartini Award 2004 dari Iwapi,
dan Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber,
terutama Suara Pembaruan Minggu 19 Maret 2006
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|