| |
C © updated
13102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Drs. Theo L Sambuaga
Lahir:
Manado, 6 Juni 1949
Agama:
Kristen Protestan
Isteri:
Dra. Erna Soedaryati Soekardi
Anak:
Eddy Khrisna Patria Sambuaga, MSc
Jerry Adithya Ksatria Sambuaga
Pendidikan:
Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Indonesia (1978)
School of Advanced International Studies (SAIS), John Hopkins University,
Washington DC, AS (1989)
Lemhanas KSA IV (1994)
Pengalaman Organisasi:
Ketua Umum Ikatan Siswa SMAN I Manado
Pimpinan Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Sulawesi Utara (1967)
Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Indonesia (1973-1974)
Pimpinan Pusat GMNI (1970-1976)
Sekretaris Jenderal DPP KNPI (1981-1984)
Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia AMPI (1984-1989)
Anggota Dewan Penasehat Asian Youth Council (AYC) (1987-1992)
Ketua Kelompok Kerja (POKJA) Departemen Hubungan Luar Negeri dan
Cendekiawan (1984-1993)
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar (1993-1998)
Ketua DPP Partai Golkar (1998 – sekarang)
Ketua Pengurus Pusat Badan Informasi Komunikasi (BIK) Partai Golkar (hingga
sekarang)
Pengalaman Kerja:
Anggota DPR/MPR-RI mewakili Golongan Pemuda (1982)
Anggota DPR/MPR-RI Fraksi Karya Pembangunan dari Jawa Timur (1987-1997)
Anggota DPR/MPR-RI Fraksi Karya Pembangunan dari Sulawesi Utara
(1997-1998)
Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) (1987-1990)
Wakil Ketua Komisi I DPR-RI (1990-1994)
Ketua BKSAP (1994-1997)
Ketua Fraksi Karya Pembangunan (FKP DPR-RI) (1997)
Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII (1998)
Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman pada Kabinet Reformasi Pembangunan
(1998-1999)
Ketua Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR-RI
Ketua Komisi A Sidang Umum MPR-RI 1999 yang menghasilkan GBHN 1999-2004
Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR (1999 – hingga sekarang)
Ketua Working Committee AIPO ke-17 di Bali (1997)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Konferensi Parlemen tentang Pariwisata di The
Hague, Belanda (1989)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Konferensi IPU di Kopenhagen, Denmark (1994),
Madrid, Spanyol (1995), Bucharest, Rumania (1995), Istambul, Turki (1996),
Beijing, RRC (1996), Seoul, Korea (1997), Kairo, Mesir (1997)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Sidang Umum Asia Pasific Parliamentary Forum (APPF)
V di Vancouver, Canada (1997)
|
|
| |
|
|
|
|
==
1 2
3 4 ==
Theo L Sambuaga (1)
Pelaku Prinsip
Kemajemukan
Mantan Menteri Tenaga Kerja ini ini pantas dijuluki sebagai seorang
pelaku (teladan) prinsip kemajemukan. Ia teguh dalam prinsip bahwa
kemajemukan adalah kekuatan dan kebersamaan adalah keniscayaan. Prinsip
inilah yang dilakoni dalam jejak langkah perjalanan hidupnya, baik dalam
kehidupan keluarga, terutama dalam karir politiknya. Termasuk, ketika
mantan aktivis mahasiswa ini memilih Golkar sebagai wadah aktivitas
politiknya dan saat berketetapan mengikuti konvensi calon presiden
Partai Golkar.
Ketua DPP Partai Golkar ini berkeyakinan kemajemukan adalah kekuatan
bangsa, bukan kelemahan. Sebab itu, kemajemukan harus dihimpun dan
dikembangkan secara sinergis menjadi kekuatan bangsa. Kemajemukan telah
terangkai menjadi mozaik Indonesia dan keindonesiaan yang sangat indah
sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Mantan Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman ini memang dibesarkan
dalam budaya kemajemukan. Ia lahir dari keluarga etnis Minahasa, yang
beragama Kristen tetapi sejak kecil ia selalu memilih organisasi yang
menampung kemajemukan, seperti Pramuka, GSNI, GMNI, KNPI, AMPI dan
Golkar. Ia selalu ingin bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang
dengannya. Sehingga ketika sudah dewasa, ia sungguh menikmati
kemajemukan atau pluralisme sebagai kekuatan dan anugerah dari Tuhan.
Menurut alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Indonesia (FISIP UI), ini dalam percakapan dengan Wartawan
TokohIndonesia DotCom di rumah kediamannya, Jalan Tjut Njak Dien,
Jakarta, Jumat 10 Oktober 2003, kemajemukan harus dihargai dan
dimanfaatkan menjadi suatu potensi dan kekuatan untuk membangun bangsa
ini. Kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan golongan
atau kelompok, agama, suku, etnik, ras, asal-usul dan budaya. Dalam hal
ini harus terbina kebersamaan yang memadukan hal-hal yang baik dari
semua unsur-unsur kemajemukan itu menjadi suatu kekuatan.
Kemajemukan ini termasuk perbedaan, mendorong untuk menjadi lebih
kreatif. Seseorang bukan dilihat dari suku atau agamanya, tetapi dilihat
dari kemampuan, komitmen dan idealisme membangun bangsa. Kita harus
belajar hidup bersama dalam perbedaan bukan mematikan perbedaan.
Prinsip kemajemukan ini pula salah satu alasan utama ia memilih Golkar
sebagai wadah aktivitas politiknya. Termasuk hal yang mendorongnya
berketetapan untuk mengikuti proses pencalonan presiden melalui Konvensi
Partai Golkar. (Pada awal proses mengikuti Konvensi Partai Golkar, Theo
didukung resmi sebagai Capres antara lain oleh DPD Partai Golkar
Sulawesi Utara, DPD Partai Golkar Sulawesi Tengah, dan DPD Partai Golkar
Gorontalo, serta oleh Ikatan Keluarga Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (IKA-GMNI) yang merupakan unsur kemasyarakatan).
Ia merasa ada sesuatu yang ingin disumbangkan pada negara ini dalam
posisi mencalonkan diri sebagai calon presiden dari partai Golkar.
Pertama, untuk ikut memberikan pilihan kepada rakyat, termasuk dirinya
untuk dipilih oleh rakyat. Kedua, ia merasa harus membangun kepercayaan
baik bagi diri sendiri dan bagi rakyat bahwa siapapun kita, setiap warga
negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama di depan hukum dan
pemerintahan. Jangan khawatir, takut, minder, jangan merasa mempunyai
perasaan minority complex.
“Jadi saya ingin membangun suatu pemikiran bahwa jangan karena agama
kita agama Kristen atau kita orang Manado, terus kita merasa bahwa ini
bukan milik kita untuk menjadi presiden. Harus kita hilangkan pemikiran
begitu. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama,
mempunyai kesempatan yang sama. Mari kita buktikan, biarlah rakyat yang
memilih sehingga kalau dipilih itu bukan karena agama atau suku kita,”
katanya.
Ia yakin rakyat sudah luas wawasannya, kuat komitmen perjuangannya, juga
daya kreatifitasnya sehingga kalau dia memilih, dia akan memilih orang
yang terbaik , yang mempunyai kemampuan memimpin, mempunyai kemampuan
menawarkan pemikiran-pemikiran atau program.
“Mungkin saya tidak akan jadi presiden, jadi calon pun tidak, tapi
setidaknya saya ingin membangun atau menunjukkan suatu perasaan atau
keyakinan di tengah-tengah masyarakat bahwa setiap orang mempunyai hak
dan kewajiban yang sama. Kita pantas untuk dipilih oleh rakyat dan kita
pantas untuk menawarkan diri,” ujar alumni KSA IV Lemhanas 1994 ini.
Ia yakin kalaupun rakyat atau jajaran partai Golkar tidak memilihnya,
itu bukan karena mereka tidak suka, atau bukan karena mereka melihat
bahwa dia beragama Kristen, orang Minahasa, minoritas. “Saya yakin
mereka tidak pilih saya karena ada yang lebih baik dari saya dari sekian
opsi yang ada. Saya hormati itu. Inilah yang Golkar bangun, kesadaran
dan konfidens ini di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan suatu
proses sosialisasi prinsip-prinsip kemajemukan tadi,” ujarnya.
Ia memang tidak menempatkan prinsip kemajemukan itu hanya sekadar
prinsip di menara gading. Tetapi ia mengejawantahkannya dalam setiap
aktivitasnya. Sejak kecil ia sudah ditempa dalam kemajemukan itu.
Pria kelahiran 6 Juni 1949 ini menikmati masa kanak-kanak dan remajanya,
mulai dari SD sampai SMA, di Manado tanah kelahirannya. Theo dibesarkan
dalam keluarga yang sederhana dan menghargai kemajemukan. Ayahnya
seorang pegawai negeri sipil. Sedangkan ibunya, seorang ibu rumah tangga,
yang telaten menjaga dan mendidik delapan anak-anaknya.
Masa kanak-kanaknya sempat diwarnai dengan pergolakan karena perang.
Dalam usia yang masih belia, kelas 2 SD, ia turut menyaksikan
pertempuran Permesta yang berlangsung cukup lama antara tahun 1958-1960.
Waktu itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana para tentara dari kedua
belah pihak tewas berguguran. Ia bersama orang tuanya dan semua penduduk
terpaksa mengungsi ke hutan. Peristiwa ini meninggalkan bekas di hati
Theo hingga dewasa bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar dan jangan
ditiru.
Semenjak SMP, Theo sudah aktif mengikuti kegiatan organisasi Pramuka
tahun 1960-1961. Kegiatan Pramuka yang diikutinya hingga SMA ini,
membawanya mengenal dunia organisasi dan mewarnai karakter dan jiwa
kebangsaannya. Masuk bangku SMA, ia menjadi Ketua Umum Ikatan Siswa SMAN
I Manado (semacam OSIS sekarang), dan aktif memimpin Gerakan Siswa
Nasional Indonesia (GSNI) di Sulawesi Utara (1967).
Tamat SMA di Manado, Theo melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial
Politik Universitas Indonesia tahun 1978. Selama kuliah di Jakarta ia
juga terus aktif berorganisasi tanpa pernah melupakan pesan orang tuanya
untuk tidak mudah menyerah, berani menghadapi tantangan dengan berusaha
keras, bekerja keras dan belajar keras. Pesan ini pula yang selalu
dipegangnya selama hidup ‘menumpang’ di rumah pamannya di Jakarta saat
kuliah hingga tamat dari FISIP UI.
Kegemaran berorganisasi semakin menyatu dalam hidupnya saat ia kuliah di
Jakarta, jauh dari orang tua. Ia terus berkarya hingga mencapai posisi
puncak dalam berbagai kegiatan organisasi dengan menjadi Wakil Ketua
Umum Dewan Mahasiswa (DM) Universitas Indonesia (1973-1974), Pimpinan
Pusat GMNI (1970-1976). Di dunia kepemudaan, ia menjabat Wakil
Sekretaris Jenderal dan kemudian Sekretaris Jenderal DPP KNPI
(1981-1984), Ketua DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI)
(1984-1989), dan anggota Dewan Penasihat Asian Youth Council-AYC
(1987-1992).
Ditahan Tanpa Diadili
Semasa mahasiswa, Theo turut bergabung dengan mahasiswa yang anti TMII.
Sewaktu menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas
Indonesia Theo bersama Ketua Umum, Hariman Siregar ditahan karena
Peristiwa Malari, 15 Januari.
Pada waktu itu demonstrasi yang menolak modal asing masuk ke Indonesia,
khususnya modal Jepang marak. Puncaknya, ketika mahasiwa turun ke jalan
secara besar-besaran berdemonstrasi menolak kedatangan PM Jepang Tanaka.
Namun, aksi ini diboncengi dan disalahgunakan oleh pihak tertentu
sehingga timbul pencurian, pembakaran dan penjarahan yang dimulai dari
Juanda hingga merambat ke Kota dan Senen.
Akibat peristiwa ini, para pimpinan mahasiswa dan beberapa tokoh
masyarakat ditahan karena dianggap bertanggung jawab atas terjadinya
kerusuhan yang dituduh dipicu oleh demonstrasi mahasiswa. Theo sempat
ditahan selama 22 bulan tanpa diadili. Orang yang diadili waktu itu
hanya beberapa orang yakni Hariman Siregar, Aini Halid dari Jogja dan
Syahrir.
Ia bersama kurang lebih 14 pimpinan mahasiswa, termasuk Ray Leimena dari
DM UKI dan beberapa senior seperti Dorojatun Kuncoro-jakti, Marsilam
Simanjuntak, Adnan Buyung Nasution dan Tiap Kian Hin pengacara kondang
waktu itu juga ditahan. Selama 22 bulan, hampir dua tahun, di usia
sekitar 25 tahun, Theo mendekam dalam tahanan hingga akhirnya dibebaskan
tanpa diadili.
Para aktivis mahasiswa yang pernah ditahan ketika itu, dalam perjalanan
hidup berkutnya, umumnya berhasil menduduki jabatan-jabatan penting.
Dorojatun Kuntjoro-jakti menjadi Menko Perekonomian, Marsilam pernah
menjadi Mensekneg. Namun, bila ditelusuri lebih seksama, dari para
aktivis peristiwa Malari waktu itu, Theo masih terbilang paling muda.
Meskipun begitu, Theo menjadi orang pertama dari antara mereka yang
menjadi menteri. Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII
(1998), dan Menteri Negara Perumahan dan Permukiman pada Kabinet
Reformasi Pembangunan (1998-1999).
Selama ditahan, Theo bertemu dengan berbagai macam orang, mulai dari
tahanan politik, jenderal, budayawan, tokoh agama hingga kriminal, Di
tahanan itu ia belajar bahwa segala sesuatu yang diperbuat harus
dipertanggungjawabkan, meskipun ditahan hanya karena dugaan atau fitnah.
Dalam tahanan, Theo semakin menghargai nilai kebebasan, karena di dalam
tahanan ia merasa kehilangan banyak kesempatan untuk berbuat banyak hal
dalam hidup ini, baik bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Selama dalam tahanan, Theo mengisi waktu dengan belajar dan banyak
membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku-buku umum. Ia juga
memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya karena kebetulan di penjara itu
ada beberapa orang guru bahasa Inggris.
Perbedaan latar belakang rupanya tidak menjadi penghalang untuk saling
tolong-menolong di antara para tahanan. Kesadaran untuk tolong menolong
semakin tumbuh melihat kenyataan bahwa sebagian besar dari antara mereka
hanya bisa hidup dari jatah tahanan dan sebagian lagi mendapat kiriman
dari keluarga.
Sekitar tahun 1974-1975 terdapat banyak tahanan yang dituduh terlibat
G30S PKI tidak mempunyai keluarga dan kalaupun mempunyai keluarga mereka
tidak dibesuk. Mereka hanya hidup dari jatah makanan yang jauh di bawah
standar kehidupan layak. Keadaan inilah yang membuat mereka saling
membantu dalam menjaga kondisi kesehatan dan saling menguatkan.
Theo sendiri termasuk beruntung karena meskipun ia jauh dari orang tua,
ia masih mempunyai keluarga di Jakarta yaitu pamannya. Ia juga merasa
mendapat perhatian ekstra dari teman-temannya terlebih lagi perhatian
besar dari pacarnya Erna Soedaryati Soekardi yang kemudian menjadi
isterinya. Waktu itu ia sudah pacaran dengan adik kelasnya itu selama
dua tahun.
Pilih Golkar
Pengalaman pahit dalam tahanan tidak membuat ia kapok. Tidak berapa lama
kemudian, setelah keluar dari tahanan, ia kembali aktif di GMNI. Ia pun
sempat belajar membuka usaha namun keinginan untuk aktif dalam
organisasi mengantarkannya masuk ke KNPI tahun 1978 hingga menjadi Wakil
Sekretaris Jenderal dan kemudian Sekretaris Jenderal DPP KNPI
(1981-1984).
Setahun kemudian, 1979, Theo memutuskan terjun ke dunia politik dan
bergabung menjadi aktivis di Golkar. Apa alasannya memilih Golkar?
“Sewaktu saya terjun ke politik tahun 1978/1979, hanya ada tiga Parpol
yaitu PDI, PPP dan Golkar. Di samping alasan-alasan lain yang lebih
subyektif, mungkin lingkungan saya karena sudah di Golkar. Pilihan lain
bisa ke PDI, di sana banyak teman pada waktu itu, kalau dilihat dari
hubungan historis GMNI, meskipun GMNI sebenarnya independen. Tetapi saya
lihat sebagai satu wadah, PDI waktu itu kurang mempunyai konsep-konsep
dan program-program yang menyentuh upaya untuk mengejar kemajuan. Kalau
PPP, waktu itu mereka hanya menerima kader Islam, sehingga saya tidak
bisa.”
Lalu ia pilih Golkar, karena selain berlatarbelakang kebangsaan juga
menawarkan suatu upaya-upaya pembaharuan dan pemikiran-pemikiran,
konsep-konsep, dan program-program untuk menyejahterakan bangsa, program
meningkatkan partisipasi rakyat dan seterusnya. Golkar menawarkan
doktrin karya-kekaryaan, berideologi Pancasila yang juga sama dengan PDI,
tapi di samping itu dia menjelaskan bahwa membangun itu orientasi kita
kekaryaan, orientasi kepada achievement. “Sehingga saya tertarik masuk
ke situ, walaupun saya juga melihat berbagai masalah yang ada di dalam,”
katanya.
Di lingkungan Partai Golkar, Theo beranjak dari bawah. Mulai dari Wakil
Ketua Pokja Departemen Hubungan Luar Negeri dan Cendekiawan (1984-1993),
Wakil Sekretaris Jenderal (1993-1998) hingga Ketua DPP Partai Golkar
merangkap Ketua Pengurus Pusat Badan Informasi Komunikasi (BIK) Partai
Golkar (1998-sekarang).
Tahun 1982 ia duduk di DPR/MPR RI mewakili golongan Pemuda, dan
selanjutnya terpilih sebagai anggota DPR/MPR RI Fraksi Karya
Pembangunan-FKP (sekarang Fraksi Partai Golkar) dari Jawa Timur selama
dua periode (1987-1997), dan mewakili Sulawesi Utara (1997-1998). Selama
15 tahun lebih di DPR RI, ia duduk di Komisi I yang membidangi Hankam,
Luar Negeri, dan Penerangan, serta dipercaya sebagai Wakil Ketua Badan
Kerja Sama Antar Parlemen-BKSAP (1987-1990) pada umur 38 tahun, Wakil
Ketua Komisi I (1990-1994), dan Ketua BKSAP (1994-1997). Pada 1 Oktober
1997, ia terpilih sebagai Ketua FKP DPR-RI.
Theo mengakhiri tugasnya di DPR RI setelah diangkat sebagai Menteri
Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII (1998), dan sebagai Menteri
Negara Perumahan dan Permukiman pada Kabinet Reformasi Pembangunan
(1998-1999). Pada September 1999, ia mengundurkan diri dari Kabinet
untuk mengikuti Pemilu, dan terpilih sebagai anggota MPR RI mewakili
Sulawesi Utara. Di MPR hasil Pemilu 1999 itu, ia dipilih sebagai Ketua
Panitia Ad-Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR, dan Ketua Komisi A Sidang Umum
MPR 1999 yang menghasilkan GBHN 1999-2004.
Sejak tahun 2000, ia duduk di PAH I dan Komisi A yang membahas Perubahan
UUD 1945, dan menjabat sebagai Wakil Ketua PAH I, dan Wakil Ketua Komisi
A pada Sidang Tahunan MPR 2002 dan 2003. Di MPR, ia juga menjabat
Sekretaris Fraksi Partai Golkar-FPG (1998), dan Wakil Ketua FPG
(1999-2003).
Dalam20 tahun terakhir, ia menjadi narasumber dan peserta di berbagai
seminar dan konferensi yang bertema kepemudaan, politik, hubungan
internasional, keamanan dan pertahanan, ekonomi, lingkungan hidup,
tenaga kerja, pariwisata, perumahan dan permukiman, baik di dalam maupun
di luar negeri.
Sebagai delegasi DPR RI, ia mengikuti Sidang Umum Asean
Inter-Parliamentary Organization (AIPO) di Jakarta (1985 dan 1992),
Kuala Lumpur (1993 dan 1995), Ketua Working Committee AIPO ke-17 di Bali
(1997), Delegasi ke Konferensi Inter-Parliamentary Union-IPU di Sofia,
Bulgaria (1988).
Kemudian menjadi Ketua Delegasi DPR RI ke Konferensi Parlemen tentang
Pariwisata di The Hague, Belanda (1989), Konferensi IPU di Kopenhagen,
Denmark (1994), Madrid, Spanyol (1995), Bucharest, Rumania (1995),
Istambul, Turki (1996), Beijing, RRC (1996), Seoul, Korea Selatan
(1997), Kairo, Mesir (1997), Sidang Umum Asia Pacific Parliamentary
Forum (APPF) IV, Phuket, Thailand (1996), dan Sidang Umum APPF V di
Vancouver, Canada (1997). Bahkan pada Konferensi IPU di Seoul, Korsel
(1997), ia terpilih sebagai Ketua Komisi Politik, Keamanan Internasional,
dan Perlucutan Senjata IPU.
Ia juga hadir sebagai Penasihat Delegasi RI pada KTM COMINAC, Jakarta
(1984), KTT GNB New Delhi, India (1983), KTM GNB Bali (1992), KTM GNB
Bandung (1995), KTT GNB Jakarta, (1996), Konferensi HAM PBB di Jenewa,
Swiss (1993 dan 1994), dan Sidang Umum PBB New York (1983, 1985, 1991,
dan 1995).
Sebagai Ketua DPP Partai Golkar, ia memimpin delegasi pada Konferensi
Internasional Partai Politik Asia Pasifik (ICAPP) I di Manila, Philipina
(2001), dan ICAPP II di Bangkok, Thailand (2002), saat itu ia dipilih
sebagai Standing Committee ICAPP.
Ketika menjabat Menteri Tenaga Kerja, penggemar olahraga tenis dan
renang ini memimpin Delegasi RI pada Konferensi Menteri Tenaga Kerja
ASEAN di Hanoi, Vietnam (1998). Sedangkan sebagai Menteri Negara
Perumahan dan Permukiman, ia terpilih sebagai Presiden Eastern
Organization for Housing and Planning (EAROPH) pada konferensi di Bali
(1998), dan memimpin Delegasi RI pada Sidang ke-17 Commission on Human
Settlements PBB di Nairobi, Kenya (1999).
Dukungan Isteri
Di balik keberhasilannya, Theo tidak lupa dengan seorang perempuan yang
turut berperan dalam kehidupannya. Istrinya, Dra. Erna Soedaryati
Soekardi, sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya karena sejak
mahasiswa hingga berkeluarga, Theo sibuk mencari nafkah dan mengikuti
berbagai organisasi sehingga banyak waktu yang tersita.
Ia bersyukur kepada Tuhan karena 26 tahun berumahtangga, mereka bisa
bertahan melewati berbagai masalah dan berharap mereka sekeluarga bisa
terus melangkah ke masa depan. Meskipun mereka berbeda latar belakang
kultural dan etnis, istrinya dari suku Jawa beragama Katolik dan
mertuanya beragama Islam sedangkan Theo dari Minahasa beragama Kristen
Protestan, mereka tetap hidup rukun. Theo beserta isteri pergi ke gereja
sama-sama, kadang ke gereja Katolik dan kadang ke gereja Protetan, pada
intinya mereka berbakti bersama.
Kalau Lebaran, Theo sekeluarga berlebaran ke mertuanya dan ikut
‘sungkem’ Lebaran. Bila Natal, orang tuanya dan keluarga yang beragama
Islam datang ke rumah. Sambil tersenyum Theo mengatakan bahwa ketika
bertemu pertama kali dengan isterinya, ia tidak bertanya tentang agama
dan sukunya. Baru belakangan ia tahu asal-usul isterinya.
Mereka dikaruniai dua putra, yang paling besar Eddy Khrisna Patria
Sambuaga, MSc berumur 25 tahun, lulusan Master dari School of
Engineering, Standford University, Palo Alto, California, AS yang sempat
bekerja di Silicon Valley AS selama 3 tahun. Ia kini pulang ke Jakarta
dan sudah berada di Jakarta selama dua minggu. Anak yang kedua bernama
Jerry Adithya Ksatria Sambuaga kini menjadi mahasiswa University of San
Fransisco, California, AS.
Theo yang sudah kenyang makan asam garam di dunia organisasi dan politk
mengaku enjoy menjalani kehidupannya sehari-hari. Ia bersyukur atas
berkat dan anugerah yang ia rasakan. Apapun posisinya, jabatannya,
bahkan tidak mempunyai jabatan sekalipun, ia menganggapnya sebagai
berkat yang harus disyukuri dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Itulah
pemikiran yang ia rasakan dan mendapat dukungan dari keluarganya.
Horison Indonesia Baru
Sebagai salah seorang bakal calon presiden dari Partai Golkar ia
merumuskan platform, visi dan misinya di bawah thema Horison Indonesia
Baru. Dalam paltformnya disebutkan bahwa masalah utama Indonesia dewasa
ini adalah kesejahteraan umum yang semakin menjauh dari rasa keadilan
masyarakat, kecerdasan bangsa yang menurun akibat tidak meratanya
kesempatan memperoleh pendidikan, dan martabat bangsa di kancah
internasional yang semakin tersudut.
Kondisi tersebut terjadi karena bangsa Indonesia masih terperangkap
dalam krisis ekonomi berkepanjangan yang mengakibatkan solidaritas
nasional melonggar, pengangguran membengkak, kualitas pendidikan merosot,
kemiskinan meningkat, kepastian hukum tak menentu, serta keamanan dan
ketertiban sosial yang memprihatinkan.
Solusinya adalah kepemimpinan nasional yang tangguh dan berkarya, serta
berdasarkan platform Partai Golkar, mampu menghimpun seluruh potensi
bangsa dan menggerakkan pemerintahan dan pembangunan nasional bagi
terselenggaranya kesejahteraan rakyat serta kemajuan bangsa. Platform
tersebut adalah: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, serta membangun
masyarakat adil, makmur, dan demokratis dalam wadah NKRI berdasarkan
Pancasila.
Sementara visinya adalah penyelenggaraan negara yang maju, modern, dan
demokratis, guna tercapainya kehidupan bangsa yang sejahtera, cerdas,
aman, dan damai dalam wadah NKRI.
Visi itu kemudian dijabarkan dalam tujuh misi yakni: (1)
Menyelenggarakan pemerintahan yang tangguh, berkarya, dan berwatak good
governance dengan mengembangkan demokrasi, civil society, dan otonomi
daerah; (2) Menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta
menyelenggarakan keamanan dan ketertiban sosial; (3) Membangun
perekonomian berbasis pemberdayaan rakyat; (4) Meningkatkan
sarana-prasarana pendidikan dan kesehatan guna meningkatkan kualitas
sumber daya manusia dan mutu kehidupan rakyat; (5) Memberantas dan
menutup peluang segala bentuk penyimpangan dan KKN; (6) Menjaga
keberlangsungan daya dukung sumber daya alam dan kelestarian lingkungan
hidup; dan (7) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif,
mengembangkan lingkungan kawasan yang kondusif, dan memanfaatkan peluang
globalisasi bagi kepentingan pembangunan nasional. =>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Marjuka
- Atur
Lorielcide Paniroy |
|