| |
C © updated 20052008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Jabatan:
Presiden Republik Indonesia
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Alamat Rumah:
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967
|
|
| |
|
|
|
|
Pidato Presiden RI
Satu Abad Harkitnas
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato Peringatan 100 Tahun
Hari Kebangkitan Nasional 2008 mengatakan untuk menjadi bangsa yang
berhasil, ada tiga syarat fundamental yang harus kita bangun dan miliki,
yaitu: Pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian; Kedua,
kita juga harus memiliki daya saing yang makin tinggi; Ketiga, harus
mampu membangun dan memiliki peradaban bangsa (civilization) yang mulia.
Pada kesempatan peringatan puncak 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang
digelar di Gelora Bung Karno Senayan, Selasa (20/5) malam itu, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono mendeklarasikan Indonesia Bisa.
Deklarasi ini ditutup teriakan "Indonesia" dari Presiden SBY, yang
disambut gemuruh massa yang hadir di stadion yang membalas dengan
teriakan "Bisa, bisa, bisa!".
Sebelumnya, Presiden menyerahkan obor di podium kehormatan kepada 2 anak
bangsa yang berprestasi, yaitu Syefrizal Nanda Wardani dari Trenggalek
Jawa Timur, pemenang medali emas internasional olimpiade astronomi, dan
Laila Maughibah dari Bogor, Jawa Barat, pemenang medali emas Wizard
Mathematics International Competititon. Kedua pelajar berprestasi ini
kemudian membawa obor dari Presiden SBY menuju obor besar yang tersedia,
dan kemudian dinyalakan, usai deklarasi "Indonesia Bisa."
Berikut kami sajikan naskah lengkap Pidato Presiden:
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PERINGATAN
100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2008
Jakarta, 20 Mei 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, yang saya cintai dan saya
banggakan.
Hari ini, alhamdulillah, kita semua dapat merayakan hari yang sangat
istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia : 100 Tahun
Kebangkitan Nasional !
Hari ini, dengan hati yang bersih dan jiwa yang terang, kita semua
berdiri tegak sebagai warga negara Republik Indonesia, sebagai bangsa
ke-empat terbesar di dunia, sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia,
sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dunia, dan sebagai negara dan
ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Karena itulah, pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak seluruh
rakyat Indonesia untuk menyampaikan rasa hormat, terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pendiri dan pejuang
bangsa, yang telah mengantarkan kita semua ke tingkat kehidupan bangsa
yang semakin maju dewasa ini.
Di awal abad ke-20, para pendiri dan pejuang bangsa menemukan gagasan
politik baru yang belum pernah digali sebelumnya, yaitu nasionalisme !
Mereka menyalakan dan menyebarkan api itu, dan kemudian mengobarkannya
dalam satu revolusi kemerdekaan yang paling gemilang di abad ke-20, yang
kemudian melahirkan Republik Indonesia Merdeka.
Berkat perjuangan dan pengorbanan mereka, hari ini kita dapat bersatu
dalam tekad dan semangat kebangsaan Indonesia, dari Sabang sampai ke
Merauke, dari Miangas sampai ke Pulau Rote. “Indonesia” yang 100 tahun
lalu hanya mimpi, hanya aspirasi, hanya konsep, kini telah menjadi
kenyataan, menjadi jati diri kita, menjadi negara besar yang kita cintai
bersama. Dan kita semua bertekad, memasuki abad ke-21 ini, Indonesia
dapat benar-benar menjadi bangsa yang maju, yang kuat, dan yang unggul.
Saudara-saudara,
Kita sering dihantui kegamangan, keraguan dan ketidakpercayaan diri,
dalam menjalani kehidupan bangsa yang semakin banyak tantangan, dan
dalam perkembangan dunia yang semakin kompleks.
Kita bertanya, apakah perjalanan bangsa ini telah berada pada arah yang
benar ? Perjalanan besar kita dari tahun 1908, tahun 1945, tahun 2008
ini, dan tahun-tahun mendatang.
Kita bertanya, apakah bangsa kita bisa menjadi Negara Maju (develop
nation) pada abad 21 ini ? Menjadi bangsa yang terhormat, dan tidak
kalah dengan bangsa-bangsa lain.
Kita juga bertanya, ketika sekarang ini bangsa kita sedang kembali diuji
oleh krisis energi dan krisis pangan dunia, apakah kita bisa menghadapi
dan mengatasinya?
Terhadap ketiga pertanyaan itu, jawabannya adalah :
Perjalanan bangsa kita telah berada pada arah yang benar, Indonesia bisa
menjadi negara maju di abad-21, dan krisis energi serta pangan dunia ini
akan bisa kita atasi.
Mengapa ? Karena sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit,
kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, ”Bangsa Yang Bisa” ! Bisa
mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan
mempertahankan kemerdekaan, dan bisa mengatasi berbagai tantangan
sejarah !
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Bangsa kita mulai bangkit pada tanggal 20 Mei 1908, ketika organisasi
Boedi Oetomo didirikan di kampus STOVIA Jakarta. Boedi Utomo merupakan
suatu inovasi politik yang baru. Untuk pertama kalinya, timbul di bumi
Nusantara suatu organisasi modern, dengan cara pandang yang baru dan
beda.
Kelahiran Boedi Oetomo telah menjadi tonggak yang menumbuhkan semangat
perjuangan, sekaligus menjadi inspirasi bagi berdirinya berbagai
organisasi di seluruh pelosok tanah air, baik yang bersifat kedaerahan,
politik, serikat pekerja, keagamaan, kewanitaan, maupun kepemu-daan.
Pada gelombang berikutnya, muncul sejumlah organisasi seperti Sarekat
islam, dan berbagai organisasi lainnya
Hal ini mewarnai awal kebangkitan nasional, dan mencapai puncaknya pada
tahun 1928, dengan bersatunya berbagai kelompok organisasi---khususnya
organisasi kepemudaan---untuk mewujudkan suatu gerakan kebang-saan yang
sejati, melalui Sumpah Pemuda : satu tanah air, satu bangsa, dan satu
bahasa – Indonesia!
Gerakan kaum muda tahun 1908 dan tahun 1928, menandai tonggak-tonggak
awal gerakan kebangkitan nasional Indonesia. Sejak itu, nasionalisme
Indonesia terus berkembang, terus menjalar, dan terus berkobar di
seluruh penjuru tanah air.
Dengan semangat nasionalisme itulah, kita berhasil meraih kemerdekaan
yang kita cita-citakan, pada tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya,
kitapun berhasil memper-tahankan kemerdekaan itu dengan darah, keringat
dan air mata.
Kita juga berhasil menjaga keutuhan negara, dari berbagai ancaman
separatisme.
Kita berhasil mempersatukan kembali Irian Barat.
Kita berhasil menyelamatkan ideologi Negara Pancasila.
Kita berhasil keluar dari krisis moneter yang sangat berat, yang
melahirkan era “reformasi”.
Kita berhasil, dengan penuh perjuangan, membangun dan menghadirkan
demokrasi, yang mengedepankan kedaulatan rakyat.
Kita berhasil menangani dampak bencana tsunami yang maha dahsyat, dan
bahkan kemudian menciptakan perdamaian Aceh yang telah bergolak selama
lebih dari 30 tahun.
Saudara-saudara,
Mengapa kita dapat terus berdiri tegak, dan mengapa kita mampu
menghadapi semua cobaan dan tantangan itu ? Mengapa kita mampu melampaui
masa-masa berat itu, sementara banyak bangsa di dunia yang terpecah
belah, atau runtuh, atau menjadi negara yang gagal (failed state),
karena tidak mampu menahan berbagai badai perubahan jaman yang datang
silih berganti ?
Bangsa Indonesia dapat berdiri tegak karena, pertama, kita mempunyai
semangat perjuangan yang tinggi. Kita tidak pernah mengenal menyerah,
apakah itu melawan penjajahan, melawan ketidak-adilan, melawan
kemiskinan dan kebodohan, serta menghadapi berbagai bencana alam.
Kedua, kita dapat berdiri tegak, karena kita mampu bersatu sebagai
bangsa, sebagai saudara senasib dan sepenanggungan. Dari tahun 1928
sampai tahun 2008, bangsa kita selalu satu ! Ringan sama dijinjing,
berat sama dipikul.
Dan, ketiga, kita tetap berdiri tegak karena kita selalu mampu
beradaptasi di tengah arus perubahan. Setiap generasi, apakah itu
generasi 1908, generasi 1928, generasi 1945, generasi 1966, generasi
1998, masing-masing mampu membaca tanda-tanda zaman, dan mampu mengikuti
angin sejarah untuk kebaikan negara dan bangsa tercinta.
Karena itulah kita bersyukur, karena perayaan 100 tahun Kebangkitan
Nasional hari ini, sejatinya merupakan momentum yang mengikat anak
bangsa Indonesia yang lahir di tiga abad yang berbeda: abad ke-19, abad
ke-20 dan awal abad ke-21, yang terus berjuang untuk membangun masa
depan bangsa yang lebih baik.
Karakter dan kualitas inilah yang menjadi modal utama kita, untuk
melanjutkan tahapan perjuangan bangsa kita di awal Abad ke-21 :
melangkah ke depan, menuju negara maju !
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Tantangan yang kita hadapi untuk mencapai tujuan mulia ini, memang lebih
berat dan lebih kompleks dari tantangan yang kita hadapi di masa lalu.
Oleh karena itu, untuk menjadi bangsa yang berhasil, ada tiga syarat
fundamental yang harus kita bangun dan miliki, yaitu:
Pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita, karena
kemandirian adalah dasar dari kekuatan, ketahanan dan kemampuan kita
untuk terus maju sebagai bangsa. Kita tidak boleh memiliki
ketergantungan yang tinggi, terlebih secara absolut kepada bangsa lain,
kepada negara lain, kepada pihak lain, kepada dunia. Kita ingin, makin
ke depan, dengan sumber daya yang kita miliki, baik sumber daya alam,
sumber daya manusia, infrastruktur, teknologi, pengalaman membangun,
warisan sejarah dan berbagai potensi yang ada lainnya, kemandirian kita
sebagai bangsa dapat terus kita tingkatkan. Kita harus bisa menjadi
bangsa yang dapat menyediakan sendiri, sebagian besar kebutuhan dasarnya.
Bangsa yang tidak terjerat dalam hutang yang memberikan beban yang berat.
Bangsa yang tidak didikte, baik secara politik, ekonomi, maupun militer
oleh negara manapun. Dan bangsa yang memiliki kebebasan dan kemandirian
dalam menjalin kerjasama internasional yang adil dan konstruktif.
Kedua, kita juga harus memiliki daya saing yang makin tinggi. Dalam era
globalisasi yang sarat dengan persaingan dan tantangan ini, meskipun
sesungguhnya juga membuka peluang dan kerjasama, bangsa yang menang dan
unggul adalah bangsa yang produktif dan inovatif, mengua-sai ilmu
pengetahuan dan teknologi, cerdas mengambil peluang, serta berani
menghadapi perubahan.
Persyaratan fundamental yang ketiga adalah, kita harus mampu membangun
dan memiliki peradaban bangsa (civilization) yang mulia. Itulah sebabnya,
kita perlu terus mempertahankan nilai, jati diri dan karakter bangsa
kita yang luhur dan terhormat. Kita perlu terus meningkatkan semangat
dan ethos kerja sebagai bangsa yang kuat dan gigih, dan bukan bangsa
yang lemah dan mudah menyerah. Kita terus membangun peradaban yang
menghadirkan persaudaraan dan kerukunan bangsa, serta peradaban yang
memperkuat tanggung jawab untuk memelihara kelestarian alam. Dalam
menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk selalu
mengedepankan cara-cara yang damai, beradab dan demokratis, bukan dengan
cara-cara kekerasan dan mengabaikan pranata sosial dan pranata hukum.
Kita harus menjaga ke-Indonesia-an kita, kebangsaan kita, dalam dunia
yang semakin tidak menentu, semakin gaduh, semakin panas, dan semakin
penuh sesak.
Dengan tiga kekuatan utama ini – kemandirian, daya saing dan peradaban
bangsa yang tinggi - saya yakin Indonesia akan mampu menghadapi berbagai
tantangan dan cobaan, betapapun beratnya, apapun bentuknya dan dari
manapun datangnya. Dan dengan tiga kekuatan ini pula, kelak kita akan
menjadi negara yang maju dan unggul.
Saudara-saudara,
Dewasa ini, bangsa kita tengah menghadapi tantangan yang berat, yang
semuanya berasal dari luar. Dunia kini dihantui oleh krisis pangan,
krisis energi, dan ancaman resesi ekonomi.
Semua ini, suka atau tidak suka, akan berdampak bagi Indonesia, karena
kita adalah bagian dari sistem perekonomian dunia. Kitapun telah
sama-sama merasakan persoalan yang berat ini. Namun saya yakin, kita
dapat mengatasinya, jika kita terus berikhtiar mencari solusi, selalu
tabah, dan tetap bersatu.
Untuk itulah, menghadapi krisis energi dan pangan dunia ini, mulai
sekarang dan ke depan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, untuk
terus meningkatkan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan
ekonomi kita.
Ke depan, apapun tantangannya, kita harus terus mempertahankan dan
memperkuat tiga kekuatan bangsa tersebut : kemandirian, daya saing, dan
peradaban bangsa. Insya Allah, dengan terus meningkatkan ketiga kekuatan
bangsa itu, kita akan dapat melangkah maju, menuju Indonesia yang aman,
damai, adil, demokratis dan sejahtera.
Kita semua tahu, bahwa bangsa-bangsa besar di dunia selalu mau dan mampu
secara sungguh-sungguh belajar dari sejarah masa lampaunya. Saya sungguh
yakin, bahwa bagi bangsa yang besar, semakin jauh ia menempuh perjalanan
sejarah, semakin dekat bangsa itu pada visi dan cita-citanya. Hari ini,
20 Mei 2008, 100 tahun setelah bangsa Indonesia bangkit, dan setelah
berjuang satu abad lamanya, kita semua patut bersyukur, kita dapat
mewujudkan banyak capaian dan kemajuan, yang makin mendekatkan kita pada
cita-cita para pendiri bangsa.
Oleh karena itu, tepat kiranya jika tema besar yang diusung dalam
peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini adalah; “Indonesia Bisa”.
Sebagai bangsa yang besar, kita harus optimis menatap masa depan, karena
kita hidup dalam abad ke-21 yang penuh dengan segala kemungkinan dan
peluang. Bangsa kita memiliki kemampuan dan bisa mengubah nasib dan masa
depan kita, serta bisa menjadi negara maju, unggul dan sejahtera. Oleh
karena itu, saya mengajak saudara-saudara, marilah kita terus berjuang
bersama, melangkah bersama, dan bekerja keras bersama, untuk meraih masa
depan Indonesia yang gemilang.
Marilah kita lanjutkan reformasi, untuk terus mengem-bangkan demokrasi,
menegakkan hukum, membangun sistem yang bersih, menggiatkan pembangunan
daerah, dan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Kepada masyarakat dunia, saya juga menyerukan dan mengajak untuk
bersama-sama mewujudkan tatanan dunia yang lebih damai, lebih adil, dan
benar-benar membawa kemakmuran bagi semua bangsa, dan bukan hanya bagi
segelintir bangsa. Keadilan sejati pada tingkat dunia harus dapat kita
wujudkan.
Akhirnya, marilah kita berdoa ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga
bangsa dan negara kita senantiasa diberikan kekuatan dan semangat juang
yang tinggi, untuk tetap kukuh sebagai bangsa, dalam naungan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Sekian. Majulah Indonesia !
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 20 Mei 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |
|