A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 06062006  
   
  ► e-ti/kps  
  Nama:
Prof dr Supartondo, SpPD, KEMD, KGer
Lahir:
Purwakarta, 7 Mei 1930

Ayah:
Soeparman Partoamodjo
Ibu:
Soemani Mertohadiwinoto

Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1959)
- Spesialis Penyakit Dalam (1964)
- Zweite Mediz Klinik, Universitas Muenchen, Jerman (1966-1967)
- Konsultan Endokrinologi (1970)
- Medical Education University Illinois, Chicago, AS (1973)

Pekerjaan:
- Bagian Kimia organik FKUI (1953-1956)
- Asisten Mahasioswa Bagian Ilmu Penyakit Dalam (1956-1959)
- Dokter di Bagian Ilmu Penyakit Dalam (1959)
- Kepala Subbagian Metabolik Endokrin (1970)
- Anggota Tim Konsorsium Ilmu Kesehatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
- Kepala Bagian Ilmu Penyakit Dalam (1985-1993)
- Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam (1988)
- Pensiun, guru besar emeritus (1995)
- Ketua Tim Terpadu Geriatri RS dr Cipto Mangunkusumo (2006)

Organisasi:
- Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (sampai 2000)
- Penasihat Pengurus Besar Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia
- Wakil Ketua Persatuan Gerontologi Medik Indonesia

Penghargaan:
Perintis Pengembangan Geriatri dari Menteri Kesehatan RI (1998)
 
 
     
 
SUPARTONDO HOME

 

Prof dr Supartondo, SpPD, KEMD, KGer

Melayani Berlandaskan Empati


Di kalangan rekan sejawatnya, Prof dr Supartondo, SpPD, KEMD, KGer dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada layanan holistik untuk pasien. Dokter kelahiran Purwakarta, 7 Mei 1930, itu sangat memerhatikan efektivitas pembiayaan layanan kesehatan, komunikasi antara dokter dan pasien berlandaskan empati yang pada akhirnya merupakan bagian dari etika profesi, serta menaruh perhatian besar pada pendidikan.


Meskipun telah pensiun sebagai guru besar, Prof Supartondo,  masih mengajar mata ajaran komunikasi untuk mahasiswa kedokteran tingkat IV FKUI. Bahan untuk kuliah interaktif ini banyak diambil dari kejadian di masyarakat, antara lain seperti yang diungkap surat kabar.

 

Pada usianya yang sudah 70-an tahun, Prof Supartondo masih menunjukkan perhatian yang besar terhadap persoalan aktual seputar kita, mulai dari mutu ujian akhir nasional, sinetron yang mengajarkan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan dan etika kedokteran, hingga pengembangan subbagian geriatri di FKUI.


Anda masih mengajar komunikasi antara pasien dan dokter?
 

Seorang calon dokter harusnya mendapat pendidikan dasar, artinya pendidikan di keluarga, yang menguntungkan. Sayangnya tes masuk ke pendidikan kedokteran hanya berdasarkan kecerdasan.


Saya pernah bertemu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas New South Wales yang mengatakan penerimaan mahasiswa kedokteran di kampusnya ditambah ujian wawancara dengan penguji dari wakil masyarakat. Bila dalam wawancara seseorang dinilai tidak memiliki kepedulian, empati, atau rasa kasih sayang, maka pasti tidak akan lulus meskipun nilai kecerdasan memungkinkan untuk diterima.


Bagaimana pendidikan profesi dalam hubungan dokter dengan pasien?


Saya dan Prof Samsuridjal (Djauzi) menganggap pendidikan harus tidak semata-mata mengutamakan ilmu, tetapi juga komunikasi, empati, dan itu berhubungan dengan etika profesi. Etika profesi tidak bisa dipelajari hanya dari bukunya Ikatan Dokter Indonesia.


Empati hanya muncul dari bawah, dari komunikasi. Untuk mengetahui keadaan pasien bukan hanya dari jawaban yang diungkapkan pasien, tetapi juga dari (ekspresi) wajahnya. Cocok enggak dengan jawabannya. Komunikasi itu untuk mengetahui jawaban, dari situ kita mengembangkan empati.


Tidak semua orang memiliki empati. Apakah bisa diajarkan?

 

Secara teori bisa, tetapi untuk dapat menguasai penuh perlu ada landasannya. Landasan itu didapat ketika orang pernah merasakan kasih sayang. Sebab itu, memang harus dikembalikan ke pendidikan dasar, yaitu keluarga.


Kenyataannya, sering muncul keluhan dokter tidak mau berkomunikasi dengan pasien?


Memang, di Indonesia, tergantung kesibukan masing-masing dokter. Dulu, ketika masih ada Inpres, Dokter untuk ditempatkan di puskesmas di desa-desa. Kelemahannya, mereka harus sering rapat dengan bupati sehingga terpaksa meninggalkan pekerjaannya di puskesmas.


Saya lalu usulkan kepada Menteri Kesehatan supaya di puskesmas jangan hanya satu dokter. Dengan begitu, bila salah satu dokter ikut rapat tetap ada dokter yang menunggu di puskesmas.


Sekarang pemerintah mau menghidupkan kembali posyandu untuk menangani kesehatan ibu dan anak. Jika mau dihidupkan lagi, pemerintah jangan mengira zamannya masih seperti dulu. Sekarang pengurus posyandu harus diberi honor karena mereka juga susah hidupnya. Mereka memerlukan uang untuk menopang hidupnya.


Saya saja susah kok. Pensiun saya hanya Rp 1,3 juta per bulan sebagai penghargaan negara kepada guru besar. Maka dari itu, saya masih terus praktik di rumah, tiga kali seminggu.
Saat peluncuran bukunya yang berjudul Supartondo Sebagai Dokter, Guru, dan Sahabat. Pemikiran dan Pandangan dalam Bidang Pendidikan Kedokteran, Prof Supartondo minta diputarkan lagu Ismail Marzuki yang bercerita tentang kampung halaman.


"Teman-teman terkejut ketika saya minta diputarkan lagu Ismail Marzuki sebab mereka tahunya saya penggemar jazz. Jazz yang standar, bosanova. Tetapi, saya juga menggemari Ismail Marzuki," tuturnya.


Kenangan pada masa kecil begitu membekas dan dituangkan Prof Supartondo di dalam bukunya. "Ayah ahli teknik dan orang Indonesia pertama yang ditugasi mengepalai Bendungan Sungai Citarum di Walahar, sebuah desa di dekat Kawarang," kata Prof Supartondo.


Anak ketiga dari 10 bersaudara ini, seperti ditulis oleh adiknya, Suparjitno, di dalam biografi, sangat dekat hubungannya dengan saudara-saudaranya.


Apa yang membuat Anda memutuskan menjadi dokter?


Awalnya saya ingin jadi ahli bahasa, saya menguasai bahasa asing Inggris, Jerman, dan Belanda. Tetapi, yang benar-benar mendorong saya ingin menjadi dokter adalah ketika Belanda menyerang Indonesia. Orangtua saya mengungsi ke kampung-kampung, saya tidak ikut mengungsi.


Saya bersama teman-teman membentuk semacam palang merah. Kami mengobati orang- orang, obatnya sederhana, kami dapat dari rumah sakit tentara.


Saya bertemu anak perempuan berumur tiga tahun, anak kepala desa, yang kepalanya gundul karena ada luka. Saya memberi salep yang dibuat dari dua takaran salisil dan empat takaran belerang. Ternyata luka itu sembuh seminggu kemudian. Saya merasa senang bisa menolong orang dan lalu ingin menjadi dokter. Waktu itu saya kelas I SMA, tahun 1948. Ketika keadaan sudah memungkinkan, saya meneruskan ke SMA di Bandung.


Lalu meneruskan ke FKUI?


Waktu kuliah di kedokteran sangat menyenangkan. Jika sedang tidak senang dengan mata kuliah, kami bisa pergi naik trem ke Pasar Baru untuk nonton film. Dulu, tidak ada absen untuk mata kuliah, tetapi wajib ikut praktikum. Sistem kuliah saat itu membolehkan mahasiswa menentukan sendiri kapan dirinya siap ujian. Jika merasa siap, mahasiswa bersangkutan dapat mengajukan diri.


Sistem perkuliahan sekarang memakai sistem terpimpin. Pendidikan diselesaikan dengan kuliah yang dipadatkan sekali. Kekurangan sistem ini adalah calon dokter tidak diberi landasan agar memiliki kemampuan berkomunikasi dengan pasien. Padahal, dari situlah awal untuk menerapkan etik kedokteran, bukan dengan menghafal pasal-pasal Kode Etik Kedokteran.


Bagaimana dengan globalisasi?


Dunia pendidikan mengalami gangguan besar, yakni globalisasi yang mengutamakan keuntungan. Institusi pendidikan terkena imbasnya. Tidak bisa menyalahkan mahasiswa jika mereka tidak sesuai yang diingini masyarakat sebab mereka juga membayar mahal untuk jadi dokter.
Jadi, saya bersama dengan Prof Syamsuridjal ingin membuktikan apakah kita masih mampu menghasilkan SDM yang cocok dengan kebutuhan kita yang banyak ragam budayanya.


Misalnya di Fakultas Kedokteran tidak diajarkan antropologi, padahal seorang dokter bisa ditempatkan di daerah yang berbeda dari daerah asalnya. Tetapi, harus diakui antropologi memang tidak mudah untuk diajarkan.


Perubahan dari kurikulum yang bebas menjadi kurikulum terpimpin dikendalikan Consortium Health Sciences (CHS). Sayangnya, CHS bubar. Kegagalan terjadi saat CHS ingin menerapkan konsep pendidikan yang baru, yaitu problem base learning. Konsep tersebut mirip dengan konsep pendidikan umum, yaitu pendidikan berdasarkan kompetensi. Konsepnya mengajak mahasiswa mencari jalan keluar untuk menangani suatu masalah yang telah ditetapkan.


Namun, problem base learning kami terapkan di bagian geriatri RSCM. Pasien yang mengalami beberapa penyakit sekaligus harus disusunkan prioritas penyakit mana yang mau ditangani lebih dulu.


Di sini mungkin bukan untuk menyembuhkan, terutama bila penyakitnya sudah lama. Kita mencari yang diprioritaskan atau penyakit yang paling terakhir dialami.


Jadi, sebenarnya juga diterapkan cost effectiveness. Kelihatan betul dokter yang tidak menerapkan cost effectiveness, penanganan pada pasien tak memakai skala prioritas penanganan. Tetapi, bukan berarti harus memilih pengobatan termurah. Pendekatannya pengobatan harus dengan penanganan paling baik dan mungkin bisa mahal.


Perhatian Prof Supartondo pada bidang geriatri dipicu ketika pada akhir tahun 1980-an Menteri Kesehatan mendesak FKUI mulai memerhatikan masalah penanganan orang usia lanjut. Dia ikut merintis pengembangan keilmuan dan berdirinya subspesialis geriatri di bagian penyakit dalam FKUI. Untuk itu, dia mendapat penghargaan pemerintah melalui Menteri Kesehatan sebagai pelopor ilmu geriatri bersama-sama almarhum Prof Dr Boedhi-Darmojo, SpPD, KGer.


Dia banyak membaca buku dengan beragam topik, antara lain sejarah Nusantara. Biasanya dari buku yang dia baca akan lahir sebuah inspirasi dan itu akan dibagikannya kepada rekan sejawat, kadang dalam bentuk pertanyaan yang menggugat sistem yang ada.


Bagaimana perkembangan penanganan medis geriatri di Indonesia?


Pada tahun 2020, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia akan menjadi yang terbesar di ASEAN. Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan dokter spesialis untuk melayani puluhan juta orang usia lanjut itu. Karena itu, ujung tombak yang dapat diandalkan adalah dokter umum, perawat, dan pengurus panti yang memang harus ditatar terlebih dahulu.


Bahkan, keluarga harus tahu kalau orangtua tidak mau keluar dari tempat tidur jangan dianggap biasa. Hal itu harus dicermati karena mungkin ada tambahan penyakit baru. Orang usia lanjut perlu perhatian khusus karena tidak punya daya cadangan. Jadi, kalau ada penyakit harus segera ditangani oleh dokter.


Bagaimana orang Indonesia mempersiapkan kesehatan hari tuanya?


Orang makin tua tidak berarti harus makin sakit-sakitan. Tetapi, yang punya penyakit kronis seperti penyakit gula memang harus lebih berhati-hati.


Bagi mereka yang sehat, hal yang dapat memengaruhi kualitas hidup adalah gaya hidup. Misalnya, merokok atau tidak berolahraga.


Kami membuat subspesialis geriatri dan diikuti lahirnya Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia. Konsep kami, manusia terdiri dari bidang jasmani, psikologi, dan sosial. Untuk menangani pasien secara utuh, komunikasi dokter-pasien harus mencakup tiga hal itu.


Saat ini dokter masih banyak dikritik masyarakat?


Saya mencoba kontak dengan teman-teman dan bersama-sama mencoba membangun critical mass dan mencari jalan keluar. Beberapa teman punya posisi di organisasi profesi. Saya pesan agar program seperti ini dimasukkan ke dalam kolokium, yaitu kemampuan profesi yang terus harus dapat dipertahankan.


IDI punya organ yang mengusut keluhan masyarakat. Sering juga masyarakat punya pengertian yang tidak tepat mengenai mal praktik.


Sayangnya, dokter, ketika melakukan suatu tindakan operasi, misalnya, tidak menjelaskan risiko tindakan itu. Hal ini merupakan masalah komunikasi, dokter tidak punya waktu berkomunikasi.


Saya sering mengatakan, pasien juga punya hak. Kalau ini menjadi standar di rumah sakit negeri maupun swasta, yaitu menjelaskan risiko suatu tindakan, maka risiko ditanggung bersama.


Namun, kita juga harus meningkatkan kemampuan profesional kita supaya tidak setiap kali orang pergi ke luar negeri.


Bagaimana agar dokter mau menyediakan waktu buat pasien?

 
Ada satu buku yang saya sukai, yakni tentang konsep spiritual quotient (SQ). Disebutkan, semua orang memiliki SQ, tetapi beberapa orang tidak mengembangkannya.


Padahal, kalau kita berhasil mengembangkan SQ, bukan hanya kita suka menolong, bahkan seseorang menjadi bertanya untuk apa berada di dunia.


Pernah bertanya untuk apa berada di dunia?


Saya belum sampai ke sana, tetapi mungkin baru menjawab mau berbuat apa di dunia ini. Mudah-mudahan saya sampai ke sana walaupun tidak selalu harus dijawab. (Kompas, 4 Juni 2006, Buyung Wijaya Kusuma/ Dahono Fitrianto)  ►e-ti

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)