| |
C © updated
08092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof. Dr Suhardiman, SE
Lahir:
Surakarta, 16 Desember 1924
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Dewan Penasehat Depinas SOKSI
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan
- Jalan Iskandarsyah Raya 97, Jakarta Telp: 713731- 734913
Alamat Kantor:
SOKSI
Gedung Basmar Plaza , Lt 3
Jl. Mampang Prapatan Raya No 106
Jakarta Selatan 12760
Telp. (021) 798 1883
Faks. (021) 797 0985
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman, SE (09)
Perlu Reformasi Jilid Dua
DR Suhardiman pendiri Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)
sering disebut sebagai dukun politik. Hal ini terutama dikaitkan dengan
seringnya dia membuat geger dengan ramalan-ramalan politiknya yang
kemudian terbukti terjadi.
Itu tentang Satrio Piningit misalnya, pertama kali dilontarkan oleh
mantan Wakil Ketua DPA tersebut, dan hingga saat ini masih menjadi bahan
perdebatan yang seru. Tokoh misterius yang menurut Suhardiman akan
muncul setelah era Pak Harto, dan akan membawa bangsa Indonesia ke zaman
kemakmuran, ternyata sampai saat ini belum juga menampakkan diri.
Bukankah yang dimaksud SBY? Suhardiman menampik kesimpulan seperti itu.
Karena itu, Suhardiman menjadi sosok kontroversial dalam pentas politik
di tanah air. Suhardiman seorang politisi yang cukup disegani. Walaupun
di tataran kekuasaan, jabatan tertinggi yang pernah dipegangnya hanyalah
sebagai wakil ketua DPA, tapi posisi politiknya kadang kala lebih tinggi
dari jabatan menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara lainnya.
Menjelang ulang tahunnya yang ke 82, Tokoh Indonesia melakukan wawancara
khusus dengan Suhardiman. Berikut ini cuplikannya:
TOKOH INDONESIA (MTI): Usia Anda, bulan 16 Desember 2006 genap 82
tahun. Apa yang Anda lakukan sehingga tetap tampak segar dalam menjalani
usia senja?
SUHARDIMAN (SHD): Melakukan olah pernafasan, hirup dalam-dalam,
tahan, lalu embuskan keluar. Kenapa? Pernafasan ini sangat penting
karena hidup kita dimulai dengan bernafas. Saat meninggal pun, kita juga
mengeluarkan nafas. Jadi kuncinya pernafasan. Dalam kehidupan ini, konon
oleh Tuhan, kita sudah dibekali sekian juta nafas yang masuk-keluar.
Saya juga melakukan Orajira, olahraga jiwa dan rasa. Dalam olahraga,
hanya lahiriah yang kita olah, tapi jiwa kita belum.
Saya bukannya takabur. Tapi selama ini dalam hidup saya, nggak ada itu
cerita sakit ini, sakit itu. Tapi kenapa saya terkena sakit jantung?
Saya lalu terus memperbaiki diri dengan latihan. Karena kebanyakan
latihan, output lebih besar dari input. Ternyata dibutuhkan input besar
untuk mengimbangi output yang besar. Output saya justru lebih besar
daripada input. Output yang paling besar adalah bergerak dalam politik.
Dalam politik ‘kan jatuh bangun, makan pikiran dan perasaan. Juga rokok.
Rokok kretek saya dulu lima bungkus sehari. Di sini sampai kuning-kuning.
Lalu juga fast-food, makanan seperti ampla, dll.
MTI: Beralih ke hubung-an Anda dengan Bung Karno. Punya catatan
menarik dengan beliau?
SHD: Dengan Bung Karno, ya, ketika Munas SOKSI yang pertama.
Saya diantar oleh Pak Suprayogi meminta kehadiran Bung karno untuk
memberikan amanah. Ditanya, apa SOKSI itu? Saya jawab, organisasi
karyawan Pak. Apa karyawan itu? Pekerja, Pak!
Ada tiga syarat yang bapak minta, katanya. Apa itu? Mampu nggak kamu
menggelar pagar ayu? Siap, jawab saya. Terus, nanti wanita-wanita cantik
harus di depan. Loh kenapa? Kalau yang jelek muak Bapak, katanya. Siap
Pak, jawab saya. Terus yang ketiga, bisa tenang nggak? Siap, Pak!
MTI: Dengan Pak Harto, katanya Anda termasuk yang kecewa?
SHD: Saya dua kali dipanggil Pak Harto ke Merdeka Barat.
Dipanggil karena ada urusan. Beliau marah. Saya masuk, “Hardiman! Masuk,
duduk.” Baru beberapa menit, ditanyai macam-macam. Ini gara-gara Radius
Prawiro, (almarhum), laporannya nggak benar. Terus saya jelaskan.
Yang kedua, ketika saya sedang di Makassar, dipanggil, dimarahin lagi.
Saya jelaskan lagi baru reda.
Siapa yang tidak kenal Suhardiman yang ketika menghadapi PKI termasuk
nomor satu? PKI jatuh. Siapa yang tidak kenal Suhardiman yang merintis
Golongan Karya? Tapi apa yang saya dapat? Mulai dari situ dulu. Manusia
itu punya tiga dimensi, sebagai insan Tuhan, pribadi, dan insan sosial.
Macam-macam kepentingan bisa saling bertabrakan, tapi harus dipadukan
dengan amal. Tapi oleh Pak Harto saya tidak diberikan apa pun. Hanya
sebagai anggota Dewan Pembina Golkar. Duduk di DPP, tidak pernah. Pak
Oetojo Oesman pernah di DPP. Saya tidak. Tapi sudahlah.
Dulu, ketika baru pulang dari Jepang, saya disurati Pak Haris Suhud (Ketua
DPR/MPR) bahwa Pak Dharmono (Ketua Umum Golkar, almarhum) ingin menunjuk
saya jadi Ketua Pansus UU Bidang Politik. Saya mengusulkan ayahnya
Wijanarko Puspojo. Tapi ditolak. Sumiskum bilang jangan mau Mas Hardiman.
Tapi sekretaris saya di DPR mengatakan terima saja.
Biasanya, menggolkan satu undang-undang saja selalu ada promosi. Saya
menggolkan lima UU, tapi justru dipindah ke DPA. Jadi anggota biasa.
Sedangkan lawan politik saya dari PPP, sekarang sudah almarhum, Hartono
Marjono, jadi Wakil Ketua DPR. Sesudah itu saya jatuh sakit, lantas
dibawa ke Rumah Sakit. Saat itu Pak Habibie sama Pak Harmoko datang.
“Ini ada obat dari Bapak (Pak Harto),” kata Pak Harmoko. Oh ya,
terimakasih, lalu saya duduk.
Mereka mengatakan, “Tadi Bapak mengatakan, Pak Hardiman dipercaya
menjadi Wakil Ketua DPA.” Dalam batin saya, ini belas kasihan. Jabatan
ini dikasih. Ya sudah, saya terima.
Lalu tahun 1993, ada kampanye. Intinya adalah memberikan kesempatan satu
kali lagi kepada Pak Harto sebagai “pilot bangsa’. Jadi cukup 1993
sampai 1998. Tapi setelah itu, oleh Harmoko dikipas-kipas lagi. Akhirnya
mau lagi. Hanya berapa bulan, jatuh.
MTI: Pengalaman di saat detik-detik kejatuhan Pak Harto. Posisi
Anda bagaimana?
SHD: Malam-malam, anak saya Bobby yang sekarang di DPR
mengatakan, Pak Harto mau mengundurkan diri. Lho, kenapa mengundurkan
diri? Ah, saya mau bicara dengan Mbak Tutut. Hubungkan. Bagaimana Mbak
Tutut, tanya saya. Ah jangan, nggak usah ketemu. Takutnya berubah lagi,
kata Tutut.
Ternyata belakangan, Pak Harto mendengar bahwa orang-orang
kepercayaan-nya seperti Harmoko, Habibie, Ginanjar, Akbar Tandjung
menolak mendu-kung Pak Harto. Akhirnya Pak Harto mengundurkan diri.
MTI: Bagaimana perasaan Anda terhadap Pak Harto setelah lengser?
SHD: Pada zamannya Pak Harto, saya tidak ada budaya sowan.
Paling-paling setahun sekali, dan itu bersama ribuan orang yang tengah
halal bihalal. Tapi pada waktu jatuh, kurang lebih sepuluh hari, saya
minta waktu ketemu. Saya datang. Saya tanya: bagaimana kader-kader yang
Bapak percaya itu? Masih setia nggak kepada Bapak? Maaf Pak, satu
persatu mereka meninggalkan Bapak. Pak Harto diam saja.
MTI: Pernah minta tolong atau sesuatu kepada Pak Harto?
SHD: Pernah. Saya minta bantuan. Beliau kan punya tiga yayasan.
Saya mohon bantuan satu M (milyar-Red). Tapi, katanya, sudah terlambat.
Terlambat bagaimana? Alasan Pak Harto, yayasannya sudah diserahkan. Lho,
yayasan kok diserahkan? “Daripada ramai-ramai, saya mau tiarap saja,”
kata Pak Harto. Jadi di zaman Pak Harto saya tidak diberi apa-apa, tapi
saya berterima kasih.
MTI: Ketika mendirikan SOKSI, Anda sudah anggota ABRI dan
berpangkat Mayor. Apa latar belakang pendirian SOKSI ketika itu?
SHD: Sebelumnya saya ‘kan bergerak juga di bidang perburuhan.
Ketika saya menjadi sekretaris Banas, itu menyangkut perburuhan. Maka
akhirnya saya mendirikan suatu badan atau lembaga, yang pokoknya bisa
menghimpun buruh. Tujuannya, saya harus bisa dan saya punya karyawan,
karyawan buruh, karyawan tani, karyawan cendekiawan. Pokoknya manusia
karya.
Saya mengajak (Almarhum) Sukamto Sayidiman, tidak mau, ya sudah saya
jalan sendiri. Akhirnya saya menjadi ketua pembina. Terus, waktu Mubes
di Palembang, di sana sampai jam tiga malam memikirkan apa kelanjutan
organisasi ini? Saya tugaskan dua orang, sekarang masih hidup tapi
sakit-sakitan, Adolf Rahman dan Suwignyo (alm) dari Perkaten, Perkebunan.
Tapi macet.
MTI: Akhirnya Anda sendiri yang merumuskan?
SHD: Tadi ‘kan saya bilang, inspirasi saya lebih tajam
daripada otak saya. Ya, sudah SOKSI saja. Apa SOKSI itu? Pada waktu itu
Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia. Tapi sosialis Pancasila,
bukan sosialis PSI. Mula-mula begitu. Jadi, di dalam SOKSI yang
terpenting adalah kader, pengkaderan. Keliling ke daerah-daerah untuk
pengkaderan pemimpin bangsa, bukan kader SOKSI. Walau oleh SOKSI tapi
ini untuk bangsa. Karena itulah, sampai bebe-rapa angkatan kader-kader
SOKSI banyak yang menjadi kader bangsa.
MTI: Sepeninggal Anda, pamor SOKSI agak tengge-lam. Kenapa?
SHD: SOKSI ‘kan sudah 30 tahun. Lalu saya wariskan ke Oetojo
Oesman, waktu itu Menteri Kehakiman. Mengapa? Salah satu pertimbangan
saya bukan karena otaknya, tapi karena leadership-nya. Dia punya duit,
ya Menteri Kehakiman. Sebab ketua atau pimpinan tanpa duit tidak baik
karena akan kurang berwibawa. Sebab kalau kader datang minta bantuan
harus ada duit. Kalau tidak ada duit, janganlah. Tapi Oetojo tidak
pernah melakukan pendidikan kader bangsa. Tidak pernah bikin
kejutan-kejutan. Lalu anak saya Bobby yang di DPR, mengerti pikiran saya,
ganti. Anak saya itu naluri-nya tinggi. Intisarinya, kalau ganti,
penggantinya Syamsul Muarif. Ya, sudah, serah-kan saja sama yang muda.
MTI: Dalam Deklarasi Politik SOKSI baru-baru ini disebut-sebut
perlunya reformasi jilid kedua. Bisa dijelaskan?
SHD: Jadi begini. Reformasi ‘kan sudah 8 tahun. Tapi, apa
hasilnya? Begini-begini saja. Kenapa demikian? Reformasi pertama yang
saya katakan jilid satu adalah reformasi di bidang politik. Tapi
ternyata salah kaprah. Akhirnya justru menimbulkan krisis, 13 krisis.
Krisis di bidang politik, sosial, ekonomi, hukum dan lainnya. Nah, ini
bundar, yang ke-13 itu di tengah yaitu budaya. Bundarannya adalah krisis
budaya.
Budaya kita adalah budaya tahu diri, tapi kita nggak tahu diri.
Budaya kita adalah budaya tahu malu tapi kita nggak tahu malu. Korupsi,
semuanya nggak mau tahu, tidak tahu malu. Budaya kita adalah budaya
nrimo, nrimo yang santun tapi serakah. Budaya kita hidup serasi, selaras,
seimbang, tapi selalu konflik. Jadi reformasinya harus ditingkatkan
menjadi reformasi budaya.
Transformasi dan reformasi budaya yang pernah tahun 1988 itu telah saya
lontarkan. Sekarang harus ada reformasi budaya, mental bangsa. Ini kan
sakit mental, sekarang korupsi besar-besaran.
MTI: Menurut Anda, situasi politik tahun depan seperti apa?
SHD: Sekarang ini tantangan berat terjadi di berbagai bidang
kehidupan: ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan seterusnya. Keadaaannya
sedemikian rupa, bencana alam pun terus mendera. Terakhir ini ada lumpur
panas Lapindo, lalu asap. Ini sebenarnya gejolak alam. Jadi sulit
ditanggulangi. Artinya, memang harus kita lalui, suatu proses yang harus
dijalani oleh bangsa ini, ujian.
Mudah-mudahan saya salah, tahun 2007 nanti akan banyak orang
teriak-teriak dan turun ke jalan, akhirnya pemerintah jatuh. Karena
periodenya belum habis, maka bisa dibentuk pemerintahan sementara,
presidium. Nah, dari presidium itulah nanti akan muncul orang yang tidak
diduga-duga. Tidak disangka-sangka muncul sebagai pemimpin yang diridhoi
oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mula-mula sih bodoh, tapi diridhoi. Ini yang
dinamakan Satrio Piningit.
MTI: Bukankah SBY Satrio Piningit yang dimaksud?
SHD: Bukan… bukan!
MTI: Jadi Anda memperkirakan tahun 2007 akan terjadi peristiwa
dramatis?
SHD: Mudah-mudahan saya salah. Ujian terberat di bulan
Desember 2006 ini. Alam mengganggu, ekonomi begini, asap, pengangguran
dan sebagainya. Kalau SBY tidak bisa mengatasi, 2007 nanti masyarakat
akan turun ke jalan. Nggak bisa dibendung dan saat itu muncullah Satrio
Piningit.
MTI: Satrio Piningit itu kira-kira siapa? Sosoknya seperti apa,
bisa digambarkan?
SHD: Belum bisa. Seperti namanya, ya masih dipingit oleh Tuhan.
MTI: Kembali ke masa-lah ketatanegaraan. SOKSI juga menyatakan
perlunya amandemen UUD 1945 yang kelima. Untuk apa?
SHD: Jadi begini, kepemimpinan reformasi itu kan Amien Rais,
antara lain. Amien Rais itu kan nama Arab, dalam bahasa Jawa sebetulnya
amino ora iso. Artinya, akhirnya gagal. Empat kali amandemen. Sekarang
simpel saja, UUD 45 seratus persen dibuat negarawan. Negarawan semuanya.
Kalau negarawan itu kan memikirkan kepentingan bangsa dan negara, dan
ini yang diubah oleh Amien Rais. Itulah politikus-politikus. Yang di
DPR-MPR itu politikus semua. Politikus itu ‘kan untuk kepentingan
golongan atau kelompok.
UUD 45 disalahkan, perlu diubah, terjadilah amandemen. Sebenarnya bukan
UUD 45–nya, tapi manusianya yang salah menjabarkan. Dalam disertasi saya
tahun 1971 saya sebutkan, untuk mewujudkan UUD 45 itu berapa lama agar
menjadi kenyataan. Dalam disertasi itu saya sebutkan, bangsa kita
dijajah tiga setengah abad maka perlu ditebus dalam satu abad. Contoh,
Amerika Serikat, didirikan oleh para pemimpinnya dua abad yang lalu.
Terus revolusi industri, itu juga satu setengah abad, di Perancis juga
di Inggris. Restorasi Meiji di Jepang juga satu abad. Jadi saya tegaskan
penjajahan di Indonesia harus ditebus dalam satu abad. Sementara ini,
perjalanan kita baru setengahnya. Maka saya merasa yakin, karena
prosesnya harus kembali ke amandemen yang kelima, dekrit, seperti Bung
Karno dengan dekritnya kembali ke UUD 45. Sekarang, siapa pemimpin yang
berani dekrit?
MTI: Anda menilai Presi-den SBY tidak berani?
SHD: Saya nggak bilang deh. SBY itu seorang pemikir. Tapi yang
dibutuhkan dari seorang pemimpin yang lima itu. Dekrit itu kan butuh
keberanian. Jadi, justru dekrit itu dari presidium. Masalahnya pada
pelaksanaan UUD 45 yang terus berkembang, tiap abad, tiap 10 tahun,
berkembang. Yang sebenarnya, tiap-tiap pasal termasuk pembukaan,
mestinya pakai adendum, bukan diubah, tapi diberi penjelasan, bukan
diubah total.
MTI: Termasuk soal pemilihan presiden, masa jabatan presiden?
SHD: Ya, itu juga yang perlu kita pertanyakan. Berdasarkan UUD
45, seluruh lembaga negara itu diperintah dan diatur melalui UU. Tapi
lembaga kepresidenan tidak diatur.
Nah mengapa? Dalam UUD 45 itu, menurut saya, yang paling berkuasa adalah
MPR. Jadi tergantung MPR sendiri. Bisa saja baru sebulan atau dua bulan
sudah bisa diganti karena dinilai tidak becus.
MTI: Sebagai pelaku sejarah, bagaimana Anda melihat kurikulum
sekarang ini?
SHD: Ketika Gus Dur menjadi presiden, belum ada sebulan, sudah
mau mengganti Tap MPRS No. 25/1966. Tapi kan lebih bagus mengubah
penjelasannya sedemikian rupa sehingga kita tidak dendam kesumat sampai
sekian abad terhadap PKI, terhadap komunis. Harus ada batasnya.
Mengenai kurikulum, mula-mula ada dua pemikiran. Ini perlu kita luruskan.
Ini Gestapu dan Gestok, apa bedanya? Jikalau Gestapu, lengkap Gestapu/
PKI, Gerakan 30 September PKI. Kalau Gestok, itu militer. Sekarang ada
perempuan anggota DPR yang merasa bangga menjadi anak PKI. Itu yang saya
katakan komunis gaya baru (KGB). Harus hati-hati. Komunis tidak akan
pakai bendera PKI, bodoh, orang sudah tahu sekian lama kok. Mereka bisa
masuk melalui berbagai cara. Malah beberapa bulan yang lalu terjadi di
Bogor.
MTI: Antara lain dengan beredarnya baju bergambar palu arit?
SHD: Ya, pokoknya dalam doktrin komunis tidak ada istilah
gagal. Kalau gagal pasti akan diulangi lagi.
MTI: Melihat percaturan global yang ditandai kebangkitan ekonomi
Cina, akankah terjadi era perang dingin baru?
SHD: Kalau saya melihat yang akan masuk orang ku-lit kuning.
Jadi yang meng-uasai adalah kulit kuning seperti Jepang, Singapura,
Hongkong, Korea Utara, Korea Selatan. Sekarang ada Cina overseas yang
menguasai. Nah, ini ‘kan menyeluruh. Jadi nantinya perebutan kekuasaan
antara kuning sama Yahudi. Yahudi ini juga merayap ke mana-mana. Amerika
itu ya Jahudi. Jadi itulah, kita juga harus memperhatikan Cina yang
pesat sekali kemajuannya. Jangan menolak, begitulah.
MTI: Itu berarti perseteruan kapitalis dan komunis sudah pupus?
SHD: Kita sekarang menganut sistem multi partai, masing-masing
punya ideologi. Ada yang liberalis, ada yang ini, itu. Jadi sekarang,
Pancasila bukan lagi satu-satunya azas. Demokrasi kita juga sudah
menyimpang jauh dari Pancasila. ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Kemarin perwakilan tapi sekarang
nggak lagi, sudah pemilihan langsung. Ini kan sudah menyimpang dari
Pancasila.
Demokrasi kita itu ada dua, pemilihan langsung dan tidak langsung.
Pemilih-an langsung itu di mana rakyat, seperti zaman Be-landa,
kelurahan itu dipilih rakyat, itu masih ada. Tapi sekarang terdiri dari
beribu-ribu pulau, bagaimana? Memilih RT nya saja belum bisa. Konsep
negara kesatu-an kita tidak murni lagi. Sekarang ada perwakilan daerah
yang diketuai oleh Ginanjar yaitu DPD. Ini kan semacam federal. Jadi
negara kesatuan kita tidak seperti dulu lagi.
MTI: Lebih mengarah kepada semi parlementer?
SHD: Ya. Juga mengenai kekuasaan. Dulu yang lebih berkuasa
adalah presiden. Sekarang tidak lagi, bahkan DPR kini lebih berkuasa
dari presiden.
MTI: Kita juga sudah melaksanakan otonomi daerah. Komentar Anda?
SHD: Otonomi ini kebablasan, demokrasi kita juga kebablasan.
MTI: Negara kan harus punya visi, bukan visi partai, bukan pula
visi presiden. Apalagi Garis-Garis Besar Haluan Negara tidak ada lagi.
Tanggapan Anda?
SHD: Memang sekarang yang menonjol adalah visi kelompok,
golongan, visi partai. Berapa jumlah partai sekarang? Jadi kuncinya
adalah bagaimana agar masing-masing pemimpin menempatkan diri sebagai
pemimpin bangsa. Mulai sekarang para tokoh-tokoh kita harus sepakat
kembali ke UUD 45.
Mereka harus menjadi tokoh Indonesia murni bukan tokoh golong-an,
bukan tokoh partai. Tapi rupa-rupanya, kita kan black out leadership
yang sekarang ini. Perjalanannya memang sulit. Masing-masing tokoh kita
harus mau meninggalkan partai-nya. Misalnya, saya memang pimpinan SOKSI
tapi harus tetap menjadi milik bangsa. Jadi beda dalam mengambil
keputusan.
MTI: Konsep Anda tentang kepemimpinan itu seperti apa?
SHD: Menurut saya, ada lima peran seorang pemim-pin. Pertama,
ia harus mampu menjadi seorang bapak, mengondisikan sedemikian rupa
sebagai seorang bapak, sehingga walau tanpa mengkomando, anak buah sudah
ngerti. Kedua, seorang pemimpin juga harus bisa menjadi wali, mewakili
kepentingan yang di wakilinya. Ketiga, seorang pemimpin harus menjadi
seorang guru, mendidik anak didiknya untuk maju ke depan.
Keempat, seorang pemimpin juga harus bisa menjadi teman. Kelima,
seorang pemimpin juga harus mampu sebagai komandan. Seorang komandan itu,
jika anak buahnya berjasa harus diberikan balas jasanya yang setimpal
dengan jasanya. Jangan pilih kasih. Tapi kalau salah, juga harus dihukum
sesuai dengan tingkat kesalahannya. ►
mti/sh-tum-wes
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|