| WAWANCARA MTI 24 |
|
|
 |
Probosutedjo
Siapa Dalang Peristiwa 14 Mei 1998
WAWANCARA 03: MTI: Ketika Pak Harto mengundurkan
diri bagaimanakah gambaran detik demi detik perubahan yang terjadi di
lingkungan Istana dan Keluarga Besar Cendana menjelang tanggal 21 Mei
1998?
PROBO: Pada waktu itu Pak Harto ke Mesir. Sebelum tanggal 15 Mei sudah
terjadi gerakan-gerakan anti Soeharto. Dia dituduh korupsi. Setiap hari
ada orasi. Waktu mau berangkat ke Mesir saya sebenarnya sudah
mengingatkannya. “Mas, jangan pergilah. Dirikanlah Dewan Reformasi,
lakukan perbaikan atau reform untuk menjaga supaya jangan sampai
reformasi berubah menjadi revolusi sebab apa yang kita bangun bisa
rusak,” kata saya.
Namun saya mendapat jawaban bahwa ini bukanlah masalah pribadi, bukan
mewakili Indonesia saja tapi juga mewakili ASEAN dan Gerakan Non Blok.
Terus saya juga meminta kepada Ketua MPR Harmoko supaya mencegah Pak
Harto agar jangan pergi. Maksud saya, bikinlah keputusan sidang yang
bisa mencegah kepergian Pak Harto.
Tetapi Harmoko cuma datang kepada Pak Harto minta supaya jangan pergi
dan memberitahu pula bahwa itu adalah atas usul saya. Lalu saya bilang
Harmoko, “Kenapa dibilang Pak Probo, saya artinya apa, saya orang swasta
dan tidak punya kedudukan.”
Demonstrasi terjadi terus-menerus tiada henti. Terjadi penembakan
mahasiswa Universitas Trisakti. Puncaknya tanggal 14 Mei terjadi
penjarahan di beberapa tempat. Kelihatannya sudah direncanakan
sebelumnya karena tempatnya tertentu begitu saja. Malah ada
perkosaan-perkosaan di rumah-rumah keturunan etnis Tionghoa.
Sampai-sampai Cristianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis
Indonesia (PDBI) takut betul-betul sehingga koma dan tidak mau lagi
tinggal di Indonesia. Ia keluar ke Amerika.
Pada tanggal 14 Mei penjarahan terjadi di mana-mana, keadaan kacau. Saya
berusaha menghubungi Habibie sebagai Wakil Presiden tapi tidak berhasil.
Sama Wiranto juga tidak berhasil. Tidak ada satu pun yang bertindak pada
tanggal 14 itu. Lalu saya pulang dari kantor.
Kemudian, dari rumah pukul setengah lima subuh, saya keliling Jakarta,
ternyata kota sudah morat-marit semuanya. Jakarta sepi tak ada satu pun
mobil yang lewat kecuali saya.
MTI: Saat itu Pak Probo ada di Gedung Tedja Buana, berusaha mencari
atau mengadakan hubungan kontak dengan Pak Habibie dan Pak Wiranto?
PROBO: Ya, tapi Habibie-nya tidak tahu di mana dan Wiranto-nya juga
tidak bisa dihubungi. Belakangan baru tahu ikut rombongan ke Malang. Ada
apa ini, dan acara apa itu?
Bagaimanapun yang merasa sudah puluhan tahun dibina supaya nanti bisa
menggantikan meneruskan pembangunan, tahu-tahu sesudah ada kesempatan
kok tega membikin dan mencari kedudukannya supaya kuat.
Kalau kita merenungkannya seperti begitu, kan tampak selama dia menjadi
presiden gerakannya cuma mencari kedudukan supaya menjadi kuat, supaya
mendapat kepercayaan. Sampai kepada anak-anak pun didekatinya seperti
Josua, penyanyi anak-anak dari Surabaya pun sempat diterimanya di
Istana. ►mti
=============================================
IMF dan Likuidasi 16 Bank
MTI: Posisi politik Pak Harto sampai tahun 1998 masih sangat kuat
bahkan terpilih kembali menjadi Presiden. Ba-rangkali satu-satunya cara
menurunkannya hanya lewat goncangan ekonomi yang menemukan momentum saat
krisis mo-neter melanda Asia. Bagaimana sesunguh-nya penanganan krisis
kala itu, sehingga Pak Harto, seorang pemimpin yang ber-pengalaman
sampai tak kuasa menahan gejolak?
PROBO: Menjelang akhir masa jabatannya memang banyak pejabat yang selalu
menjilat ke Pak Harto. Kasarnya begitu. Mengangkat-ngangkat dan
memuji-muji Pak Harto dengan maksud supaya diangkat menjadi pejabat.
Ternyata mereka itu banyak yang hanya ngomong gede. Malah yang terakhir
menjelang terjadinya reformasi, banyak pejabat yang me-nyusun buku yang
namanya Manajemen Soeharto. Termasuk Tanri Abeng dan Abdul Gafur yang
isi bukunya memuji-muji Pak Harto, supaya Pak Harto senang, lantas dia
diangkat jadi menteri. Tapi ternyata mereka itu tidak becus.
Mula-mula Pak Harto dituduh bekerjasama dengan Liem Soe Liong. Padahal,
tujuannya wak-tu itu Liem Soe Liong adalah orang yang bisa dikendalikan
untuk membangun pabrik-pabrik yang sangat bermanfaat untuk kepentingan
rakyat. Rupanya diam-diam banyak juga pejabat yang menjalin hubungan
dengan pengusaha-pengusaha sehingga menjadi kaya.
Terus yang terakhir, terjadi krisis moneter yang tidak saja melanda
Indonesia tetapi juga Korea Selatan, Thailand dan Filipina. Negara lain
seperti Hongkong dan Cina tidak terkena karena cadangan devisanya
banyak.
Indonesia cadangan devisanya pas-pasan. Itulah yang dipermainkan oleh
George Soros. Akhirnya nilai rupiah jatuh kemudian terjadilah krisis
moneter. Pak Harto sudah dijadikan sasaran di sini. Kemudian Pak Harto
dipaksa supaya berhubungan dengan IMF. Menteri-menterinya pada waktu itu
sudah mulai bertindak sendiri. Seperti Menteri Keuangan Mari’e Muhammad
dan Gubernur BI J Soedradjat Djiwandono mengatur bank sendiri sampai ada
16 bank yang dilikuidasi.
Setelah ternyata tidak berhasil, Pak Harto memerintahkan agar jangan ada
likuidasi lagi, karena tidak ada gunanya. Lebih baik kalau ada bank yang
bermasalah dikasih bantuan kredit. Itulah kemudian keluar yang namanya
BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).
Waktu BLBI keluar, saya sudah bilang sama Prof Edi Swasono, lewat
telepon. “Wah, ini BI akan bangkrut.”
“Kenapa Pak?” tanya Edi Swasono. “Itu, orang-orang bank tidak bisa
dipercaya. Nanti akan dibikin nasabah fiktif. Yang pinjam fiktif,
nasabahnya fiktif, nanti akan terjadi begitu sehingga BI disedot.”
Benar saja. Akhirnya dana BI mengalir terus sampai sekian ratus triliun
rupiah. Karena keadaannya begitu, Pak Harto dituduh tidak mampu lagi
mengendalikan sehingga terjadilah krisis kepercayaan.
Dalang Tragedi Mei
MTI: Siapa kira-kira dalang peristiwa Kerusuhan 14 Mei 1998?
PROBO: Itulah yang kita tidak tahu. Saya kira kelompok orang-orang yang
ekstrim-ekstrim itu. Orang kiri itu, kelihatannya dari situ.
MTI: Mengapa pada waktu itu jenderal-jenderal tidak berada di Jakarta?
PROBO: Ya itulah juga yang sampai sekarang menjadi teka-teki. Wiranto
itu mengapa pergi ke Malang sewaktu terjadi peristiwa tanggal 14 Mei.
Semua jenderal-jenderal pergi ke Malang di sini kosong sehingga tidak
ada komando pengamanan. Dan sesudah sore-sore peristiwa itu berhenti
sendiri. Aneh, kan?
Waktu itu saya duduk di sini juga, lantai tiga gedung Tedja Buana
Building, Menteng, Jakarta Pusat. Si Lis, sekretaris saya yang dulu
sudah ketakutan sekali. “Bagaimana ini, pulang saja Pak,” katanya.
►mti
***Majalah Tokoh Indonesia |