| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Pembangunan di Era Bung Karno
Bung Karno Putra Sang Fajar
“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Ida
Ayu, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman
ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Soekemi
Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak
adalah keturunan Sultan Kediri... Apakah itu kebetulan atau suatu
pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi
apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan
rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir.
Soekarno menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.
Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden
Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno,
44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih
dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing.
Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di Blitar sejak duduk di bangku
sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger
School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi
kawakan pendiri Syarikat Islam. Jiwa nasionalismenya membara lantaran
sering menguping diskusi-diskusi politik di rumah induk semangnya yang
kemudian menjadi ayah mertuanya dengan menikahi Siti Oetari (1921).
Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS
(Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari
menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926. Semasa kuliah di
Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit
Ganarsih (1923).
Soekarno muda, lebih akrab dipanggil Bung Karno mendirikan PNI (Partai
Nasional Indonesia), 4 Juni 1927. Tujuannya, mendirikan negara Indonesia
Merdeka. Akibatnya, Bung Karno ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman
penjara oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia dijebloskan ke penjara
Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1949. Di dalam pidato pembelaannya yang
berjudul, Indonesia Menggugat, Bung Karno berapi-api menelanjangi
kebobrokan penjajah Belanda.
Bebas tahun 1931, Bung Karno kemudian memimpin Partindo. Tahun 1933,
Belanda menangkapnya kembali, dibuang ke Ende, Flores. Dari Ende,
dibuang ke Bengkulu selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati
(1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati
Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputra.
Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya
tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di
Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Di
bawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630
halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme,
Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda
Bung Karno.
Tahun 1942, tentara pendudukan Belanda di Indonesia menyerah pada
Jepang. Penindasan yang dilakukan tentara pendudukan selama tiga tahun
jauh lebih kejam. Di balik itu, Jepang sendiri sudah mengimingi
kemerdekaan bagi Indonesia. Penyerahan diri Jepang setelah dua kota
utamanya, Nagasaki dan Hiroshima, dibom atom oleh tentara Sekutu,
tanggal 6 Agustus 1945, membuka cakrawala baru bagi para pejuang
Indonesia. Mereka, tidak perlu menunggu, tetapi merebut kemerdekaan dari
Jepang.
Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir Soekarno dan Drs
Muhammad Hatta, mereka memprok-lamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal
17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jl.
Proklamasi), Jakarta. ►mti/crs-sh
***Majalah Tokoh Indonesia |