|
|
 |

Nama:
Siti Hartinah Soeharto
Nama Panggilan:
Ibu Tien Soeharto
Lahir:
Desa Jaten, Surakarta 23 Agustus 1923
Meninggal:
Jakarta, Minggu 28 April 1996
Dimakamkan:
Astana Giribangun,Surakarta
Suami:
Soeharto (menikah 26 Desember 1947)
Anak:
Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
Sigit Harjojudanto
Bambang Trihatmodjo
Siti Hediati
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih
Ayah:
RM Soemoharjomo
Ibu:
R. Aj. Hatmanti
Pendidikan:
Sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro fi Matesih dan HIS
(Holland Indlanche School) di Solo dan Wonogiri |
|
Siti Hartinah Soeharto
Perjuangan dan Pengabdian Ibu Negara
Sejak remaja aktif di Laskar Putri indonesia berjuang di garis belakang
mempertahankan kemerdekaan. Apalagi setelah menjadi Ibu Negara sebagai
pendamping setia Presiden Soeharto, ia mencetuskan beberapa gagasan yang
melahirkan beberapa proyek monumental, di antaranya Taman Mini Indonesia
Indah. Ia meninggal, Minggu 28 April 1996, menginggalkan karya gemilang
bagi bangsanya. Setelah meninggal, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Siti Hartinah (Ibu Tien Soharto) lahir di Desa Jaten pada tanggal 23
Agustus 1923 dari pasangan RM Soemoharjomo dan R. Aj. Hatmanti. Ia
merupakan anak kedua dari 10 bersaudara. Kakaknya adalah R. Aj. Siti
Hartini, sedangkan adiknya adalah RM Ibnu Hartomo, RM Ibnu Harjatno, R.
Aj. Siti Hartanti, RM Ibnu Harjoto, RM Ibnu Widojo, R. Aj. Siti Hardjanti,
RM Bernadi Ibnu Hardjojo, dan RM Sabarno Ibnu Harjanto.
Masa kecil Siti Hartinah diwarnai dengan berpindah-pindah tempat tinggal
mengikuti orang tuanya yang ditugaskan ke berbagai daerah. Terkadang,
ketika dipindahkan ke sebuah wilayah, orangtuanya belum menyiapkan tempat
tinggal untuk keluarga itu. Ada kalanya keluarga itu tinggal sementara di
rumah Kepala Desa sebelum mendapatkan rumah baru. Pada masa itu belum ada
istilah rumah dinas untuk pejabat golongan rendah.
Perpindahan pertama yang dialami Siti Hartinah terjadi ketika masih
berusia 3 tahun yaitu pada tahun 1925. Ayahnya, RM. Ng. Soemoharjomo
menempati jabatan baru sebagai Panewu Pangreh Praja (setingkat Camat)
ditugaskan ke Jumapolo, sebuah kota Kecamatan di Karanganyar sekitar 26 Km
dari Kota Solo. Di kota inilah Siti Hartinah terkena wabah penyakit
disentri yang hampir merenggut nyawanya. Ia terserang wabah penyakit yang
tanpa pilih bulu menyerang siapa saja di Surakarta termasuk di Jumapolo.
Banyak sekali jatuh korban jiwa. Hampir setiap hari ada warga yang
meninggal di Jumapolo.
Sebagai tempat yang terpencil, Jumapolo tidak memiliki fasilitas kesehatan
dan obat-obatan. Jangankan dokter, perawat pun tidak ada. Maka, Siti
Hartinah pun hanya mampu terbaring menungggu nasib. Tak ada orang lain
yang berani mendekati selain kedua orangtuanya. Mereka mencari berbagai
cara dan pengobatan untuk menyembuhkan buah hatinya. Sebagai orang yang
beriman, siang dan malam mereka berdoa kepada Tuhan agar Siti Hartinah
segera disembuhkan. Rupanya doa yang tulus dari orngtua itu dikabulkan
Tuhan. Siti Hartinah pun sembuh dari penyakit.
Perpindahan itu mengakibatkan terjadinya perbedaan alam dan lingkungan.
Namun, perbedaan tersebut ternyata memberi bekal yang cukup berarti bagi
pribadinya menjadi pribadi yang terbuka dan luas pergaulannya.
Pada usia lima tahun, Siti Hartinah kembali harus berpindah tempat tinggal
mengikuti orangtuanya. Kali ini pindah ke Matesih, Kabupaten Karanganyar
di kaki Gunung Lawu. Di Matesih terdapat satu sekolah dasar yang disebut
sekolah Ongko Loro. Sekolah ini hanya menyelenggarakan pendidikan formal
selama dua tahun. Siti Hartinah masuk ke sekolah ini.
Seorang sahabat ayahnya, Abdul Rachman, datang dari Solo. Abdul Rachman
yang sudah berkeluarga namun tidak punya anak itu bermaksud mengangkat
salah seorang anak Panewu Soemoharjomo. Pilihannya jatuh pada Siti
Hartinah. Meskipun berat hati, setelah dirundingkan, akhirnya permohonan
Abdul Rachman dikabulkan. Ia pun ikut keluarga baru di Solo. Di sana ia
sekolah di salah satu sekolah elit, HIS (Holland Indlanche School). Untuk
pertama kalinya, ia berhubungan dengan sistem pendidikan Belanda.
Sayangnya, baru setahun bersama dengan keluarga Abdul Rachman yang begitu
perhatian, ia terpaksa harus kembali ke keluarganya dan meninggalkan HIS.
Hal ini terjadi karena ia terserang penyakit cacar yang sangat
mengkhawatirkan. Ia pun kembali ke desa. Ia tidak kembali ke Matesih,
melainkan ke Kerjo, karena orangtuanya sudah kembali dipindahkan. Di
tempat baru, setelah sembuh, ia kembali masuk sekolah. Tentu saja tidak di
HIS, melainkan di sekolah Ongko Loro yang ada di desa itu.
Kerjo barangkali merupakan masa penutup untuk masa kanak-kanaknya. Setelah
di desa ini, ayahnya mendapat kenaikan pangkat menjadi wedana. Pada tahun
1933, Wedana Soemoharjomo memboyong keluarganya ke Wonogiri, termauk Siti
Hartinah. Di Wonogiri, ia kembali masuk HIS, duduk di bangku kelas III.
Masa Remaja
Di Wonogiri, Siti Hartinah berhasil menyelesaikan sekolahnya di HIS. Jarak
antara rumah dengan sekolah sekitar 5 Km. Untuk mencapai sekolah, ia dan
kakaknya selalu naik andong.
Selama bersekolah ia selalu memakai kebaya, bukan memakai rok. Hanya pada
kegiatan kepanduan JPO (Javaanche Padvinder Organisatie) ia diizinkan
orangtuanya memakai rok, pakaian seragam JPO. Karena rajin mengikuti
latihan-latihan di JPO, akhirnya dalam dirinya tumbuh tunas-tunas
idealisme yang terus berkembang. Fungsi kepanduan yang universal adalah
pembinaan budi pekerti, watak, dan karakter sejak usia muda, disiplin dan
solidaritas serta tolong menolong, saling hormat menghormati serta saling
menyayangi.
Namun, sayangnya ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ayahnya menjadi Wedana Wonogiri hanya dalam waktu lima tahun. Kemudian ia
dipindahkan menjadi Wedana di Wuryantoro. Dua tahun kemudian ia pun
dipensiunkan.
Keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan cita-cita
menjadi seorang dokter memang tidak tercapai. Tetapi, dengan mengalihkan
kegiatan-kegiatan lainnya seperti membatik, belajar menari dan menyanyi
tembang Jawa, menulis syair, ternyata memenuhi dorongan dan tuntutan jiwa
remajanya. Yang tidak terjadi barangkali jatuh cinta. Ia tidak mengalami
jatuh cinta sebagaimana remaja lainnya.
Masa Pendudukan Jepang
Sebelum Jepang memasuki kota Solo pada tahun 1942, Siti Hartinah kembali
memasuki gerakan kepanduan. Kali ini tidak lagi di JPO melainkan di Pandu
rakyat Indonesia. Aktivitasnya itu juga merupakan kegiatan satu-satunya di
luar rumah. Selebihnya ia tinggal di dalam rumah dengan kegiatan membatik.
Kain batik karyanya ia jual. Uangnya digunakan untuk kursus mengetik dan
steno.
Setelah Jepang memasuki kota Solo, terjadi perkembangan yang sangat cepat
di segala bidang kemasyarakatan dan pemerintahan. Tentara pendudukan
Jepang mengadakan pendidikan dan kursus-kursus, termasuk kursus bahasa
Jepang. Selain dibentuk pula organisasi-organisasi kemasyarakatan,
termasuk organisasi wanita Fujinkai. Siti Hartinah setalah mendapat izin
orangtuanya segera mendaftar di organisasi tersebut. Dalam organisasi itu
dilatih baris-berbaris, latihan kepemimpinan, bagaimana melakukan
wawancara dengan tokoh-tokoh pergerakan, dan lain-lain. Mereka juga
dilatih berpidato dan belajar sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk
merdeka. Dari sini, benih-benih semangat nasionalisme muncul di kalangan
remaja putri Solo yang terkenal lemah lembut. Mereka sesungguhnya memiliki
semangat tinggi untuk turut aktif dalam gerakan mewujudkan kemerdekaan.
Siti Hartinah juga mengikuti kursus bahasa Jepang pada orang Jepang yang
sudah lama menetap di Solo sebagai pengusaha pada zaman kolonial Belanda,
bukan pada tentara pendudukan Jepang. Dalam waktu singkat ia sudah mahir
berbahasa Jepang.
Laskar Putri Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, rakyat Solo
segera melakukan mobilisasi untuk mendukung kemerdekaan. Salah satu upaya
yang dilakukan adalah melucuti senjata tentara Jepang. Ternyata, kaum
wanita Solo pun antusias untuk terlibat dalam upaya heroik itu.
Putri-putri Solo yang gemulai itu pada tanggal 11 Oktober 1945 membentuk
organisasi bersenjata yang mereka namakan Laskar Puteri Indonesia.
Dalam waktu singkat, jumlah anggota Laskar Puteri Indonesia meningkat
cepat. Mula-mula berjumlah 150 orang kemudian bertambah menjadi 200 orang.
Mereka dilatih oleh perwira dari Batalyon yang dipimpin Mayor Soeharto.
Persenjataan pun diperoleh dari batalyon yang sama. Dengan memiliki 120
pucuk senjata, laskar itu pun telah menjelma menjadi pasukan tempur
wanita.
LPI bertujuan untuk membentuk pasukan bantuan untuk melayani kepentingan
pasukan garios depan dan garis belakang demi suksesnya perjuangan. Untuk
itu, diperlukan organisasi yang baik seperti kepemimpinan dan staf sebagai
unsur pendukungnya. Komandan LPI diserahkan kepada nona Soedijem,
sedangkan wakilnya adalah nona Sajem. Siti Hartina duduk di staf yang
mengendalikan urusan perlengkapan atau logistik. LPI menyelenggarakan
dapur-dapur umum di medan pertempuran dan membatu markas-markas
pertempuran, membatu tugas-tugas kesehatan PMI, mencari peralatan, makanan
untuk Kesatuan yang membutuhkan, menyelenggarakan latihan-latihan
kemiliteran dan lain-lain.
Selama di LPI, Siti Hartinah tidak pernah berada di garis depan
pertempuran. Tetapi, ia menjadi tulang punggung di garis belakang yang
sangat membantu perjuangan di garis depan. Selama menjadi anggota LPI,
Siti Hartinah pernah ditempatkan di dapur umum Salatiga untuk membantu
kekurangan tenaga di sana. Secara umum, LPI benar-benar menjadi penunjang
kesuksesan perjuangan melawan musuh.
Meskipun LPI memiliki andil besar dalam perjuangan mempertahankan
kemerdekaan, namun keberadaannya tidak dapat bertahan lama. Organisasi itu
terbentur pada peraturan pemerintah yang mengambil kebijakan rasionalisasi
kelaskaran bersenjata. Atas dasar kebijakan tersebut, maka di penghujung
tahun 1946, LPI dibubarkan.
Anggota-anggota LPI yang telah terlatih mengambil jalan masing-masing. Ada
yang kembali ke dunia pendidikan menjadi guru, ada yang kembali sekolah,
dan yang paling banyak adalah yang menggabungkan diri pada markas pimpinan
pertempuran. Siti Hartinah yang masing memiliki semangat perjuangan yang
kuat bergabung dengan Laskar Rakyat Indonesia dan duduk di seksi keuangan.
Tugasnya adalah tidak semata-mata melakukan pengumpulan dana, melainkan
juga mengadakan keperluan dapur seperti sayur-mayur, tahu, tempe, dan
sebagainya.
Pengumpulan dana dilakukan dengan cara mengedarkan kotak-kotak sumbangan
sosial, melakukan pertunjukan wayang orang dan pertunjukan lainnya di
Stadion Sriwedari, dan berbagai upaya halal lainnya. Siti Hartinah
bertugas mengelola administrasi keuangan, baik yang masuk maupun yang
keluar.
Di samping mengerjakan pekerjaan tersebut, perhatian Siti Hartinah
terhadap keluarga korban perang sangat luar biasa. Ia akan mendatangi
keluarga yang ditinggal oleh suami atau ayah mereka yang gugur di medan
pertempuran.
Bertemu Kekasih
Usia Siti Hartinah terus bertambah, namun ia tidak juga menunjukkan
tanda-tanda tertarik pada lawan jenis. Orang tuanya, tante-tante dan
kerabatnya justru khawatir dara berlesung pipit ini tidak kunjung mendapat
jodoh. Padahal, Siti Hartinah sendiri sering berdoa agar dirinya diberi
jodoh yang benar-benar cocok dan tidak hanya sekadar sebagai suami tetapi
juga sebagai kawan seperjuangan sepanjang jalan kehidupan nantinya.
Hingga pada suatu hari datanglah utusan keluarga Prawirowihardjo yang
merupakan orang tua angkat Soeharto bermaksud melamar Siti Hartinah. Pada
waktu lamaran, baik Soeharto maupun Siti Hartinah sama-sama belum saling
bertemu. Sebelum lamaran dilakukan, ada kegamangan di hati pemuda Soeharto
kalau lamaran itu bakal ditolak. Alasannya, dia berasal dari kalangan
biasa, sedangkan Siti Hartinah merupakan keluarga bangsawan.
Barangkali inilah yang namanya jodoh. Bukan satu dua kali Siti Hartinah
mendapat lamaran atau ada pemuda yang mencoba mendekatinya, tetapi dia
selalu saja menolak. Akan tetapi, ketika yang melamar adalah seorang
perwira muda bernama Soeharto, dia sama sekali tidak menunjukkan
keberatannya.
Perkawinan kedua insan yang tidak melakukan masa pacaran sebelumnya
terjadi pada tanggal 26 Desember 1947. Upacara pernikahan dilangsungkan
secara amat sederhana. Resepsi pun hanya diterangi lampu lilin yang redup.
Malam pertama mereka diwarnai dengan pemberlakuan jam malam. Setiap warga
tidak diperkenankan meninggalkan rumah atau tidak boleh terlihat keluar
rumah oleh aparat yang berjaga. Dalam kondisi yang darurat seperti itu,
sangat wajar jika tidak ada dokumentadi dalam bentuk foto perkawinan dua
insan itu. Pada waktu menikah, uasia Soeharto adalah 26 tahun sedangkan
Siti Hartinah 24 tahun.
Meskipun tanpa melalui acara pacaran, mereka berdua berupaya
mempertahankan perkawinan sepanjang usia. Keduanya berpegang pada pepatah,
“witing tresna jalaran saka kulina” yang berarti datangnya cinta karena
bergaul dekat.
Istri Prajurit
Tiga hari setelah perkawinan, Siti Hartinah diboyong suaminya ke
Yogyakarta. Di kota ini Soeharto yang seorang perwira militer bertugas
mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman Belanda. Kini Siti Hartinah
telah mendapat tugas baru yaitu sebagai istri komandan resimen.
Di Yogyakarta, Letnan Kolonel Soeharto telah menyiapkan sebuah rumah
beserta isinya yang sederhana untuk tempat tinggal mereka. Rumah itu
terletak di Jalan Merbabu No. 2. Baru seminggu mereka tinggal di Yogya,
Soeharto sudah harus meninggalkan istrinya. Ia ditugaskan ke Ambarawa
untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang. Setelah tiga bulan
berpisah, barulah Siti Hartinah kembali berkumpul dengan suaminya.
Kepergian itu bukan sekali itu saja terjadi. Dalam kondisi darurat,
Soeharto sering melakukan perjalanan tugas yang menempuh waktu relatif
lama.
Setelah tinggal selama 9 bulan, Ny. Soeharto mulai memperlihatkan
tanda-tanda kehamilan. Itu berarti beberapa bulan lagi ia akan memiliki
anak. Sayangnya, pada saat itu suaminya justru harus sering
meninggalkannya. Aksi militer Belanda yang semakin hebat membut tugas
suaminya menjadi lebih berat. Dalam kondisi demikian, Soeharto lebih
memilih mendahulukan tugasnya sebagai anggota militer yang harus maju ke
medan pertempuran dan meninggalkan istrinya di rumah.
Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948, Siti
Hartinah bertambah sulit untuk bertemu Soeharto. Sekali bertemu tidak
pernah berlangsung lama, karena Soerharto harus kembali ke pos jaga. Dalam
kondisi mengandung, Ny Soeharto sesungguhnya membutuhkan dekat dengan
suaminya. Namun, ia memahami tugas berat yang diemban suaminya dan tidak
merengek-rengek minta ditemani. Ia pun tidak mengeluh atas nasib yang
dialaminya.
Keberadaan kakaknya, Ny Oudang (Siti Hartini), adiknya Hardjanti, Ibu
Dwijo dan keluarga Amir Moertono di rumah sungguh sangat membantu. Ia
tidak kesepian dan jika ada kesulitan tidak jauh dari orang-orang yang
bisa dimintai bantuan.
Pada waktu agresi militer Belanda terjadi, Soeharto praktis tidak bisa
berlama-lama bersama keluarganya. Kepada Amir Moertono, Soeharto berpesan
agar menjaga istrinya, dan bila perlu mereka semua mengungsi. Ketika
kondisi semakin gawat, Siti Hartinah berikut orang-orang yang tinggal di
rumah Jalan Merbabu No. 2 mengungsi. Mereka sempat mengungsi ke sebuah
ruamh kecil yang kosong yang memiliki banyak kamar di dekat penjara.
Pernah suatu kali tentara Belanda datang. Tentara itu sempat melihat kopor
yang di atasnya ditumpuk kertas-kertas koran bekas. Sedangkan di bagian
bawah adalah pedang dan senjata. Beruntung tentara Belanda itu tidak
mengacak-acak kopor. Kalau saja itu terjadi, bisa saja mereka semua
ditahan Belanda.
Pada tanggal 23 Januari 1949 di rumah pengungsiannya, Ny Soeharto
mengalami kejadian baru yang belum pernah dialaminya. Ia melahirkan anak
pertamanya. Pada saat itu, tentara Belanda sering melakukan inspeksi
ditambah pemberlakuan jam malam. Ia melahirkan dibantu seorang bidan yang
bersedia datang dan menginap di rumah itu. Padahal, biasanya jarang ada
bidan yang mau datang. Mereka takut dianggap mata-mata oleh Belanda.
Sedangkan dokter, di dalam situasi darurat itu terlalu sulit untuk mencari
seorang dokter. Sementara suaminya sedang berada di medan tempur yang
tidak diketahui keberadaannya.
Berita kelahiran bayi mungil itu akhirnya sampai ke telinga Soeharto. Ia
tentu sangat gembira mendengar berita itu. Sang bayi itu kemudian diberi
nama Siti Hardijanti Hastuti (Tutut). Ia pun ingin segera melihat wajah
bayinya. Namun, lantaran tugas dan tengah mempersiapkan serangan balasan
bagi Belanda, keinginannya itu harus ditunda.
Bulan Januari berlalu tanpa kehadiran Soeharto, sang suami dan ayah dari
bayi kecilnya. Bulan Februari pun berlalu begitu saja. Hanya surat-surat
dari medan tempur yang diterima sedangkan orangnya masih tinggal di sana.
Sebenarnya Soeharto ingin sekali datang, tetapi ia tidak mungkin
melakukannya. Rumah pengungsian yang berada dekat penjara yang dikuasi
Belanda sangat rawan untuk dikunjungi. Jika ketahuan, ia bisa tertangkap
dan akan membuat rencana perjuangan gagal.
Serangan terhadap markas Belanda yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret
berhasil. Meskipun hanya menduduki Yogya selama enam jam, namun serangan
itu telah membuka mata dunia akan keberadaan Indonesia. PBB pun kembali
mendesak Belanda agar berunding dengan pemerintah RI.
Setelah berlangsungnya serangan dan Belanda akan menarik mundur pasukan
dari Yogyakarta, Soeharto secara diam-diam mendatangi Sri Sultan di
keraton. Setelah bertemu, malamnya ia menginap di dapur keraton. Pada saat
itu, Soeharto mengirimkan utusan agar istrinya datang ke keraton. Dengan
diantar Letnan Amir Moertono, Ny, Soeharto dengan membawa bayi kecil.
Mereka pun kemudian bertemu. Itu adalah pertemuan pertama setelah berpisah
selama 4 bulan. Soeharto tidak habis-habis mencium bayinya. Pertemuan itu
hanya berlangsung selama satu jam, karena Soeharto harus kembali ke garis
depan. Pertempuran belum selesai.
Setelah keadaan benar-benar aman dan pemerintah RI kembali ke Yogya,
keluarga Soeharto pun kembali berkumpul. Posisi Soeharto pun sudah
berubah. Ia kini menjadi Komandan Brigade III Divisi Diponegoro.
Hengkangnya Belanda dari bumi pertiwi tidak berarti masalah selesai.
Pemberontakan dari dalam pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah
pemberontakan Andi Aziz di Makassar. Untuk mengatasi pemberontakan
dibentuklah satu pasukan ekspedisi di bawah kepemimpinan Kolonel
Kawilarang. Brigade Mataram/Divisi III Jawa Tengah diputuskan sebagai
salah satu bagian ekspedisi. Letkol Soeharto ditugaskan sebagai komandan
pasukan Garuda Mataram untuk menumpas pemberontakan.
Tanggal 21 April 1950 Brigade Garuda Mataram meninggalkan Semarang. Siti
Hartinah kembali harus berpisah dengan suaminya. Ia sadar akan tugas
penting suaminya, meskipun hatinya sedih dan ingin selalu bersama sang
suami.
Setelah suaminya pergi menunaikan tugas, Ny. Soeharto tidak tinggal diam.
Dia mengunjungi istri-istri prajurit anak buah suaminya. Dia merasakan di
hati istri tentara itu terdapat kegelisahan dan kekhawatiran akan terjadi
sesuatu yang buruk pada suami mereka. Sulitnya komunikasi membuat perasaan
khawatir itu semakin menjadi karena tidak tahu bagaimana keadaan yang
sebenarnya terjadi di Makassar.
Setelah beberapa bulan berpisah, Siti Hartinah memutuskan untuk
mengunjungi suaminya di Makassar. Ia tidak sekadar rindu, tetapi menurut
pemikirannya, kepergiannya itu akan membantu menghilangkan paling tidak
mengurangi kecemasan istri prajurit. Sebelum berangkat, sekali lagi, Ny.
Soeharto mengunjungi istri prajurit dan bertanya apakah ada yang ingin
menitipkan surat untuk suaminya. Ternyata sangat banyak surat titipan. Ia
dengan senang hati membawa surat-surat tersebut. Surat itu tentunya akan
menambah semangat suami mereka yang ada di garis depan.
Siti Hartinah hanya satu minggu berada di Makassar. Ia tidak ingin
berlama-lama, karena yang terpenting dari misinya adalah melihat dengan
mata kepala sendiri kondisi dan situasi pasukan, menyampaikan
titipan-titipan dari rumah, dan tentu saja bertemu dengan suaminya. Dalam
keberangkatannya itu ia membawa anak sulungnya Tutut yang baru berusia 14
bulan. Selama perjalanan Tutut tidak rewel sama sekali.
Perjalanan singkat itu telah cukup baginya untuk mengabarkan kepada
istri-istri prajurit tentang situasi di medan perang. Ny. Soeharto
mengabarkan situasi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Hal itu
mengurangi rasa kekhawatiran dan kegelisahan mereka. Hingga akhirnya pada
bulan September 1950 seluruh prajurit Brigade Mataram kembali ke
Yogyakarta, kecuali 17 orang prajurit yang gugur. Pasukan KNIL/KL telah
menyerah dan meninggalkan Makassar.
Pada tanggal 1 Mei 1951, keluarga Soeharto bertambah semarak setelah
kehadiran anak kedua yang diberi nama Sigit Haryoyudanto. Kali ini
kelahiran terjadi tidak dalam suasana darurat. Tidak lagi di pengungsian
dan jauh dari suami. Ny. Soeharto melahirkan di rumah bidan dan ditunggu
suaminya.
Beberapa bulan setelah Sigit lahir, Soeharto diberi tugas untuk memimpin
Brigade Pragola I di Salatiga. Mereka sekeluarga pun akhirnya meninggalkan
Yogya menuju Salatiga. Pada tanggal 1 Maret 1953, keluarga itu harus
pindah rumah lagi. Kali ini menuju kota Solo. Di kota ini Letnan Kolonel
Soeharto menjabat sebagai Komandan Resimen 15 (eks Brigade Panembahan
Senopati). Ketika meninggalkan Solo enam tahun lalu, mereka tidak
membayangkan akan kembali ke kota itu dengan posisi yang jauh berbeda.
Kini Letkol. Soeharto adalah orang nomor datu di jajara hierarki militer
kota Solo. Di kota inilah lahir putra ketiga mereka yang diberi nama
Bambang Tri Hatmojo pada tanggal 23 Juli 1953.
Anak keempat, Siti Hediati Haryadi (Titik) lahir pada tanggal 14 April
1959 di Semarang. Pada saat itu Soeharto menjabat sebagai Panglima
TT-IV/Diponegoro. Ia lahir ketika kondisi keluarga relatif berkecukupan.
Kelahiran anak kelima yang diberi nama Hutomo Mandala Putra (Tomy) pada
tanggal 12 Agustus 1962 cukup istimewa. Pada saat itu Ny. Soeharto tidak
dapat ditunggui suaminya yang tengah mengemban tugas besar untuk
membebaskan Irian Barat dengan nama Operasi Jayawijaya. Soeharto diberi
kepercayaan sebagai Komando Mandala.
Putri bungsu, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamik) lahir melalui operasi
di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 1964. Pada saat itu Soeharto menjabat
sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Mamik
dioperasi karena letak bayi dalam keadaan sungsang.
Ny. Soeharto mengakui, hidup dengan mengandalkan gaji suaminya cukup
berat. Meskipun demikian, ia tidak mengeluh dan tidak meminta lebih secara
materi. Apa yang diberikan suami, itulah yang digunakan untuk mengurus
rumah tangga meskipun tidak cukup. Untuk mengatasinya, ia sering membuat
kain batik. Kain itu dijual ke kerabatnya. Hasilnya digunakan untuk
menutupi kekurangan penghasilan suami. Ia tidak malu melakukan hal itu,
karena yang dilakukannya adalah pekerjaan halal dan legal serta bukan
meminta-minta.
Kudeta PKI
Pada waktu Mayor Jenderal Soeharto diangkat menjadi Panglima Kostrad, PKI
sudah berada di atas angin. Dengan bersandar pada wibawa dan kharisma Bung
Karno, PKI bertambah garang dalam menghadapi lawan-lawan politiknya.
PKI sangat mendukung langkah Bung Karno untuk melakukan konfrontasi dengan
Malaysia. Dukungan itu tidak sekadar ucapan, melainkan juga pengerahan
massa dari unsur Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan Pemuda Rakyat.
Mereka dilatih sebagai pasukan cadangan tempur di dekat lapangan udara
Halim Perdanakusumah. Namun, latihan itu pada dasarnya adalah persiapan
PKI untuk melancarkan Gerakan 30 September.
Setiap instansi sebenarnya diharapkan mengirim utusan sebagai sukarelawan
dan sukarelawati dalam mobilisasi umum persiapan konfrontasi dengan
Malaysia. Perguruan tinggi, organisasi massa dan politik mengutus
wakil-wakilnya. Dari Angkatan Bersenjata yang ikut ambil bagian adalah
istri-istri tentara, karyawan, dan karyawati sipil.
Kostrad adalah salah satu instansi TNI-AD yang tidak ikut-ikutan
mengerahkan istri-istri tentara ke tempat hingar-bingar itu. Kebijakan itu
terjadi karena istri Panglima Kostrad, Ny. Siti Hartinah Soeharto
berpegang teguh pada tugas istri prajurit. “Kalau suami sesuai dengan
tugasnya pergi bertempur, istrinya juga ikut, siapa yang mengurus keluarga
dan anak-anak?” katanya dengan nada bertanya.
Beberapa hari sebelum meletus Gerakan 30 September, pimpinan dan pengurus
Persit Kartika Chandra diundang untuk mendengarkan penjelasan
Menteri/Panglima AD Jend A Yani. Saat itu Ny. Soeharto adalah Ketua
Persit. Jenderal Yani menjelaskan gawatnya situasi politik saat itu dan
bagaimana peran TNI-AD.
Sepulang dari acara itu, Ny. Soeharto membuat sup kaldu tulang sapi
kesukaan anak-anaknya. Pada waktu membawa sup ke meja makan, Tomy
berlari-lari dan menabraknya. Ia pun tersiram kuah sup panas yang
melepuhkan kulitnya. Setelah dilakukan pertolongan pertama, Tomy segera
dibawa ke RS Gatot Subroto untuk dirawat. Pada tanggal 30 September,
Mayjen Soeharto dan istrinya menjenguk Tomy di rumah sakit. Menjelang
pukul 12 malam, Ny. Soeharto menyuruh suaminya pulang karena di rumahnya
hanya tinggal putri bungsu mereka, Mamik yang baru berusia satu tahun.
Soeharto pun pulang.
Pada tanggal 1 Oktober, pagi-pagi sekali, datang seorang tamu, Hamid nama
tamu itu, memberitahukan kepada Mayjen Soeharto mengenai tembak-menembak
di beberapa tempat. Tak lama kemudian, Mashuri, tetangga yang lain menemui
dan mempertegas berita dari Hamid. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apa
yang telah terjadi? Broto Kusmardjo kemudian datang melaporkan bahwa
beberapa Perwira Tinggi TNI-AD telah diculik. Tidak dijelaskan siapa
pelakunya.
Lonceng jam enam belum berbunyi ketika Letkol Soejiman diutus Mayjen Umar
Wirahadikusumah yang menjabat Pangdam V Jaya melaporkan bahwa di sekitar
Monas dan Istana Presiden terdapat konsentrasi pasukan yang tidak dikenal.
Ia langsung berkata, “Segera kembali dan laporkan kepada Pak Umar saya
akan cepat datang ke Kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan
Komando Angkatan Darat.”
Seluruh informasi itu membuat Mayjen Soeharto segera mengambil keputusan.
Ia langsung memakai pakaian loreng lengkap, bersenjata pistol, mengendarai
jeep sendiri tanpa pengawal menuju Markas Kostrad.
Pada pukul 7.00 WIB lebih sedikit, siaran warta berita RRI memberitakan
telah terjadi gerakan militer di tubuh Angkatan Darat. Gerakan yang
menamai Gerakan 30 September itu dikepali Letkol Untung. Untung adalah
bekas anak buah Soeharto ketika dia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo.
Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 444 dan pernah mendapat didikan
politik dari tokoh PKI Alimin.
Mendengar berita itu, Soeharto segera mengambil kesimpulan bahwa gerakan
yang dipimpin Untung itu adalah kup yang ingin menguasai negara secara
paksa. Ia memutuskan untuk melawan gerakan tersebut. Tahap pertama adalah
mengamankan pasukan yang berjaga-jaga di Monas. Tahap berikutnya adalah
memerintahkan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk merebut
kembali RRI dan pusat telekomunikasi yang telah dikuasai para pemberontak.
Tugas selanjutnya adalah menyerbu pusat gerakan kontrarevolusi di dekat
Halim Perdanakusuma.
Pada saat Soeharto mengambil kebijakan strategis untuk menyelamatkan
bangsa, Ny. Soeharto tengah menunggui putranya di RSPAD. Kesibukan di
RSPAD lain dari biasaya. Dalam waktu singkat, ia segera mengetahui telah
terjadi penculikan beberapa jenderal dan ditembak pasukan Cakrabirawa. Ia
pun gelisah dan ingin segera pulang ke rumah. Ia khawatir kalau-kalau
terjadi hal-hal yang lebih gawat, sementara ia terpisah dengan anak-anak
dan suaminya. Akhirnya, ia pun pulang membawa Tomy. Suaminya masih ada di
Markas Kostrad dan meninggalkan pesan agar membawa anak-anaknya mengungsi
ke tempat tinggal ajudan Pak Harto di Kebayoran Baru sambil terus
mengikuti perkembangan melalui radio.
Sedikit demi sedikit situasi dapat diatasi. RRI dan pusat telekomunikasi
dapat direbut kembali. Segera disiarkan pengumuman telah terjadi upaya
penculikan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat pada tanggal 1
Oktober 1965. Mereka yang diculik adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor
Jenderal Soeprapto, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Haryono M.T.,
Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo.
Mendengar dan melihat banyaknya korban perwira tinggi yang diculik dan
dibunuh membuat Ny. Soeharto sedih luar biasa. Ia tidak membayangkan
saudara sebangsa dan seperjuangan dapat berbuat tega seperti itu.
Sejak 1 Oktober 1965 hingga 11 Maret 1966 dipenuhi dengan berbagai
peristiwa yang luar biasa. Penculikan, penemuan korban yang sudah tewas,
munculnya gelombang aksi demonstrasi yang menghendaki pembubaran PKI yang
dikenal dengan nama Tritura, hingga pemberian Surat Perintah Sebelas Maret
(Supersemar).
Dalam masa-masa genting itu, Ny. Soeharto tampil sebagai pendorong dan
pendamping suami yang paling kokoh. Ia juga memperhatikan langkah-langkah
dan tindakan yang diambil suaminya dalam mencermati keadaan yang bergerak
cepat.
Pada tanggal 11 Maret diadakan rapat kabinet di Istana. Pada saat itu,
Soeharto tidak dapat hadir karena sedang sakit flu, batuk-batuk, dan
demam. Namun, rapat tidak dapat berlangsung dengan baik, karena Presiden
Soekarno dengan tergesa-gesa meninggalkan rapat setelah mendapat laporan
adanya pasukan tak dikenal di luar istana. Dengan kondisi yang demikian,
Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M Yusuf, dan Brigjen Amirmachmud segera
menemui Soeharto dan melaporkan apa yang terjadi di sidang kabinet.
Ketiga jenderal itu kemudian berinisiatif menyusul Presiden Soekarno ke
Istana Bogor dengan maksud agar Bung Karno menjadi tenteram dan tidak
merasa dikucilkan TNI-AD. Sebelum pergi, Soeharto berkata, “Sampaikan
salam dan hormat saya kepada Bung Karno. Laporkan, saya dalam keadaan
sakit. Kalau diberi kepercayaan, keadaan sekarang ini akan saya atasi.”
Tiga jenderal itu berhasil meyakinkan Bung Karno bahwa Pak Harto adalah
orang yang tepat untuk mengatasi keadaan dan memulihkan keamanan.
Ketiganya kembali ke Jakarta dengan membawa dokumen yang amat penting,
Supersemar. Mereka langsung menuju rumah Panglima Kostrad meskipun hari
telah larut malam. Setelah membaca surat perintah itu, Mayjen Soeharto
langsung berganti pakaian loreng lengkap dan segera pergi ke Markas
Kostrad.
Ny. Soeharto mengenal benar kondisi kesehatan suaminya. Jika terlalu penat
apalagi dengan tekanan dan beban pikiran yang menindih maka alergi
tenggorokan selalu kambuh sehingga menyebabkan batuk-batuk yang amat
mengganggu. Itulah yang terjadi pada malam itu. Firasat Ny. Soeharto
mengatakan suaminya akan membuat keputusan penting. Benar saja. Keesokan
harinya pada pukul 6.00 WIB RRI menyiarkan berita pembubaran PKI.
Pembubaran PKI ini disambut oleh seluruh rakyat Indonesia dengan hati
lega. Seminggu kemudian 15 menteri Kabinet Dwikora yang diduga berhubungan
dengan PKI dicopot. Era baru kehidupan berbangsa pun dimulai.
== Bersambung (lanjut)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbgai sumber
|
|