|
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05 06
Rustam Effendi (04)
Pamong Berorientasi Kerja
Sebagaimana pilihan sikap hidup untuk tidak mengejar jabatan, selama
pamong ia hanya mengejar kerja, kerja, kerja dan kerja. Ia pekerja keras
yang tak bisa diam berpangku tangan. Juga bukan pamong yang berorientasi
kepada kepentingan pribadi.
Sebagai Camat Setiabudi, ia dibenarkan secara hukum untuk bertindak
se- bagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Ketika di Segitiga Emas
Kuningan transaksi tanah berlangsung ramai ia berhak memperoleh komisi
resmi 1,5%, masing-masing dari pihak penjual dan pembeli tanah.
Memang ia sendirilah yang mempopulerkan istilah “Segitiga Emas Jakarta,
ke para developer pengusaha pemilik uang. Akibatnya harga tanah mencapai
puncaknya sekitar Rp 4 juta/meter dari sebelumnya Rp 60 ribu/meter.
Istilah “Segitiga Emas Jakarta begitu cepat menyebar dari mulut ke mulut
seluruh warga Jakarta. Di seluruh Jabodetabek harga tanah sempat goyang
jadinya.
Minat warga melepas hak atas tanahnya menjadi tinggi. Di Kelurahan
Guntur, misalnya, dari 10 RW yang ada tersisa tinggal satu.
Demikian pula di Kelurahan Setiabudi, Karet Belakang, Kuningan Timur,
Karet Kuningan, Semanggi, Menteng Atas sebagian, dan Pasar Manggis
sebagian.
Sebagai pamong yang cinta rakyat, ia tidak mau menerima uang PPAT dari
rakyat. Baginya sudah cukup besar menerima PPAT dari developer.
Namun rakyat yang merasakan kebaikan Pak Camatnya tak kurang ‘akal’.
Mereka sepakat mengumpulkan sendiri 1,5% uang resmi PPAT. Jumlah
semuanya sampai sekarung, lalu diserahkan langsung kepada Pak Camat.
Namun Pak Camat itu tegas-tegas menolak. “Aku nggak kayak gini,”
katanya. Dia sudah sangat senang kalau warga tidak menderita lagi. Uang
PPAT dari rakyat itu ia kembalikan lagi, sebagai sumbangan kepada
warganya.
Maka, ketika Pak Camat ini menerima panggilan tugas baru untuk menjadi
pamong di pos lain, rakyat yang dikasihi sekaligus mengasihinya seolah
tak rela melepas pergi.
Kondisi itu tak dibuat-buat. Sebab demikianlah adanya kejadian selama
bertahun-tahun. Rakyat dapat langsung berhadapan dengan camatnya. Dan
Pak Camat jarang menolak bertemu rakyatnya. Di lain kesempatan, selama
beberapa waktu tertentu ia merasakan perlu untuk berkumpul dengan para
tokoh masyarakat, seperti para alim ulama sambil makan sate bersama.
Hingga sekarang kejadian seperti itu masih kerapkali berulang. Cuma kali
ini, tokoh masyarakat dan alim ulama yang berkumpul, misalnya di Sate
Pancoran, itulah yang mengundang makan mantan Pak Camat yang kini
menjadi Kepala Dinas Perhubungan untuk hadir sekadar menjalin tali
silaturahmi. Mereka itu, warga Setiabudi yang dahulu kumuh sekarang
telah menjadi kaya.
Dia memang bukan tipe orang yang suka kejar jabatan. Selama ini, dia
hanya berorientasi kerja namun tanpa pernah mau mengejar jabatan.
Bahkan, dia menampik disebut berorientasi prestasi. Sebab, menurutnya,
bekerja keras belum tentu berprestasi. Dengan rendah hati ia mengaku
belum tahu apakah sudah berprestasi atau belum. Orang boleh menyebut
berprestasi tapi ia sendiri belum tahu. Maka ia selalu saja tidak pernah
berhenti bekerja.
Taksi
Tentang taksi ia hanya mau berbicara sedikit saja. Taksi, moda
transportasi yang pada jam-jam sibuk saat orang pergi dan pulang kerja
bukan main susah dapatnya. Namun di luar jam itu banyak sekali taksi
Bodetabek wara-wiri masuk Kota Jakarta. Taksi pasti terpengaruh oleh
revolusi transformasi transportasi.
Ia menyebutkan pengaturan pertaksian tergantung kepada pengusahanya.
Karena taksi adalah jasa angkutan non trayek. Artinya trayek taksi tak
diatur. Dia bebas. Karena di luar trayek maka taksi tidak bisa diatur,
sebagaimana mengatur busway yang jenis trayek.
Ia memastikan, ketika PTM berjalan penuh dengan sendirinya pasti akan
berimbas kepada jasa pertaksian. Taksi bisa berhenti dengan sendirinya,
atau konyol jalan terus dan rugi terus. Bisnis taksi adalah sesuai
mekanisme pasar. Selama pasar masih menginginkan akan jalan terus.
Ilmunya memang demikian. ► e-ti/ht-crs
==>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|