A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
 
 
  C © updated 08022005  
   
  ► e-ti/ms  
  Nama:
Rustam Effendi, SH, M.Si
Lahir:
Medan, 8 Juli 1950

 
 
     
 

BIOGRAFI:  01   02   03   04   05   06

Rustam Effendi (04)

Pamong Berorientasi Kerja

 

Sebagaimana pilihan sikap hidup untuk tidak mengejar jabatan, selama pamong ia hanya mengejar kerja, kerja, kerja dan kerja. Ia pekerja keras yang tak bisa diam berpangku tangan. Juga bukan pamong yang berorientasi kepada kepentingan pribadi.

 

Sebagai Camat Setiabudi, ia dibenarkan secara hukum untuk bertindak se- bagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Ketika di Segitiga Emas Kuningan transaksi tanah berlangsung ramai ia berhak memperoleh komisi resmi 1,5%, masing-masing dari pihak penjual dan pembeli tanah.


Memang ia sendirilah yang mempopulerkan istilah “Segitiga Emas Jakarta, ke para developer pengusaha pemilik uang. Akibatnya harga tanah mencapai puncaknya sekitar Rp 4 juta/meter dari sebelumnya Rp 60 ribu/meter. Istilah “Segitiga Emas Jakarta begitu cepat menyebar dari mulut ke mulut seluruh warga Jakarta. Di seluruh Jabodetabek harga tanah sempat goyang jadinya.


Minat warga melepas hak atas tanahnya menjadi tinggi. Di Kelurahan Guntur, misalnya, dari 10 RW yang ada tersisa tinggal satu.


Demikian pula di Kelurahan Setiabudi, Karet Belakang, Kuningan Timur, Karet Kuningan, Semanggi, Menteng Atas sebagian, dan Pasar Manggis sebagian.


Sebagai pamong yang cinta rakyat, ia tidak mau menerima uang PPAT dari rakyat. Baginya sudah cukup besar menerima PPAT dari developer.


Namun rakyat yang merasakan kebaikan Pak Camatnya tak kurang ‘akal’. Mereka sepakat mengumpulkan sendiri 1,5% uang resmi PPAT. Jumlah semuanya sampai sekarung, lalu diserahkan langsung kepada Pak Camat.


Namun Pak Camat itu tegas-tegas menolak. “Aku nggak kayak gini,” katanya. Dia sudah sangat senang kalau warga tidak menderita lagi. Uang PPAT dari rakyat itu ia kembalikan lagi, sebagai sumbangan kepada warganya.


Maka, ketika Pak Camat ini menerima panggilan tugas baru untuk menjadi pamong di pos lain, rakyat yang dikasihi sekaligus mengasihinya seolah tak rela melepas pergi.
Kondisi itu tak dibuat-buat. Sebab demikianlah adanya kejadian selama bertahun-tahun. Rakyat dapat langsung berhadapan dengan camatnya. Dan Pak Camat jarang menolak bertemu rakyatnya. Di lain kesempatan, selama beberapa waktu tertentu ia merasakan perlu untuk berkumpul dengan para tokoh masyarakat, seperti para alim ulama sambil makan sate bersama.


Hingga sekarang kejadian seperti itu masih kerapkali berulang. Cuma kali ini, tokoh masyarakat dan alim ulama yang berkumpul, misalnya di Sate Pancoran, itulah yang mengundang makan mantan Pak Camat yang kini menjadi Kepala Dinas Perhubungan untuk hadir sekadar menjalin tali silaturahmi. Mereka itu, warga Setiabudi yang dahulu kumuh sekarang telah menjadi kaya.


Dia memang bukan tipe orang yang suka kejar jabatan. Selama ini, dia hanya berorientasi kerja namun tanpa pernah mau mengejar jabatan. Bahkan, dia menampik disebut berorientasi prestasi. Sebab, menurutnya, bekerja keras belum tentu berprestasi. Dengan rendah hati ia mengaku belum tahu apakah sudah berprestasi atau belum. Orang boleh menyebut berprestasi tapi ia sendiri belum tahu. Maka ia selalu saja tidak pernah berhenti bekerja.

Taksi
Tentang taksi ia hanya mau berbicara sedikit saja. Taksi, moda transportasi yang pada jam-jam sibuk saat orang pergi dan pulang kerja bukan main susah dapatnya. Namun di luar jam itu banyak sekali taksi Bodetabek wara-wiri masuk Kota Jakarta. Taksi pasti terpengaruh oleh revolusi transformasi transportasi.


Ia menyebutkan pengaturan pertaksian tergantung kepada pengusahanya. Karena taksi adalah jasa angkutan non trayek. Artinya trayek taksi tak diatur. Dia bebas. Karena di luar trayek maka taksi tidak bisa diatur, sebagaimana mengatur busway yang jenis trayek.


Ia memastikan, ketika PTM berjalan penuh dengan sendirinya pasti akan berimbas kepada jasa pertaksian. Taksi bisa berhenti dengan sendirinya, atau konyol jalan terus dan rugi terus. Bisnis taksi adalah sesuai mekanisme pasar. Selama pasar masih menginginkan akan jalan terus. Ilmunya memang demikian. ► e-ti/ht-crs

==> Lanjut

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)