|
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05 06
Rustam Effendi (03)
Keteduhan Hidup di Rumah
Rustam Effendi memiliki vitalitas fisik berdeterminasi tinggi. Dia
tampak lebih muda dari usianya. Ia mengaku mempunyai paling tidak empat
kiat atau rahasia tentang itu, yakni berdoa, bekerja dengan plong,
menikmati keteduhan hidup di rumah dan berolahraga ria bersama keluarga.
Rustam adalah ayah dari empat orang anak (tiga lelaki satu
perempuan) buah pernikahannya dengan Ita R Na70 dari desa
Napitupulu Bagasan, Balige, Sumatera Utara. Anak tertua sudah
menyelesaikan pendidikan tinggi perhotelan di Swiss, dua anak lagi masih
kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, dan si bungsu di
bangku kelas enam SD Tarakanita, Jakarta.
Sebagai seorang penganut agama Kristen Protestan yang taat, ia
membiasakan hidup keluarganya setiap pagi hari diisinya dengan membaca
Firman Tuhan, yang dituntun dalam almanak, semacam kalender doa. Sebelum
berangkat ke kantor, ia selalu berupaya mengumpulkan semua anak-anak
untuk membaca firman Tuhan. Sebab ia yakin hanya dalam firmanlah ada
jalan hidup. Ia merasakan hidup dituntun di situ. Ia menjadikan firman
Tuhan sebagai kompas dalam kehidupannya.
Dengan demikian kendati banyak cobaan muncul, hantaman luar biasa, ia
hanya berdoa bahwa dirinya sama sekali ingin berkarya. Kalau diperiksa
silakan saja diperiksa untuk mencari kebenaran. Ia berusaha hidup
polos-polos saja, tidak usah macam-macam. Itulah kunci pertama kebugaran
dan vitalitas fisiknya yang berdeterminasi tinggi.
Rahasia kedua adalah bekerja dengan plong, tidak neko-neko, tidak ada
maksud-maksud lain, tidak ada hal-hal yang membuat kepikiran terus. Yang
penting enjoy dengan pekerjaan, menjadikan pekerjaan sebagai suatu
bagian dari kehidupan.
Rahasia ketiga adalah rumahtangga tak pernah bermasalah, baik dengan
anak-anak maupun istri. Keempat anak terdiri tiga lelaki satu perempuan
semuanya baik-baik saja. “Tidak narkoba, tidak ini tidak itu,” katanya
menjelaskan. Dalam lingkungan rumahtangga ia selalu enjoy. Setiap kali
berada di rumah, dia merasakan ada keteduhan.
Rahasia keempat, setiap hari Sabtu dan Minggu dibuat menjadi suatu
bagian dari keluarga. Pada Sabtu sore istri dan anak semua dibawa main
tennis lalu ketawa-ketawa. Pada Minggu siang semua pergi mengikuti
kebaktian di gereja.
Jadilah hari Sabtu siang dan Minggu siang, itu sebagai hari kumpul
bersama keluarga, untuk makan bersama, berdoa bersama dan bercanda
bersama. Sehingga rasanya tidak ada beban dalam hidup. Keluarga memang
sangat mendukung keberhasilannya sebagai pamong.
Anak Nakal dan Manja
Dia memang berasal dari keluarga yang terbiasa hidup dalam kebersahajaan
dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Kakeknya berasal dari Tomok, Pulau
Samosir. Ayahnya bermarga Sidabutar, sedangkan ibunya boru Siahaan asal
Juara Monang, Balige. Rustam tidak lahir di Pulau Samosir. Dia lahir 8
Juli 1949 di Medan, mengikuti penulisan dalam ijazah SD-nya.
Maklum, saat kecil hingga remaja, dia sering pindah domisili, mengikuti
jejak ayah yang sering berpindah-pindah. Seperti dari Tiga Balata pindah
sekolah ke Medan, dari Medan kembali lagi ke Siantar. Dari Siantar ia
langsung ke Malang lalu ke Magelang. Ia sempat balik lagi ke Medan
sebentar hingga sempat masuk ke Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Ia terakhir kali pindah dan menetap di Jakarta, tepatnya Kebayoran Baru.
Ayahnya kemudian alih profesi ke bidang baru, keteknikan.
Dari tiga lelaki saudara kandung, Rustam adalah bungsu yang bandel sebab
suka berkelahi. Dan, dari lima saudara perempuan ada yang menjadi kakak
ada yang jadi adik. Itu, membuat Rustam terdidik menjadi seorang anak
lelaki bungsu atau siampudan yang manja sekaligus nakal.
Dengan berkelakar, Rustam menyebutkan hampir saja tak sampai menjadi
banci sebab semua saudara perempuan sangat rajin dan peduli memenuhi
segala keperluannya. Seperti membedaki muka, menyisir hingga
menggelontorkan minyak rambut dan parfum segala macam. Kelima saudara
perempuan, ingin Rustam selalu terlihat rapi.
Demikian pula sang mama. Walau tak pernah membelikan baju yang
mahal-mahal, kecuali kain belacu yang bisa dikanji segede apa jahitannya
tampak seperti bisa ‘memotong’ kue. Sepatu pun tak pernah dibelikan
sekelas spartakus. Namun dengan sepatu karet saja, Rustam muda sudah
bisa tampil necis.
Pengalaman dimanja semasa kecil itu semuanya terasa hingga kini. Di usia
dewasa hingga melewati paruh baya, ia terus selalu ingin tampil necis.
Kerapihan membuatnya percaya diri dan berani tampil di muka umum. Karena
itu, cermin harus selalu tersedia untuknya dimana pun berada.
Lama tinggal menetap di Ibukota Jakarta jadilah Rustam Effendi potret
seorang pria Batak berkarakter keras dan tegas dipadu supel dalam
bergaul layaknya anak Betawi tulen. Kombinasi kedua unsur etnis itu
sangat terasa dalam diri Rustam, baik itu logat bicara, intonasi,
pilihan kata dan cara berpikir.
Seperti kisah nabi Yusuf, Rustam kecil sangat ‘dibenci’ ketiga saudara
laki-lakinya. Demikian pula saudara perempuan. Semua karena kenakalan si
bungsu yang suka berkelahi.
“Betul, karena saya bandalnya bukan main, sehingga aku nggak diakui
saudaraku. Hanya mama dan bapak yang selalu setia, yang lainnya itu
‘benci’ bangat lihat aku. Karena tukang berantam. Pokoknya, nggak ada
urusanlah,” kata Rustam, mengenang masa kanak-kanak dan remajanya.
Figur ayah dan mama begitu kuat membentuk kepribadian Rustam. Seolah
tiada lagi satu orang pun yang paling disayang Rustam di dunia ini,
selain ayah dan mamanya. “Setelah Tuhan Yang Maha Kuasa tentu,” katanya.
Sebagai orang berdarah Batak yang teguh memegang adat istiadat
peninggalan leluhur, serta seorang Kristiani beriman yang taat kepada
Tuhan, tiada tara bangga dan bahagianya hati Rustam tatkala ibunya
meninggal dunia dan disemayamkan di rumahnya, Jalan Kayu Mas I Blok F
No. 9-10, Pulo Mas, Jakarta Timur, hingga diberangkatkan ke pemakaman di
Balata, Simalungun, Sumatera Utara.
Kematian kedua orangtuanya diurus sendiri oleh Rustam. “Dua-duanya sudah
meninggal. Aku sudah yatim-piatu,” kata Rustam. Selain ayah-mama, kedua
abang lelaki Rustam dan satu saudara perempuan telah meniggal dunia.
Para saudaranya sesungguhnya sangat mengasihi Rustam.
Demikian pula ia sangat mengasihi semua saudaranya itu. Sebagai bukti
kasih bersaudara itu, bisa disimak dari sekelumit kisahnya ketika
bermukim di Asrama UI Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Saat tiba
masa lebaran, pembantu pulang kampung. Rustam pun menangis, sebab tak
ada lagi yang mencuci pakaiannya. Akhirnya pakaian itu ditaruh saja di
ember. Sebab kata orang dengan deterjen pakaian itu akan mencuci
sendiri.
Tapi begitu ditengok, pakaian nggak nyuci-nyuci. Begitu disibak dan
ditarik ke atas tetap saja masih kotor. Akhirnya, disaksikan para rekan
dan tetangga, ia buang ego anak bungsunya. Rustam segera mencuci pakaian
sendiri tapi dengan cara menaiki ember lalu menginjak-injak.
Pada saat bersamaan, datanglah seorang kakaknya dari rumah Kebayoran
Baru. Kakak yang baik itu baru sadar rupanya ada adiknya di Pegangsaan
sendirian, tanpa tukang cuci.
“Dek, adikku Rustam di mana?” tanya Sang Kakak kepada rekan Rustam.
“Di kamar mandi, bu.”
“Wah, kamar mandi,” kata kakak bergumam.
“Sudah mau nangis dia,” rekan itu menimpali lagi.
“Kenapa?”
“Nggak bisa dia nyuci.”
“Memang, itulah makanya saya datang, mana dia.”
Datanglah sang kakak menemui Rustam di kamar mandi.
“Sudah gimana?” tanyanya.
“Kagak bersih-bersih,” jawab Rustam.
“Sini.”
Akhirnya dibawalah cucian itu ke Kebayoran Baru.
Itulah Rustam Effendi si anak bungsu nakal dan manja. Untuk melap sepatu
sendiri saja ogah ia lakukan. Ia lebih baik tetap memakai sepatu kotor
daripada melapnya. Karena terbiasa semasa kecil semua serba
difasilitasi, Rustam selalu tak pernah mau mengurusi hal-hal kecil yang
bersifat tetek bengek. Itu sama persis dengan urusan uang yang ogah ia
sentuh saat dipercaya untuk bekerja.
Dengan istri pun jika dalam perjalanan tiba-tiba harus mengisi bensin
dengan kesal Rustam akan lebih baik meninggalkan kendaraan, lalu pergi
naik taksi sendiri daripada harus mengisi bensin.
Energi besar hasil olah tubuh dan otaknya lebih baik ia dayagunakan
untuk memprogram sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Itu pula
sebabnya untuk urusan makanan ia tak mau membuat repot orang lain. Apa
yang ada itu saja yang dimakan. Tidak ada batasan selera baginya.
Setiap kali tampil di hadapan publik ia selalu tampak oke, necis, rapi
dan dendy. Ia memang pesolek ulung untuk membangkitkan kepercayaan diri.
Ini sesuatu yang berubah menjadi ‘penyakit’. Ia baru percaya diri
apabila berpakaian rapi. Sebab bila tak rapi sepertinya sepanjang hari
akan selalu bermasalah terus. Hingga duduk pun rasanya menjadi tidak
rapi. Tapi karena yakin rapi maka action, performance-nya, itu selalu
rapi jadinya.
Begitu pensiun sebagai pamong, ia sudah merencanakan berkiprah di bidang
sosial. Ia bercita-cita menjadi anggota kelompok masyarakat. Entah
kelompok apa, tidak disebutkannya persis. Namun, paling tidak, sebagai
mantan Kepala Dinas Perhubungan yang mampu berpikir dan berkarya di
tengah masyarakat. ► e-ti/ht-crs
==
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|