| |
C © updated 08032005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ms |
|
| |
Nama:
Rustam Effendi, SH, M.Si
Lahir:
Medan, 8 Juli 1950
Agama:
Kristen Protestan
Istri:
Ita R. Na70
Anak:
Empat Orang
Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat, tahun 1956-1962, di Pematang Siantar
2. Sekolah Menengah Pertama, tahun 1962-1965, di Pematang Siantar
3. Sekolah Menengah Atas, tahun 1965-1968, di Medan
4. Perguruan Tinggi, Universitas Indonesia, Fakultas Hukum Tata Negara,
tahun 1970-1979, di Jakarta
5. Pasca Sarjana, Universitas Satyagama, Jurusan Ilmu Pemerintahan, 1999
Riwayat Pekerjaan:
1. Staf Kelurahan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, tahun 1976
2. Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat, Kec. Grogol Petamburan, Jakarta
Barat,1979
3. Kepala Seksi Pembangunan Desa, Kec. Grogol Petamburan, Jakarta Barat,
1981
4. Staf Biro Bina Pemerintahan DKI Jakarta, 1981
5. Kepala Sub Bagian Pendapatan Prov. DKI Jakarta, 1982
6. Wakil Camat Kebayoran Baru, Prov. DKI Jakarta, 1983
7. Camat Setiabudi, Prov. DKI Jakarta, 1988
8. Asisten Tatapraja Jakarta Selatan, 1993
9. Sekretaris Wilayah Kota Jakarta Pusat, 1999
10. Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Prov. DKI Jakarta, 2001
11. PLH Kanwil Perhubungan Prov. DKI Jakarta, 2001
12. Kepala Dinas Perhubungan Prov. DKI Jakarta, 2001-2005
Hobby:
Olahraga
Tanda Jasa/Penghargaan:
1. Penilaian Tugas Camat dan Kepala Perwakilan Kecamatan se-DKI
Jakarta, Peringkat ke-IV, 1991
2. Penilaian Pelaksanaan Tugas-Tugas Camat di DKI Jakarta, Peringkat
ke-III, 1991
3. Penilaian Pelaksanaan Tugas-Tugas Camat di DKI Jakarta, Peringkat
ke-II, 1993
4. Medali Tanda Kesetiaan Kelas III (15 Tahun Masa Kerja), 1990
5. Pengelolaan Zakat Infaq dan Shadaqah (ZIS) Terbaik Pertama Tingkat
Wilayah dan Kantor, 1990, se-DKI Jakarta
6. Pengumpul Zakat Infaq dan Shadaqah (ZIS) Masyarakat Wilayah Kecamatan
dan Antar Pemerintah Kecamatan se-DKI Jakarta, 1991/1992
7. Koordinator Pengumpul Zakat Infaq dan Shadaqah (ZIS) Masyarakat dan
Kantor Terbaik Pertama, tahun 1991
8. Medali Tanda Kesetiaan (Masa Kerja 20 tahun), 1995
9. Selaku Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) Kecamatan Setiabudi,
1992
10. Bapak Penggerak Pembangunan Transportasi dan Komunikasi Nasional
dari Golden Award 2003
Seminar/Simposium:
1. Lokakarya Mobilitas Penduduk, 1996, di Jakarta
2. Seminar Sehari Pelaksanaan Pembangunan Jakarta Selatan,1991, di
Jakarta
3. Manajemen Pemerintahan Menghadapi Tantangan Abad-21, 1998, di Jakarta
Alamat Rumah:
Jalan Kayu Mas I Blok F No. 9-10, Pulomas, Jakarta Timur
Telp. (021) 475.0762, 472.1849
|
|
| |
|
|
|
|
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05 06
Rustam Effendi (01)
Pamong Entrepreneur Cinta Rakyat
Dia pamongpraja yang inovatif dan selalu giat bekerja keras
layaknya seorang entrepreneur atau wirausahawan sejati. Maka, dia
digelari pamong entrepreneur yang berorientasi pelayanan dan kepentingan
rakyat. Di setiap pos pengabdian yang dipercayakan kepadanya, selalu
saja meninggalkan jejak yang patut diteladani dan dikenang.
Jika dianalogikan dalam jenjang militer, dia seorang kolonel yang
mampu berpikir dan berkarya selayaknya seorang jenderal. Namun tetap
dalam kerangka tanggung jawab dan kesetiaan kepada atasannya. Dia pun
mengakhiri tugas sebagai Kepala Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta
setelah meletakkan landasan Pola Transportasi Makro Jakarta, yang
bermakna revolusi transportasi.
R ustam Effendi Sidabutar, sejak awal masa pengabdiannya
tak memilah-milih pekerjaan atau jabatan. Jabatan apa
pun yang diberikan atasan di instansi tempatnya bekerja, lulusan
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ini selalu menekuni dengan sepenuh
hati bekerja keras dan inovatif. Pangkat atau jabatan rendah pun tak
membuatnya untuk kehilangan gairah dan kreativitas melakukan sesuatu
yang baru dan berguna bagi masyarakat dan pemerintah (instansi tempatnya
bekerja).
Bahkan, pria kelahiran Medan 8 Juli 1949, ini selalu mampu melakukan
sesuatu melebihi panggilan kewajiban tugas rutin yang sepadan dengan
pang-kat dan jabatan yang dipercayakan padanya tanpa pretensi melangkahi
batas wewenang atau atasannya. Semuanya dilakukan dalam kerangka tugas
dan tanggung jawab yang diberikan atasannya.
Jika dianalogikan dalam jenjang militer, dia ibarat seorang prajurit
yang mampu berpikir, bertindak dan berkarya selayaknya perwira. Atau,
ibarat seorang kolonel yang mampu berpikir, bertindak dan berkarya
selayaknya seorang jenderal. Namun tetap dalam kerangka tanggung jawab
dan kesetiaan kepada atasannya.
Jejak dan orientasi bekerja melebihi panggilan tugas itu dilakukannya
sejak bekerja sebagai staf Kelurahan Jelambar Jakarta Barat, Wakil Camat
Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Camat Setiabudi, Asisten Tatapraja
Kotamadya Jakarta Selatan, Sekretaris Kota (Seko) Jakarta Selatan dan
Kepala Dinas Perhubungan Pemda DKI.
Gebrakannya ketika menjabat Camat Setiabudi (1988-1993), melahirkan
istilah kawasan Segitiga Emas Jakarta. Dia yang memelopori harga
pembebasan tanah rakyat di Jakarta menjadi lebih layak. Dia juga pelopor
one door service di Jakarta Pusat. Kisah paling anyar dan spektakuler
dan pasti tak akan terlupakan warga Jakarta adalah keberaniannya memulai
revolusi transportasi di Ibukota, yang ditandai dengan pengoperasian
TransJakarta Busway.
Revolusi atau reformasi total transportasi itu lahir atas gagasan,
arahan dan pimpinan Gubernur Sutiyoso, agar dia yang ketika baru
diangkat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Pemda DKI, segera menciptakan
suatu pola transportasi yang bersifat makro di Jakarta.
Arahan bernada bimbingan dan tantangan dari gubernur, itu membuat
kreativitas dan jiwa entrepreneur-nya terpantik bangkit. Dalam
kapasitasnya sebagai Kepala Dinas Perhubungan Pemda DKI Jakarta, buah
kreativitasnya muncul selayaknya seorang Menteri Perhubungan yang
mengimplementasikan arahan Gubernur DKI Sutiyoso selayaknya seorang
presiden. Maka lahirlah Pola Transportasi Makro DKI Jakarta (Jakarta
Macro Transportation Scheme).
Tidak mudah melakukan suatu perubahan walaupun tujuannya baik dan
berpihak kepada kepentingan masyarakat umum. Terbukti, Gubernur Sutiyoso
sebagai inisiator dan pengendali serta Rustam Effendi sebagai programmer
dan proyektor TransJakarta Busway, menjadi bulan-bulanan kritik dan
kecaman pedas dari berbagai pihak. Mereka dicerca, dikecam dan dibenci
serta dituduh macam-macam.
Walau kemudian, setelah TransJakarta Busway beroperasi enam bulan, mata
hati publik dan berbagai pihak yang tadinya mengecam, menjadi celik
melihat betapa spektakulernya TransJakarta Busway sebagai awal dari
revolusi transportasi untuk menjadikan angkutan umum di ibukota negeri
ini lebih nyaman, layak, dan manusiawi. Lebih lengkap, selanjutnya baca:
Jejak: Pola Transportasi Makro.
Mulai dari Jelambar
Ia adalah seorang programmer dan pamong entrepreneur yang hasil
kreasinya selalu merupakan lompatan-lompatan baru yang visioner jauh
menatap masa depan melebihi imajinasi dan jangkauan pemikiran orang
lain. Ia berkali-kali sudah berhasil membuktikan hal itu.
Rustam Effendi, menata karir sebagai pamong sejak tahun 1975 dari bawah.
Bak kata pepatah Melayu lama: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke
tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Pria bungsu
ini, awalnya bertugas sebagai staf di Kelurahan Jelambar, Kecamatan
Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Sebelumnya, dia yang sejak usia SMP sudah mengantongi surat ijin
mengemudi (SIM), malah hanya ‘bercita-cita’ asal bisa bekerja sebagai
sopir taksi gelap dulu, agar bisa kuliah. Ketika ia memulai pengabdian
sebagai staf kelurahan, dia sudah menginjak bangku kuliah tingkat tiga
Fakultas Hukum Jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Indonesia (UI).
Setelah bekerja di kelurahan, dia kuliah di program extension FH-UI,
agar bisa kerja pada pagi hari, dan selesai tahun 1979.
Sebagai anak Medan berwatak keras ditambah disiplin warisan ayahnya yang
berdinas sebagai abdi masyarakat, Rustam sejak bekerja di Kelurahan
Jelambar sudah ditugaskan operasional untuk menegakkan disiplin di
tengah-tengah masyarakat. Ia di Jelambar sudah menunjukkan kemampuan
alami sebagai pekerja keras yang tak bisa diam berpangku tangan melihat
permasalahan warga.
Ia mengkreasi banyak hal. Kehadiran anak muda itu begitu terasa
mendinamisir suasana kelurahan. Kantor menjadi ramai tidak seperti
biasanya. Dari Jelambar, Rustam dipromosikan menjadi Kepala Seksi
Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Grogol Petamburan, tahun 1979.
Masih di kecamatan sama, pada tahun 1981, Rustam dimutasi menjadi Kepala
Seksi Pembangunan Desa.
Kemudian di tahun sama 1981, ia dipindahkan lagi menjadi Staf Biro Bina
Pemerintahan DKI Jakarta. Kali ini, ia menempati kantor di lantai 10
Gedung Pemda DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Setahun
kemudian, Rustam naik lagi menjadi Kepala Sub Bagian Pendapatan Provinsi
DKI Jakarta.
Gebrakan Wakil Camat
Rustam akhirnya harus kembali turun ke bawah sebagai pamong yang
langsung berada di tengah-tengah warga saat ditunjuk menjadi Wakil Camat
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Sejak ditunjuk tahun 1983, sinar cahaya inovasi dan kreativitas Rustam
semakin tampak benderang sebagai pamong dengan segenap keberanian dan
ketegasan. Sampai-sampai Walikota Jakarta Barat, Sarimun, di suatu
kesempatan pernah menyebutnya seorang pamong entrepreneur. Sebab Rustam
menjalankan pengabdian kepamongan layaknya seorang pengusaha yang giat
bekerja keras.
Sebagai seorang wakil camat yang pekerja keras, dia selalu siap
melaksanakan penugasan camat pimpinannya. Salah satu penugasan yang
diterima ketika itu adalah mengatur Kebayoran Baru khususnya Blok M dan
terminal bis yang semrawut supaya menjadi rapih.
Ia lalu bergerak menggebrak dan membersihkan Blok M, yang dalam sekejap
menjadi suatu kawasan yang tampak lebih bersih dan teratur. Lalu, ketika
tiba giliran hendak menertibkan terminal bis Blok M, Rustam lebih dahulu
mengimbau kepada LLAJ bahwa tidak sepantasnya di terminal bis Blok M
banyak berdiri tempat pedagang kakilima.
Himbauan itu berbalas lain. Kepala Terminal menunjukkan sepucuk SK
Gubernur, yang isinya antara lain, Dinas Perhubungan – ketika itu
dijabat Budiardjo yang kemudian diangkat menjadi Wakil Gubernur– diberi
wewenang mendirikan kios, loket dan sebagainya di setiap terminal yang
dikelola Badan Pengelola (BP) Terminal.
Kios diterjemahkan oleh Kepala BP Terminal sebagai kakilima, berbeda
jauh dengan idealisasi Rustam yang mengharapkan hadirnya counter-counter
penjual koran, majalah, makanan, minuman dan sebagainya yang bersifat
public service sebagaimana terdapat di Bandara Soekarno-Hatta.
Rustam tak bergeming dengan hadangan Kepala Terminal. Ia berpikir
Walikota Muchtar Zakaria telah ikut memerintahkan bongkar. Maka sejak
tengah malam hingga pagi-pagi buta, tepat pada pukul 00.00-05.00 WIB, ia
sungguh-sungguh membongkar habis semua kakilima di terminal bis Blok M.
Oleh pimpinan LLAJ, nama Wakil Camat Rustam Effendi dilaporkan ke
Gubernur. Ia lalu dipanggil menghadap untuk menjelaskan semuanya. Rustam
sempat gentar. Namun, dia menguatkan diri karena merasa yakin
tindakannya adalah benar.
Setelah dia memberi penjelasan di hadapan Gubernur dan Kepala Dinas
LLAJ, ‘si pembangkang’ Rustam Effendi ternyata tidak dikenakan hukuman.
Malah, wakil gubernur waktu itu, Chourmin, membenarkan dan mendukung
wakil camat itu. “Apa kata Wakil Camat itu benar, tidak boleh
sembarangan membuat kakilima,” kata Gubernur.
Maka, pendek cerita, di Blok M mulailah tercipta suatu keindahan. Ia
mendapat applaus dari tokoh-tokoh masyarakat Kebayoran Baru.
Inovasi dan kerja keras yang dibarengi keberanian, ketegasan, dan
konsistensi mengambil keputusan sangat dominan menyumbang keberhasilan
demi keberhasilan pada setiap pelaksanaan tugas yang diembannya.
Keberanian yang didasarkan oleh kebenaran yang hakiki, disertai
kejujuran hati yang tulus untuk mengabdi kepada warga.
Camat Cinta Rakyat
Keberanian dan keberhasilan Rustam Effendi membuat kawasan Kebayoran
Baru, Blok M, dan terminal bis Blok M menjadi tertata lebih rapih,
teratur dan indah dari sebelumnya, selain mendapat sambutan dari
tokoh-tokoh masyarakat Kebayoran Baru dan munculnya pembelaan dari
Gubernur soal larangan mendirikan kakilima di terminal bis, rupanya juga
mendapat penilaian tersendiri dari Muchtar Zakaria, Walikota Jakarta
Selatan, ketika itu.
Lalu, Walikota mencalonkan Rustam menjadi camat di Kecamatan Setiabudi,
Jakarta Selatan. Walau merupakan lompatan besar promosi jabatan, Rustam
awalnya enggan menerima pos baru itu. Dia sempat terpengaruh anggapan
beberapa rekannya lebih baik tak menjadi camat jika harus berhadapan
dengan runyamnya kondisi Setiabudi sebagai slum area.
Kondisi sosial yang amat berat seperti pemukiman kumuh, rawan banjir,
pedagang kaki lima bertaburan di mana-mana, termasuk Pasar Rumput tempat
berdagang berbagai barang loakan. Di jalan Setiabudi Raya saja, depan
kantor camat, mobil sudah tak lagi bisa berpapasan karena penuh
kakilima. Bahkan di pinggiran terusan kali Ciliwung banyak terdapat
“hotel perosotan” sebagai arena bisnis ‘esek-esek’.
Mungkin, karena kondisi berat itu pula, maka Walikota memilih menugaskan
Rustam menjadi Camat Setiabudi tahun 1988. Rustam pun menyadari, ini
sebuah kepercayaan dan tantangan yang harus dijawab dengan kreja keras.
Tugas pertama yang dilakukannya, menyelesaikan persoalan sebuah bangunan
di kawasan Kuningan Timur, yang sejak tahun 1972 tak pernah bisa tuntas
terselesaikan kendati harga sudah dibayar lunas.
Rustam lebih dulu memahami permasalahan yang sesungguhnya. Ternyata
banyak korban di setiap kasus pembebasan lahan di Kecamatan Setiabudi
itu. Lalu, dia pun turun langsung ke bawah, bertemu dengan berbagai
pihak terkait. Dengan bantuan Tuhan, kata Rustam, begitu dia pegang,
persoalan bangunan Kuningan Timur itu bisa diselesaikan.
Tugas yang kedua, membebaskan lahan di kawasan kuping Kuningan, terletak
antara Kali Malang-Rasuna Said untuk keperluan waduk Setiabudi. Ketika
didatangi, rakyat merasa was-was, sebab lahan dihargai hanya Rp 60
ribu/meter. Benar saja, waktu dibebaskan dengan paksa rakyat menangis
semua. Mereka menjerit, tak bisa berbuat apa-apa. Maklum, ketika itu,
siapa pun tak bisa berkata tidak terhadap apa saja yang diprogramkan
penguasa.
Setelah kedua tugas terselesaikan, Rustam kemudian menyempatkan diri
merenung. Andai kejadian serupa menimpa diri atau keluarga dekatnya.
Kemudian, dia segera mengamati peta Kecamatan Setiabudi. Tampak olehnya
masih banyak lagi kawasan yang akan dibebaskan. Artinya, masih banyak
rakyat yang akan menangis menjerit sebab terusir paksa dan dalam tempo
singkat pasti menjadi jatuh miskin.
Ia lalu mengumpulkan tokoh-tokoh mayarakat, ustad dan kiai serta semua
ketua RT/RW. Ia menemukakan perenungan dan tekadnya, akan membebaskan
lahan demi kepentingan pembangunan yang lebih baik. Namun dia menegaskan
tak lagi mau menyaksikan kepedihan warga yang tanahnya dibebaskan.
Pembebasan haruslah berujung kepada kemakmuran warga.
Sesungguhnya, pada saat rakyat tak bisa berkata lain kepada pemerintah
saat itu, dia tengah memproklamirkan reformasi penataan pemanfaatan
tanah, land use. Sebagai camat, Rustam berujar, “Saya tidak mau lagi
warga saya dibayar Rp 60 ribu permeter. Tapi, saya mau warga saya,
rakyat saya, itu dibayar lima kali lipat dari harga Rp 60 ribu itu.”
Tekad Rustam disambut warga dengan senang hati. Lalu mengkristallah
kesepakatan bersama untuk berdiri dalam satu kata dan satu bahasa. Warga
siap lokasi lahannya ditata ulang, land use. Mereka percaya kepada Camat
yang telah menyatakan tekadnya untuk memperhatikan nasib mereka.
Sebulan kemudian, pembebasan lahan di pinggiran waduk sudah dihargai Rp
250 ribu/meter. Rustam berkata lagi, “Saya kepingin warga saya itu punya
rumah yang representatif, yang wajar, yang bagus. Jalannya bagus dan di
lokasi itu ada mesjid, ada gereja, ada pasar, ada sekolah. Ya, itulah,
saya pengen punya kayak gitu,” kata Rustam camat profetik yang ucapannya
merupakan tanda-tanda kejadian masa depan. ►ti/ht-crs
==>Lanjut
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|