| |
C © updated
17052005-20112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr kps |
|
| |
Nama:
Rudjito
Umur:
58 tahun
Pendidikan:
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, 1972
Pendidikan non formal:
International Correspondent Banking (Chicago-USA)
International Banking and Finance (Los Angeles-USA)
Derivative Product and Capital Market Instruments (New York-USA) School
for Bank Leadership (IBI-Jakarta)
Pekerjaan:
Direktur Korporasi dan Internasional Bank Dagang Negara (2000)
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (Juli 2000 – sekarang)
Organisasi:
Ketua Perhimpunan Bank-bank Negara (Himbara)
Ketua Komite Pendidikan di Indonesian Bankers Institute (IBI) Jakarta
Ketua Federation of Indonesian Association of Banks (FIAB)
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
Anggota Supervisory Board of Asia Pacific Rural and Agriculture Credit
Association (APRACA) Consulting Service
Ketua Asosiasi Para Banker ASEAN 2001–2003
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2 3
4 5
6 ==
Rudjito (1)
Matang di Dunia Perbankan
Sentuhan tangannya berhasil meningkatkan kinerja Bank Rakyat Indonesia
(BRI) secara signifikan.
Kinerja yang begitu baik itu telah menghantarkan Direktur Utama BRI ini
menerima penghargaan sebagai CEO BUMN Terbaik 2003. Begitu pula BRI yang
dipimpinnya mendapat penghargaan sebagai BUMN terbaik di sektor
keuangan. Dalam RUPS 17 Mei 2005, dia pun diangkat menjabat Komisaris
Utama. Jabatan direktur utama yang ditinggalkannya diisi oleh
Sofyan Basir yang sebelumnya menjabat Direktur Utama Bank Bapindo. Kinerja manajemen Bank ‘Wong Cilik” ini juga tercermin
dengan suksesnya Initial Public Offering BRI (IPO BRI) dan peluncuran obligasi subordinasi rupiah awal Januari 2004.
Ketua Perhimpunan Bank- bank Negara (Himbara) yang sudah matang dan malang melintang lebih dari 26 tahun di dunia perbankan,
ini optimis
bahwa BRI akan menjadi bank yang terdepan di
Indonesia. Ia bertekad meneguhkan konsistensi BRI melayani usaha kecil dan
menengah (UKM). Konsistensi BRI mengutamakan UKM itu telah
menjadi kekuatan dan nilai lebih yang menempatkan Rudjito sebagai Dirut
BRI meraih CEO BUMN Terbaik 2003 dan sekaligus menempatkan BRI sebagai
BUMN bidang Keuangan Terbaik 2003 pula. Pemilihan terbaik itu dilakukan Kementerian BUMN bersama
Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM-FEUI),
Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI), dan Universitas Al
Azhar Indonesia terhadap 20 nominasi BUMN termasuk CEO-nya.
Keteguhan memegang prinsip, dedikasi dan kemampuan membentuk tim yang
solid, membuat Rudjito menjadi bintang pada acara Indonesia BUMN Expo 2003
itu. Ia
tidak saja terpilih sebagai CEO BUMN terbaik, tapi bank
yang dipimpinnya juga terpilih sebagai BUMN keuangan terbaik. Ikut
terpilih bersama Rudjito adalah Dadang Heru Kodri (Direktur Utama PT Pupuk
Kujang) dan Deddy Aditya Sumanegara (Direktur Utama PT Aneka Tambang).
Perihal keberhasilannya meraih penghargaan terbaik itu,
Rudjito menyatakan merasa terkejut dan bersyukur. “Mudah-mudahan Allah
memberikan manfaat bagi pribadi, keluarga dan institusi saya," tambahnya
saat menerima penghargaan itu. Namun, ia mengaku tidak mengetahui,
mengapa dirinya terpilih sebagai CEO terbaik.
Sementara, Direktur Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Ruslan Prijadi, selaku Ketua Dewan Juri, menilai
Rudjito seorang atasan yang menguasai masalah secara komprehensif mulai
dari atas sampai bawah. Ia menilai Rudjito mampu menularkan visi dan
misinya kepada bawahannya. Rudjito dinilai layak disebut sebagai contoh
CEO yang melakukan pengkaderan dengan sangat baik.
Rudjito juga dinilai berhasil menyemangati konsistensi BRI
kepada UKM. Selama ia menjabat direktur utama, BRI makin konsisten
memfokuskan pada pemberian kredit kepada usaha kecil dan menengah, usaha
yang nyaris tidak dilirik oleh bank lain. Rudjito juga mengaku bahwa
konsistensi selama 107 tahun itulah, yang meningkatkan kinerja BRI,
walaupun bank ini sempat direkapitulasi pada 2000 lalu. Hal ini telah menjadi salah satu faktor penting dalam
kepemimpinan mantan Direktur Korporasi dan Internasional Bank Dagang
Negara dan Ketua Asosiasi Para Banker ASEAN 2001–2003 ini. Kenal BRI Sejak Kecil
Alumni Fakultas Ekonomi UGM (1972) kelahiran Klaten 56 tahun silam ini sejak kecil sudah mengenal
dekat BRI. Waktu itu, ayah Rudjito memiliki usaha jahitan dan menjadi
nasabah loyal BRI Klaten. Bahkan BRI unit, yang kantornya terletak di
seberang rumah Rudjito, itu tidak bosan-bosan menawarkan kredit tambahan
kepada ayahnya. Dari pengalaman masa kecilnya itulah, Rudjito mempunyai
keyakinan bahwa BRI adalah bank “wong cilik” yang layak untuk
diperjuangkan kebesarannya.
Sejak menduduki jabatan sebagai Dirut BRI, bapak tiga anak ini langsung
mengenalkan tiga prinsip kepada bawahannya. Ketiga prinsip tersebut adalah
membangun komunikasi interaktif dengan karyawan, membangun budaya
berpikir positif, serta menggalang kerjasama tim. Ketiga prinsip ini ia
ramu dengan penyampaian visi dan misi BRI secara luas.
Pria yang menjabat sebagai Pimpinan Asosiasi Para Banker ASEAN
(2001-2003), ini dalam berinteraksi dengan karyawan, tidak menyukai adanya
batas antara anak buah dengan atasan. Meskipun semula ada sikap skeptis
dari orang lama BRI tentang keandalannya dalam memimpin bank ritel
terbesar di Indonesia itu, Rudjito mengatasinya dengan berpikir positif.
Ia mengutamakan terciptanya komunikasi yang lancar antara atasan dengan
bawahan dengan membuka pintu bagi setiap karyawan BRI untuk menyampaikan
aspirasinya melalui telepon kantor maupun telepon genggamnya yang selalu
berada dalam posisi stand by setiap saat ataupun melalui e-mail. Dalam
setiap acara internal perusahaan pun Rudjito tidak tampil kaku. Ia malah
sering tampil sebagai penyanyi ketimbang berpidato sebagai pimpinan.
Meningkatkan Kinerja
Hanya dalam tempo empat bulan, sejak bergabung dengan bank “wong cilik”
ini pada 17 Juli 2000,
sebagai Direktur Utama, Rudjito berhasil meningkatkan performance BRI jauh lebih tinggi dari
yang ditargetkan. Lalu, satu setengah tahun kemudian, bersama enam direksi baru lainnya,
ia berhasil
menggenjot laba bersih bank ini dari Rp 11 miliar menjadi Rp 335 miliar.
Bahkan kinerja Bank BRI ini sampai triwulan ketiga 2003, telah berhasil
meraih laba usaha sebelum pajak sebesar Rp 2,7 triliun. Laba usaha yang
dibukukan pada periode Juli hingga September sebesar Rp 935 miliar. Laba
usaha yang mencapai Rp 2,7 triliun itu meningkat sebesar 104,23 persen
dibandingkan dengan periode sama tahun 2002, sebesar Rp 1,316 triliun.
Besarnya laba ini terutama dari peningkatan pendapatan bunga.
Hingga triwulan ketiga 2003, Bank BRI membukukan pendapatan bunga bersih
(net interest income) sebesar Rp 5,7 triliun dibandingkan dengan tahun
sebelumnya sebesar Rp 4,456 triliun. Dari jumlah Rp 5,7 triliun tersebut,
sebesar Rp 3 triliun di antaranya merupakan pendapatan bunga di luar
obligasi pemerintah yang masih berjumlah Rp 27 triliun.
Dengan laba usaha sebesar Rp 2,7 triliun itu, return on aset Bank BRI
mencapai 4,04 persen, sedangkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,23
persen. Return on equity sebesar 45,23 persen yang sebelumnya sebesar
49,90 persen dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 17,56 persen, sebelumnya 12,58 persen.
Sementara, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun hingga 30
September 2003 sebesar Rp 73,598 triliun. DPK tersebut didominasi tabungan
dan giro sebesar 59,55 persen. Outstanding deposito 40,45 persen atau Rp
29,773 triliun.
Pinjaman yang disalurkan juga makin meningkat. Hingga akhir September 2003
tercatat sebesar Rp 45,617 triliun atau meningkat 18,81 persen dari
periode sama tahun 2002 sebesar Rp 38,395 triliun. Dengan outstanding
kredit tersebut, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/
LDR) Bank BRI sebesar 61,98 persen dibandingkan dengan periode sama tahun
lalu sebesar 60,32 persen.
Lebih menarik lagi, kucuran kredit kepada usaha mikro, kecil dan menengah
(UMKM) sebesar 86,25 persen. Hal ini semakin mengukuhkan Bank BRI tetap
pada komitmen mengutamakan bisnisnya terhadap UMKM.
Peningkatan kinerja yang demikian signifikan ni merupakan hasil sentuhan
tangan Rudjito bersama direksi BRI lainnya, yang juga telah berhasil
mengantarkan bank ini go public.
Selepas keberhasilan go public BRI yang telah listing di Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) sejak 10 November 2003 lalu, BRI juga
telah meluncurkan Obligasi Rupiah pada awal Januari 2004 ini. Nilai obligasi subordinasi
BRI itu sebanyak-banyaknya Rp 1 triliun. Sedangkan jangka
waktu obligasi subordinasi ini adalah lima tahun dengan opsi perpanjangan
lima tahun lagi.
Rudjito, menjelaskan, penerbitan obligasi subordinasi dalam dollar AS
sebesar 150 juta dollar AS dan obligasi subordinasi rupiah ini dimaksudkan
untuk mendukung pertumbuhan bisnis Bank BRI sebesar 18 hingga 20 persen
per tahun mulai tahun 2004. Juga untuk mengantisipasi pemberlakuan Bassel
Accord II yang mengharuskan bank memasukkan risiko pasar ke dalam risiko
kredit.
=>
LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|