| |
C © updated 17042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ht |
|
| |
Nama:
H. Rahardjo Tjakraningrat
Lahir:
Jombang, 12 Februari 1943
Agama:
Islam
Istri:
Sobah Murad
Anak:
5 (Lima) orang
Pendidikan:
Tahun 1966 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Jakarta
Pekerjaan:
2000-2002: Komisaris PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
1996-2000: Komisaris PT Multi Eka Karma
1995-2000: Direktur Utama PT Telesarana Adi Prima
1992-1995: Direktur Keuangan PT BELTDC
1986-1991: Direktur Komersil PT Rajasa Hazanah Perkasa
1979-1985: Direktur Utama PT Prasetia
1976-1978: Direktur Utama PT Erexta Commercial Development
1970-1975: Direktur Operasi PT NASIO
1967-1969: General Manager PT Lambreta Service
Organisasi:
2002-sekarang: Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia (PSI)
2002: Ketua Umum Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
2001-sekarang: Ketua Umum Apnatel (Asosiasi Perusahaan Nasional
Telekomunikasi)
2000-2002: Presidium Mastel (Masyarakat Telematika)
1998-2001: Ketua Umum Apnatel
1997-2000: Ketua Bidang Organisasi Mastel
1995-1998: Ketua Umum Apnatel
1994-1997: Ketua Bidang Organisasi Mastel
1993-1995: Pjs Ketua Umum Apnatel Pusat
1992-1995: Ketua Apnatel Pusat Bidang Organisasi
1989-1992: Ketua Apnatel Pusat Bidang Organisasi
1986-1989: Ketua Apnatel Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Penghargaan:
1. Tahun 1999: Penghargaan Top Eksekutif dan Pengusaha Indonesia
dari Pusat Profil dan Bisnis Indonesia
2. Tahun 1998: Penghargaan sebagai Eksekutif Indonesia Berprestasi dari
Nirwana Indonesia.
3. Tahun 1997: Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang Telekomunikasi dari
Pemerintah Republik Indonesia atas nama pribadi Rahardjo Tjakraningrat.
4. Tahun 1996: Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang Telekomunikasi dari
Pemerintah Republik Indonesia atas nama Asosiasi Perusahaan Nasional
Telekomunikasi (Apnatel).
Alamat:
Jl.Ampera Raya No. 65 Cilandak, Jakarta Selatan Telp: (021)
78847138, Fax: (021) 7800106.
|
|
| |
|
|
|
|
RahardjoTjakraningrat
Kiprah Politik Bermoral
Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia (PSI) ini berpendapat untuk bisa
melepaskan bangsa ini dari krisis multidimensional dibutuhkan pemimpin
baru yang memiliki kriteria jujur, jati dirinya jelas, kehidupannya mapan,
memiliki semangat kewirausahaan tinggi, sebagai manajer yang menguasai
public administration, juga harus dekat dengan rakyat. PSI melihat bahwa
Siswono Yudo Husodo bisa memenuhi syarat itu secara keseluruhan, sehingga
ditetapkan sebagai Calon Presiden Pemilu 2004.
Seluruh DPD PSI Oktober 2003 sepakat mengusung nama Siswono sebagai calon
residen Pemilu 2004. Partai inilah pertama kali yang menyatakan secara
tegas dan resmi menjadikan Siswono sebagai satu-satunya Capres dari PSI.
Siswono yang kuliah di ITB Bandung sudah dikenal Rahardjo semenjak masa
kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), sebab Siswono yang
ketika itu berpacaran dengan Ratih Gondokusumo (yang kemudian menjadi
istrinya) adalah adik kelas Rahardjo di FH-UI. Semasa kuliah mereka sudah
sering bertemu.
Sementara Rahardjo sendiri sedari awal diangkat menjadi Ketua Umum PSI
tahun 2002, sudah menyatakan sikap untuk tidak mencalonkan diri menjadi
presiden, tidak mau masuk dalam kabinet, tidak pula ikut menjadi calon
anggota legislatif. Dia hanya bertekad membesarkan PSI supaya menjadi
partai yang modern.
Dia memilih akan menjadi oposisi agar lebih bebas mengkritisi setiap
kebijakan pemerintah secara konstruktif. Kendati, Siswono kelak yang
terpilih menjadi presiden. Dia tetap akan berada di luar struktur
pemerintahan untuk segera teriak jika Siswono tidak konsisten atau lupa
pada platform perjuangan.
Pria kelahiran Jombang 12 Februari 1943 ini boleh dikata adalah seorang
pendatang baru yang patut diperhitung-kan dalam dunia perpolitikan
nasional. Konstruksi pemikiran dan solusi yang dia tawarkan atas pemecahan
permasalahan bangsa masih jernih. Bicaranya ceplas ceplos tanpa tedeng
aling-aling tanpa tendensi dan interest pribadi. Terkadang kuping tidak
kuat mendengar kekritisannya sebab dia menganalisa persoalan bangsa begitu
tajam.
Dalam dua tahun terakhir dia adalah ketua umum sebuah partai Islam tertua
di Indonesia, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Dia mau bersedia
menjadi ketua partai itu setelah menjalani istiqoroh selama beberapa hari
berturut-turut.
Dia sebelumnya telah sukses dalam bisnis telekomunikasi, hingga pernah
dipercaya sebagai orang swasta pertama menjabat komisaris PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2000-2002. Bahkan, sebelumnya dia
pernah dua kali menerima Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang
Telekomunikasi dari Pemerintah RI tahun 1996 dan 1997.
Rahardjo, anak kelima dari enam bersaudara adalah keturunan ningrat,
berdarah biru, dari seorang ayah asal Madura. Namun jika berbicara nadanya
sudah sangat kental dengan logat Betawi. Ayah lima orang anak dan kakek
dari beberapa orang cucu ini hidup beristrikan Sobah Murad wanita asal
Jakarta bercampur sedikit darah Arab. Dalam membangun terminologi,
paradigma dan sudut pandang tajam dan jelas.
Misalnya, ketidakinginannya masuk dalam struktur pemerintahan melainkan
menjadi oposisi adalah agar bisa lebih independen mengkritisi kebijakan
pemerintah. Sistem pemerintahan Indonesia yang presidensial belakangan ini
menjadi banci. Sebab banyak tokoh partai yang tak mau melepaskan jabatan
ketua dan sekjen partai masuk dalam kabinet. Dalam keadaan ini maka sudah
tidak bisa lagi dibedakan antara pengontrol dan pemerintahan. Sebab tokoh
partai yang harusnya mengawasi jalannya pemerintah telah menjadi anggota
pemerintahan itu sendiri.
Seharusnya sesuai sistem pemerintahan presidensil maka siapapun calon
presiden yang menang pemilu apakah itu menang tipis dengan perbedaan hanya
satu atau dua suara, maka wajib dipercayakan kepadanya membentuk
pemerintahan tanpa harus berkoalisi. Yang kalah dipersilakan menjadi
oposisi dan jangan mengikutkan kadernya dalam kabinet, jadilah menjalankan
fungsi kontrol terhadap pemerintahan agar check and balances.
Berbeda jika partai PSI tampil sebagai pemenang mutlak pemilu maka adalah
tugas pemenang menyusun kabinet. “Tapi, belum tentu pengurus partai duduk
di situ, termasuk saya, belum tentu. Mungkin, kita akan ambil kader-kader
bangsa, putra-putra bangsa terbaik, kan banyak yang profesional,” kata
Rahardjo. Dia akan tetap sebagai ketua umum sebab dari awal masuk partai
dia tidak berkeinginan menjadi penjabat.
“Saya disuruh menjadi penjabat saya nggak suka. Apaan penjabat, bedanya
cuma satu huruf dengan penjahat. Penjabat salah sedikit jadi penjahat,
buat apa. Udah itu dikawal-kawal kemana-mana ah.… Saya lebih menghargai
kebebasan dalam hidup saya. Makanya dari dulu saya tidak mau ditarik
grupnya Tommy, ditarik grupnya Bimantara, ditarik grupnya Tutut, saya
nggak pernah mau. Kenapa, karena saya nggak mau dibudakin,” terang
Rahardjo dalam dialek Betawi yang kental.
Konsisten membina partai, menyiapkannya menjadi partai kader yang
berprospek baik bermasa depan bagi anak muda, adalah sebab utama dia tidak
mau menjadi caleg PSI. “Dari 258 caleg PSI hanya 13 yang merupakan
pengurus partai,” jelasnya lagi.
Dia bertekad betul hanya mau menjalankan kiprah politik yang baik-baik,
yang bermoral, walau itu dianggap orang banyak sesuatu yang masih tidak
lazim di negeri ini.
Ingin Perubahan
Dia yang sesungguhnya adalah pengusaha yang sejak tahun 1967 sudah sukses
menggeluti dagang usaha telekomunikasi, terjun ke politik melalui cara
yang unik. Berawal dari omong-omong dengan Ketua Umum Partai Syarikat
Islam Indonesia (PSII), Taufik Cokroaminoto di tahun 1998. Taufik pernah
memintanya untuk membantu PSII duduk sebagai salah seorang ketua.
Permintaan membantu dia amini namun tawaran duduk sebagai pengurus teras
partai dia tolak, sebab memang tidak menaruh minat ke politik.
Sepenggal kepeduliannya terhadap politik yang pernah diperlihatkannya
hanyalah tatkala arus reformasi menggelinding begitu kuat di tahun 1998.
Dia membangun sembilan dapur umum menyiapkan logistik buat para mahasiswa
di gedung DPR/MPR Senayan yang sedang berdemonstrasi. Kemudian berlanjut
ke Pemilu 1999 dia banyak mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk
menyiapkan kaos dan bendera PDI-P agar partai ini bisa memenangkan pemilu.
Yang terbersit di hatinya ikhlas membantu arus reformasi sederhana saja,
ingin melihat perubahan baru terjadi di republik ini. Perubahan memang
drastis terjadi tapi serba absurd. Gedung DPR/MPR yang pernah menjadi
gelanggang bagi kekuatan reformasi berkumpul telah berubah menjadi arena
politik dagang sapi. Sebelum menjadi anggota parlemen, beberapa kawannya
di partai-partai politik sering digelari bersepatu miring sebab
kehidupannya masih turun naik bis kota, masih sering minta dan meminjam
duit, dan rumah ngontrak. Namun baru dua tahun saja menginjak Senayan
mereka sudah mempunyai mobil mewah, rumah mentereng satu-dua buah,
kekayaannya bahkan sudah melebihi pengusaha.
Setelah Taufik Cokroaminoto meninggal dunia dengan wasiat agar pengurus
PSII mencari Rahardjo Tjakraningrat apabila terjadi sesuatu hal terhadap
partai. Maka, tahun 2002, tak kurang 10 pengurus PSII, menemui Rahardjo
dan mendaulatnya menjadi ketua umum PSII. Dengan berbagai cara dia
mengelak hingga berbulan-bulan. Namun setelah melalui istiqoroh selama
tiga hari berturut-turut dan menjelang subuh di hari ketiga akhirnya dia
diberi tanda dalam bayangannya muncul dua kalimat syahadat yang sekelabat
melintas. Dari pengurus PSII dia akhinya mengetahui bahwa dua kalimat
syahadat itu adalah lambang PSII.
Berdasarkan petunjuk itulah dia mau memulai kiprah politik memimpin PSII,
membangun pondasi dan infrastruktur partai, melakukan konsolidasi dan
kaderisasi partai, mencoba membangun koalisi baru dengan partai-partai
kecil lain agar bisa lolos mengikuti Pemilu 2004. Bersama berbagai tokoh
puncak partai-partai yang tak lolos electoral threshold pada Pemilu 1999,
dia berhasil menggagas “Deklarasi Bogor” pada 13 Desember 2002. Salah satu
isinya, memunculkan nama baru Partai Sarikat Indonesia (PSI) sebagai
kendaraan politik menuju Pemilu 2004. Tak lama kemudian, 17 Desember 2002
pendirian PSI resmi dideklarasikan di Surabaya, Jawa Timur sebagai sebuah
entitas partai politik baru berazaskan Pancasila.
Berdarah Biru
Rahardjo Tjakraningrat lahir di Jombang, Jawa Timur 12 Februari 19043
sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya yang asal Madura adalah
berdarah biru, keturunan Tjakraningrat IV yang selalu diuber-uber Belanda.
Mereka selalu hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran Belanda.
Karena itu dari mereka enam bersaudara, empat laki-laki dan dua perempuan,
tidak ada satupun yang sama tempat lahirnya. Ada yang lahir di Banyuwangi,
Bondowoso, Situbondo, Pasuruan, Jombang, dan Sumba. Adek bungsunya,
Sumbawati, lahir di Sumba Nusa Tenggara Timur, mengikuti tempat pembuangan
ayahnya yang akhirnya bisa tertangkap Belanda. Waktu pembuangan itu,
Rahardjo masih kanak-kanak berusia tujuh tahun.
Memasuki usia remaja, Rahardjo tergolong bandel yang suka berkelahi. Sikap
itu mengikuti kultur pendidikan dan pengajaran ayahnya yang bergaya Madura.
Ia diajar harus berani. Jika pulang ke rumah dengan muka bengkak sehabis
kalah berkelahi, ayahnya akan memaksa mengantarnya kembali menghadapi
lawan mainnya untuk berkelahi ulang. “Jadi, kalau saya berkelahi sama yang
lebih besar yang saya tahu saya pasti kalah, saya nggak berani bilang,
saya ngumpat, kalau nggak saya disuruh berkelahi,” kenangnya.
Walau keturunan ningrat, ia melihat ayahnya sangat merakyat, sehingga tak
suka menggunakan gelar bangsawannya. Gelar itu dianggap feodal. Ia sendiri
baru berani menggunakan nama Tjakraningrat setelah ayahnya meninggal dunia.
Penelusuran kepastian sejarah darah biru itu baru berhasil dia ketemukan
dua tiga tahun terakhir. Semasa hidup ayahnya tidak pernah menjelaskan
soal asal usul darah birunya itu secara terbuka.
Rahardjo memasuki pendidikan FH-UI tahun 1966 sekedar mengikuti keinginan
ayahnya yang hakim militer. Bersama teman-temannya di UI dalam satu geng,
Rahardjo yang suka berkelahi pernah aktif mengganyang CGMI. Namun, ketika
geng-nya itu mulai ikut-ikutan menyerang pribadi Bung Karno, dia berhenti
dan keluar. Rahardjo sadar, bisa menikmati pendidikan tinggi dan alam
kemerdekaan adalah hasil perjuangan Bapak Bangsa Bung Karno.
Kemudian Rahardjo mulai aktif berdagang. Dagang apa saja, nyatut sana
nyatut sini, termasuk memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Grup Diskusi
Mahasiswa UI Rayon Menteng yang banyak beranggotakan gadis-gadis cantik
Menteng, Jakarta Pusat. Dengan perusahaan Berdikari yang banyak diisi
kakak-kakak kelasnya Rahardjo banyak berbisnis DO (delivery order),
misalnya barang pecah-belah, atau mesin tik. Masih lajang namun sudah
banyak duit, ia pun jadi malas meneruskan kuliah.
Sejak tahun 1969, ia resmi memasuki dunia bisnis dan fokus hanya di bidang
telekomunikasi. Dalam setiap perusahaan yang didirikan bersama kawannya,
Rahardjo selalu memilih menjadi pemilik saham terkecil, misalnya 30:70,
atau 40:60. Namun, kendali perusahaan harus selalu dia pegang sebagai
direktur utama agar mudah mencari proyek. Sedangkan urusan keuangan
dipercayakan sepenuhnya kepada partner. Dia selalu fokus di telekomunikasi.
Pernah suatu ketika dia melakukan diversifikasi usaha di Belitung Tourism,
Bangka Belitung, namun hasil yang dia petik adalah uang berhamburan tak
karuan modal hilang tak kembali. Pengalaman itu mengajarnya untuk tak
beranjak dari telekomunikasi.
Organisasi telekomunikasi seperti Asosiasi Perusahaan Nasional
Telekomunikasi (Apnatel) dan Masyarakat Telematika (Mastel) berkali-kali
dia pimpin. Kiprahnya yang demikian panjang hingga kawakan di
telekomunikasi berhasil menarik perhatian pemerintah. Dua kali ia menerima
penghargaan dan dipercaya menjadi Komisari PT Telkom.
Kedaulatan Rakyat
Rahardjo sangat berharap Pemilu 2004 berhasil mengembalikan kedaulatan
kepada rakyat, sesuai platform PSI. Sebab, menurutnya, PSI melihat rakyat
saat ini sudah tidak berdaulat. Semua ditentukan partai tanpa rakyat bisa
bicara apa-apa. Semua ditentukan oleh penguasa. MPR pun sudah dikebiri
melalui amandemen padahal sebelumnya rakyat masih belum berdaulat melalui
MPR. Sekarang kedaulatan rakyat itu kembali dikebiri melalui undang-undang
yang dibuat DPR.
“Mestinya kedaulatan itu dikembalikan ke rakyat. Caranya gimana, bisa
macam-macam. Menurut saya pemilu legislatif nggak mesti ada. Yang ada
adalah pemilu memilih anggota MPR langsung, tidak melalui partai.
Bagaimana mekanismenya, bisa dibikin. Duduklah di MPR 1.000 orang yang
dipilih rakyat langsung. Dialah nanti yang akan melakukan pemilihan
anggota DPR, eksekutif, dan yudikatif.”
Sasaran kedua, masih sesuai platform PSI, bangsa Indonesia mesti kembali
ke kodrat sebagai bangsa agraria. Bangsa Indonesia telah diberikan Tuhan
laut yang kaya, tanah yang subur, sumber alam yang melimpah, iklim yang
bagus, sebaiknya harus membangun industri agro sebab 65 persen rakyat
hidup di situ. Ia sangat berharap Indonesia bisa melalukan
terobosan-terobosan ekonomi yang revolusioner. Dengan menjalankan industri
agro pembukaan lapangan kerja bisa dilakukan, kemiskinan bisa diatasi,
industri substitusi impor bisa tumbuh dengan sendirinya. Akumulasinya
adalah untuk meningkatkan daya beli rakyat.
Jadi, konsep-konsep itulah yang didorong kepada Siswono yang kalau
berkuasa nanti harus fokus kepada pembangunan agroindustri. Itu yang kita
minta kepada dia karena di situlah rakyat miskin kita 65 persen berada.
Ia melihat untuk melakukan hentakan dan terobosan-terobosan ekonomi yang
revolusioner itu perlu ada political will, political decision, dan
political action pemerintah. “Ketiganya mesti ada, baru bisa jalan.
Makanya pemerintah kalau nggak dipimpin oleh seorang entrepreneur nggak
akan jalan,” kata Rahardjo yang merasa sangat heran Indonesia negara
kepulauan tapi tiap tahun harus mengimpor garam satu juta ton/tahun.
Indonesia penghasil buah yang baik namun di desa-desa dengan mudah bisa
ditemukan peer dan apel impor.
Sesuai platform sebagai partai kader, apapun Pemilu 2004, berhasil atau
tidak meloloskan PSI dari batasan electoral threshold, Rahardjo sudah
menyiapkan konsep membangun partai lima tahun ke depan. Pendidikan kader
adalah kunci keberhasilan PSI ke depan. Rahardjo sudah akan menciptakan
sistem manajemen kepartaian yang baku yang tidak tergantung kepada figur
pemimpin.
Siapa pun yang memimpin PSI jika sistemnya sudah jalan tidak akan
menggoyahkan perahu partai. Sama seperti partai LDP di Jepang yang
terkadang setiap tiga bulan sekali bisa berganti ketua umum karena
berbagai tuduhan. Tapi partai LDP tetap jalan smooth. “Ini, harus kita
ciptakan. Karena itu perlu kaderisasi agar kader PSI bisa militan yang
kalau otaknya dipecah isinya PSI, kasarnya begitu.”
Selain menciptakan manajemen kepartaian yang baku, ia juga sudah
menyiapkan konsep sistem ekonomi partai melalui koperasi sehingga setiap
daerah DPC bisa membiayai dirinya sendiri tanpa droping-droping-an dari
pusat. “Insya Allah, PSI ini akan menjadi partai yang modern. Kita nggak
bisa mengandalkan iuran anggota partai, omong kosong itu. Dalam 10 tahun
ke depan iuran nggak bisa diharapkan selama rakyat masih miskin dan belum
cerdas.”
Walau umur sudah melebihi 61 tahun namun sepintas raut muka Rahardjo
tampak jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya. Laksana baru memasuki
usia kepala lima saja. Dia ternyata punya resep tersendiri untuk hal itu.
Yaitu, selalu santai dan tidak pernah ngoyo dalam menghadapi setiap
masalah. Apapun yang dikerjakan harus dengan ikhlas. Membantu teman pun
harus ikhlas jangan mengharapkan sesuatu balikannya. Termasuk menghadapi
masa-masa perhitungan suara hasil pemilu legislatif, ia tampak tidak ngoyo
atau berusaha mempengaruhi hasil perhitungan suara yang menggunakan
teknologi informasi. Ia menyebutkan, setelah berusaha maksimum PSI mau
nomor berapa perolehan suara atau dapat kursi berapa di parlemen, itu
terserah saja sudah tidak bisa diapa-apain melainkan sudah urusan Tuhan.
Ia kini hidup bahagia bersama istri dan lima orang anak, terdiri empat
perempuan satu laki-laki. Tiga anak pertama sudah menikah dan memberinya
sejumlah cucu. Sebelum resmi terjun ke dunia politik adalah istrinya yang
pertama kali dia mintakan pendapat tentang kemungkinan kiprah barunya itu.
Dia menjelaskan segala konsekuensi pilihan itu, seperti pengorbanan akan
uang, tenaga, dan waktu yang pasti akan tercurah ke partai.
“Kalau memang sudah harus begitu, kenapa nggak, ambil saja,” sikap
istrinya mendukung Rahardjo. Dukungan istri itu semakin nyata. Sang Isteri
ikut mendampingi Rahardjo dua bulan penuh berkunjung ke daerah-daerah
bahkan ikut berkampanye.
Ia membiasakan diri, apapun yang dikerjakan, harus lebih dahulu memperoleh
dukungan dari keluarga terutama istri. Sebab jika tidak direstui, misalnya,
akan selalu muncul rasa tidak enak di hati.
Rahardjo menyebut adalah biasa dalam rumah tangga muncul ribut-ribut. Jika
itu timbul maka ia pasti akan berusaha menyelesaikan masalah itu sesegera
mungkin tanpa menunggu esok pagi. Jika hingga malam, atau subuh masalah
itu belum terselesaikan, maka ia lebih memilih diam di rumah tidak
berangkat ke kantor. “Kalau sudah selesai, saya ke kantor diantar ke depan
pintu, nah, itu baru enak. Kalau keluar kita nggak ngomong sama istri
waktu ngerasain di kantor nggak enak, saya itu gitu. Jadi saya harus
selesaikan dulu. Selesai udah, damai kita, dada-dadaan deh, ke kantor,
baru kita enak,” ujarnya. ►ht/ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|