| |
C © updated
05122004-01112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr the jakarta post |
|
| |
Nama:
Prabowo Subianto
Lahir:
Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama:
Islam
Pendidikan:
SMA: American School In London, U.K. (1969)
Akabri Darat Magelang (1970-1974)
Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD
Kursus/Pelatihan:
Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
Kursus Para Komando (1975)
Jump Master (1977)
Kursus Perwira Penyelidik (1977)
Free Fall (1981)
Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981)
Special Forces Officer Course, Ft. Benning U.S.A. (1981)
Pekerjaan:
Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1974 – 1998)
Wiraswasta
Jabatan:
Komandan Peleton Para Komando Group-1 Kopassandha (1976)
Komandan Kompi Para Komando Group-1 Kopassandha (1977)
Wakil Komandan Detasemen–81 Kopassus (1983-1985)
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1985-1987)
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1987-1991)
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad (1991-1993)
Komandan Group-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
(1993-1995)
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (1994)
Komandan Komando Pasukan Khusus (1995-1996)
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998)
Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998)
Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998)
Jabatan Sekarang:
=
Ketua Umum HKTI periode 2004-2009
=
Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan
=
President Dan Ceo PT Tidar Kerinci Agung (Perusahaan Produksi Minyak
Kelapa Sawit), Jakarta, Indonesia
=
President Dan Ceo PT Nusantara Energy (Migas, Pertambangan, Pertanian,
Kehutanan Dan Pulp) Jakarta, Indonesia
=
President Dan Ceo PT Jaladri Nusantara (Perusahaan Perikanan) Jakarta,
Indonesia
Tanda Jasa/Penghargaan:
=
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya (Prestasi)
=
Satya Lencana Kesetiaan Xvi Tahun
=
Satya Lencana Seroja Ulangan–Iii
=
Satya Lencana Raksaka Dharma
=
Satya Lencana Dwija Sistha
=
Satya Lencana Wira Karya
=
The First Class The Padin Medal Ops Honor Dari Kamboja
=
Bintang Yudha Dharma Nararya
Keterangan Lain:
Keanggotaan Dalam Organisasi Politik
Dewan Penasihat Organisasi Kosgoro
Keanggotaan Dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Ketua Yayasan Pendidikan Kebangsaan
(Universitas Kebangsaan)
Ketua Majelis Perhimpunan Keluarga Mahasiswa Dan Alumni Supersemar
Pendiri Koperasi Swadesi Indonesia (Ksi) Dengan 14 Cabang Di 4 Provinsi di
Indonesia
Ketua Yayasan 25 Januari
Ketua Umum PB Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia (IPSI) |
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 ==
Prabowo Subianto
Kembali ke Ladang Pengabdian
Pensiun dari dinas militer, Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia mengabdi
pada dua dunia. Nama mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus ini kembali mencuat, menyusul
keikutsertaannya dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Kemudian
dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
dan Kongres V Petani 5 Desember 2004 di Jakarta, dia terpilih menjadi
Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 menggantikan Siswono Yudo Husodo dengan
memperoleh 309 suara, mengalahkan Sekjen HKTI Agusdin Pulungan, yang hanya
meraih 15 suara dan satu abstein dari total 325 suara.
Putera
begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini telah kembali ke ladang
pengabdian negerinya.
Tak berlebihan untuk mengatakannya demikian. Maklum, kendati sudah hampir
tiga tahun pulang ke tanah air – setelah sempat menetap di Amman, Yordania
– Prabowo praktis tak pernah muncul di depan publik. Apalagi, ikut
nimbrung dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang sarat dengan adu-kepentingan
segelintir elite.
Mantan menantu Soeharto ini lebih memilih diam, sembari menekuni kesibukan
baru sebagai pengusaha. ”Kalau bukan karena dorongan teman-teman dan
panggilan nurani untuk ikut memulihkan negara dari kondisi keterpurukan,
ingin rasanya saya tetap mengabdi di jalur bisnis. Saya ingin jadi petani,”
ucap Prabowo.
Diakui, keikutsertaannya dalam konvensi Partai Golkar bukan
dilatarbelakangi oleh hasrat, apalagi ambisi untuk berkuasa. Seperti
sering diucapkan, bahkan sejak masih aktif dalam dinas militer, dirinya
telah bersumpah hendak mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa dan
rakyat Indonesia.
Prabowo sangat mafhum, menjadi capres – apalagi kemudian
terpilih sebagai presiden – bukan pilihan enak. Karena, siapa pun nanti
yang dipilih rakyat untuk memimpin republik niscaya bakal menghadapi tugas
yang maha berat. ”Karenanya, Pemilu 2004 merupakan momentum yang sangat
strategis untuk memilih pemimpin bangsa yang tidak saja bertaqwa, tapi
juga bermoral, punya leadership kuat dan visi yang jelas untuk memperbaiki
bangsa,” tambahnya.
Bagi sebagian orang, rasanya aneh menyaksikan sosok Prabowo Subianto tanpa
seragam militer. Tampil rapi dengan setelan PDH warna kelabu, lelaki 52
tahun itu memang terlihat lebih rileks jika dibandingkan semasa masih
dinas aktif dulu. Senyumnya mengembang dan tak sungkan berbaur dengan
masyarakat – utamanya kader-kader Partai Golkar – yang antusias menyambut
kedatangannya di beberapa kota.
Dalam setiap orasi selama mengikuti tahapan konvensi calon presiden Partai
Golkar, Prabowo bahkan amat fasih bertutur tentang kesulitan yang
mengimpit para petani dan nelayan, serta beraneka problem riil di
masyarakat yang kian mengenaskan. ”Situasi ini harus cepat diakhiri. Kita
harus bangkit dari kondisi keterpurukan dan membangun kembali Indonesia
yang sejahtera,” ujarnya di atas podium.
Lahan Pengabdian
Pengabdian memang tak mengenal ruang dan waktu. Yang penting, bagi Prabowo,
pengabdian harus dilandasi oleh komitmen dan kesungguhan untuk menjadi
yang terbaik. Tentang ini, perjalanan hidup Prabowo – yang hampir
separonya diabdikan sebagai prajurit TNI AD – memberi kesaksian penting
ihwal bagaimana pengabdian dilakukan. Juga, bagaimana menyikapi risiko
dari sebuah keputusan. Jika dicermati, perjalanan hidup Prabowo memang
penuh mozaik dan sarat dengan cerita mengharu biru. Suatu perjalanan yang
membuatnya lekat dengan pujian, sekaligus cercaan.
Sejarah mencatat, pengabdian 24 tahun Prabowo dalam dinas militer tidak
sekadar mengantarkannya menjadi jenderal berbintang tiga. Namun, sekaligus
meneguhkan reputasi pribadinya, hingga tercatat sebagai salah seorang
tokoh yang berperan dan menjadi saksi penting dalam sejarah republik.
Sebagai perwira TNI AD, reputasi alumnus Akabri Magelang (1974) ini memang
membanggakan. Karier militernya – yang banyak diisi dengan penugasan di
satuan tempur – terhitung lempang.
Pada masanya, Prabowo bahkan sempat dikenal sebagai the brightest star,
bintang paling bersinar di jajaran militer Indonesia. Dialah jenderal
termuda yang meraih tiga bintang pada usia 46 tahun. Ia juga dikenal
cerdas dan berpengaruh, seiring dengan penempatannya sebagai penyandang
tongkat komando di pos-pos strategis TNI AD.
Nama Prabowo mulai diperhitungkan, terutama sejak ia menjabat Komandan
Jenderal Kopassus (1996) dan aktif memelopori pemekaran satuan baret merah
itu. Dua tahun kemudian, ayah satu anak ini dipromosikan menjadi Panglima
Kostrad. Posisi strategis yang, sayangnya, tidak lebih dari dua bulan ia
tempati. Karier gemilang Prabowo memang kemudian meredup seketika. Sehari
setelah Presiden Soeharto mundur dari kekuasaan, 21 Mei 1998, Prabowo –
yang ketika itu menantu Soeharto – ikut digusur. Ia dimutasikan menjadi
Komandan Sesko ABRI, sebelum akhirnya pensiun dini. Berbarengan dengan itu,
bintang di pentas militer itu lantas diberondong dengan aneka rumor.
Publik seolah digiring pada stigma serba negatif yang amat memojokkan sang
jenderal.
Mulai dari tudingan bahwa dialah dalang (mastermind) dari serangkaian aksi
penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut kerusuhan
Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan intrik di kalangan
elite ABRI. Mulai dari tudingan adanya ”pertemuan konspirasi” di Markas
Kostrad pada 14 Mei 1998, tuduhan hendak melakukan kudeta yang dikaitkan
dengan isu ”pengepungan” kediaman Presiden B.J. Habibie oleh pasukan
Kostrad dan Kopassus, sampai ke pembeberan sifat-sifat pribadinya
Lebih mengenaskan lagi, hampir semua kekacauan di tanah air sebelum dan
sesudah Mei 1998 nyaris selalu dipertautkan dengan Prabowo.
Setelah hiruk-pikuk 1998 berlalu, yang berujung dengan berakhirnya masa
dinas militernya, Prabowo kemudian terbang ke Inggris, sebelum bermukim di
Yordania. Dari sinilah, ia mulai merintis karier sebagai pengusaha.
Sebagai putra dari keluarga begawan ekonomi Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo, Prabowo sebenarnya tak terlalu asing dengan dunia usaha.
Apalagi, selain ayahnya, anggota keluarga yang lain umumnya juga menekuni
dunia bisnis.
Tak berbeda dengan di militer, karier Prabowo di dunia usaha pun melesat
cepat. Selain karena kesungguhan dan kerja keras, ia juga tergolong
cepat belajar. Kini, lima tahun setelah pensiun, ia telah memimpin armada
bisnis di bawah payung Nusantara Group. Wilayah usahanya terentang dari
Kalimantan Timur hingga Kazakhstan. Dari kelapa sawit, perikanan,
pertanian, bubur kertas (pulp) hingga minyak dan pertambangan. ”Militer
dan bisnis sama saja. Sama-sama lahan untuk mengabdi, dan sama-sama banyak
tantangan yang mesti dihadapi,” tutur Prabowo, yang gigih menawarkan
konsep ekonomi kerakyatan dalam visi-misinya sebagai capres Partai Golkar.
(Ondy)
Pengurus HKTI 2004 -2009:
Ketua Umum: Prabowo Subianto
Ketua Harian: Benny Pasaribu
Ketua:
- Usman Hasan
- Syarifuddin Karama
- Winarno Tohir
- Agusdin Pulungan
- Mindo Sianipar
- Ny Ony Djafar Hafsah
- Lucky Londong
- Rahayu Abdullah
- Abdul Wahid
- Nasrun Arbain
- Soepriyatno
- Fadli Zon
- Sutrisno Iwantono
Sekjen: Rachmat Pambudy
Bendahara Umum: Hengky Ticoalu.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|