|
C © updated
27072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
|
► e-ti/jil |
|
| |
Nama:
Novriantoni
Lahir:
Jabatan:
- Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL)
Pendidikan:
- S1 (sarjana) Universitas Al-Azhar, Mesir
- S2 (Master) Pascasarjana Sosiologi UI Jakarta
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
|
|
|
|
| PUBLIKASI |
|
|
 |
PUBLIKASI:
01
02 03 04
=
Novriantoni The Da Vinci Code dan Kematangan Beragama
30/05/2006: Masih banyak kontroversi yang tak perlu dimuat di sini.
Pendek kata, semua itu cukuplah membuat murka orang-orang yang dogmatis
dan tidak matang dalam beragama. Untuk ukuran orang Kristen, heboh The
Da Vinci Code mungkin setara, bahkan lebih mendasar ketimbang huru-hara
kartun satiris Nabi Muhammad di koran Denmark, Jylland Posten, beberapa
bulan lalu.
Kontroversi The Da Vinci Code, novel laris Dan Brown yang terbit 2003,
kini disusul film dengan judul serupa; adaptasi dari novel tersebut. 19
Mei lalu, film The Da Vinci Code diputar serentak di seluruh dunia. Bagi
sebagian umat Kristen, khususnya kalangan Katolik, inilah karangan fiksi
dan film paling menggemaskan dan mungkin saja menggoncang iman (tentu
bagi yang lemah imannya).
Heboh The Da Vinci Code memang terkait beberapa gambaran tentang aspek
mendasar keyakinan Kristen. Novel dan film tersebut memuat
gagasan-gagasan kurang lazim dan tidak dianut arus utama teologi
kekristenan. Misalnya, di situ digemakan bahwa Yesus atau Isa Almasih
bukanlah Tuhan, melainkan seorang manusia. Sebelum abad keempat, Yesus
hanya dianggap manusia, namun Kaisar Imperium Romawi kala itu,
Konstantin, mendewakan-Nya sesuai keyakinan lamanya yang paganis. Untuk
keperluan klaim-klaim Kristen belakangan, Alkitab, setidaknya yang
dianggap otoritatif, disunting dan digarap sesuai keinginan kekuasaan
kala itu.
Yang tak kalah menegangkan, Yesus juga diceritakan telah menikahi Maria
Magdalena yang kemudian mengandung dan melahirkan anak-Nya. Karena itu,
Magdalena mestinya mendapat penghormatan lebih. Sampai saat ini, masih
dalam alur fiksi Brown, garis keturunan Yesus dari Magdalena masih eksis
di Eropa. Dan konon, Magdalena-lah orang pertama yang ditunjuk untuk
mendirikan gereja Kristen, bukan Santo Petrus.
Imajinasi Brown terus melambung, bermain antara fakta dan fiksi.
Alkisah, sampai kini, komunitas bawah tanah Biarawan Sion masih
mengagungkan sosok Magdalena dan berusaha menjaga kebenaran yang
misterius itu. Selama berabad-abad, Gereja Katolik berusaha menutupi
”kebenaran” itu, bahkan tak segan-segan membunuh orang-orang yang
berusaha mengungkapnya.
Masih banyak kontroversi yang tak perlu dimuat di sini. Pendek kata,
semua itu cukuplah membuat murka orang-orang yang dogmatis dan tidak
matang dalam beragama. Untuk ukuran orang Kristen, heboh The Da Vinci
Code mungkin setara, bahkan lebih mendasar ketimbang huru-hara kartun
satiris Nabi Muhammad di koran Denmark, Jylland Posten, beberapa bulan
lalu.
Tapi yang ingin dibahas di sini adalah tanggapan umat Kristen umumnya,
terutama kalangan Katolik, terhadap pendekatan kritis atas agama, untuk
kita bandingkan dengan sikap umumnya umat Islam.
Respons Umat Kristen
Alhamdulillah, umat Kristen Indonesia tidak menanggapi The Da Vinci Code
secara kalap dan membadak. Dengan begitu, hak semua orang untuk membaca
suatu agama dengan pendekatan kritis tetap terbuka. Tidak ada demonstasi
besar-besaran, apalagi bakar-bakaran. Dan yang penting, para pemuka
gereja tidak tergiur mengikuti tradisi sebagian ulama Islam yang suka
memfatwa-mati orang yang berpandangan kritis terhadap agama. Karena itu,
mereka perlu diberi kredit. Satu-kosong, untuk lepasnya umat Kristen
Indonesia dari masa puber beragama, terutama dalam menyikapi iklim
kebebasan berekspresi yang baru seumur jagung di negeri ini.
Memang ada beberapa keberatan kecil yang muncul. Namun itu semua tidak
menutup akses kita untuk membaca atau menonton. Konon, Persekutuan
Injili Indonesia memprotes penayangan film yang dibintangi aktor
kawakan, Tom Hanks, itu. Mereka sempat meminta Menkominfo melarang
pemutaran film produksi Columbia Pictures itu, karena dianggap menodai
agama Katolik. Tapi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) selaku
organisasi resmi Katolik Indonesia, tak menuntut hal serupa. Mereka
cukup mengajak umat Kristiani untuk tidak menonton. Dengan demikian,
masih tersisa ruang kebebasan bagi banyak orang untuk belajar: penasaran
silakah tonton; takut iman goyah, jangan tutup kesempatan orang untuk
menonton!
”Itu fiksi belaka, bukan fakta historis Alkitab, dan tidak
mengguncangkan iman umat,” tandas Benny Susetyo, salah seorang pengurus
KWI. Rohaniawan Katolik terkemuka, Franz Magnis-Suseno, berkomentar
hampir sama, meski tak mampu menyembunyikan kekesalannya terhadap Dan
Brown: “... umat dan uskup-uskup Indonesia tenang saja. Gereja kiranya
tidak akan runtuh karena kekurangajaran seorang Dan Brown.”
Sungguh, itulah sikap yang matang dalam beragama, setara dengan
ajaran normatif Qur’an yang dilupakan banyak umat Islam, man syâ’a
falyu’min, wa man syâ’a falyakfur (yang bersedia, silakan beriman; yang
tidak, silakan inkar) atau la ikrâha fid dîn (tiada paksaan dalam paham
keagamaan).
Di tingkat dunia, ada juga reaksi serupa, tapi masih dalam batas-batas
yang wajar. Dalam konferensi pers 28 April 2006, Uskup Agung Angelo
Amato, sekteratis Kongregasi Doktrin dan Keimanan Vatikan, menyerukan
pemboikotan atas film The Da Vinci Code. Sementara Kardinal Arinze, dari
Kongregasi untuk Peribadatan Suci dan Ketentuan Sakramen, menyatakan
akan melakukan gugatan hukum yang belum ditentukan terhadap pembuat
film.
Tapi sambil menyindir-nyindir kalangan fundamentalis yang gampang panik
iman, walau selalu merasa paling kukuh memperjuangkan agama, dia
mengatakan, ”Ada agama lain yang bila sosok agung dalam agamanya dihina
sedikit saja, mereka bertindak lebih dari sekadar kata-kata. Mereka tak
sungkan-sungkan membuat engkau betul-betul sengsara.”
(http://en.wikipedia.org/wiki/The_Da_Vinci_Code_%28film%29).
Respon Islam Fundamentalis
Gampang diduga, baik novel Dan Brown yang terjual sebanyak 60,5 juta
eksemplar (sampai Mei 2006), dan diterjemahkan dalam 44 bahasa itu,
maupun filmnya, akan mendapat sambutan hangat di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Penerbit Serambi yang memegang hak terjemah dan penjualan
novel tersebut, juga ketiban berkah. Tak ada keberatan dari umat Kristen
Indonesia atas Serambi. Tidak ada pula sweeping maupun tuduhan penodaan
agama. Kini, filmnya hadir mengusik rasa penasaran kita, dan sambutannya
sungguh luar biasa. Tiket-tiket bioskop Jakarta ludes terjual. Penonton
membludak, yang tidak dapat tiket memendam rasa penasaran.
Gampang pula disangka, kalangan fundamentalis Islam Indonesia akan
menyambut The Da Vinci Code dengan suka cita. Sudah lama mereka
membangun pendekatan kritis atas segala agama, kecuali agama yang
dianutnya, terutama demi menelanjangi agama Kristen. Untuk itu, standar
ganda mereka terapkan. Karya-karya populer semacam The Da Vinci Code
perlulah dijadikan rujukan untuk menghantam dasar-dasar teologi
kekristenan.
Respons Adian Husaini, tokoh fundamantalis Islam Indonesia paling
terdidik saat ini, relevan dikemukakan. Adian menemukan amunisi gratis
untuk melakukan serangannya atas kekristenan dan umat Kristen Indonesia.
”The Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah
susunan gambar yang bernama Kristen itu,” tulis Adian di Republika,
Kamis, 28 April 2005.
Sikap Adian terhadap pendekatan kritis atas agama lain, bertolak
belakang dengan pendekatan sejenis atas Islam; sebuah sikap yang jauh
dari semangat ilmiah dalam studi agama-agama. Saya berpikir, sikap Adian
dan kawan-kawannya yang hampir paranoid menunjukkan aib dan keburukan
agama lain, kadang menimbulkan kesan tidak adanya kebenaran instrinstik
dalam Islam, kecuali bila mampu menunjukkan kepalsuan agama lain.
Mungkin semangat itulah yang masih melingkupi orientasi studi
perbandingan agama di perguruan tinggi kita, dan khutbah-khutbah dalam
masjid dan majlis taklim negeri ini. ►e-ti
Referensi:
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1056
Sumber:
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1056
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |
|