|
|
 |

Nama :
Nabiel Makarim, Dipl. Eng. Chem, MSM, MPA
Lahir :
Solo, 9 Nopember 1945
Isteri :
Ainun Djariah
Anak :
Leila Veruschka (25 tahun)
Lutfi Heikal (22 tahun)
Pekerjaan :
:: Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Gotong-Royong 2001-2004
:: Anggota Komisi Pengawasan persaingan Usaha (KPPU)
:: Direktur Eksekutif, Nusantara Lestari, Jakarta
Pendidikan Perguruan Tinggi :
:: Master of Science in Management (MSM), Massachusetts Institute of
Technology (MIT), Massachusetts, Amerika Serikat dengan konsentrasi bidang
studi International Business, 1985
:: Master in Public Administration (MPA), Harvard University,
Massachusetts, Amerika Serikat, dengan konsentrasi bidang studi
International Trade, 1984
Pendidikan non-degree di Harvard University, Massachusetts, Amerika
Serikat, dalam bidang ekonomi dan politik, 1986
:: Diploma Engineering Chemical (Dipl. Eng. Chem.), Swinburne College of
Technology, Victoria, Australia dengan thesis di bidang teknologi
lingkungan hidup, 1974
:: Menyelesaikan sebagian besar mata pelajaran untuk Post Diploma di
bidang Biochemical Engineering, Swinburne College of Technology, Victoria,
Australia, 1974
:: Institute Teknologi Bandung (ITB), menyelesaikan materii pelajaran
semester satu dan dua di Bagian Tambang, sebelum menerima beasiswa untuk
belajar di Australia
Pendidikan Dasar dan Menengah :
SMA St. Josef di Solo, Jawa Tengah (1964)
SMP St. Xaverius di Solo Jawa Tengah (1960)
SD Diponegoro (SD A.A.) di Solo, Jawa Tengah (1957)
Pendidikan Tambahan :
:: Salmonella Detection in Food, training di Hawkesbury
Agricultural College, New South Wales, 1973
:: MINAUT: Training di bidang pengambilan keputusan di LPPM, Jakarta, 1977
:: Manajement Keuangan Untuk Manajer Bukan Keuangam, training di LPPM,
Jakarta, 1981
:: Mengikuti berbagai training dalam bidang pelestarian lingkungan hidup
di Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Australia, 1979- 1988
:: LEMHANNAS, Kursus Singkat Angkatan VI, 1996
Pengalaman Kerja :
:: Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran, Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan (BAPEDAL), 1990-1999
:: Asisten Menteri Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kantor
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 1989-1992
:: Mengajar pada Program S2 di Universitas Indonesia untuk mata pelajaran
Ekonomi Lingkungan (1986-1989)
:: Analis Kebijaksanaan Pemerintah, Harvard International Institute for
Development, 1987-1989
:: Kepala Bagian Perencanaan, Data, dan Riset, PT Jakarta Industrial
Estate Pulogadung, 1976-1983.
:: Staf Quality Control, PT Danapaint, Jakarta.
:: Pollution Control Officer, Broadmeadows Health Department, Victoria,
Australia, 1973-1974.
:: Pemegang Saham dan Design Engineer untuk perusahaan design peralatan
pengendalian pencemaran air di Victoria, Australia, 1972- 1974.
:: Assistant Plant Engineer, Mount Isa Mines, Queensland, Australia,
1972.
Pengalaman Lain :
:: Anggota Pengurus Harian, Yayasan Lembaga Konsumen, 1979- 1982
:: Pemrakarsa dalam berbagai seminar nasional dan internasional di bidang
pelestarian lingkungan hidup dan ekonomi
:: Berperan dalam berbagai negosiasi internasional di bidang pelestarian
lingkungan hidup, antara lain Basel Convention dalam pengaturan lintas
internasional limbah berbahaya dan beracun
:: Bertindak sebagai mediator dalam sengketa lingkungan hidup antara
perusahaan dan masyarakat dan konflik lingkungan antar industri, anrata
lain di kali TAPAK Semarang, Sungai Siak di Riau dan Sebagainya
:: Pembina ADIYASA, perguruan tinggi dalam bidang teknis mesin dan teknik
lingkungan hidup di Solo, Jawa Tengah
Penghargaan :
1. Academy Award, dari the United States Association of
Environmental Engineers untuk design dan pelaksanaan program (PROKASIH-atau
Program Kali Bersih) terbaik, 1993
2. Penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, 1996
Tulisan :
:: "Cost Benefit Analysis for Environment Impact Assessment",
United Nations Environment Programme (UNEP), 1982
:: "Indonesia's Non Oil Export: Trends, Prospects and Issues", Asian
Development Bank (ADB), 1987
:: "Toward Diversification of Export Commodities: A Case for Indonesia's
Industrial Policy", MIT, 1985
:: "Dwifungsi and ABRI's Accountability", Harvard University, 1986
:: "Meningkatkan Peranan Aparatur Negara dan Partisipasi Masyarakat Dalam
Rangka Mengatasi Kesenjangan dan Menumbuhkan Daya Saing Bangsa", sebagai
salah satu penyusun Kertas Kerja Angkatan, KSA VI LEMHANNAS, 1996
:: "Strategi Pelestarian Lingkungan Sebagai Salah Satu Dimensi Aktualisasi
Doktrin Ketahanan Nasional", LEMHANNAS; 1996
:: "Strategi Industrialisasi dan Perdagangan Internasional Dalam
Menghadapi Perdagangan Bebas" Sekretariat Negara, 1997
Artikel di media masa :
"Swastanisasi BUMN", TEMPO 23 Februari 1987.
"Tiga Belas Tahun Pembangunan Berkelanjutan, KOMPAS, 4 Juni 2000.
"Business at Crossroad", Jakarta Post, January, 2001
dan sebagainya.
Keahlian Khusus :
1. Manajemen: organisasi kepemerintahan dan organisasi khususnya
dalam "strategic planning and management"
2. Manajemen program
3. Analisis kebijaksanaan (policy analysis)
4. Komunikasi dan mediasi
Referensi :
1. Prof. Dr. Emil Salim, mantan Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup dan Kepala BAPEDAL
2. Ir. Sarwono Kusumaatmadja, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup dan
Kepala BAPEDAL
Alamat Kantor:
Gedung B Otorita Batam Lantai II
Jalan DI Panjaitan, Kebon Nanas
Jakarta 13410
Alamat Rumah:
Billy & Moon H III/6 Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
|
|
Nabiel Makarim
Si Burung Phoenix Pencinta Lingkungan
Ia pantas digelari Si Burung Phoenix. Burung dalam mitologi Yunani yang
bertampang jelek tapi setiap kali mati, dari abunya hidup lagi Phoenix
yang baru. Ia punya prinsip, tak mau kemewahan, tapi tak mau juga
kesengsaraan, asal cukup saja. Ia juga tipe manusia yang tak mau kalah (menyerah).
Seperti burung Phoenix, ia orang yang tak mau mundur atau kalah, selalu
hidup kembali. Kariernya berliku timbul tenggelam sampai akhirnya ia
menjabat Menteri Lingkungan Hidup.
Kalau ia mau sesuatu, ia terus maju, berjuang. Kalau gagal, ia coba lagi
dengan terus konsisten, tidak ngoyo. Maka ia pun lebih menyukai disebut
sebagai Burung Phoenix (burung berwarna abu-abu dan rupanya jelek),
ketimbang sebagai burung Merak yang anggun berwarna-warni. Jika
diperhatikan, mantan Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen
(1979-1982), ini memang tak pernah memakai pakaian yang harganya mahal.
Sepatu yang ia pakai ke Istana, itu juga yang ia pakai ketika berkunjung
ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi. Tetapi juga bukan
berarti kurang ajar. Sepatunya sampai hancur baru diganti. Sabuk sampai
putus baru diganti. Jadi memang ia bukan Merak tapi Phoenix.
Kisah hidupnya laksana burung Phoenix. Setidaknya itulah yang tersimpul
dari pengamatan dan percakapan Wartawan Tokoh Indonesia dengan Nabiel
Makarim di ruang kerjanya, selepas jam kerja Rabu 23/10/02. Pria bergelar
Diploma Engineering Chemical dari Swinburne College of Technology,
Victoria, Australia dengan tesis bidang teknologi lingkungan hidup, ini
tiga puluh tahun harus menunggu impiannya menjadi Menteri Lingkungan Hidup.
Sejak di meja kuliah – atas desakan guru besarnya ia harus memilih bidang
lingkungan hidup -- ia telah menoreh goresan pena di buku harian bahwa 20
tahun sejak 1971 harus menjadi Menteri Lingkungan Hidup. Padahal ketika
itu, jangankan di negeri ini bahkan di seluruh dunia, belum ada
Kementerian Lingkungan Hidup.
Impian itu terwujud setelah 30 tahun, melalui perjalanan panjang. Selepas
menyelesaikan studi di Australia, sebelas tahun ia harus sabar menjadi
volunteer atau sukarelawan sambil menunggu diangkat menjadi pegawai negeri
sipil di kementerian lingkungan hidup. Tetapi itulah yang membuat hidupnya
lebih terpacu mewujudkan obsesi mengatur dan memperbaiki lingkungan di
Indonesia, menjadi menteri lingkungan hidup.
Ketika ia mengikuti proses penerimaan menjadi pegawai negeri, selama 11
tahun itu, ia tak mau menyerah. Tetapi terus maju. Sampai-sampai waktu itu,
Emil Salim sudah tak tahan lagi dan langsung mengurus ke Presiden. Hingga
akhirnya ia diangkat menjadi pegawai negeri, langsung eselon satu. Ini
suatu hari kebangkitannya.
Selama 2 tahun ia menjadi asisten Menteri KLH Emil Salim. Pada waktu itu,
ia ditugaskan untuk membuat suatu badan baru yang akhirnya menjadi BAPEDAL.
Ia pun ditempatkan di badan itu sampai tahun 1998. Tapi tahun 1998 ia
diberhentikan, pada era Panangian Siregar. Ia ‘terkubur’ di luar
lingkungan hidup sampai 2001. Tapi, bagai burung Phoenix, tahun 2001 ia
bangkit lagi, bahkan menjadi Menteri Lingkungan Hidup.
Ia menjadi menteri bukan melalui jalur partai. Ia bukan berasal dari
partai politik. Bukan pula atas ‘pendekatan’ sana-sini. Ketika itu ia
dihubungi oleh Ibu Mega melalui telepon, “Apakah kamu siap untuk
mendampingi Ibu?” Nabiel jawab, “Ya, saya siap Bu.” Karena memang itulah
obsesi sucinya sejak di bangku kuliah.
Dari mana Presiden Megawati mengenalnya? Nabiel banyak menulis tentang
lingkungan. Ibu Mega juga pasti mengetahui itu sebelumnya. Sebab, ketika
pada awal tahun 2000 Nabiel sakit, Ibu Megawati (Wapres) sudah mengirim
karangan bunga. Nabiel dan isteri heran ketika menerima karangan bunga itu.
Sebab sama sekali ia belum pernah ketemu dengan Megawati, sampai hari
pelantikannya menjadi menteri.
Maka ketika hari pelantikan dan pengambilan sumpah, setelah acara
pelantikan itu, selalu diikuti bersalaman satu persatu, saat itu Nabiel
berkata (memperkenalkan diri), “Bu, saya Nabiel Makarim.” Lalu Presiden
Megawati menjawab, “Tahu saya.”
Suami dari Ainun Djariah ini lahir di Solo 9 November 1945, beberapa bulan
setelah Indonesia merdeka. Lahir dan dibesarkan dalam suatu komunitas
Islam. Ketika duduk di bangku SD, ia belajar di sebuah yayasan pendidikan
Muhammadiyah. Tapi ketika naik kelas 5 ia dipindahkan oleh ayahnya, bukan
karena ada masalah, ke sekolah berbasis NU. Setelah tamat SD, ia dimasukan
ke SMP Katolik St. Xaverius di Solo dan SMA St. Josef di Solo juga.
Setelah kelas dua SMA, ia baru menerima penjelasan dari ayahnya mengenai
perpindahan sekolahnya. Bahwa di rumah ia sudah mendapat pendidikan Islam.
Lalu disekolahkan di Muhammadiyah, kemudian di NU dan Katolik. “Nanti kamu
akan belajar di universitas di negara Protestan. Supaya kamu tahu semuanya,
cara berpikir mereka,” jelas ayahnya. Ia pun menjadi mahful dan maklum.
Ia memang akhirnya dikuliahkan di Australia dan kemudian di Amerika. Jadi
dari sejak kecil, di dalam rumahnya telah diajarkan toleransi. Bahkan
ketika ia di SMA, kawan-kawan di kelasnya meminta perayaan Natal pada
tahun itu diadakan di rumahnya. Padahal rumah mereka berada di lingkungan
Islam. Lalu dijelaskan kepada ayahnya tentang hal itu. Ayahnya bilang, “Boleh!”
Peristiwa itu telah menjadi kenangan. Hingga pada Juni 2001 lalu, pada
sebuah acara pertemuan alumni, kawan-kawannya masih ingat. “Ingat nggak
kita bernatal di rumah kamu? Bisa nggak diadakan lagi.” Dan, ia jawab
“baik, boleh.”
Sikap toleransi dan kebersamaan juga terbina dalam kepanduan. Keluarga
Nabiel adalah keluarga Pandu (Pramuka). Nabiel sendiri adalah anggota
Pramuka dari Solo V. Pada hari Minggu sore, biasanya mereka latihan di
sebuah lapangan. Di sekitar lapangan terdapat lembah dan alur sungai. Di
sisi lain ada juga pabrik dan hutan kecil. Ia bersama teman-temannya
sering bermain di sekitar lembah itu sambil menunggu pelatih. Suatu saat
mereka mau bermain di lembah itu. Tetapi tiba-tiba temannya yang berlari
paling depan berhenti. Karena limbah yang berasal dari pabrik dialihkan ke
lembah itu. Saat itu mereka kecewa. Tetapi mereka tidak bisa marah. Hanya
bisa tertegun. Karena mereka sadar bahwa semua orangtua mereka usahanya
adalah batik. “Jadi kita tidak bisa marah karena ini kepentingan orangtua.
Walaupun akibatnya juga kita tidak bisa bermain,” kenang Nabiel yang juga
punya hoby berenang dan menyukai olahraga judo dan jijutsu.
Namun peristiwa ini telah menumbuhkan kecintaan lingkungan hidup dalam
benaknya. Belakangan ia melihat kembali dan mencoba mengetahui apakah yang
ia pikirkan waktu itu. Mestinya orangtua mereka masih dapat berusaha dan
hidup cukup, tetapi anak-anak juga masih bisa bermain di lembah itu.
Pemikiran itu terus ia bawa dalam benak, sampai pada waktu tingkat
terakhir di perguruan tinggi.
Pada saat itu ia ditawarkan untuk masuk di bidang lingkungan. Ketika
berada di tingkat akhir, biasa kepada setiap mahasiswa ditanya tentang
bidang apa yang akan mereka ambil. Ada yang mengambil industri,
perminyakan dan lain sebagainya. Tetapi ketika masuk gilirannya, ia tidak
diberikan waktu untuk memberikan jawaban. Ia heran. Hingga waktu kelas
habis, ia akhirnya bertanya kepada guru besarnya. Kenapa ia tidak diberi
waktu. Padahal ia telah beberapa kali meminta kesempatan. Tetapi guru
besarnya menjawab, “Saya menginginkan kamu untuk datang langsung ke saya.”
Nabiel balik bertanya, “Ada apa, Prof?” Profesor menjawab, “Saya mau kalau
kamu masuk bidang lingkungan.”
Tapi Nabiel mengatakan bahwa ia punya rencana sendiri. Ia ingin masuk
bidang kosmetik. Alasannya, karena pada waktu itu (1970) Indonesia sedang
dalam keadaan perkembangan ekonomi yang baik dan terbuka, yang akan
menciptakan pendapatan semakin naik, sehingga orang mulai banyak memakai
make-up. Dan ia tambahkan bahwa orang Indonesia itu lebih suka dandan
dibandingkan dengan orang Australia.
Tetapi profesor itu bilang, “Tidak! Ada yang lebih perlu dari itu. Saya
sudah datang ke Indonesia, dan kamu harus masuk di bidang lingkungan.
Sebab ekonomi Indonesia baru sedang dibuka dan dalam beberapa tahun ke
depan akan ada masalah bidang lingkungan dan tidak ada orang yang tahu.
Maka kamu harus siap buat mereka. Terlebih karena kamu dibiayai oleh
pemerintahmu.”
Dukungan sangat besar. Sampai-sampai untuk mendorongnya menjadi tertarik,
ia diberikan tugas tesis. Selain itu, ia pun dicarikan pekerjaan di bidang
lingkungan. Lalu tiba-tiba pengalaman ketika masa kecil itu langsung
teringat. Nilainya yang pada awal-awal kuliah tingkat satu hingga tingkat
tiga pas-pasan, tiba-tiba di tingkat empat naik. Karena ia sudah mempunyai
tujuan. Kemudian ia bekerja dan menyelesaikan tesis pada tahun 1971. Pada
tahun itu ia menulis dalam diary-nya, “20 tahun dari sekarang (1971), saya
harus menjadi menteri lingkungan hidup.” Padahal waktu itu kementerian
bidang lingkungan hidup di seluruh dunia belum ada. Baru ada sekitar tahun
1973-1974, itupun hanya di negara-negara barat. Di Indonesia sendiri belum
ada, baru dibentuk kementerian lingkungan hidup pada tahun 1978.
Kenyataannya pada tahun 1991 impian itu belum terwujud. Baru bisa terwujud
tahun 2001, telambat 10 tahun.
Presiden Megawati mengangkatnya menjadi Menteri Lingkungan Hidup, tanpa
pernah ketemu sebelumnya. Ia dikenal dari berbagai tulisannya di media
massa. Ia memang hoby menulis. Waktu di Australia ia pegang majalah
mahasiswa, yang terbitnya sering tapi sayang tidak banyak orang yang mau
menulis. Ketika sudah waktunya terbit ia ditagih. Karena lama-lama seperti
itu terus, akhirnya ia tulis sendiri semuanya dari depan sampai belakang
dengan nama penulis berbeda-beda. Dari editorial, cerita pendek,
interview, ia juga bikin sajak dan segala macamnya. Seluruh isi majalah
itu tulisannya. Akhirnya, pemilik gelar Master of Science in Management (MSM),
dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Massachusetts, Amerika
Serikat dengan konsentrasi bidang studi International Business, 1985, ini
makin terlatih menulis.
Dari sejak remaja ia memang sangat senang menulis. Bahkan ketika di SMA ia
punya cita-cita menjadi wartawan. Sewaktu lulus SMA, ia ingin masuk
sekolah jurnalistik. Tapi orangtuanya menolak. Ia hanya diberi dua pilihan,
yakni jadi dokter atau insinyur. Kalau tidak mau sekolah dokter atau
insiyur, sekolah sendiri saja. Maka ia pilih masuk ITB, karena ia tak
tahan melihat darah. Tapi keinginan untuk menjadi wartawan masih tetap ada.
Sampai menjabat menteri ia tetap hoby menulis.
Pernah ia menulis cerita pendek di Kompas 1991. Waktu itu ia memberi
persyaratan, cerita pendeknya jangan ditempatkan di kolom cerita pendek.
Harus ditempatkan di halaman empat. Padahal halaman empat biasanya halaman
untuk tajuk dan opini. Akhirnya Kompas memuat di halaman empat terbitan 28
Juli 1991.
Cerita pendek itu berkisah tentang keadaan Jakarta. Ketika seluruh
penduduknya bangun, di Jakarta tidak ada air. Semua air hilang tanpa
disebutkan karena apa. Lalu semua menjadi kacau. Orang yang mau naik mobil
menjadi panas mobilnya karena tak ada air. Untuk mandi tidak ada air dan
segala macam. Suasana sangat kacau dari pagi sampai jam 14.00. Gubernur
sudah kewalahan. Kemudian masyarakat dianjurkan untuk keluar kota karena
di luar kota masih ada air.
Pada saat mereka jalan rombongan lewat jalan tol ke arah Bogor, hujan
tiba-tiba turun. Kemudian mereka kembali lagi. Sampai pada bagian terakhir
adegan itu menceritakan berita banjir di sana-sini. Semua orang senang.
Kemudian tampil gubernur pada acara televisi bersama para ulama. Gubernur
mengatakan bahwa “kini mulai ada kecenderungan baru, orang-orang mulai
menyembah air. Kita harus menghormati air, tapi bukan berarti menyembahnya.”
Jadi ide ceritanya ingin menyampaikan pesan bahwa kadang-kadang air itu
sering tidak dihargai, sampai ada kekeringan sehingga orang kebablasan
malah menyembah air.
Sejak saat itu ia banyak menulis cerpen di Matra. Di majalah itu ia hanya
menulis cerita, tidak ada pesannya. Selain menulis cerita pendek, ia juga
hoby menulis sajak. Sudah banyak sajak yang ia tulis. Tetapi tidak
dipublikasikan. Ia menjadi suka menulis sajak karena sering merasa
terganggu dengan sajak Indonesia yang kecenderungan hanya tentang cinta.
Lalu ia berpikir apakah tidak bisa membuat sajak yang bukan tentang cinta.
Kemudian ia mulai menulis sajak tentang hidup. Tetapi kelamaan terjadi
keseimbangan yang akhirnya ia menulis juga tentang cinta. Tak apa-apa,
yang jelas harus ada keseimbangannya, tak selalu tentang cinta.
Salah satu sajaknya tentang “Tak Ada.” Apakah itu “tidak ada.” Bisakah
kita membayangkan “tidak ada” seperti apa? Sebab sering kali kita
membayangkannya seperti sebuah ruangan gelap. Padahal ruangan gelap masih
memiliki ruangan dan waktu. Kemudian dalam sajak itu, ia juga mencoba
menceritakan bagaimana yang ‘tidak ada’ itu terjadi.
Ketika ia menulis sebuah cerita pendek tujuannya hanya ingin bercerita.
Ketika menjalani hari-hari kerja yang penuh dengan kendala, ia perlu
kreatifitas. Ia menulis sebagai latihan kreatifitas untuk menghadapi
kendala. Jadi ia mendorong sampai ke batas (I’m push to the limit).
Sehingga kemampuan kreatifitasnya terjaga. Dan ketika ia berhadapan dengan
masalah di kantor tingkat kreatifitasnya masih tajam.
Jadi tidak heran jika tulisannya terdengar aneh-aneh. Ada sajak tentang
perjalanan menuju batas antara tak terhingga dan tidak ada. Di ujung yang
ada itulah tak terhingga. Suatu saat di tak terhingga ada batas ke yang
tidak ada. Selain itu, ia juga orang yang sering bertanya kepada diri
sendiri, “Saya ini apa?” Dan semuanya ia goreskan dalam bentuk tulisan.
Bahkan ketika ia bermimpi, mimpinya diusahakan untuk ditulis. Kebiasaan
ini dimulai sejak ia harus menulis satu majalah penuh. Kebiasaan ini
menular kepada anaknya. Anaknya sejak SMP sudah punya cita-cita ingin
menjadi seorang penulis. Ketika anaknya lulus dan mendapat beasiswa dari
pemerintah, syaratnya harus pindah jurusan, kalau jurusan tehnik dibayar.
Anaknya diharuskan memilih teknik. Jadi ceritanya dengan ayahnya terulang.
Tapi anaknya bisa mengatakan tidak mau. “Anak saya lebih berani dari saya,
kalau saya menurut,” katanya. Sekarang Si Anak sudah lulus dari jurusan
seni dan film.
Setiap menulis sajak, ia tak pernah bermaksud mengkritik siapa-siapa. Ia
tak mau merubah, melainkan hanya mengungkapkan dari apa yang ada. Sejak di
college ia banyak menulis tentang tema-tema hidup. Jadi kalau WS Rendra
disebut dengan sebutan Burung Merak, ia kebalikannya. Ia lebih menyukai
disebut sebagai Burung Phoenix (burung dalam mitologi Yunani).
Kalau bicara tentang seni, ia melihat seni itu ada di mana-mana. Ia memang
orang yang bisa menghargai yang sederhana. Tidak seperti kebanyakan orang
hanya bisa menghargai yang luar biasa. Contohnya, menghargai air putih
saja, itu lebih luar biasa dibandingkan dengan minuman apapun. Kalau mau
melihat keindahan, kadang-kadang tulisan di koran itu kalau bisa diharagai
ada seninya. Atau sebuah cerita tentang fakta yang jelas.
Ia memberi contoh ketika berada di Bali. Ia menulis laporan cuma satu
halaman dalam bentuk sajak. Isinya tentang seorang peremuan yang sedang
dibalut dengan kain, yang tampangnya bukan berasal dari Legian atau orang
disko. Ternyata ia berasal dari Kebumen. Datang ke Legian mencari kerja,
karena suaminya telah meninggal dan anaknya butuh biaya untuk sekolah.
Karena pekerjaan tidak dapat, akhirnya malam itu ia tidur di pinggir jalan.
Di situlah perempuan itu kena bom. Itu fakta yang bisa di terjemahkan
menjadi sebuah keindahan. “Jadi dari fakta yang sederhana, bisa dinikmati
suatu yang indah,” ujar penerima Academy Award, dari the United States
Association of Environmental Engineers untuk design dan pelaksanaan
program (PROKASIH-atau Program Kali Bersih) terbaik, 1993 ini. Menurutnya,
keindahan itu ada di mana-mana. Masalahnya, apakah kita cukup sensitif
atau peka untuk dapat melihatnya.
Ia pun orang yang mau belajar kompromi. Ada salah satu cerita yang menarik
perihal masalah kompromi ini sebelum ia diangkat menjadi meteri. Ketika
itu, pada tahun 2001, ada pertemuan alumni SMA St Josef Solo. Pada acara
seminar, salah satu pembicaranya, seorang sosiolog yang juga alumni,
mengatakan bahwa lulusan SMA St, Josef, memiliki kesamaan ciri-ciri yaitu
mereka adalah orang-orang pintar tapi tak mau kompromi. Seperti layaknya
sifat kepala sekolah SMA St. Josef yang selama 20 tahun memimpin sekolah
itu.
Sosiolog itu mengemukakan hal itu karena belum ada satu pun alumni sekolah
itu yang menjadi menteri. Karena menjadi menteri adalah menjadi orang yang
berkompromi. Maka pembicara itu membuat teori bahwa di masa depan pun
tidak akan ada menteri yang keluar dari lulusan SMA St Josef. Tapi
ternyata teorinya salah, karena sebulan kemudian Nabiel diangkat menjadi
menteri.
Nabiel sendiri mengaku belajar untuk bisa kompromi. “Berkompromi dalam
pengertian, bahwa memang prinsip kita tidak dapat diganggu, namun kita
dapat memberi sesuatu supaya orang dapat menerima prinsip kita, yaitu
sebuah kemampuan untuk dapat berkomunikasi,” jelas Nabiel yang juga punya
keahlian khusus bidang komunikasi dan mediasi.
Ketika sempat ‘terbuang’ dari kementerian lingkungan hidup, ia diangkat
sebagai anggota KPPU. Pada saat ia datang kembali, situasi sudah berubah.
Keadaan lingkungan selama 5 tahun terakhir sangat merosot. Menurut mantan
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran, Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan (BAPEDAL) 1990-1999, yang juga punya keahlian khusus bidang
manajemen, organisasi kepemerintahan dan khususnya dalam "strategic
planning and management" ini, hal itu dapat terjadi karena kesalahan dalam
mengambil keputusan. Pada saat alokasi sumber daya untuk lingkungan
bertentangan dengan kepentingan lain. Lingkungan cenderung selalu kalah.
Karena di dalam politik pengambilan keputusan kelompok, lingkungan selalu
lemah dalam kekuatan politiknya.
Kenapa lemah, karena yang membela lingkungan hanya sebagian dari kalangan
menengah dan sebagian tidak punya kekuatan politik. Maka kelas menengahnya
harus diperkuat dan sering-sering turun ke masyarakat. Seperti yang
dilakukan Emil Salim tentang kesadaran lingkungan selama 10 tahun. Tetapi
semua berhenti karena ada pengaruh penguasa. Sampai-sampai pencinta
lingkungan sering disebut PKI atau komunis. Sehingga muncul ketakutan.
Sadar lingkungan, namun bersikap pasif. Lingkungan selalu kalah karena
kekuatan politiknya lemah.
Sehingga, menurut Nabiel, hal yang perlu dikembangkan adalah sebuah sistem
demokrasi yang lebih mementingkan lingkungan. Masyarakat harus menuntut
hak dalam lingkungan dan pemerintah daerah harus sensitif dan mampu
memenuhi aspirasi dari rakyat. Itu yang diusahakan sekarang ini.
Langkah pertama yang ia lakukan mengadakan reformasi ke dalam, salah
satunya disatukannya Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan BAPEDAL
sebagai lembaga pemerintah yang membuat kebijaksanaan dan koordinasi.
Sekaligus juga diberi wewenang sebagai pelaksana dan operasional. Ia
meminta kementeriannya harus bisa bertindak operasional.
Sebagai pembantu Presiden bidang lingkungan hidup, ia menolak anggapan
bahwa Presiden Megawati tidak punya agenda reformasi yang jelas. Ia
menjelaskan bahwa bangsa ini memilih reformasi sebagai jalan meningkatkan
kesejahteraannya. Bukan memilih revolusi atau sekadar pengambilalihan
kekuasaan. Menurutnya Presiden Megawati mempunyai tahapan-tahapan yang
jelas dalam melaksanakan gerakan reformasi, dengan mempertimbangkan segala
aspek dan dampak positif-negatifnya. Ia yakin masyarakat yang jeli akan
melihat keunggulan Megawati dalam mengatur agenda tahapan kebijakan
reformasi, termasuk pemberantasan KKN pada tahun-tahun mendatang.
Ia memang orang yang mau menghargai kelebihan orang lain. Termasuk sangat
menghargai para pendahulunya di Kementerian Lingkungan Hidup. Khususnya
Prof. Dr. Emil Salim dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja. Kedua nama ini, bahkan
selalu dicantumkan dalam kolom refrensi daftar riwayat hidupnya. Ia memang
orang yang mau menghargai kelebihan orang lain. Termasuk sangat menghargai
para pendahulunya di Kementerian Lingkungan Hidup. Khususnya Prof. Dr.
Emil Salim dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja. Kedua nama ini, bahkan selalu
dicantumkan dalam kolom refrensi daftar riwayat hidupnya. Di ruang
kerjanya juga terpampang foto John F Kennedy. Ia mengagumi pemikiran
mantan Presiden AS itu, yang terkenal: “Jangan tanya apa yang diberikan
oleh negara kepadammu, tetapi tanyalah apa yang telah kamu berikan kepada
negara.” Sama kagumnya dia kepada Bung Karno yang juga kaya gagasan dan
pemikiran.
Tabik, Si Burung Phoenix! *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|