| |
C © updated
08042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mi |
|
| |
Nama:
Mohamad Surya, Prof, Dr
Lahir:
Kuningan, 08 September 1941
Agama:
Islam
Istri:
Dra Hj Siti Suminah Surya M.Pd
Anak:
Lima orang
Jabatan:
Anggota DPD 2004-2009
Asal Jawa Barat
Pendidikan Formal:
- S1 IKIP Bandung Universitas (1965)
Pengalaman Profesi:
- Guru SR (SD) di Kuningan (1958-1962)
- Guru SPGb/SMA di Bandung (1966-1973)
- Dosen IKIP Bandung (1966-2004)
Pengalaman Organisasi:
- Anggota/Pengurus PGRI (1958-2004)
- Anggota HMI (1963-1968)
- Anggota Korpri (1966-2004)
Alamat Rumah:
Jl Kapten Abdul Hamid 58 Bandung, Jawa Barat
|
|
| |
|
|
|
|
| SURYA HOME |
|
|
 |
Mohamad Surya
Guru Jadi Senator
Prof Dr H Mohamad Surya, Anggota DPD 2004-2009 asal Jawa Barat. Ketua Umum
Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) periode
1998-2003 dan 2003-2008, ini lahir di Kuningan, 8 September 1941. Dosen
IKIP Bandung (1966-2004) ini mengawali karir sebagai Guru SR (SD) di
Kuningan (1958-1962). Kemudian menjadi Guru SPGb/SMA di Bandung
(1966-1973).
Alumni S1 IKIP Bandung (1965) ini telah menjadi - Anggota dan Pengurus
PGRI sejak 1958-2004. Semasa mahasiswa dia aktif sebagai Anggota
HMI (1963-1968). Isterinya Dra Hj Siti Suminah Surya M.Pd juga seorang
pendidik. Mereka dikaruniai lima orang anak.
Mohamad Surya kembali terpilih sebagai Ketua Umum
Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Kongres XIX
PGRI, yang berakhir hari Sabtu (12/7/2003) malam, di Semarang, Jawa Tengah,
juga memilih Kusrin Wardoyo sebagai Sekretaris Jenderal PGRI. Mohamad
Surya sebelumnya adalah Ketua Umum PB PGRI periode 1998-2003. Sedangkan
Kusrin adalah salah satu ketua dalam PB PGRI 1998-2003.
Kongres, yang berlangsung mulai tanggal 8 Juli 2003 hingga tanggal 12 Juli
2003 di Hotel Patra Jasa Semarang, tersebut memilih 20-an orang untuk
duduk dalam PB PGRI periode 2003-2008. Ketua dalam PB PGRI, antara lain
WDF Rindo Rindo, Rusli Yunus, Ana Suhaina dan Alwi Nurdin.
Kongres XIX PGRI diikuti sekitar 1.400 peserta dari seluruh provinsi di
Indonesia. Berbeda dengan kongres PGRI sebelumnya, kongres kali ini
dirasakan lebih dinamis. Sidang pengesahan tata tertib persidangan pada
tanggal 9 Juli 2003 misalnya, berlangsung lebih lama daripada yang
dijadwalkan, karena banyaknya interupsi maupun usulan dari peserta.
"Sekarang, sudah tidak ada lagi peserta kongres yang duduk
terkantuk-kantuk di kursi selama sidang berlangsung. Semua begitu antusias
mendengarkan dan melihat siapa pun yang tengah berbicara," kata Sudharto,
Ketua Panitia Kongres XIX PGRI, saat menyampaikan pidato penutupan kongres.
Dalam kepengurusan, Sudharto menjabat sebagai Ketua PGRI Jateng.
Paling lambat tahun 2005
Kusrin saat menyampaikan pernyataan sikap Kongres PGRI mengatakan, sesuai
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, PGRI mendesak pemerintah pusat dan
pemerintah daerah untuk menyediakan sarana dan dana pendidikan
sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), di luar gaji tenaga
pendidikan dan pendidikan kedinasan, paling lambat tahun 2005.
PGRI juga mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti Undang-Undang (UU)
tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan memberikan jaminan
konstitusional bagi terselenggaranya pendidikan nasional dalam bentuk
antara lain peningkatan akses bagi masyarakat untuk melanjutkan ke
pendidikan tinggi dengan biaya yang relatif murah.
Nasib guru yang bekerja di daerah konflik juga menjadi perhatian. Karena
itu, PGRI meminta pemerintah pusat dan daerah, serta aparat keamanan untuk
memberikan jaminan keamanan kepada guru dalam menjalankan tugasnya,
terutama yang bertugas di daerah konflik dan di daerah terpencil.
Kepada para guru, PGRI mengimbau agar mereka menggunakan hak politiknya
dalam pemilu mendatang. "Yaitu dengan menentukan pilihan terhadap wakil
rakyat dan calon presiden/wakil presiden," ujar Kusrin.
Wakil rakyat dan presiden/wakil presiden RI yang dipilih harus memiliki
kualifikasi antara lain mempunyai kualitas kepemimpinan yang utuh dan
memiliki visi yang jelas dalam menempatkan pembangunan sumber daya manusia
pada umumnya serta pendidikan pada khususnya sebagai prioritas program,
dengan guru sebagai titik sentralnya.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|