|
Megawati Sukarnoputeri (03)
Si Mbak Pendiam ini tampil lugas, berbicara cukup panjang dan bermakna.
Tidak seperti biasanya, kali ini ia cukup lama berorasi dan cukup lugas
menanggapi pertanyaan dari para wartawan. Seusai mendaftar pencalonannya
sebagai Capres dari PDI-P berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum
PB Nahdlatul Ulama, sebagai Cawapres, di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Rabu
12 Mei 2004, Megawati memaparkan visinya mewujudkan kedaulatan NKRI
(Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Megawati Sukarnoputeri (04)
Dua ‘saudara tua’ itu bertemu dalam satu paket Calon Presiden-Wakil
Presiden Pemilu 2004. Hj. Megawati Soekarnoputri yang Ketua Umum DPP PDI
Perjuangan dari kaum nasionalis-religius dan KH Hasyim Muzadi yang Ketua
Umum PB-NU dari kaum religius-nasionalis. Keduanya mewakili dua arus besar
aliran sosio politik, kultural, dan keagamaan Indonesia.
Sikap Parpol
Rapat Kerja Nasional I Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 7-9
Januari 2007 di Sanur, Bali, dalam salah satu rekomendasinya kembali
meminta kesediaan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden
pada Pemilu 2009.
Megawati Soekarnoputri
Jakarta 21/10/1999, Kompas: "Kepada anak-anakku di seluruh Tanah Air,
saya minta untuk bekerja kembali dengan tulus. Jangan melakukan hal-hal
yang bersifat emosional, karena di dalam mimbar ini, kamu melihat ibumu
berdiri di sini..." seru Megawati Soekarnoputri dalam pidato pertamanya
sebagai Wakil Presiden RI dalam acara pengambilan sumpah/janji Wapres di
Ruang Sidang Paripurna Gedung Nusantara MPR/DPR, Jakarta, Kamis
(21/10/1999) malam.
|
|
|
|
Rakernas PDI-P
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla
dinilai gagal memenuhi janji perubahannya, seperti mempercepat
terwujudnya kesejahteraan rakyat melalui penciptaan lapangan kerja,
pengurangan angka kemiskinan, serta peningkatan pelayanan kesehatan dan
pendidikan bagi rakyat. Pemerintah juga dinilai gagal menyelenggarakan
pengelolaan ibadah haji dan menjamin keselamatan warga, seperti
tercermin dengan maraknya kecelakaan darat, laut, dan udara.
Garin Nugroho
Dalam dua seri artikel Kompas, Megawati Opera Sabun I dan II ( Mei 2002 ),
penulis mencoba memprediksi penokohan Megawati di tengah drama politik
Indonesia. Lewat salah satu kajian Cultural Studies yang mulai populer,
mencoba membandingkan drama politik dan citra tokoh politik seperti
layaknya dramaturgi dan penokohan opera sabun.
Garin Nugroho
Agaknya, Megawati Opera Sabun II segera dimulai, ketika kekuatan
politik di sekitarnya mulai berubah, khususnya ketika pemilu terasa tak
lama lagi, dan berbagai manuver lawan politik telah mulai terbaca
pergerakannya. Sementara, tokoh-tokoh utama politik Indonesia, pada
periode Megawati Opera Sabun I, telah mengalami berbagai peristiwa yang
melahirkan berbagai pencitraan baru, sebutlah Gus Dur hingga Akbar
Tandjung maupun citra militer. Inilah babak baru Megawati di tengah
bangunan baru dramaturgi sosial politik Indonesia.
|
|