| |
C ゥ updated 16012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Mar段e Muhammad
Lahir:
J
Agama:
Islam
Pendidikan :
= S1 Fakultas Ekonomi
Karier:
= Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 1999-2004 dan
2004-2009
= Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia
= Menteri Keuangan RI Kabinet
Pembangunan VI
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 4 ==
Mar段e Muhammad (2)
Bangun Aceh dengan Identitasnya
Ketua Umum PMI Mar段e Muhammad mengatakan, secara bertahap tetapi
konsisten dan pencapaiannya terukur, yang hendak dituju dalam jangka waktu
5-10 tahun yang akan datang melalui berbagai tahapan adalah membangun
kembali masa depan Aceh dengan identitas, budaya, adat-istiadat, tradisi,
dan kepercayaan mereka.
Pendekatannya dengan kemanusiaan, dengan mengingat bahwa keluarga adalah
fondasi. Apalagi di Aceh, kekerabatan sangat dekat, mereka menyatu dengan
kaumnya, sering bertemu dalam meunasah (surau). Itulah komunitas terkecil,
mereka itu akar rumput masyarakat Aceh, mereka menyatu dengan meunasah.
Mengapa saya mulai dengan pendapat seperti ini? Karena, kalau hanya
tertegun dan terperangkap pada masalah fisik, kita akan kehilangan esensi
persoalan yang dihadapi. Saya khawatir kita akan masuk ke "semak-semak".
Ini hasil kontemplasi dan ini bukan hanya abstrak.
Apa yang saya kemukakan tadi memang tampak absurd, tetapi ini masalah riil.
Membangun masyarakat Aceh keseluruhan dengan fondasi tadi, menyatu dengan
lingkungan, hanya bisa kalau kita menciptakan kondisi yang kondusif.
***
Gempa bumi dan gelombang tsunami yang menerjang Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, Minggu, 26 Desember 2004, menyisakan kepedihan mendalam. Lebih
dari seratus ribu penduduk tewas, bangunan-bangunan yang diguncang gempa
roboh disapu tsunami, banyak orang kehilangan tempat tinggal, sanak
keluarga, harta benda, dan mata pencaharian.
Peristiwa pedih di provinsi paling barat itu tak hanya menyentuh hati
seluruh masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional. Palang
Merah dan Bulan Sabit Merah dari berbagai negara turut ambil bagian dalam
tugas kemanusiaan, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI).
Apa saja yang dikerjakan PMI untuk menangani bencana tersebut? Di sela
kesibukannya, Ketua Umum PMI Mar段e Muhammad (65) menyempatkan diri
memaparkannya kepada Kompas, Jumat (14/1), sebelum ia kembali ke Aceh
untuk waktu sepekan pada Minggu (16/1).
Mar段e, yang siang itu mengenakan kemeja biru dan tampak letih karena
setiap hari harus begadang, membuka percakapan di markas PMI Jalan Gatot
Subroto Kav 96, Jakarta, dengan melempar pertanyaan, "Apa sebenarnya yang
ingin kita tuju?" yang kemudian dijawabnya sendiri.
Bagaimana membangun lingkungan yang kondusif?
Kita harus membangun masyarakat Aceh secara bertahap, tetapi pasti dan
konsisten dalam jangka waktu 5-10 tahun. Mungkin bisa lebih. Kita harus
sabar, tetapi tekun dan konsisten. Sekarang ini masyarakat sudah
tercabik-cabik karena kehilangan semuanya, tentu kita harus bantu mereka
dalam keadaan darurat ini, seperti membantu makanan, minuman, tempat
tinggal tenda, memakamkan mayat, mengobati yang sakit, menyatukan kembali
keluarga yang terpisah. Kita mulai suatu kondisi sehingga tercapai sasaran
yang tadi.
Sekarang kita membagi tenda besar berwarna biru, tetapi sebenarnya saya
lebih suka kita tidak membangun barak besar, tetapi membangun tenda
keluarga yang kompak ukuran empat kali enam meter yang di bawahnya kita
beri kantong tidur. Kemudian di tempat endemi malaria, kita beri kelambu.
Dengan tenda keluarga itu, tentu ada privacy, di situ mulai kita ciptakan
kondisi rumah tangga, bukan sekadar shelter atau house. Terus terang
mencari tenda seperti ini sulit sekali.
Sekarang pengungsi di Aceh jumlahnya 600.000-700.000 orang. Saya tidak
kaget karena 50 persen kota-kota di Aceh hancur. Jadi, saya tidak heran
kalau 50 persen orang Aceh tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka ini
banyak yang menumpang di rumah keluarga, sisanya 600.000-700.000 pengungsi
yang tidak memiliki rumah. Jadi, paling tidak kita memerlukan 200.000
tenda keluarga, dan itu sulit mencarinya.
Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa saya ini terlalu idealis. Saya
bilang tidak. Saya setuju shelter sementara, tetapi dalam jangka menengah
dan panjang sebelum kita membangun rumah besar-besaran, kita perlu tenda
keluarga, sedangkan membangun rumah memerlukan waktu. Tenda keluarga ini
diperlukan untuk masa transisi sebelum mereka diberi rumah oleh pemerintah.
Sejauh apa upaya mendapatkan tenda keluarga itu?
Terus terang sulit sekali mencari tenda keluarga karena biasanya
perusahaan menciptakan tenda-tenda besar. Bukan berarti tidak perlu
tenda-tenda besar. Itu tetap perlu daripada kepanasan dan kehujanan.
Tetapi, dipisahkannya antara suami dengan istri dan anak-anak itu berarti
mereka tidak ada privacy. Kebutuhan mereka sebagai manusia harus dipahami:
kebutuhan untuk fisik, yaitu makan, kebutuhan biologis, kebutuhan psikis.
Saya pernah melihat di beberapa tempat penampungan di tempat lain, ada
antrean laki-laki dan perempuan. Saya pikir mereka mau ke toilet, ternyata
mereka ternyata mau melakukan hajat biologis. Itu manusiawi dan wajar. Kan
lebih baik kalau ada tenda keluarga. Di situ mereka bisa menerima tamu
keluarga yang akan menengok. Jadi, perlu pendekatan yang betul-betul
manusiawi.
Seluruh dunia sudah dihubungi untuk secepatnya mengadakan tenda ini.
Uangnya ada, bill internasional, tetapi setengah mati saya mencari tenda
keluarga ini. Yang butuh tenda begini bukan hanya Indonesia, tetapi juga
India, Thailand dan Sri Lanka. Kalau sudah mendapatkan tenda-tenda itu,
sangat gampang memasangnya.
Selain itu apa lagi?
Kalau sudah bisa menyatukan keluarga mereka, kita harus lihat mata
pencaharian mereka. Kita tidak mau mereka terus-terusan tergantung pada
kita. Aceh itu dikelilingi lautan, di Aceh ada 20 sungai besar. Sebagian
besar orang Aceh hidup sebagai nelayan. Mereka juga hidup tambak yang
hasilnya bagus dan diekspor. Selain itu, mereka juga hidup dari kebun
kecil, seperti sawit dan karet. Baru setelah itu, mereka menjadi petani
padi.
Sekarang, orang Aceh yang menjadi nelayan dan mempunyai tambak sudah
trauma karena diterjang tsunami. Nelayan di Calang dari 5.000 orang kini
tinggal 100 orang. Mereka mengalami trauma psikologis sangat berat. Tidak
lagi melaut, alat-alatnya hilang, dan tambaknya hancur. Sawah juga rusak.
Oleh karena itu, secara bertahap kita harus pikirkan membantu mereka
mendapatkan penghasilan kembali.
Jadi, langkah ke depan juga mulai dipikirkan?
Ya, step by step harus jelas kita mau ke mana sehingga orang Aceh tetap
merasa betah di daerahnya. Jika tidak demikian, ini yang saya khawatirkan
dan sudah mulai terjadi, mereka keluar dari Aceh. Apalagi mereka
kehilangan rumah, keluarga, mata pencaharian, dan tinggal sendiri, mereka
sudah mulai pindah ke Sumatera Utara dan sudah sampai ke Batam. Mereka
eksodus. Ini berbahaya. Karena itu, kita harus ciptakan suatu lingkungan
sedemikian rupa sehingga orang Aceh secara bertahap bisa kembali dan
merasa at home.
Sekarang, mereka umumnya merasa tidak nyaman. Itu yang banyak tidak
disentuh. Kita harus kembali ke tujuan utama, membangun kembali masyarakat
Aceh dengan cara manusiawi dan tetap dengan identitas Aceh, nilai, adat
istiadat, dan mata pencahariannya.
Ini pendekatan yang harus mulai dirintis dari sekarang. Jangan sampai kita
akhirnya terperangkap dan tertegun melihat pohon-pohon hingga kita
kehilangan hutannya.
INI adalah bencana terbesar sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.
Bagaimana Anda menangani bantuan yang masuk? Apa prioritasnya?
Prioritas mencari tenda keluarga. Sekarang ini bantuan yang masuk dan
sudah kami kirimkan ke Aceh seberat 300 ton, yaitu berupa makanan, biskuit,
baju-baju baru dan layak pakai, air minum, dan obat-obatan. Kami juga
kirim tenaga dokter, perawat, bekerja sama dengan Palang Merah dari
negara-negara lain. Misalnya, di Meulaboh, Palang Merah yang pertama kali
masuk.
Kami juga bekerja sama dengan Palang Merah Jepang dan Korea. Rumah sakit
yang terbengkalai kemudian ditangani dan dikelola agar bisa berjalan lagi.
Kami juga bekerja sama dengan Palang Merah Spanyol. Di Meulaboh juga sudah
tersedia air bersih, portable water, 75.000 liter sehari. Sampai kemarin
sudah satu juta liter kita produksi.
Mengapa kami banyak bergerak ke arah pantai barat, ke Meulaboh dan
sekitarnya, karena semua orang ke Banda Aceh. Gerakan Palang Merah dibagi
dalam lima zona. Zona operasi pertama: Banda Aceh, Aceh Jaya, Pidie. Zona
kedua: Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya (Calang).
Zona ketiga: Lhok Seumawe sampai Bireuen.
Zona pertama sampai tiga bisa dibilang operasi kami sudah jalan. Zona
keempat: Pulau Simeulue. Di sana, kami sudah terjunkan dokter karena
Simeulue cukup jauh dan tidak banyak ditangani. Di situ, kami sudah
terjunkan relawan, bikin pangkalan, dan sudah mulai jalan. Zona kelima,
saya minta Ketua Pengurus Daerah PMI Sumatera Utara menyiapkan kemungkinan-yang
sudah terjadi-adanya eksodus dari Aceh.
Meskipun kami sudah mendekati, tetapi kalau dia mau eksodus bagaimana?
Sekarang sudah ada kantong-kantong kecil pengungsi Aceh di Sumatera Utara.
Kalau tidak ditangani dengan baik, ini bisa menimbulkan masalah dengan
masyarakat lokal tempat dia mengungsi.
Transparansi bantuan di lapangan bagaimana?
Semua bantuan yang kami terima akan diaudit oleh Pricewater House. Bahkan,
ruangan untuk menangani keuangan kami pisahkan supaya tidak campur dengan
ruangan (kegiatan) yang lain. Bantuan yang kami terima ada dalam bentuk
rupiah, ada dollar AS. Sampai Kamis (13 Januari 2004 pukul 15.20 WIB),
kami sudah terima Rp 29 miliar (Rp 29.118.007.211 dan 1.500.000 dollar
AS-Red). Tiap hari kami umumkan di papan dan kami perbarui di situ.
Apa yang menjadi kendala distribusi bantuan tersebut?
Pengangkutan. Terus terang, orang masukkan ke sini apa saja, kami tidak
mungkin menolak. Terus mengangkutnya bagaimana? Banyak sekali bantuan yang
masuk, sampai 300 ton.
Gangguan di jalan apa saja?
Ada kapal kita yang kecelakaan (Ketua PMI Abdul Aziz yang berada di satu
ruangan melanjutkan keterangan Mar段e: Kapal yang mengangkut bantuan PMI
hari ini (Jumat, 14/1) dari Banda Aceh ke Meulaboh menabrak kapal yang
sudah karam. Untungnya, semua relawan sebanyak 30 orang selamat, tetapi
barang-barang dari Jepang, seperti alat-alat berat, tenggelam).
Mendengar itu Mar段e terkejut, "Oh My Goodness! Di kapal kita?"
Koordinasi dengan pemerintah bagaimana?
Kami koordinasi. Apa yang kami kerjakan, pemerintah tahu. Ketua PMI ada di
Banda Aceh. Juga ada pendamping dari pusat. Saya katakan, pemerintah tahu
apa yang kami kerjakan. Palang Merah tidak bisa evakuasi mayat saja.
Sampai sekarang sudah hampir 40.000 mayat yang kami evakuasi dan kuburkan.
Untuk daerah sulit kami bekerja sama dengan SAR (search and rescue)
sehingga bisa lebih efektif. Kami juga melakukan bantuan kemanusiaan.
Untuk evakuasi dari rumah ke rumah, para relawan kami lengkapi dengan
linggis dan sekop.
Kalau koordinasi berjalan baik, kok masih ada kesimpangsiuran informasi?
Begini, sekarang ini semua orang dalam keadaan panik karena kita tidak
pernah memikirkan ada bencana terbesar selama 60 tahun. Yang kita hadapi
bukan lagi manajemen untuk bencana biasa, tetapi ini semikiamat, skenario
manajemen. Jadi, demikian beratnya bencana ini sehingga bukan hanya tidak
terduga, tetapi lebih dari itu, unprecedented.
Akan tetapi, pemerintah memang tidak terbiasa menangani bencana sebesar
itu. Oleh karena itu, saya menawarkan program manajemen bencana berbasis
komunitas (community based disaster management). Kami, perhimpunan Palang
Merah dan Bulan Sabit Merah internasional di bawah koordinasi Federasi
Palang Merah Internasional siap memberi pelatihan teknis kepada lembaga
atau orang-orang pemerintah yang biasa menangani atau diterjunkan dalam
bencana. Enggak gampang, lho menangani bencana. Sungguh.
Selama ini setiap terjadi bencana kalau kita tanya bagaimana kondisi
makanan bagi para korban, jawabannya selalu saja beras cukup. Jumlah
sekian ton. Lho, orang kan makan nasi, bukan makan beras. Kalau ada beras
terus diapakan, mau dimasak di mana? Pakai apa? Rumah tidak ada, minyak
tanah tidak ada, air bersih pun susah.
Masak para korban disuruh makan beras, mau perutnya sakit! Masih mendingan
kalau makan mi, bisa diremas-remas terus dikunyah, tetapi tetap saja tidak
bagus. Belum lagi anak-anak.
Meski begitu, saya lihat komitmen pemerintah tinggi untuk mengatasi
bencana, termasuk Satkorlak. Sebenarnya, mereka sudah tahu what- nya, tapi
how-nya mereka kurang dan perlu ditingkatkan. Karena itu, kami, Palang
Merah, menawarkan latihan khusus dan ternyata itu tak mudah. Kami tegaskan
bahwa kami tidak mau mengajari, jangan salah mengerti. Lebih karena
penanganan bencana butuh keahlian tersendiri. Para bupati dan gubernur kan
tidak dilatih untuk itu.
Justru orang-orang yang di bawahlah yang perlu diberi pelatihan khusus
sehingga siap sewaktu-waktu. Kami kerja sama di antara Palang Merah
negara-negara di ASEAN dan bisa dikoordinasikan Federasi Palang Merah
Internasional. Misalnya, ada alert warning, kita harus mengurangi impact-nya,
bagaimana menangani, itu perlu latihan khusus.
Selama ini apa tidak pernah ada pelatihan serupa?
Saya pernah diundang setelah kasus bencana Bahorok (Sumatera Utara) oleh
Bakornas dan saya sampaikan pandangan saya. Saya mengerti, pemerintah
banyak pekerjaan. Kalau gubernur tidak perlu begitu, tetapi pada tingkat
manajemen perlu kepemimpinan dalam soal itu. Jadi, diperlukan latihan pada
tingkat kepemimpinannya maupun pada tingkat manajer, dan pada tingkat
pelaksana bagaimana kalau ada bencana berskala besar, bagaimana kita
menanganinya sehingga lebih terorganisasi. Sekali lagi saya katakan, kami
tidak bermaksud mengajari, ini cuma sumbangan pikiran, jadi jangan salah
mengerti.
Khusus PMI, bagaimana merekrut relawannya?
Pola perekrutan relawan PMI itu khusus. Yang kami butuhkan perawat,
psikolog. Sekarang kami sudah kirimkan 1.200 sukarelawan dan mereka yang
sudah tiga minggu kami ganti.
Itu sudah lama merekrutnya dan mereka sudah berpengalaman terjun dalam
menangani kasus bom Bali, bencana di Alor, dan lain-lain. Mereka punya
keterampilan dasar yang memadai dan tergabung dalam satuan penanggulangan
bencana (Satgana-bagian dari Korps Sukarelawan/KSR, tetapi lebih elite).
Hari ini kami kirim lagi 40 orang untuk mengganti relawan yang sudah
keletihan di Meulaboh. Besok juga kami kirim 40 orang. Di internal kami
akan melipatgandakan kemampuan (capacity building) PMI. Kuantitas dan
kualitas relawan akan terus ditambah, terutama dari kalangan generasi muda.
Tetapi, terus terang semua itu tidak mudah.
Apakah terkait dengan masalah antusiasme?
Antusiasme itu sebenarnya ada, tetapi kebanyakan orang kita, maaf ya,
kadang naik-turun semangatnya. Padahal kan yang namanya relawan itu mesti
selalu siap, gerak cepat, turun ke sana-turun kemari. Relawan harus cepat
bergerak, bikin tenda, mengobati orang. Itu tidak gampang lho. Kalau
relawan tidak terlatih dengan baik, ia justru akan menjadi beban karena
tidak bisa mengurusi diri sendiri. Ingat, kita hanya bisa menolong orang
kalau kita sendiri bisa survive. Itu prinsipnya.
Kondisi yang ada sekarang bagaimana?
Memang ada relawan yang menjadi beban, tetapi saya kira hanya sedikit. Ada
juga relawan yang bekerja dengan sangat baik. Yang jelas, sekarang ini
sungguh saya tidak pernah melihat antusiasme menolong orang lain sehebat
ini. Ini merupakan hal positif, khususnya bagi masyarakat Aceh sekarang.
Solidaritas internasional dan nasional sungguh luar biasa dan ini modal
sosial yang besar dan harus kita jaga benar. Tinggal bagaimana caranya
kita menjaganya agar ketika ada bencana lagi solidaritas serupa bisa kita
tunjukkan.
Caranya?
Pemerintah harus menjaga momentum ini. Saya bilang, ini benar- benar
golden period, kesempatan emas. Tinggal bagaimana kita mengapitalisasikan
itu semua.
Soal pemberangkatan sukarelawan PMI?
Kami sudah paling efisien. Untuk Satgana kami carter pesawat, dengan Rp
200 juta kami bisa membawa 118 orang dan pulangnya bisa kami isi
sukarelawan yang sudah keletihan. Kami juga bisa membawa banyak barang.
Unutk pemberangkatan, kami bisa atur. Sukarelawan yang sudah pulang juga
harus kami debriefing supaya mereka jangan trauma. Kalau mereka trauma,
ada konseling.
Mengenai isu kekurangan stok darah di Aceh?
Mengenai stok darah, saya sudah keluarkan surat dan sudah diatasi. Bukan
kekurangan stok, tetapi menipis. Jadi back up, baik di Jakarta maupun
Sumatera Utara dimobilisasi. Kemarin sudah akan dikirim 60 kantong darah
segar ke Banda Aceh. Selain itu, saya juga sudah minta ke Sumatera Utara
untuk lebih memobilisasi donor darah sukarela. Pewawancara:
GESIT ARIYANTO dan ELOK DYAH MESSWATI. ►e-ti, Kompas 16 Januari 2005
== 1
2 3 4 ==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|