|
=
1
2
3 4
5
6
7
8
9 10 11
12 =
Prof.Dr. Laurence Adolf Manullang (5)
Kisah Sukses Yatim-Piatu dari Narumonda
Kisah hidup si yatim-piatu dari Desa Narumonda, Porsea, Sumatera Utara,
yang terkenal sebagai pemimpi (dreamer), cerdas dan sosok pekerja
keras, ini laksana gudang pengalaman atau sumber mata air yang tak kunjung
kering bagi siapa pun yang memandang pengalaman adalah guru yang terbaik.
Dia rendah hati, jujur, tekun dan cerdas. Dia menapaki kehidupan langkah
demi langkah, melintasi berbagai tantangan dan meraih berbagai
keberhasilan. Sehingga menjadi seorang ekonom ternama dan top eksekutif
keuangan berskala dunia.
Profesor doktor ini lahir 12 September 1941 di Desa
Dairibagasan, Negeri Narumonda, Kecamatan Porsea, Tapanuli Utara (sekarang
Toba Nauli), sekitar 223 kilometer arah selatan Kota Medan, Sumatera Utara.
Walau lahir di sebuah desa atau kecamatan yang tak akan pernah diketemukan
dalam peta karena keterpencilan dan kalah populer dari dua kota yang
mengapitnya Balige dan Parapat, namun, kepiawaian dan popularitasnya di
kalangan para profesional top eksekutif keuangan dunia pernah menjadi
pembicaraan hangat yang sangat fenomenal.
Menurut ceritera neneknya, pada saat dia lahir, kedua
orangtuanya (ayah Manail Darius Manullang dan ibu Manonga Renia boru
Marpaung) sempat bingung, sebab disangka dia lahir tanpa nafas. Sang Bayi
lahir dalam keadaan terbungkus oleh plasenta, nampak seperti berada dalam
karung plastik. Dalam bahasa Batak disebut Baluton, yang dipercaya
sebagai pertanda si bayi memiliki suatu keistimewaan.
Untung dukun beranak yang menolong ibunya cepat-cepat
menyobek plasenta tersebut. Kemudian memotong ari-arinya dan menepuk-nepuk,
sehingga kemudian si bayi menangis. Kedua orang tuanya merasa lega, karena
si bayi yang kemudian diberi nama Timbul rupanya masih ada nafas.
Berselang beberapa waktu, Timbul kecil diberi nama baptis Laurencius Adolf.
Dia cepat bertumbuh. Namun tatkala berumur jalan enam
tahun bertepatan kelahiran adik satu-satunya, ayahnya Manail Darius
Manullang meninggal dunia pada usia 27 tahun pada tahun 1947. Setahun
berikutnya (1948), Timbul memasuki pendidikan Sekolah Rakyat VI Pardamean.
Dia dan ibunya sudah mulai melampaui masa-masa paling sedih dan sulit
sepeninggal ayahandanya.
Namun, tiba-tiba tampaknya malang tak dapat ditolak,
dia ditimpa musibah yang lebih pahit lagi. Dua tahun sepeninggal Sang
Ayah, Ibunda tercinta juga meninggal pada saat usia 27 tahun pada tahun
1949. Dunia terasa gelap. Dia yang masih di bawah usia delapan tahun dan
adiknya yang baru berusia tiga tahun telah menjadi yatim-piatu.
Untunglah dia masih punya nenek, Martalena boru
Marpaung yang telah menjanda 31 tahun. Dia dan adiknya dirawat, diasuh,
dibimbing dan dibesarkan oleh nenek tercinta sejak tahun 1949.
Sejak itu, Timbul menjadi pemurung dan pemimpi (dreamer).
Syukur, musibah yang berat itu tidak sampai menghalanginya menimba ilmu,
ternyata selama SR, Timbul tidak pernah tinggal kelas dan dapat
menyelesaikan SR tersebut pada tahun 1954.
Semangat hidupnya bangkit terutama berkat pengasuhan
neneknya yang penuh kasih sayang. Hidup dalam pengasuhan nenek dirasakan
Laurence dan adiknya justru sangat nikmat dan membahagiakan. Terlebih
dalam lingkungan kultur suku Batak yang menggariskan posisi kakek/nenek (ompung)
dengan cucu adalah setara dan sejajar. Cucu adalah personifikasi ompung.
Jika seorang ayah seringkali mendidik anak supaya taat dengan cara keras,
mencubit hingga memukul dengan sapu lidi, maka seorang ompung tak
akan pernah tega dan mau melakukannya satu kali pun.
Selain ompung, tulang (paman) atau
keluarga laki-laki dari ibu dan nenek yaitu Marpaung turut pula
membesarkan Laurence dan adiknya dengan telaten. Itu sebabnya Laurence
sangat menunjukkan rasa hormat dan respek kepada setiap marga tulang-nya
Marpaung.
Manusia Cerdas
Ketiadaan ayah dan ibu kandung tidak menghalangi
keinginan Laurence mengisi hari-harinya tumbuh dan berkembang menjadi
remaja Batak yang terhormat dan dibanggakan. Gejala yang timbul padanya
hanyalah kecenderungan bersikap pemurung dan menjadi pemimpi (dreamer).
Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) VI di Pardamean berhasil dia selesaikan
antara tahun 1948-1954.
Setamat SR, Timbul melanjutkan pendidikan di SMP
Negeri Narumonda suatu sekolah yang paling favorite di Tapanuli
Utara bahkan di Sumatera Utara pada waktu itu karena lulusannya diterima
di SMA mana pun baik di Medan dan sekitarnya. Dia menyelesaikannya antara
tahun 1954-1957.
Namun sikap pemurung tak dapat menyembunyikan
kecerdasan Laurence. Kecerdasannya semenjak menjadi siswa SMP Narumonda
terbaca oleh Pendeta Haas, seorang pendeta berkebangsaan Amerika Serikat.
Karena Timbul kelihatan cerdas namun pemurung, pendeta ini menawarkannya
untuk sekolah di SMA Advent di Pematang Siantar, sebuah sekolah yang
menerapkan sistem boarding school (sekolah berasrama).
Sekolah yang dahulu bernama North Sumatera
Training School Pematang Siantar, ini dipimpin oleh R.A. Fighur.
Selama tinggal di Narumonda, Laurence dikenal dengan nama baptis
Laurencius Adolf Manullang. Malah sebelum dibaptis, dia sering dipanggil
dengan nama Timbul, nama yang diberi ayahandanya sebagai pertanda proses
kelahirannya yang unik, terlahir dalam keadaan terbungkus rapi oleh
plasenta. Setelah masuk SMA Advent Pematang Siantar, nama Timbul
Laurencius Adolf Manullang diubah oleh Richard Fighur, menjadi Laurence
Adolf Manullang.
Di sekolah itulah dia mendapat perhatian khusus,
dilatih kepemimpinan ekstrakulikuler, bahkan dilatih pidato bahasa Inggris.
Kemudian kebiasaan pemurung itu berkembang menjadi bakat dengan kemampuan
membuat puisi dan prosa yang sangat produktif atas bimbingan gurunya
Tulus Mangunsong yang saat ini telah menjadi warga negara Amerika
Serikat bermukim di California. Mimpi-mimpinya dibiarkan saja terus
berkembang bahkan memacunya ingin keliling dunia bergaul sama rata tanpa
dibebani rasa rendah diri atau inferiority complex dengan warga
bangsa lain.
Tiga tahun dalam pembinaan di boarding sekolah
tersebut, dia berhasil menyelesaikan tingkat SMA itu dengan honorable
mention. Dari Pematang Siantar dia melanjut ke Bandung memasuki sebuah
kampus Perguruan Tinggi Advent Bandung, dahulu bernama Indonesia Union
College Bandung. Di mana Laurence langsung dibina oleh Dr. B.A. Aen
dan Dr. Percy Paul, Dr. R.H. Tauran, President dan Dean pada waktu itu
yang juga menerapkan sistem boarding school. Kampus ini berafiliasi
dengan Andrews University di Michigan, AS, dan dengan Philiphine Union
College, Manila. Dr. Charles Martin pimpinan Pemuda Advent se-Timur Jauh
mempunyai andil dalam pertumbuhan watak, intelektualitas Laurence.
President Student
Laurence muda yang senang pelajaran angka-angka
memilih jalur minat akuntan. Pelajaran accounting di kampus
Indonesia Union Colege itu disamakan dengan standar yang ada di
Amerika. Yakni, setiap tingkat harus mengikuti ujian yang disebut
project set yang untuk menyelesaikannya dibutuhkan waktu minimal tiga
hari.
Project set diujikan sama kualitasnya dengan
standar ujian meraih CPA (Certified Public Accountant) di Amerika,
yang sesungguhnya tergolong tidak mudah. Namun, Laurence selalu saja
senang menempuh pendidikan yang ketat demikian sebab terbukti dia
kerapkali memperoleh nilai ujian dengan pujian.
Walau kampus menerapkan sistem belajar yang sangat
intensif dan asrama yang ketat, juga sistem pendidikan Advent dibangun
pada filosofi: True education is the Harmonious development of
physical, mental and spiritual, producing the men of principles, who can
not be bought and sold even through heaven falls into the earth, he or she
will stick to the principle like the needle to the pole, masih saja
terbuka kesempatan kepada setiap mahasiswa mengembangkan bakat
kepemimpinan melalui pelajaran ekstrakurikuler. Laurence termasuk
mahasiswa yang dapat memetik prasarana itu dengan baik, dengan terpilihnya
dia menjadi President Student Association yang dapat disamakan
dengan Ketua Dewan Mahasiswa.
Pada saat kepemimpinannya, Laurence ingin lebih
mengembangkan hubungan antar perguruan tinggi di Indonesia, mengubah
kultur Perguruan Tinggi Advent itu yang selama bertahun-tahun selalu
berkiblat ke Amerika.
Laurence berhasil menjalin hubungan dengan
Universitas Padjajaran (UNPAD) dan mengundang pimpinan UNPAD berkunjung ke
kampus Indonesia Union Colege itu yang terletak di kaki gunung
Burangrang. Undangan itu bersambut dengan baik, sebab suatu saat mahasiswa
UNPAD memutuskan mengadakan cross country ke lokasi sekolah yang
langsung dipimpin oleh Rektor UNPAD yaitu Prof. DR. Sumantri Brodjonegoro
dan Pembantu Rektor I Prof. DR. Mustopo.
Laurence pada saat itu sangat populer dan dikagumi
banyak mahasiswa/i. Bukan hanya itu, berita mengenai kepemimpinan dan
prestasi akademiknya tersebar ke beberapa perusahaan seperti Caltex dan
Stanvac. Kemudian utusan perusahaan itu mendatangi sekolah untuk merekrut
calon lulusannya bergabung setelah graduation. Demikian pula
Laurence mendapat tawaran yang pertama dari perusahaan itu bergabung
dengan mereka walaupun 5 bulan lagi baru penamatan (graduation).
Tapi Laurence memilih Indonesia Union Corporation
di Bandung, sebab dia telah menjatuhkan pilihannya terhadap seorang gadis
cantik yang kemudian menjadi istrinya, yang mengabdikan layanan sebagai
perawat di Bandung. Laurence menyelesaikan pendidikan di Indonesia Union
College antara tahun 1960-1963 dan berhak meraih gelar Bachelor of Art
(BA) bidang Accounting.
Dalam kehidupan sehari-harinya, telah berkembang
pendekatan demokratis dan terbuka (transparant) serta langsung (to
the point). Di mana sikap ini sebagian mewujudkan happy ending
tetapi sering juga merugikannya.
Sebagai good news, pernah dia mengundang teman
dekatnya, seorang gadis cantik, pada 1 Mei ke Dago Atas. Pada saat itu
cuma berdua duduk di bawah pohon bambu tidak jauh dari air terjun yang
memperindah kenyamanan suasana pada waktu itu.
Tanpa basa-basi, Laurence langsung menanyakan teman
dekatnya untuk meningkatkan hubungan dari dekat menjadi istimewa sampai ke
perkawinan. Teman dekatnya diam, lama tidak bisa bicara. Setelah didesak
memberikan jawaban pada saat itu, teman dekatnya menjawab, ya. Namun
beberapa hari kemudian, gadis teman dekatnya itu tidak mau menerima
kedatangannya. Baru 11 hari kemudian, yaitu pada tanggal 12 Mei teman
dekatnya mau menerima kunjungannya.
Ketika ditanya, kenapa koq tidak mau menerima
kunjungan padahal sudah diiyakan meningkatkan hubungan. Gadis cantik itu
menyatakan: “Saya bilang ya, karena takut. Kalau bilang tidak, bisa-bisa
dicemplungkan ke air terjun Curug Dago Atas tersebut, dan saya memerlukan
11 hari untuk merenungkannya.”
Maka, pada tanggal 12 Mei itu, Laurence menanyakan
lagi, apakah sudah merenungkan tanpa ketakutan. Temannya menyatakan: “Ya,
memang kasih sayangmu murni.”
Nama gadis itu adalah Beffie Lanny Batubara kelahiran
Bungabonder, Tapanuli Selatan. Kemudian dia bersama Beffie Lanny Batubara
ini sungguh-sungguh dipersatukan Tuhan sebagai suami istri. Mereka menikah
tahun 1964 saat usia Laurence masih terbilang muda 23 tahun, dan usia
Beffie Lanny br. Batubara 22 tahun. Satu tahun kemudian mereka sudah
dikaruniai anak.
Keluarga ini pun hidup bahagia dengan dikaruniai
Tuhan lima orang anak yaitu Leonora Manullang, SE, MM, MBA, Associate
Manager Korn Ferry Indonesia, Leonard Manullang, SE, MM/MBA pada saat ini
sedang mengambil program Doktor di UPI/YAI, Agusdjaja Satrianegara, SE,
MM, berada di California, Rizal Ruben, SE, MM dan istrinya Rina Idroes
Chaniago, SE, berada di Pangkal Pinang, dan Yolanda Puspasari, SE, sedang
berada di California.
Di samping itu mereka telah mendapat 3 orang cucu
perempuan yang manis-manis, yaitu Pamela Abigail Laurent, Brigitta
Laurencia Geovana, Patricia Desire Lorenza.
Seiring dengan kesuksesan dalam keluarga, Laurence
juga sukses dalam pendidikan lanjutan dan karir di perusahaan maupun di
organisasi proffesi dan lembaga pendidikan.
Sementara, kerugian yang dialami akibat
keterbukaannya yang to the point itu, antara lain sangat banyak
idenya ditilep orang lain, juga orang sering salah sangka karena
pikirannya diutarakan secara terbuka dan cepat.
Karir dan Pendidikan
Pertama kali bekerja sebagai Chief Accountant
di Indonesian Union Corporation Inc. di Bandung. Satu tahun kemudian dia
dipromosikan menjadi Internal Auditor hingga tahun 1966. Pada tahun
1967 Laurence mendapat kesempatan menjadi Secretary/Treasurer
berkedudukan di Medan, kantor cabang Indonesian Union Corporation Sumatera
Utara.
Kesempatan “pulang kampung” dimanfaatkannya
memperdalam ilmu pengetahuan. Pada tahun 1968 dia mendaftarkan diri
mengikuti kuliah di dua kampus sekaligus, yakni di Fakultas Keguruan dan
Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Medan, serta di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi
Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
Dia lebih dahulu meraih gelar sarjana dari IKIP Medan
di tahun 1970. Di lembaga ini, Laurence berkesempatan menyelesaikan
pendidikan lebih cepat sebab IKIP Medan sedang memperoleh bantuan dari
pemerintah pusat sebagai proyek percontohan penerapan sistem absensi ketat.
Di mana, dipersyaratkan tingkat kehadiran kuliah mahasiswa minimal 80
persen baru diijinkan ikut ujian.
Lulus dari IKIP Medan tahun 1970, Laurence
mengundurkan diri dari Indonesian Union Corporation Cabang Sumatera Utara.
Demikian pula, dia tidak melanjutkan studi akuntansi di USU Medan yang
sudah memberinya gelar setingkat sarjana muda akuntansi. Dia bersama
keluarga hijrah ke Jakarta.
Di Jakarta, Laurence diterima bekerja sebagai
Procurement Analyst di USAID, di Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Setahun saja di USAID, pada tahun 1971 Laurence pindah ke sebuah kantor
akuntan perusahaan multinasional Arthur Young sebagai Auditor. Dan
setahun kemudian, di tahun 1972 dia pindah lagi ke sebuah perusahaan
orientasi ekspor yakni ICI sebagai Accountant. Pada pertengahan
tahun 1972, Laurence kembali harus pindah, kali ini masuk ke PT
Richardson-Merrell Indonesia sebuah perusahaan multinasional yang sekarang
bernama Proctor & Gamble Indonesia (P&G).
Di sini awalnya dia ditempatkan sebagai Accounting
Manager. Setelah menjalani beberapa kali training di luar
negeri seperti Manila, Kuala Lumpur dan Bangkok, pada tahun 1974 Laurence
dipromosikan menjadi Finance Controller.
Sebagai perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA)
P & G dikenal sangat baik menaikkan value perusahaan dengan cara
meningkatkan value para karyawan. Perusahaan menjalankan program
International Executive Development Plan. Setelah pembekalan
manajerial yang matang, dan juga menempati posisi strategis yang kredibel,
maka Laurence dipromosikan menjadi Financial Director.
Untuk sampai ke jajaran elit direksi tersebut,
Laurence aktif dan kenyang mengikuti pengembangan karir sebagai eksekutif
inti, antara lain di bidang financial accounting, cost accounting,
budget and control, controllership, financial management and philosophy,
management by objective, financial planning, business strategy and
planning hingga management for international currency exposures.
Pendidikan dan pelatihan itu bisa berlangsung di
kantor pusat perusahaan di New York, maupun di lokasi-lokasi representatif
lain seperti di Honolulu, Tokyo, Dominican, Mexico, Rie de Jeneiro (Brazilia)
yakni lokasi cabang-cabang perusahaan yang menunjukkan pula makna lain
yaitu performance yang outstanding.
Ketika menjabat Direktur Keuangan berbekal kemampuan
manajerial yang matang, menempati posisi strategis yang matang, kepada
Laurence diserahi tugas mendaftarkan perusahaan PT Richardson-Merrell
Indonesia sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ), pada
tahun 1976. Perusahaan ini kemudian tercatat sebagai perusahaan kelima
yang menjual saham secara terbuka kepada publik di BEJ.
Tak kurang delapan tahun Laurence mengabdi di PT
Richardson-Merrell Indonesia, sejak tahun 1972-1980. Laurence kemudian
pindah kerja di Widjojo Group sebagai Group Financial Director
(1981-1982). Lalu menjadi Group Vice President Finance
(1982-1984) pada kelompok perusahaan Wirontono. Dan pada tahun 1985-1989
dia menjabat President Director pada PT Artha Borindo Persada.
Raih 3 Gelar Doktor
Laurence tidak pernah berhenti belajar dari self
study, workshop dan seminar. Di antara teman-teman sejawatnya, dialah
yang paling banyak mendapat kesempatan mengadakan perjalanan ke luar
negeri. Mengikuti International Conference yang diselenggarakan
oleh perusahaannya. Dia minimal menghadiri 2 kali conference jarak
jauh di mana tempatnya paling sering dilaksanakan di Honolulu atau New
York, dan minimal 2 kali menghadiri rapat jarak dekat seperti Bangkok,
Manila, Kuala Lumpur.
Dia bukan hanya berkesempatan melanglangbuana
mengikuti berbagai konferensi internasional yang diselenggarakan oleh
internal perusahaan. Di luar perusahaan kesempatan sangat terbuka luas.
Sebab Laurence aktif pula sebagai salah satu pimpinan organisasi Institut
Eksekutif Keuangan Indonesia, atau Indonesian Financial Executive
Institute (IFEI) yang berafiliasi ke International Association of
Financial Executive Institutes (IAFEI). Antara tahun 1975-1980 di
organisasi IFEI tingkat Indonesia ini Laurence aktif sebagai Executive
Secretary, Vice President dan terakhir sebagai President.
Demikian pula di organisasi tingkat internasional
IAFEI, Laurence memegang beragam jabatan penting dan strategis sejak tahun
1977-1984. Di organisasi profesi eksekutif keuangan dunia ini minimal dua
kali dalam setahun, dia harus menghadiri pertemuan tahunan yakni Board
of Governors Meeting dan World Congress.
Kenyang dan kaya akan pengalaman serta bergaul luas
dengan kalangan pelaku bisnis dan keuangan baik dalam dan luar negeri,
mendorong tekad Laurence mencarikan pengakuannya dari dunia akademis.
Berbeda dengan di dalam negeri, di luar negeri kekayaan akan pengalaman
bekerja dan berperan dalam berbagai kongres dan seminar dapat diajukan
untuk diakui sebagai ilmu dan diberi gelar akademis.
Maka dia meraih dua gelar doktor dari luar negeri
bermodalkan kekayaan pengetahuannya bekerja sebagai profesional Top
Eksekutif Keuangan Dunia. Di tahun 1986, dia sudah memperoleh gelar
Doctor Humane Letters dari perguruan tinggi OTTAWA University, di
negara bagian Kansas, Amerika Serikat.
Gelar doktor kedua, dia raih tahun 1989 dari
Pittsburg State University, Kansas, AS, kali ini namanya Doctor of
Accounting. Kedua gelar doktor ini dirah antara lain berkat
keaktifannya mengikuti berbagai konferensi internasional eksekutif
keuangan di berbagai negara.
Dia rajin menghubungi berbagi universitas baik negeri
maupun swasta di Amerika Serikat. Tujuannya untuk menguji apakah kekayaan
pengetahuan yang dimiliki dapat diakui secara akademis. Laurence ingin
memperoleh pengakuan akademis atas berbagai intensive management
workshop yang diikuti. Selama 7 tahun secara akumulatif, Laurence
melakukan seperti itu.
Pada akhirnya, dia menghubungi Pittsburg State
University sebuah perguruan tinggi di negara bagian Kansas. Di
universitas ini, dia diuji pengetahuannya dan dapat diakui sederajat
dengan tingkat doctoral. Di sini, dia diwajibkan menyusun 2 ( dua)
tulisan hasil penelitian yang disebut doctor project.
Lalu pada tanggal 23 Mei 1989, Pittsburg State
University menerbitkan diktum Certificate #KPSU11HD yang
menerangkan Degree Type: Eligible for Doctoral Degree in Accounting.
Diterbitkanlah ijasah Doctor of Accounting oleh Perguruan Tinggi
Negeri yang paling bergengsi di negara bagian Kansas itu, setelah semua
kewajiban itu dia penuhi dengan seksama.
Di negara bagian Kansas, AS, Laurence berhak
menyandang gelar doktor bidang akunting itu. Namun ketika dibawa ke
Indonesia, ijazah dan gelar demikian tidak diakui dan tidak dilegalisasi
oleh Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Departemen Pendidikan Nasional.
Alasannya sederhana, Ditjen Dikti belum memiliki sistem untuk mengevaluasi
orang-orang yang outstanding dan proses mencapai gelar itu di luar
proses konvensional. Bagi Laurence, hal itu tidak menjadi masalah.
Sebab yang terpenting baginya adalah ilmu itu dapat diaplikasikan secara
empiris.
Namun uniknya bersamaan dengan penolakan legalisasi
itu, Laurence berkali-kali dihubungi lewat telepon oleh orang tak
bertanggungjawab yang meminta uang legalisasi doktor, yang angkanya
mencapai ratusan juta rupiah. “Saya yang mempunyai ilmu, kok dipersulit?
Jika dengan uang seratus juta, saya sudah bisa membuat tiga ruangan
belajar mahasiswa lengkap dengan fasilitasnya. Padahal saya tidak mencari
kekayaan di sini tetapi untuk mengabdi,” jelas Laurence datar saja.
Namun, semua atribut yang dapat dari AS itu, dia
kelompokkan sebagai faktor penunjang pada saat memohon kepangkatan
akademik dari Dikti. Berbeda dengan di Indonesia, untuk mendirikan
perguruan tinggi di AS tidak diperlukan ijin dari Pemerintah.
Penyelenggara cukup melaporkan ke kantor Walikota atau County dan
bilamana ingin diakreditasi baru meminta salah satu Regional
Association of Colleges & Universities mengaudit. Demikian juga
kepangkatan akademik dari dosen diserahkan ke perguruan tinggi sepenuhnya.
Berbeda dengan di Indonesia, semua harus ada ijin dan persetujuan Dikti.
Belajar dari pengalaman pahit itu, Laurence semakin
membulatkan tekad memperoleh pengakuan akademis atas pengetahuan yang
dimiliki dari perguruan tinggi resmi di dalam negeri. Di tengah
kesibukannya yang amat padat, pada tahun 1993 dia melanjutkan kuliah lagi
di STIE IBEK Pasca Sarjana dan selesai S-2 gelar Magister Manajemen (MM)
konsentrasi Manajemen Keuangan, lulus dengan predikat summ cum
laude tahun 1996. Ia kuliah bersama pimpinan dan dosen STIE IBEK
lainnya karena diharuskan mengikuti kuliah sebagai program peningkatan SDM
di Perguruan Tinggi itu, dimana Dirjen Dikti dan Kopertis III memuji
tindakan itu sebagai suatu action untuk berpacu dalam berkompetisi.
Puncak pencapaian akademis S-3 dengan gelar Doktor
Ekonomi minat jalur utama Manajemen Akuntansi berhasil pula diraih dari
Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta, dalam sebuah sidang
terbuka pada 12 Mei 2004 dengan judicium sangat memuaskan. Dia
memulai program S-3 sejak tahun 2001. Ini adalah gelar doktor ketiga yang
diraih.
Selain itu, pada tahun 1985, dia mengikuti penataran
P4 di BP7. Sangat tertarik pada sistem pengajaran tersebut, dia lulus 10
besar dan terpilih mengikuti Manggala Nasional di Istana Bogor tahun 1986.
Di samping penatar nasional, dia juga mendirikan kantor konsultan untuk
memberikan jasa pada perusahaan yang ingin go public, perpajakan
dan financial consultant beberapa perusahaan, sehingga mempunyai
waktu untuk meneruskan perkuliahan kembali.
Konfrensi dan Seminar
Sebagai seorang top eksekutif keuangan, Laurence
telah memimpin lebih 75 seminar dalam pelbagai segmen dari MBO, IMF and
World Bank Roles in Developing Countries, Taxation, Capital Market dan
Investment Opportunities. Juga telah menghadiri paling sedikit 10
pertemuan internasional dimulai dari World Congress International
Association of Financial Executive Institutes di Dublin Irlandia
(1977), Buiness Airies (1978) di mana Laurence berkenan menjadi salah satu
key note speaker on: “ How Indonesia Curbs Inflation Pressure from 650%
to 10% .”
Kemudian di Atlanta (1979) juga sebagai
panelis dan dipilih sebagai Ketua IAFEI untuk ASEAN. Sydney (1980) dimana
dalam kongres ini Laurence terpilih sebagai Vice President Asosiasi
Eksekutif Keuangan paling bergengsi itu. Lalu di Mexico (1981) dia
memimpin delegasi Asia Pasifik ke Kongres dunia ini. Tahun berikutnya di
Madrid (1982) memimpin delegasi Asia Pasifik dan berhasil memasukkan Ketua
BKPM, Ir. Suhartojo sebagai keynote speaker on: Investment
Opportunities in Indonesia.
Pada tahun 1983, Laurence berhasil memimpin World
Congress of IAFEI di Jakarta yang dihadiri oleh 385
executives dari 6 benua dan menghadirkan Henry Kissinger sebagai
keynote speaker on: Economic Recovery in The Turbelent World, dan
pembicara lainnya seperti, William Miller Menteri Keuangan AS, Paul
McKraken, Ketua Security Council AS, Presiden Meryll Lynch, Chairman
Honda, dan Presiden Citibank, di samping Menkeu Indonesia, Ketua BKPM,
Menteri/Ketua Bappenas. Kongres itu dibuka oleh Wakil Presiden RI, Umar
Wirahadikusumah.
Di samping itu dalam kongres oleh FIDIC, Asosiasi
Konsultan Internasional, dia menjadi delegasi di Istanbul (1996), Edinburg
(Scotlandia) 1997. Kemudian menjadi anggota delegasi Menteri Pekerjaan
Umum melakukan studi banding ke Beijing 1990, dan delegasi Indonesia pada
Asian Dr. Accounting Consortium di Seoul (2002).
Sebagai lulusan KRA XXIII Lemhannas (1990), dia
dikirim ke Clark dan Cubic bases, Pangkalan Militer AS di
Philiphina dan menjadi tamu dari Fidel Ramos Menteri Pertahanan
Phillippines, sebelum dikukuhkan menjadi Presiden Phillippines. Juga ke
Timor Timur untuk mengadakan penelitian Lingstra setempat. Laurence
mengusulkan kepada pimpinan Lemhannas, agar pada masa mendatang lebih
banyak partisipan diundang dari Departemen Pendidikan dan Pimpinan
Perguruan Tinggi.
Dia juga memperbanyak taskapnya dengan judul
“Perguruan Tinggi di Indonesia, masalah dan penanggulang-annya.” Taskap
itu diperbanyak serta dikirimkan kepada Departemen Pendidikan mulai dari
Menteri, Dirjen sampai ke tingkat Kopertis. Namun, hasil yang dia peroleh
bukan ucapan terima kasih tetapi cemoohan karena dianggap menggurui. Ini
adalah salah satu kerugian karena keterbukaan dan niat ikhlas memberikan
masukan malah dicemoohkan. Masukannya diterima tetapi orangnya
dipertanyakan.
Laurence Manullang adalah Pendiri Yayasan Institut
Bisnis Ekonomi dan Keuangan (Yayasan IBEK). Sejak didirikan pada tahun
1971, dia memimpin yayasan ini hingga tahun 1996. Kemudian, Yayasan IBEK
resmi mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi bernama Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi IBEK (STIE-IBEK) pada tahun 1987, dan Laurence menjadi Ketua
STIE-IBEK sejak berdiri hingga 1993 dan disambung lagi dari 1996 hingga
2003, dan sejak tahun 2003, STIE-IBEK dipimpin oleh Dr. Gison, dan tahun
2004 ini nanti akan dipercayakan kepada Dr (cand) Leonard S. Manullang
karena Dr. Gison ditugaskan sebagai Ketua STIE IBEK Pangkal Pinang.
STIE-IBEK mengkhususkan diri dalam jalur minat manajemen dan akuntansi
dengan menawarkan program sarjana S-1 dan S-2. Laurence duduk sebagai
Ketua Yayasan.
Disertasi Terlengkap
Disertasi tingkat doktoralnya di Universitas Persada
Indonesia (UPI) YAI Jakarta, berjudul “Analisis Efisiensi Pasar Modal
Menggunakan Pendekatan Multiple Events Sosial, Politik, dan Ekonomi”
merupakan suatu penelitian event studies yang terlengkap yang
pernah dilakukan oleh para peneliti di Indonesia/dunia. Disertasi ini
meneliti pengaruh 51 kejadian sosial, politik, dan ekonomi di dalam dan
luar negeri terhadap fluktuasi harga saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
sepanjang tujuh tahun 1996-2003.
Penelitian ini menggandengkan disiplin ilmu akuntansi,
ekonomi, manajemen, dan statistik secara integratif sesuatu yang
sesungguhnya tidaklah enteng karenanya hasilnya menjadi sangat mengagumkan.
Seperti dikatakan oleh Prof. Dr. Sofyan Syafri Harahap, M.Sc.Acc,
“Disertasi Anda ini kelak akan mendunia.” Demikian pula pujian datang dari
Dr. Jogiyanto Hartono, MBA, Akt, “Akan banyak peneliti di masa mendatang
menjadikannya sebagai referensi.”
Karya Jogiyanto Hartono mengembangkan ISMD 2.0
PPA-UGM, sangat membantu Laurence mengembangkan ISMD2.0PPA-UGM sehingga
penelitian yang semestinya secara konvensional harus memakan waktu 15
tahun, namun karena kedermawanan Jogiyanto tadi menjadi bisa diselesaikan
hanya dua tahun saja. Demikian pula Sofyan Syafri Harahap yang mempunyai
daya ingat tajam serta perfeksionis, ikut bekerja keras membantu Laurence
melengkapi materi teoritis dan teknis penulisan sebagai Co-Promotor
kendati Laurence nyaris sempat frustasi sebab begitu banyaknya koreksi dan
perbaikan.
“Karena sibuknya dalam pendidikan dan karir sampai
bakat menggubah puisi atau sanjak terpendam hampir terlupakan,” kata
Laurence Manullang, bangga menyelesaikan disertasi sekaligus membuatnya
ingat kembali akan hobi masa remaja di Siantar, yakni sewaktu masih
menjadi dreamer serta penulis puisi dan prosa yang produktif.
Disertasi Laurence Manullang dalam catatan ilmu
pengetahuan Indonesia menjadi suatu penelitian event studies yang
terlengkap yang pernah dilakukan oleh para peneliti dengan jumlah 390
halaman untuk materi ditambah 1394 halaman lampiran. Padahal, meneliti
satu event saja sesungguhnya sudah cukup sebagai prasyarat
disertasi doktor. Namun Laurence bertujuan menyelesaikan doktor dengan
mengutamakan adanya sumbangan temuan baru untuk menambah khasanah ilmu
pengetahuan.
“Bukan semata-mata untuk meraih gelar doktor, sebab
sebelumnya saya sudah mengantongi dua ijazah doktor,” kata Laurence
Manullang kali ini dengan kalem penuh arti.
Itulah sepenggal kisah hidup sang yatim-piatu yang
sukses dan karena kesibukannya dalam pendi-dikan dan karir sampai bakat
meng-gubah puisi dan sanjak terpendam hampir terlupakan. e-ti =>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|