| |
C © updated 01082008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Drs H Muhammad Jusuf Kalla
Lahir :
Watampone, 15 Mei 1942
Jabatan:
= Wakil Presiden RI (2004-2009)
Alamat Kantor:
Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat |
|
| |
|
|
|
|
| MAJALAH |
|
|
 |
Wawancara
Wapres Jusuf Kalla
Kita (SBY-JK) Saling Mengisi
Bertahan Sampai 2009, Selanjutnya Terserah Partai
Dalam hal kepemimpinan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil
Presiden M Jusuf Kalla, kalau dilihat dari luar, bisa digambarkan
seperti antara sais dan joki. Kepemimpinan Presiden SBY (jenderal yang
berpikir dan berkultur Jawa) bertindak konsepsional dan hati-hati,
sehingga dibilang orang cenderung peragu. Sementara Wapres Jusuf Kalla (saudagar
berkultur Bugis) lebih bertindak cepat dan pragmatis, sehingga dibilang
orang melampaui batas kewenangan. Bahkan, ada kesan, duet ini sering
kali bersaing berebut pengaruh dan kekuasaan.
Bagaimana sesungguhnya pengalaman Wapres Jusuf Kalla dalam bekerjasama
dengan Presiden SBY. Adakah hambatan akibat ‘keraguan’ Presiden SBY itu?
Pernahkah faktor gaya kepemimpinan menjadi penyebab keretakan hubungan
keduanya? Bisakah dwitunggal ini bertahan sampai 2009?
“Bisa, oh pasti, insya Allah bisa jalan. Kita jalan bersama, saling
mengisi,” kata Wapres Jusuf Kalla menjawab pertanyaan terakhir ini dalam
percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia Ch Robin Simanullang, Samsuri,
Haposan Tampubolon dan Mangatur L Paniroy di Istana Wapres, Jakarta.
Wapres menerima Wartawan Tokoh Indonesia hampir satu setengah jam di
tengah kesibukannya selepas mengikuti Sidang Kabinet. Tidak tampak ada
perobahan sikapnya dari sebelum menjadi Wakil Presiden. Dia bersahaja,
akrab dan masih kenal. Percakapan mengalir apa adanya. Termasuk
berbicara hal-hal pribadi. Hanya waktu yang membuat percakapan itu
terbatas.
MTI: Setelah lebih tiga tahun Kabinet Indonesia Bersatu, kita dan
publik ingin lebih mengetahui dari pemerintah sendiri, apa sih yang
sudah dilakukan Kabinet Indonesia Bersatu? Barangkali garis besarnya
saja, hal yang menonjol, sesuai dengan visi dan misi yang diutarakan
dulu, atau dijanjikan kepada masyarakat menjelang pemilihan presiden.
Barangkali bisa diuraikan beberapa poin yang sangat strategis untuk
diketahui oleh publik?
WAPRES: Ya, tentu, kan, itu bisa dilihat dari banyak laporan (nanti
diberikan). Jadi kalau dulu programnya, pertama menciptakan masyarakat
yang damai sejahtera. Secara umum, kalau soal damai kan, sebenarnya kita
itu berada pada situasi yang paling baik dibanding, katakanlah 20-30
tahun terakhir. Tidak ada konflik-konflik lagi, secara nasional. Kita
selesaikan Aceh, kita selesaikan Poso.
Kedua, dalam hal ekonomi, sebenarnya pertumbuhan lebih baik sekarang ini,
kita usahakan naik enam persen lebih. Kemudian, secara umum, kehidupan
pun naik sebenarnya. Income perkapita kita sudah $1.800 AS hari ini.
Ya, memang masih ada pasti masalah-masalah kemiskinan, pengangguran,
karena itu tidak bisa sekaligus selesai. Jadi, ya, tentu, mungkin ada
bukunya nanti untuk lebih lengkap data-datanya.
MTI: Flashback dulu ke masalah Aceh, sebagai salah satu poin,
konflik yang sudah bertahun-tahun tetapi bisa diselesaikan.
Sepengetahuan kami, secara langsung atau tidak langsung, bahwa Wapres
sendiri yang sebenarnya sangat berperan dalam proses menciptakan
perdamaian di Aceh itu?
WAPRES: Ya, ada tim kita bentuk. Saya sendiri juga tentu memimpin
langsung timnya. Tapi tentu ada arahan Bapak Presiden yang kita jalanin.
Tapi, lebih daripada itu, seluruh masyaralatlah tentu ingin damai. Ya,
kita jalankan seperti itu.
MTI: Tanpa Wapres barangkali susah juga untuk menjalankan
keinginan damai itu?
WAPRES: Ya biasalah itu, kita semua bisa.
MTI: Trik apa kira-kira, yang paling berkesan dalam proses damai
itu?
WAPRES: Ya memahami persoalan, itu yang pertama. Kedua,
menganalisa persamaan-persamaan dan kepentingan-kepentingan. Kemudian
juga, bagaimana mengurangi perbedaan-perbedaan, kemudian mengatur
kompromi dari perbedaan itu. Jadi persamaannya kita atur, perbedaannya
kita ketahui kemudian kita kompromikan. Itu kiatnya.
MTI: Kelihatannya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) itu sangat percaya
pada diplomasi Pak Jusuf Kalla?
WAPRES: Oh, ya. Pertama, saya di samping ikhlas, dia tahu saya
ada kepercayaan. Saya percaya sama dia dan dia percaya sama saya. Di
mana-mana saya bisa menjamin saling kepercayaan. Waktu saya selesaikan
Ambon ya begitu. Begitu juga Poso, atur kepercayaan. Dan juga, jangan
ragu-ragu.
MTI: Inisiatif diplomasi damai dari Pak Wapres?
WAPRES: Ya, biasalah begitu.
MTI: Kemudian, ada arahan dari Bapak Presiden?
WAPRES: (Menganguk kepala seraya tersenyum).
MTI: Kemudian ada lagi, yang menurut kami, suatu kebijakan yang
sangat berani dari Kabinet Indonesia Bersatu, di bawah pimpinan Presiden
dan Wapres, yakni waktu menaikkan harga minyak (BBM) sedemikian tinggi,
sehingga mendapat sorotan dari berbagai pihak, terutama mengenai
berbagai akibat kenaikan itu berikutnya. Tentu ada pertimbangan yang
sangat strategis sebelum mengambil keputusan yang tidak populer itu?
WAPRES: Ya pertama, kalau kita tidak naikkan harga maka
subsidinya tinggi sekali, bisa mencapai Rp 250 triliun. Kalau subsidinya
mencapai Rp 250 triliun maka negeri ini akan kolaps, tidak bisa apa-apa.
Oleh karena itu harus dinaikkan. Tapi secara bersamaan pada saat yang
sama kita kasih bantuan tunai langsung kepada masyarakat miskin. Jadi
aman.
MTI: Tidak mempertimbangkan faktor opini publik demi popularitas?
WAPRES: Oh ya, kita pertimbangkan.
MTI: Berani mengambil risiko dengan mengorbankan popularitas?
WAPRES: Ya, kita ambil saja risiko itu.
MTI: Dan, itu tidak termasuk tebar pesona?
WAPRES: Oh, kita ambil risiko. Jadi pemimpin harus punya risiko, berani
mengambil risiko.
MTI: Inisiatif itu konon dari Pak Wapres juga?
WAPRES: Ah...ha...ha...ha. Sama-samalah semuanya.
MTI: Kemudian, dari pengalaman selama lebih tiga tahun memimpin Kabinet
Indonesia bersatu bersama Presiden SBY, apa tantangan yang paling berat
dihadapi pemerintah?
WAPRES: Kalau tantangannya banyak. Tantangan yang paling besar,
sebenarnya pada perkembangan demokrasi yang sangat terbuka, otonomi yang
sangat terbuka. Sehingga menyebabkan pengambilan keputusan, untuk
memutuskan sesuatu, tidak mudah. Karena kecenderunga, apa saja ditolak
orang, sehingga harus disosialisasikan dulu agar dimengerti orang dengan
baik.
Hal lain saya kira, yang kedua, juga karena kita alami beban-beban masa
lalu yang masih tinggi sekali, seperti utang, subsidi dan lain-lain.
Jadi kita harus melewati itu.
MTI: Bisa diberikan contoh yang lain?
WAPRES: Ya, gimana ya. Seperti contoh begini. Kita ingin mau
meningkatkan industri, investasi. Tapi kebebasan buruh yang begitu besar,
sehingga susah sekali bagi kita untuk meyakinkan investor bahwa
Indonesia tempat yang baik. Karena apa saja terbuka, apa saja orang muat
di media, apa saja orang di DPR masalah-masalah. Banyak sekali
masalah-masalah. Berbeda dengan jamannya Pak Harto dulu, semua apa yang
diperintahkan beliau jalan. Kemudian birokrasi juga sangat takut.
MTI: Soal birokrasi, reformasi birokrasi. Kalau pengamatan kita dari
luar masih begitu lambat, apa kira-kira penyebabnya?
WAPRES: Pertama, birokrasi kita terlalu banyak, besar, aturan banyak,
jadi dia juga ketakutan untuk ambil risiko. Pemberantasan korupsi itu
memang sangat penting, tapi juga mempunyai efek yang lain, orang sangat
hati-hati. Tidak mudah mereka mengambil keputusan.
MTI: Kemudian kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG, juga di bidang
ekonomi yang dimotori Pak Wapres barangkali?
WAPRES: Itulah dalam rangka mengurangi subsidi. Kalau tidak, subsidi
kita terlalu tinggi. Dan itu menguntungkan semua pihak sebenarnya.
Menguntungkan masyarakat karena LPG lebih murah dibanding minyak tanah.
Dan juga, menguntungkan pemerintah, kita bisa menghemat subsidi besar
sekali.
MTI: Ada masalah hambatan dari segi sosialisasi yang begitu lambat soal
kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG?
WAPRES: Ya pasti akhirnya orang paham. Tapi sekarang umumnya sudah baik.
MTI: Ini masalah politik. Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, tentu,
sebagai partai terbesar yang memenangkan Pemilu 2004, dan sekarang
berada di pemerintahan, ada posisi dilematis Partai Golkar dalam
koalisinya dengan pemerintah, sebenarnya bagaimana petanya?
WAPRES: Ndak juga! Cuma, Golkar kan partai nomor satu. Partai nomor satu
itu ingin juga mempunyai peranan lebih besar dalam pemerintahan. Tapi,
dilemanya itu sebenarnya kan, kebetulan saya Ketua Golkar setelah jadi
Wapres. Jadi ya, sebaiknya dipahami seperti itu (dilema).
Jadi ya, dilemanya tentu pada kepentingan dan upaya agar Golkar tetap
besar. Nanti setelah itulah kita berbicara bagaimana selanjutnya. Yang
penting lemajuan partai dulu, pemilihan legislatif dulu.
MTI: Dalam hal kepemimpinan, kalau dilihat dari luar, kami pernah
menggambarkan (kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden) seperti antara
sais dan joki mengendarai sado yang sama. Dan kelihatannya, kepemimpinan
Presiden SBY, kebetulan dibilang orang cenderung peragu. Bagaimana dalam
pengalaman bekerjasama dengan beliau sebenarnya, ada hambatan keraguan
itu?
WAPRES: Ndak juga. Sebenarnya beliau mengutamakan kebersamaan.
Kebersamaan. Tentu, dalam kebersamaan itu kan harus melaksanakan secara
baik sosialisasi dan demokrasi yang baik, sampai tingkat yang terendah.
MTI: Dan, tidak pernah merasa beliau terlalu lambat?
WAPRES: Ndak! Kan, karena hal-hal yang ditel biasanya beliau minta saya
laksanakan. Beliau seorang pemipin yang baik, mengetahui semua
permasalahan.
MTI: Jadi, Bapak yakin sebagai dwitunggal yang bisa bertahan sampai
2009?
WAPRES: Bisa, oh pasti, insya Allah bisa jalan.
MTI: Tidak pernah faktor gaya kepemimpinan menjadi penyebab keretakan
hubungan?
WAPRES: Ndak, ndak, ndak! Kita jalan secara bersama, saling mengisi.
MTI: Ada beberapa hal yang kami catat, di antaranya waktu timnya
Marsillam, UKP3R dibentuk Presiden, lalu begitu kuat Golkar menolak dan
menantangnya. Sebenarnya, apa itu didorong Wapres sendiri, atau
bagaimana?
WAPRES: Ah, itu supaya jangan timbul dualisme saja. Karena, kalau
organisasi timbul dualisme, terlalu banyak lembaga, justru menyebabkan
orang bingung. Itu saja intinya, sebenarnya.
MTI: Tapi ada kesan, bahwa pengambilan keputusan itu tidak ada
konsultasinya dengan Bapak?
WAPRES: Itu kan timnya Presiden. Jadi saya, kalau timnya Presiden, sama
dengan kalau ada tim saya, tentu saya berhak mengangkatnya. Itu timnya
Presiden.
MTI: Kembali lagi ke masalah kinerja Kabinet Indonesia Bersatu.
Indonesia dalam tiga setengah tahun pemerintahan Kabinet Indonesia
Bersatu, banyak mengalami bencana alam terutama tsunami di Aceh.
Kelihatannya pemerintah terkuras kekuatannya ke arah situ?
WAPRES: Ya. Hampir enam bulan itu kita kerjakan. Memang untuk
menanggulanginya kita mengerahkan kemampuan besar sekali. Namun yang
bekerja di situ kan dalam bidang masing-masing, jadi tetap saja ekonomi
kita jalan. Memang diperlukan dana yang besar, kemudian ekonomi berjalan,
PU dan kesehatan berjalan. Tapi dalam enam bulan itu memang berat sekali
penanganannya.
MTI: Kenapa tidak cepat diselesaikan?
WAPRES: Namanya bencana alam itu susah sekali, bencana dari alam.
MTI: Bukan karena faktor kordinasi dan tanggungjawab penanganan?
WAPRES: Ndak, itu kan faktor alam. Kalau dari segi organisasinya segera
malah. Siapa yang mau berlama-lama, tapi namanya juga alam.
MTI: Untuk ke depan, suhu politik sudah mulai naik. Tetapi
program-program pemerintah harus jalan terus. Program apa yang paling
menonjol yang akan dilaksanakan satu setengah tahun ke depan?
WAPRES: Iya, banyak, seperti infrastruktur yang harus ditingkatkan,
listrik, pelabuhan, airport dan lain-lain itu kita utamakan
pembangunannya di daerah-daerah. Itu yang sekarang benar-benar kita push
dengan baik.
MTI: Salah satu kekuatan ekonomi Indonesia ada di BUMN. Dari sistem
pengelolaannya, apa hal yang membuat BUMN belum bisa menjadi motor
penggerak ekonomi kita?
WAPRES: BUMN terlalu banyak. Terlalu banyak! Jadi kita harus kurangi,
terutama BUMN yang kecil-kecil, harus kita kurangi.
MTI: Untuk menguranginya sudah ada sistem yang baku?
WAPRES: Ya, kita usahakan kurangi sampai setengahnya dalam waktu tiga
tahun dengan merger dan lain-lain. Kalau terlalu banyak begini susah
sekali, dan juga banyak mencari orang-orang yang memimpin dengan baik.
MTI: Bagaimana kinerja Menteri BUMN Sofyan A Djalil?
WAPRES: Oh, baik. Hampir semua menerimanya dengan baik. Baik. Dia
mengerti.
MTI: Kemudian, dulu, kalau kami tidak salah, ketika Bapak masih Menko
Kesra, pernah mengumpulkan para direksi perbankan, supaya mengucurkan
kredit, atau mendukung ekonomi riil. Sekarang, setelah menjadi Wapres,
ada nggak upaya untuk mendorongnya lagi?
WAPRES: Lebih lagi, lebih lagi.
MTI: Apa yang Bapak koordinasikan?
WAPRES: Agar bank-bank itu menjalankan fungsinya maisng-masing. Semakin
keras kita dorong.
MTI: Ada instruksi khusus?
WAPRES: Oh ya, iya. Kita semua minta dibiayai kan, bank-bank itu
membiayai seperti program mengenai gula, infrastruktur, jalan tol, UKM.
Jalan, jalan, semua jalan!
MTI: Pertumbuhan ekonomi kita sudah 6,2 persen. Ekonomi makro kita sudah
jalan, tetapi mengapa ekonomi mikronya belum begitu jalan?
WAPRES: Sebenarnya setiap pertumbuhan makro yang baik pasti diikuti
dengan mikro yang baik. Cuma, selalu saja dianggap begitu. Contohnya
saja, listrik kekurangan, karena kebutuhan listrik banyak sekali.
Industri juga jalan. Perhatikan juga jalan-jalan raya yang macet,
rupanya itu banyak penjualan mobil, banyak penjualan sepeda motor. Lihat
juga kontainer di jalan-jalan, penuh kontainer, itu berarti ekonomi
jalan.
Jadi sering orang otomatis saja mengatakan sektor mikro tidak jalan.
Tidak mungkin makro jalan tanpa mikro. Mesti selalu berbarengan.
MTI: Dalam memacu pertumbuhan ekonomi pasti tidak lepas dari pembangunan
infrastruktur, termasuk transportasi laut, udara, jalan raya dan kereta
api. Bagaimana proses pembangunan infrastruktur ini ke depan, supaya
pertumbuhan ekonomi nasional lebih terpacu lebih cepat lagi?
WAPRES: Iya. Ini sebenarnya kita mau pacu, tapi ada saja
halangan-halangannya. Dulu masalah dana, kita selesaikan dana. Sekarang,
setelah kita selesaikan dana, masalah lahanlah yang harus berubah
fungsinya. Ini kendala pembebasan lahan, ini kita selesaikan.
MTI: Masih masalah infrastruktur transportasi, sarana dan prasarananya.
Pada Februari 2007, sewaktu Bapak Wapres melakukan perjalanan di atas
kereta api Jakarta-Madiun sambil melaksanakan rapat koordinasi teknis
perkeretaapian, sejauh mana hasil-hasil evaluasi koordinasi tersebut?
WAPRES: Saya minta mereka bikin perencanaan yang baik. Sebenarnya rapat
kemarin untuk memeriksa perencanaan itu, dan kita akan bangun
perkeretaapian kita dengan kemampuan sendiri. Tahun depan kita punya
dana Rp 4 triliun untuk itu. Kali ini lebih baik. Kita ingin proyek
pinjaman, lebih baik meminjam dalam negeri, bank-bank nasional kita
minta.
MTI: Perihal masalah pemberantasan korupsi. Pada waktu itu Pak Wapres
menyinkronkan pertemuan antara Kapolri, BPKP dan Jaksa Agung. Apa maksud
dan sejauhmana aplikasinya?
WAPRES: Ya, supaya semua pejabat yang di bawah jangan serba takut. Jadi,
kita minta itu mereka sinkron. Diperiksa dulu dia punya persoalannya,
diperiksa dulu oleh akuntan yang profesional sebelum mereka dianggap
korupsi macam-macam. Supaya jangan ketakutan luar biasa sehingga tidak
mau mengambil keputusan secara cepat. Karena takut dianggap korupsi.
Memang korupsi harus kita berantas, sebab korupsi itu sangat jelek
akibatnya, menimbulkan kemiskinan. Tapi jika para pejabat itu tidak
berbuat sesuatu, sama akibatnya, menimbulkan kemiskinan.
MTI: Masalah pendidikan. Sepertinya, kali ini kita punya pemimpin (Wapres)
yang sangat peduli pada pendidikan. Untuk mengakselerasi kemajuan
pendidikan, salah satunya memaksa ditempuh dengan pelaksanaan ujian
nasional, yang tingkat kelulusan atau passing grade-nya pun turut
dinaikkan terus. Apa dasar pemikiran Wapres dalam hal ini?
WAPRES: Ya, pertama, karena mutu pendidikan kita rendah. Kalau tidak
dinaikkan secara cepat dan dipaksa, mutu pendidikan kita tidak akan
naik-naik. Dengan dilaksanakan ujian nasional itu, para pelajar itu
harus belajar, kan? Belajar dengan baik, baca buku. Karena sesuai cara
orang belajar harus diuji. Lalu (dulu) ada yang lulus dan ada tidak
lulus. Kalau semua lulus kan tidak ada yang mau belajar dengan baik.
Hasilnya, ya, sekarang anak-anak semua belajar, kan. Sudah mulai takut,
Anda punya anak atau kemenakan lihat saja masih berani nggak dia
ngeluyur-ngeluyur, anak-anak SMA sekarang. Ndak terlalu berani lagi, kan?
Karena dia mulai serius belajar.
MTI: Kalau alasannya seperti itu, kenapa masih saja muncul
penentangan-penentangan soal kebijakan ujian nasional ini?
WAPRES: Karena banyak ahli-ahli pendidikan yang menerapkan teori terlalu
bebas, ingin seperti itu. Padahal, hasilnya, buktinya saja bahwa
pendidikan kita rendah. Tak usah banyak argumentasi, cari saja buktinya:
Mutu pendidikan kita rendah, tidak bisa bersaing. Jadi harus
ditingkatkan, dengan cara belajar. Tak usah cari teori macam-macam. Iya,
kan.
Mau selalu anggaran, anggaran tidak ada. Kalau anggaran, sepuluh tahun
lagi baru cukup. Apa sepuluh tahun kita harus menunggu. Belum tentu juga.
Walaupun sekolah hebat tapi tidak mau belajar, tidak dipaksa belajar,
macam mana orang pintar. Jadi, biar demo, orang demo seribu kali, tetap
saja saya jalanin. Ndak peduli.
MTI: Mengenai realisasi anggaran yang diatur sesuai konstitusi harus 20
persen dari APBN dan APBD yang ternyata masih sulit terpenuhi, hingga
mendorong Wapres meminta agar anggaran pendidikan kedinasan dan gaji
guru dimasukkan ke dalam komponen 20 persen tadi?
WAPRES: Oh iya, kita minta itu dimasukkan. Kalau gaji guru dimasukkan
itu bisa menaikkan anggaran pendidikan menjadi 15 persen. Dan itu benar.
Guru kan bagian dari pendidikan. Undang-Undang Dasar mengatakan
meningkatkan kecerdasan bangsa. Ya faktor itu pasti guru, dong.
Faktornya juga termasuk pendidikan kedinasan akademi-akademi seperti
akademi perhubungan, akademi imigrasi, institut pemerintahan dalam
negeri, itu kan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah juga, masak tidak
boleh masuk dalam pendidikan. Salah itu. Bertentangan dengan
undang-undang dasar.
MTI: Dulu Pak Jusuf Kalla, sebelum menjadi Wapres, dalam Tokoh
Indonesia, pernah mengatakan, bahwa antara Bapak sebagai Calon Wapres
dan Susilo Bambang Yudhoyono Calon Presiden ada share dalam kepemimpinan
kalau kelak terpilih. Masihkan komitmen share ini berlaku sekarang ini?
WAPRES: Yah..., Anda lihatnya bagaimana? Anda kan tadi tanya mana
keputusan-keputusan yang saya ambil, kan share itu kan?
MTI: Salah satu problem Indonesia sebagai negara agraria dengan tanahnya
yang subur adalah soal pangan yang kurang. Adakah langkah strategis yang
diambil pemerintah dalam rangka revitalisasi pertanian?
WAPRES: Iya, sekarang kita berupaya meningkatkan produksi. Supaya
swasembada pangan, kita meningkatkan produksi beras, kita tingkatkan
dengan bibit yang baik dengan biaya yang besar. Kita akan tingkatkan
gula dengan investasi yang cukup besar. Semuanya akan kita tingkatkan,
karet, sawit dan lain-lain.
MTI: Tidak ada upaya untuk melibatkan pengusaha besar?
WAPRES: Oh iya, semua kan terlibat. Salim, Syamsul Nursalim terlibat,
pabrik gula kan harus besar, tidak mungkin petani sendirian karena butuh
pabrik butuh apa. Semua terlibat.
MTI: Terutama, untuk pangan?
WAPRES: Ya, untuk pangan. Kita minta, contohnya, pembibitan-pembibitan
yang besar, padi hibrida. Itu kan tidak mungkin petani biasa, harus
petani-petani yang punya teknologi.
MTI: Ada daerah yang khusus dikembangkan dalam rangka swasembada pangan?
WAPRES: Kalau untuk swasembada pangan paling tidak 10 provinsi. Kemarin
itu kan kita luncurkan bibit padi hibrida senilai Rp 1 triliun.
MTI: Masalah hubungan daerah dengan pusat. Mungkin buah dari reformasi,
dan penentangan dari publik, supaya desentralisasi itu diterapkan
sedemikian rupa. Ada keluhan dari daerah belakangan ini, seolah-olah
otonomi itu belum maksimal?
WAPRES: Tidak juga. Kan, kita tidak mungkin langsung 100 persen, tapi
sesuai tahapannya. Kita kan bukan negara federal. Malah daerah sangat
otonom, sangat.
MTI: Karena sangat otonom, jadi kesulitan bagi pemerintah pusat untuk
mengatur daerah?
WAPRES: Iya, garis komandonya kadang-kadang sudah. Jangankan itu, antara
gubernur dengan bupati kadang-kadang jadi masalah, kan, tidak bisa
kontrol mereka, karena otonominya di kabupaten.
MTI: Apakah pemerintah pusat kesulitan ngontrol daerah?
WAPRES: Ndak, kebijakannya. Kita tidak lagi kontrol kayak dulu. Tapi
kita mengontrol kebijakannya. Mereka jalan.
MTI: Indonesia kan masih negara pedesaan. Komitmen pemerintah, menurut
hemat kita, untuk melihat pedesaan ini masih kurang. Padahal bangsa ini
ada di sana?
WAPRES: Sebenarnya, sejak dulu program itu, jaman Pak Harto program itu
lebih kencang ya. Bahwa membangun dari daerah kecil, terbelakang, karena
itu sekarang banyak program-program infrastruktur pedesaan. Meningkatkan
pertanian, meningkatkan UKM, semua yang dibangun itu pedesaan-pedesaan.
Tapi sebenarnya makna otonomi di situ juga bahwa itu bukan hanya pusat
yang bertanggungjawab, daerah itu membangun daerah. Itu sebenarnya
otonomi di situ. Karena itu anggaran sekarang tidak lagi per proyek dari
pusat. Tapi ini uang, ke daerah, you bangunlah daerah, pedesaan. Itu
sudah urusan di daerah.
MTI: Mengenai kesehatan masyarakat?
WAPRES: Ya, sama, sama. Dana anggaran kesehatan termasuk besar, Rp 16
triliun.
MTI: Masalah politik. Tahun 2009 sudah dekat. Sebagai ketua umum partai,
tentu, wajar partainya mencalonkan ketua umumnya menjadi calon presiden.
Padahal, duet ini kan dwitunggal yang begitu bisa saling mengisi,
walaupun kelihatan dari luar dikira ada intriknya. Dalam hal ini
bagaimana policy Bapak sebagai Ketua Umum Partai Golkar?
WAPRES: Ya, Golkar kan nanti menentukan dan menetapkannya secara
demokratis dalam bentuk Rapimnas. Itu nanti akhir tahun ini, ditetapkan.
MTI: Tidak terlalu lama?
WAPRES: Tidak. Cukup waktu, enam bulan cukup.
MTI: Memang, Pak Jusuf Kalla tidak ada niat menjadi Presiden?
WAPRES:Emm, pokoknya, segala itu kan bukan saja urusan pribadi, tapi
urusan partai. Partai yang memutuskan pada waktunya.
MTI: Bukan hanya sekedar menjaga perasaan Presiden SBY?
WAPRES: Ndak, ndak, ndak. Itu urusan partai. n mti ►mti-Majalah
Tokoh Indonesia Edisi 39 Thn V, Agustus-September 2008
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
***
Majalah TokohIndonesia 39
KAPUR
SIRIH:
Mencari Pemimpin ► BERITA UTAMA:
Siapa Capres 2009? Indonesia Butuh Strong Leadership =
Peluang Duet Unik SBY-JK =
Duel SBY-JK dan Pembelotan Menteri =
Megawati Lebih Siap =
Sri Sultan HB X, Capres atau Cawapres =
PKS: Hidayat atau
Tifatul = Peluang Terakhir Wiranto =
Sutiyoso, Tiket Penumpang
►
WAWANCARA:
Kita (SBY-JK) Saling Mengisi (Wawancara Eksklusif Wapres Drs.
M Jusuf Kalla) ► PRESTASI:
Dada Rosada: Teladan, Kunci Kepemimpinan =
Baharudin H.Lisa, Keberuntungan Basel
► TOKOH UTAMA: Dr. Aulia Sani,
Spesialis Jantung yang Bersahaja ► GAYA HIDUP:
Nikmati Hidup dengan Teh
= Sehat Berkat Minum
Teh ► APRESIASI:
Bismar Siregar, Seni itu Ibadah
► TOKOH MANCANEGARA:
OBAMA
Mengukir Sejarah Amerika =
Mari Alkatiri PM Pertama Timor Leste =
WAWANCARA MARI ALKATIRI:
Pemilu Dipercepat 2009 Fretilin Yakin Menang
►
POLITISI: Nidalia Djohansyah, Perempuan Lebih Peka dan Responsif
|
|