A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Organisasi
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 18012006  
   
  ► e-ti/setneg  
  = Impor Beras Tak Rugikan Petani
= Coba Rekatkan Hubungan Jakarta-KL
= Golkar Lebih Solid
 
     
 
BERITA

 

Wapres Jusuf Kalla

Impor Beras Tak Rugikan Petani


Kuwait City, Kompas Rabu, 18 Januari 2006 - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengimpor beras tidak dimaksudkan untuk merugikan petani. Pemerintah ingin membantu masyarakat yang lebih besar, yang menjadi konsumen, untuk bisa membeli kebutuhan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

Ujian bagi pemerintah untuk membuktikan kepeduliannya kepada petani akan dibuktikan pada panen raya bulan Februari dan Maret mendatang. Pemerintah harus menjamin agar harga jual gabah petani tidak jatuh di bawah harga dasar.

Langkah pemerintah mendapat tentangan dari masyarakat. DPR bahkan menggunakan hak angket dalam impor beras ini.

Anggota DPR, Suharso Monoarfa (F-PPP), mengatakan, langkah yang dilakukan DPR bukan dimaksudkan untuk menggoyang pemerintah. DPR ingin mengingatkan, keputusan itu merugikan petani dan hanya menguntungkan para pemburu rente.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Wapres dalam penerbangan dari Jakarta menuju Kuwait, Selasa (17/1).

Dalam penerbangan menuju Belgia, Wapres singgah empat jam di Kuwait untuk menyampaikan belasungkawa Pemerintah RI atas wafatnya Emir Kuwait Sheik Jaber al-Ahmed al-Sabah.

Apa yang menyebabkan pemerintah bersikukuh untuk tetap mengimpor 110.000 ton beras dari Vietnam meski ditentang para petani?

Sekarang ini kenyataannya harga beras di pasar mencapai Rp 4.200 per kg. Padahal, tidak seperti bahan bakar minyak (BBM), masyarakat tidak mungkin menurunkan konsumsinya. Berapa pun harga beras, pasti konsumsinya tetap akan 12 kg per orang per tahun.

Kita lihat dari 14 juta keluarga petani, hanya sekitar 1 juta saja yang mampu menyimpan beras untuk kebutuhan konsumsinya. Sisanya menjadi konsumen karena semua hasil produksinya sudah habis terjual. Kalau sebelumnya mereka menjual hasil produksinya Rp 3.550 per kg, ketika menjadi konsumen mereka harus membeli dengan Rp 4.200 per kg.

Langkah yang dilakukan pemerintah sekarang adalah bagaimana membuat para petani konsumen yang jumlahnya 13 juta keluarga dan juga masyarakat lain yang lebih banyak bisa memenuhi kebutuhannya dengan harga yang terjangkau.

Apakah kebijakan impor ini tidak merugikan petani?

Tidak, karena pertama beras yang diimpor ini jumlahnya kecil. Dibandingkan dengan kebutuhan nasional yang mencapai 32 juta ton, impornya hanya 180.000 ton atau 0,6 persen. Kecil sekali.

Kedua, kenyataan harga di pasar tetap Rp 4.200 per kg. Artinya, petani tidak dirugikan dengan keputusan impor beras.

Ada kekhawatiran bahwa pengaruhnya akan terjadi pada panen raya nanti. Dampak psikologis akan membuat harga petani akan jatuh?

Inilah tantangan bagi pemerintah, bagaimana harga petani pada saat panen raya tidak sampai turun di bawah harga dasar sehingga merugikan petani. Di sini Perum Bulog harus bisa menjalankan tugasnya untuk menyerap produk petani dan disimpan sebagai stok.

Sejauh mana kenaikan harga yang terjadi sekarang disebabkan ada permainan dari spekulan untuk melakukan penimbunan, bukan karena jumlah kebutuhan yang kurang?

Saya memang membaca bahwa Polda Jabar akan melakukan sweeping untuk mengetahui adanya kemungkinan penimbunan. Saya ingatkan kepada Kepala Polri untuk berhati-hati dan bisa membedakan betul antara penimbunan dan persediaan.

Menurut saya, sekarang ini tidak mungkin ada penimbunan. Dengan harga yang tinggi seperti sekarang, para pedagang justru akan melepaskan stoknya untuk meraih keuntungan.

Penimbunan bisa saja terjadi, tetapi tidak akan dilakukan sekarang. Kalau mau melakukan penimbunan, pasti sudah dilakukan pada bulan Desember lalu. Yang terjadi sekarang ini karena ada ketidakcocokan antara pasokan dan permintaan. Bukan kita kekurangan beras, tetapi karena waktu panen belum tiba, sementara permintaan tetap, membuat harga naik tajam.

Untuk itulah Perum Bulog diminta melepaskan stoknya untuk mencegah agar harga tidak melambung lebih tinggi. Nanti ketika masa panen tiba, Perum Bulog membeli lagi dari petani untuk memenuhi iron stock-nya sehingga bisa menjaga keseimbangan ketika kelak harga naik lagi di atas kewajaran.

Sejauh mana pemerintah menggunakan momentum ini untuk semakin meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri?

Ini tugas yang lain. Departemen Pertanian harus meningkatkan produksi agar kita mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sekarang ini produksi memang meningkat sebesar 1,5 persen. Menurut saya harus bisa dipacu lebih tinggi lagi.

Salah satu yang harus menjadi konsentrasi, bagaimana kita bisa menemukan dan menghasilkan bibit yang lebih baik lagi. Bibit itulah yang kita bagikan kepada petani. Bahkan, bukan hanya untuk padi, tetapi untuk pertanian lain dan bahkan penghijauan. Kita harus mampu menghasilkan bibit unggul.

Bagaimana pemerintah akan menanggapi hak angket yang diajukan DPR?

Pemerintah akan menjawab bahwa impor beras harus dilakukan karena adanya kekurangan stok dan harga yang sudah di atas kewajaran. Keputusan itu diambil setelah mendapat persetujuan Dewan Ketahanan Pangan. Ini sesuai dengan kesepakatan yang sebelumnya dibuat dengan DPR sendiri.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)