|
|
 |

Nama:
Jonathan Limbong Parapak, M.Eng.Sc
Lahir :
Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1942
Agama :
Kristen Protestan
Isteri :
Anne B. Parapak
Anak :
Esther Parapak, Lise Parapak, Kathryn Parapak
Pendidikan:
1949- 955 SD di Rantopao
1955-1958 SMP di Rantepao
1958-961 SMA Negeri I (Teladan), Makasar (Ujung Pandang)
1962-1966 University of Tasmania, Australia (disamakan Sarjana Teknik)
1967-1968 Pasca Sarjana di Universitas Tasmania Tamat dengan gelar "Master
of Engineering Science" (M.Eng.Sc).
1984 Lemhannas dengan mendapat 'Wibawa Seroja Nugraha (peserta dengan
nilai tertinggi)
Pendidikan Khusus
Mei-Juni 1975 University of Syracuse New York (Diploma: Dynamic Management
for International Executives).
Oktober 1978 ITT-Communications Group New York (Diploma: Marketing)
1981 Penataran Type A P-4 (Ranking 1)
1995 Penataran Manggala P4
1970-Sekarang : Mengikuti berbagai seminar manajemen telekomunikasi,
komputer, informasi dan pariwisata.
Pengalaman Kerja
1966 : Telecoms Australia sebagai "Radio Installation Engineer"
1967-1968 : Research Laboratories-Telecoms Australia dalam kerja sama
dengan University of Tasmania, Research untuk Master Degree
1968-1969 : Telecoms Australia sebagai Microwave System Design Engineer .
1969 1970 : IMC Engineer -PT.Indosat Jakarta
1971-972 : Station Engineer -PT. Indosat Jakarta 1973- 1975 : System
Engineer -PT. Indosat Jakarta
1975-1977 : Manager Operations & Engineering PT. Indosat
1978-Jan. 1980 : Director Operation & Engineering PT. Indosat
1976-980 : Member ofthe Board ofDirectors PT. Indosat
1980-1991 : Direktur Utama PT. Indosat
1991-1999 : Komisaris Utama PT. Indosat
1991-1998 : Sekretaris Jenderal Departemen Parpostel
1998-1999 : Sekretaris Jenderal Departemen Parsenibud
1987-1991 : Komisaris Utama PT.Gratika Nusantara
1988-1991 : Komisaris PT. Lintas Arta
1985-1990 : Anggota Dewan Gubernur Intelsat mewakili ASEAN
1988-1989 : Vice Chairman Intelsat Board of Governors
1989- 990 : Chairman, Intelsat Board of Governors
1988-1992 : Chairman ITU World Plan for Asia and Oceania
1989-1991 : Member High Level Committee ITU (International
Telecommunication Union)
1991-1999 : Pembina Koperasi Pegawai Dep. Parpostel
1991 : Ketua Panitia Konperensi negara-negara OKI di Bandung
1993- 1999 : Komisaris Utama PT. INTI-BPIS
1995- 1999 : Anggota Dewan Riset Nasional
1994-1996 : Ketua Tim Interdep dan Evaluasi KSO
1995-1998 : Ketua Tim Interdep dan Evaluasi PCN/PCS/PHS
1993 -Sekarang : Ketua Yayasan Pedidikan Teknik Indonesia
1995- Sekarang : Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi
dan Informasi
1996-1997 : Chairman First World Telecommuniactions Policy Forum-ITU,
Geneva
1997-1999 : Anggota MPR.
2000-sekarang : Charman/Preskom beberapa perusahaan di lingkungan
LIPPO-AcrossAsia Multimedia (Indonesia).
Pengabdian di UI dan Lemhanas
1970-1980 : Dosen Luar Biasa di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
dalam mata kuliah Teknik Telekomunikasi dan Tugas Sarjana
1976-1979 : Ketua Departemen/Kabinet Elektronika/ Telekomunikasi, Anggota Senat Fakultas Teknik
1985 -19995 : Dosen Lemhannas (Anggota Kelompok Kerja Sismennas Lemhannas)
1996 -Sekarang : Ketua Dewan Penasehat Program S2 Telekomunikasi
Universitas Indonesia
Pengabdian Lain
Pembina KORPRI Unit PT. Indosat 1981- 1991
Ketua KORPRI Dep. Parpostel/Parsenibud 1992- 199
Ketua Umum Ikatan alumni Australia 1988 -1992 dan Ketua dewan
pembina 1992 -sekarang
KetuaBidang Pengembangan Ikatan Alumni Lemhannas 1985- 1991
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia 1986- 1991
Ketua Departemen Data dan Informatika Pengurus Pusat KADIN 1989-1991
Anggota Dewan Pertimbangan KADIN 1989-1991
Pembina Yayasan Kebudayaan dan Pengembangan Pariwisata Toraja dan Yayasan
Pendidikan Tongkonan
Wakil Ketua Umum-Seminar Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) 1987 tentang
Sistem Ekonomi Nasional Indonesia
Ketua Umum Seminar IKAL 1988 tentang Sistem Politik Demokrasi Pancasila
Ketua Umum Seminar IKAL tentang Sistem Sosial Budaya Indonesia yang
mendukung Strategi Jangka Panjang Tahap II 1989
Ketua Umum Seminar IKAL 1990 tentang Wawasan Nusantara dan Ketahanan N
asional dalam Pembangunan N asional
Ketua Umum Seminar IKAL tentang Pembinaan Sumber Daya Nasional untuk
Meningkatkan Ketahanan Nasional dalam Era Kebangkitan Nasional II
Anggota kelompok kerja/Pengkajian Sistem Manajemen Nasional Lemhannas.
Ketua II Ikatan Profesi Komputer dan Informatika (IPKIN) 1989-1991
Sekretaris Tim Pengembangan dan Pendayagunaan Sistem Informasi Nasional
(TP2SIMNAS)
Wakil Ketua TP2 Simnnas mulai 1989-1992
Ketua Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia 1994- sekarang
Penghargaan
Terpilih oleh ITT Quality Council (calon-calon dari seluruh dunia) untuk
menerima Ring of Quality 1976 sebagai penghargaan “Prestasi yang sungat
menonjol”
Setya Lencana Pengabdian Indosat 20 tahun,1989
Dianugerahi Setya Lencana Pembangunan oleh Negara RI pada tahun 1985
Satya Lencana Dwidya Sistha-Lemhannas 1990
Dianugerahi Bintang Jasa Utama 17 Agsutus 1992
Penghargaan Pembina Koperasi 1996.
Karya Tulis:
(1) Berbagai makalah di bidang elektronika telekomunikasi dan informatika
yang diterbitkan/disampaikan pada pertemuan di dalam dan di luar negeri.
2) Thesis Master di University ofTasmania.
3) Karya tulis di Lemhannas ‘Sistem Informasi manajemen Nasional’ yang
kini mulai diangkat ditingkat nasional misalnya TP2SIMNAS.
4) Berbagai makalah di bidang Manajemen, Pariwisata, Pos dan
Telekomunikasi yang diseminarkan dan diterbitkan di dalam dan luar negeri.
Alamat :
Jl. Teuku Umar 14, Menteng, Jakarta 10350.
|
|
Jonathan Parapak
Pembelajar dan Pelayan Telematika Indonesia
Kiprahnya dalam pengembangan teknologi informasi dan telekomunikasi di
Indonesia, tak dapat dilupakan. Kebesaran PT Indosat tidak dapat
dilepaskan dari sentuhan tangan dingin yang dilandasi ketajaman visi dan
prediksinya ke depan. Ia, Jonathan Parapak, taruk yang bersemi dari Tana
Toraja, pembelajar dan pelayan telematika Indonesia.
Sejak awal Jonathan Parapak menyadari bahwa kemajuan teknologi informasi
tidak hanya mempermudah komunikasi serta mempercepat penyebaran informasi,
melainkan juga memiliki nilai strategis secara ekonomis dan politis.
Lancarnya komunikasi dan informasi yang tidak lagi dibatasi oleh faktor
geografis, memiliki sumbangan besar dalam mempersatukan bangsa. Visi
itulah yang telah memotivasi Parapak untuk bekerja tak kenal lelah
mengembangkan dunia informasi dan telekomunikasi demi bangsanya.
Inti pernyataan ini dipetik dari uraian Dr. Radius Prawiro dalam kata
pengantar buku Pembelajar & Pelayan, yang diterbitkan Institut Darma
Mahardika, dalam rangka HUT ke-60 Jonathan Parapak, 12 Juli 2002.
Parapak sendiri mengganggap pernyataan itu terlalu membesarkannya. Bahkan
saat berbincang dengan wartawan Tokoh Indonesia, di kediamannya Jalan
Teuku Umar 14 Jakarta, ia merasa belum berbuat ‘apa-apa’ dibanding yang
lain sehingga belum pantas digelari tokoh terkemuka Indonesia. Ia pun
merasa tidak berkepentingan profilnya sebagai tokoh ditampilkan di Ensiklopedi Online Tokoh Indonesia. Padahal kenyataan (sesungguhnya), di
mata banyak orang, ia telah berbuat banyak di sekitar teknologi, manajemen,
birokrasi dan sumber daya manusia, terutama dalam pengembangan telematika
di Indonesia. Sehingga tidak heran bila banyak orang ingin belajar dari
pengalaman Jonathan Parapak.
Ia memang seorang yang rendah hati. Sebagaimana dituturkan Radius Prawiro,
Jonathan Parapak adalah sosok ideal seorang intelektual sejati sekaligus
pekerja profesional yang tangguh. Ia seorang pembelajar sekaligus juga
seorang pelayan. Ia berusaha membelajarkan masyarakat, namun tidak
kehilangan minatnya untuk senantiasa belajar. Dengan penuh semangat, ia
selalu membuka diri terhadap teknologi baru. Karyanya selama lebih dari
sepuluh tahun sebagai Presiden Direktur PT Indosat, diakui, bukan saja
oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh dunia.
Ia telah berhasil membuktikan komitmennya sebagai seorang pembelajar dan
pelayan, baik dalam kapasitasnya sebagai manajer profesional dalam dunia
usaha, maupun sebagai birokrat dalam pemerintahan. Melalui berbagai
seminar dan ceramah-ceramah yang diberikannya ia berusaha membentuk
kader-kader bangsa dan kader-kader Gereja yang visioner serta sadar akan
misi lebih luas yang diembannya. Jauh dari rasa gamang, ia menatap jauh
menuju masa depan bangsa Indonesia modern yang memiliki cakrawala lebih
luas. Hal tersebut tidak hanya dilakukan di kalangan profesional,
melainkan juga bagi masyarakat luas.
Ia sosok pelaku teknologi yang visinya sangat jelas dalam kaitan dengan
peranan teknologi untuk pembangunan bangsa dan negara serta peningkatan
kesejahteraan manusia. Dalam berbagai makalah, Parapak berulang kali
menegaskan peran strategis teknologi, khususnya teknologi telekomunikasi
dan informasi untuk pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan dan keamanan.
Ia meyakini peran yang sangat vital dari sistem komunikasi satelit untuk
mempercepat persatuan Indonesia. Ia menjadi penggagas visi Nusantara 21,
visi bangsa Indonesia di sektor telekomunikasi dan informasi dalam
memasuki abad ke- 21. Untuk meyakinkan bangsa Indonesia bahwa kemajuan,
kesejahteraan, daya saing dan kejayaan Indonesia di abad ke-21 sangat
ditentukan oleh kesiapan dan kemampuan mewujudkan masyarakat berbasis ilmu
pengetahuan, melalui pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi dan
komunikasi.
Ia pula salah satu pemula konsep pembangunan Telematika di Indonesia, dan
menjadi pimpinan berbagai kelompok yang sangat peduli dengan peran
telematika dalam mewujudkan knowledge based society di Indonesia.
Sebagai pelaku teknologi pada berbagai tataran, baik tingkat kebijaksanaan
maupun regulasi operasi dan industri, Parapak telah memberikan berbagai
gagasan segar dan baru, bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan teknologi
untuk kesejahteraan manusia. Ia telah berperan dalam reformasi sektor
telekomunikasi di Indonesia. Ia juga telah membuktikan bahwa putra-putri
Indonesia tidak kalah dari bangsa manapun di dunia ini dalam pengelolaan
bisnis berteknologi tinggi. Parapak telah membuktikan bagaimana mengelola
usaha bisnis berteknologi canggih secara profesional, bersih, dan
menghasilkan kinerja yang baik.
Ia juga pernah menjadi bagian dari birokrasi melalui jalur yang khas. Ia
menjadi Direktur Utama PT Indosat (BUMN) dan Sekjen Deppparpostel. Walau demikian, ia tidak larut
dalam birokrasi BUMN dan pemerintahan, melainkan berusaha mengedepankan kultur baru
yang berorientasi pada layanan terbaik kepada masyarakat. Selama menjadi
bagian dari birokrasi pemerintahan, ia berusaha menciptakan lingkungan
kerja, kekaryaan dan pelayanan yang cepat, tidak birokratis dan transparan.
Selama bekerja di birokrasi pemerintahan, ia ikut serta dalam berbagai
langkah reformasi kebijaksanaan dan regulasi. Seperti deregulasi sektor
telekomunikasi yang membuka peluang bagi para pelaku swasta untuk
berpartisipasi dalam pembangunan telekomunikasi. Ia ikut mendorong proses
yang transparan dalam pemberian izin, seperti diadakannya tender terbuka
mitra KSO. Ia ikut mendorong proses desentralisasi dan pemberian
kewenangan kepada daerah, dengan mentransfer kewenangan perizinan
pariwisata ke daerah tingkat I dan II. Ia ikut memulai partisipasi yang
lebih luas dari swasta dan masyarakat dalam penyusunan berbagai kebijakan
dan regulasi, misalnya penetapan tarif telepon.
Sejak mengikuti Kursus Reguler Lemhannas 1984, ia juga sudah memulai dan
mengampanyekan dikembangkannya Sistem Informasi Manajemen Nasional (Simnas),
yang seharusnya sudah merupakan cikal bakal dari e-government di era
internet. Parapak meyakini bahwa untuk dapat memberikan layanan terbaik
kepada masyarakat, diperlukan kader-kader birokrat yang kompeten, ahli dan
termotivasi, yang didukung oleh teknologi terkini dan tepat guna.
Reformasi birokrasi memerlukan reformasi paradigma, reformasi organisasi,
profesionalisasi para pelaku birokrasi, dukungan sistem informasi dan
komunikasi yang andal, terkini dan tepat guna.
Kalau masyarakat kita marak memperbincangkan Indonesia baru yang ingin
diwujudkan melalui reformasi total, Jonathan Parapak, walaupun sadar akan
pentingnya reformasi di sektor politik, hukum, ekonomi, dan pemerintahan,
meyakini bahwa semua itu tidak dapat dilepaskan dari SDM berkualitas yang
profesional di segala bidang. Karena itu, ia gigih memperjuangkan
diberinya kesempatan kepada sebanyak mungkin anak bangsa untuk mendapatkan
pendidikan formal, magang, dan pelatihan, agar hadir tenaga-tenaga
profesional yang andal dan berkualifikasi internasional.
Di Indosat, Parapak memberi perhatian khusus pada pelatihan profesional,
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi baik di dalam maupun di luar
negeri. Di Departemen Parpostel ia mencari tenaga profesional dari ITB, UI
dan lain-lain, kemudian disekolahkan ke luar dan dalam negeri. Ia memulai
program magang di PT Indosat dan banyak melibatkan diri dalam pelatihan
profesional bagi tenaga-tenaga muda.
Sekitar Hutan
Masa kecil Jonathan Parapak -- di tempat kelahirannya ia dipanggil Limbong
-- banyak diwarnai kehidupan sekitar hutan di tempat tugas ayahnya,
Kanaka’ Palinggi. Mulai dari ketika ia masih dalam kandungan ibunya, Ny.
Sule Palinggi. Ketika itu ayahnya bertugas sebagai pegawai Jawatan
Kehutanan di desa terpencil yang hanya mungkin dijangkau dengan berjalan
kaki atau naik kuda yakni Desa Limbong, Rongkong, Kecamatan Salu Tallang,
Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Saat terjadi gangguan keamanan di
sekitar desa itu. Kondisi keamanan itu memaksa ibu yang tengah hamil tua,
mengandung Parapak itu, harus meninggalkan gubuk dinas sederhana di tepi
hutan, dengan menerobos jalan hutan beberapa hari untuk kembali ke daerah
asal di Desa La'bo', dekat Rantepao, Kabupaten Tana Toraja.
Sang Ibu tentulah sangat kelelahan. Juga digigit lintah hutan. Hampir tak
berdaya. Namun berkat Tuhan, akhirnya sampai juga di La'bo'. Berselang
beberapa hari, tepatnya tanggal 12 Juli 1942, Sang Ibu melahirkan seorang
bayi laki-laki, diberi nama Limbong, untuk mengenang desa terpencil tempat
tugas ayahnya itu.
Selain akrab dengan hutan, masa kecil Limbong banyak diwarnai kehidupan di
desa, di sekitar sawah, bermain menggembalakan kerbau, memancing, bahkan
ikut membantu keluarga bekerja di sawah.
Keluarga Kanaka' Palinggi, semula adalah pemeluk agama suku yang dalam
bahasa Toraja disebut Alukta (Aluk Todolo). Kemudian keluarga itu
memutuskan untuk masuk agama Kristen di Rongkong sebelum Limbong lahir.
Limbong sendiri baru dibaptis pada 1949, dan diberi nama baptis Jonathan,
yang dalam keluarga dipanggil Nathan.
Sekolah bagi Nathan, merupakan perjuangan berat karena jarak yang harus
ditempuh, faktor ekonomi dan keamanan, baik di desa maupun sesudah pindah
ke kota kecil Rantepao. Seusai jam sekolah ia giat menggembalakan kerbau,
ikut bekerja di sawah, dan juga melaksanakan berbagai tugas dalam keluarga.
Nathan mulai sekolah pada umur 7 tahun di Desa Ulusalu, kemudian pindah ke
Desa La'bo'. Kemudian ke kota kecil Rantepao.
Pembelajaran di sekolah dilaluinya dengan penuh keprihatinan akibat
dukungan ekonomi yang terbatas, situasi keamanan dan kualitas pengajaran
yang jauh dari memadai. Ia belajar praktis tanpa buku, tanpa lampu, sampai
memasuki Sekolah Menengah Atas di Rantepao.
Untuk sedikit meringankan beban ekonomi, jiwa wiraswastanya mulai muncul
saat masih di SMP. Dalam skala amat kecil, ia berdagang ayam, pisang dan
gula-gula (permen). Namun semua tantangan itu tidak menyurutkan tekadnya
untuk belajar. Ia memang dikaruniai Tuhan kecerdasan sehingga pelajaran
tidak menjadi beban. Nathan tamat Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar), dan
Sekolah Menengah Pertama dengan hasil yang baik sehingga dapat melanjut ke
Sekolah Menengah Atas yang baru dibuka di Rantepao ketika itu.
Keadaan sekolah cukup memprihatinkan. Tidak ada guru tetap, semua adalah
pengerahan tenaga mahasiswa (PTM), ruangan kelas dibentuk dari aula yang
dipinjam. Nathan belajar di SMA di Rantepao sampai kelas II. Untuk kelas
III, oleh kakak ipar ia diantar ke Makassar untuk menyelesaikan pelajaran
di SMA Negeri Bawakaraeng. Dia lulus SMA tahun 1961 dengan hasil baik,
walaupun ia selama setahun di Makassar tinggal di asrama yang kurang
terurus, makanan sangat kurang dan lingkungan tidak terlalu mendukung
untuk belajar dengan baik.
Selepas dari SMA, Nathan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin, Makassar. Pada waktu yang bersamaan ia mengikuti proses
seleksi beasiswa Colombo Plan. Ternyata Nathan terpilih dan ia bersama
beberapa mahasiswa lainnya berangkat ke Australia, November 1961.
Keberangkatan ke Australia, tidak pernah menjadi cita-cita apalagi menjadi
rencananya. Dengan berbekal tekad untuk sukses dan kemampuan bahasa
Inggris yang sangat terbatas, perlengkapan yang jauh dari memadai, dia
menuju arena baru yang secara budaya amat asing baginya. Ia bersama lebih
dari 40 mahasiswa Indonesia dipersiapkan selama 2 bulan di Sydney.
Kemudian dikirim ke Universitas Tasmania.
Nathan yang tidak pernah hidup dalam rumah yang diterangi listrik sampai
pindah ke asrama di Makassar, memberanikan diri mengambil jurusan listrik
arus lemah (telekomunikasi). Kuliah di Fakultas Teknik Universitas
Tasmania itu dirasakan cukup berat. Kuliah mulai pukul 09.00 pagi sampai
pukul 13.00 setiap hari, disambung dengan praktikum dari pukul 14.00
sampai 17.00, sering sampai malam. Di samping bahasa Inggris yang masih
terbatas, latar belakang tekniknya sebagai anak desa kurang mendukung.
Namun tekadnya untuk belajar sebaik mungkin tak pernah surut. Nathan
menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang cukup baik. Sehingga
ia diterima melanjutkan studi pada strata II, Program Master of
Engineering Science, yang diselesaikan tepat waktu pula.
Di samping perkuliahan, ia melibatkan diri dalam berbagai kegiatan
kemahasiswaan dan kemasyarakatan sehingga ikut membentuk dirinya dalam
kepemimpinan dan bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Ia ikut
menjadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tasmania. Pengurus dan
bahkan Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen di universitas. Dia juga sempat
menjadi pengurus Gereja setempat.
Salah satu aspek yang menarik dari pembelajaran yang dialaminya di
Australia adalah keharusan untuk kerja praktik selama libur di bidang yang
sesuai dengan program studi. Kesempatan itu merupakan pengalaman yang amat
berharga selama 5 tahun bekerja di berbagai tempat. Seperti bengkel
lokomotif, kantor perencanaan sistem komunikasi radio, instalasi sistem
komunikasi radio di Tasmania. Perencanaan sistem komunikasi microwave di
Tasmania dan di Melbourne, Australia.
Kembali
Berbekal ilmu yang diperoleh di universitas dan pengalaman kerja di
berbagai bidang, Nathan kembali ke Indonesia pada September 1969. Semula
ia berharap untuk mengabdi di lingkungan Perumtel (PT Telkom waktu itu),
namun akhirnya ia bergabung tahun itu juga dengan Indosat (PMA), anak perusahaan
International Telegraph & Telephone (ITT). Sebuah perusahaan yang dibentuk
atas kerjasama AS-RI di bidang telekomunikasi.
Karirnya di lingkungan Indosat, dimulai dari bawah, menarik kabel,
memelihara perangkat komunikasi, menginstalasi perangkat telekomunikasi,
dan pimpinan proyek stasiun bumi, sistem komunikasi kabel laut. Hingga
dalam waktu relatif singkat meningkat ke jajaran manajemen sampai ia
menjadi pimpinan Indosat (PMA-ITT) pada usia yang masih sangat muda.
Selama Indosat masih berada di lingkungan ITT dengan Kantor Pusat di New
York, Parapak mendapat kesempatan belajar dan membuktikan bahwa ia bisa
memimpin perusahaan yang berteknologi canggih, berskala intemasiona1. Ia
ikut merintis pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut ASEAN, Sistem
Komunikasi Kabel Laut ke Timur Tengah, Eropa dan Australia. Ia segera
mendapat kesempatan mewakili perusahaan di berbagai pertemuan dan
konferensi internasional, seperti di International Telecommunication Union
(ITU), di Intelsat (International Satellite System), Inmarsat
(International Maritime Satellite System). Ia pun menjadi figur
internasional yang diperhitungkan dan diundang sebagai pembicara di
berbagai konferensi dan seminar.
Tidak lama ia menduduki posisi puncak di Indosat (ITT), pada tahun 1980
pemerintah memutuskan untuk membeli seluruh saham Indosat. Keputusan
Pemerintah Indonesia ini sangat mengejutkan ITT, karena kontraknya
seharusnya sampai tahun 1989. Sebagai Pimpinan Puncak (Managing Director),
Parapak menghadapi dilema, kepentingan nasional atau kelanjutan kontrak (perjanjian)
yang sah.
Parapak mengambil posisi bahwa kepentingan nasional, keputusan pemerintah
harus didahulukan. Namun pembelian seyogianya dilaksanakan dengan dasar win-win agar citra bangsa tetap terpelihara. Parapak sangat terlibat dalam
seluruh proses negosiasi yang akhirnya dapat mempengaruhi manajemen ITT
untuk menerima keputusan Pemerintah. Parapak bekerja keras siang malam,
antara Jakarta dan New York. Akhirnya dalam waktu singkat dicapai
kesepakatan harga yang dinilai adil untuk kedua belah pihak.
Indosat jadi BUMN
Pada akhir 1980, resmilah Indosat menjadi BUMN penyelenggara
telekomunikasi internasional. Pada akhir kesepakatan antara ITT dan
Pemerintah Indonesia, Parapak ditawari jabatan penting di ITT, dan pada
waktu yang sama diminta oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi
Direktur Utama Indosat (BUMN) yang pertama. Parapak tanpa ragu-ragu
memilih untuk menjadi Dirut Indosat (BUMN), walaupun gaji dan remunerasi
yang ditawarkan jauh lebih rendah.
Di bawah kepemimpinannya, Indosat mengalami transformasi manajemen, kultur
perusahaan, pengembangan sumber daya manusia. Indosat maju pesat dan
mendapat perhatian para pengamat dan para ahli manajemen, telekomunikasi
nasional dan internasional. Sehingga dalam waktu singkat Indosat menjadi
salah satu BUMN terbaik di Indonesia dan berulangkali memperoleh
penghargaan nasional dan intemasional.
Melalui Indosat, Parapak ikut berperan dalam pemilihan, penerapan dan
pengembangan teknologi terkini dan tepat guna baik dalam mengembangkan dan
memodernisasi layanan telekomunikasi maupun dalam manajemen perusahaan.
Selama memimpin Indosat, Parapak juga ikut berperan pada berbagai
organisasi internasional seperti International Telecommunication Union (ITU),
Intelsat, Inmarsat, ASEAN, APEC dan lain-lain. Parapak mendapat kehormatan
menjadi anggota Dewan Gubernur Intelsat mewakili ASEAN. Bahkan terpilih
sebagai Wakil Ketua dan Ketua Dewan Gubernur Intelsat pada tahun
1989-1990. Di ITU, Parapak sering diundang sebagai pembicara pada berbagai
konferensi dan seminar internasional.
Ia bahkan dipilih sebagai pimpinan beberapa kegiatan global seperti Ketua
World Plan, Asia & Oceania, Pimpinan/Ketua Konferensi Global Mobile
Personal Communication Satellite System, yang menghasilkan kesepakatan
dunia untuk memulai sistem komunikasi bergerak melalui Satelit. Atas saran
berbagai tokoh telekomunikasi dunia, Parapak dicalonkan Pemerintah
Republik Indonesia untuk menjadi orang nomor satu di pertelekomunikasian
dunia, sebagai Sekretaris Jenderal pada periode 1998-2003. Namun, krisis
multidimensi melanda Indonesia, sehingga citra Indonesia pada saat
pemilihan ikut mempengaruhi suasana pemilihan. Sehinga yang terpilih
adalah ca1on dari Jepang.
Sekjen Depparpostel
Parapak menjadi pimpinan puncak di Indosat sampai tahun 1991, pada saat
itu ia diminta oleh Pemerintah melalui Menteri Susilo Soedarman menjadi
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi
(Depparpostel). Kembali Parapak tanpa ragu menerima tawaran tersebut
wa1aupun gaji dan remunerasi sangat kecil dibanding apa yang diperoleh
sebagai Dirut Indosat. Ia pun tidak mempersoa1kan golongan yang diberikan,
hanya III D, walaupun diberi pangkat lokal IV D. Semua itu ia syukuri dan
terima sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Parapak
menjadi Sekjen Depparpostel hampir 8 tahun, suatu periode yang cukup lama,
mendampingi empat menteri, yaitu almarhum Susilo Soedarman, Joop Ave, A.
Latief dan Marzuki Usman.
Ka1au ia meningga1kan Indosat sebagai Direktur Utama, dengan gedung
Indosat yang megah, kinerja perusahaan dan sumber daya manusia yang cukup
membanggakan, maka di Departemen Parpostel ia mulai pula dengan
partisipasi dalam pembaruan dan modernisasi. Selama jabatannya,
Depparpostel akhirnya memiliki kantor yang paling bergengsi di Merdeka
Barat, pengembangan sumber daya manusia yang profesional melalui kerja
sama dengan Bank Dunia, mendukung menteri memajukan pariwisata Indonesia
pada pentas dunia. Ia juga mengembangkan konsep-konsep baru untuk
reformasi sektor telekomunikasi dan pos serta membina koperasi untuk
meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Selama menjabat sebagai Sekjen, Parapak juga dipercaya sebagai Presiden
Komisaris PT Indosat dan PT Inti. Sehingga ia termasuk sa1ah satu insan
telekomunikasi dan teknologi informasi yang dikaruniai kesempatan mengabdi
dan berperan pada seluruh tatanan pembinaan dan pengelolaan telekomunikasi
di Indonesia. Tak mengherankan apabila sampai saat ini namanya masih
sangat terkait dengan modemisasi pertelekomunikasian di Indonesia.
Selepas menjabat Sekjen Depparpostel dan Depparsenibud, ia masih berkiprah
sebagai chairman dan Preskom di beberapa perusahaan lingkungan Lippo –
AcrossAsia Multimedia (Indonesia). Antara lain di PT Broadband Multimedia
(Kabelvision), PT AsiaNet Multimedia, PT Natrindo Selular (Lippo Telecom).
Serta menjabat Wakil Rektor Universitas Pelita Harapan.
Di sektor Pariwisata, anak desa ini sangat terlibat dalam pengembangan
berbagai konsep dan pemikiran yang terkait dengan kepariwisataan nasional.
Antara lain gagasan bebas visa, Pariwisata Inti Rakyat, dan High Touch &
High Tech Tourism.
Salah satu aspek yang selalu mendapat perhatian khusus Parapak adalah
pengembangan sumber daya manusia. Tampaknya pengalaman pribadinya sangat
berperan dalam memotivasinya untuk memajukan sebanyak mungkin anak bangsa.
Di Indosat, masalah pendidikan dan latihan sangat diberi prioritas
sehingga profesional muda pun, kalau dinilai siap, diberi tanggung jawab.
Ia sendiri menjadi pimpinan puncak pada saat berumur 36 tahun. Di
Depparpostel, ia gigih mendukung pembaruan, perluasan dan penyempurnaan
pendidikan dan latihan. Ia ikut mendirikan Akademi Pariwisata di Medan dan
Makassar. Ia menggagas program beasiswa untuk pendidikan telekomunikasi
dan teknologi informasi.
Ia juga menjadi penggagas, penyantun Sekolah Menengah Umum unggulan di
desa, dan selalu berusaha mengusahakan beasiswa bagi anak-anak berprestasi
yang kurang mampu. Ia pernah mengajar di Universitas Indonesia, Lemhannas,
Universitas Pelita Harapan. Ia anggota dan pimpinan Dewan Penyantun dari
berbagai lembaga pendidikan. Tampaknya baik dari aspek teknologi,
manajemen perusahaan, maupun administrasi pemerintahan, Parapak melihat
betapa strategisnya sumber daya manusia profesional. Ia meyakini bahwa
manusialah yang teramat penting, menjadi subjek dan objek strategis dalam
seluruh upaya pembangunan.
Selain pendidikan formal, Parapak juga mengikuti berbagai pendidikan
khusus, di antaranya: Diploma Management Problem Analysis & Decision
Making pada Kepner -Trigoe Australia, 1974. Maret 1975, Diploma Affective
Management Communica- tion pada Tabbot Smith & Association. Mei-Juni 1975,
Diploma Dynamic Management for International Executives di University of
Syracuse New York. Kemudian, Diploma Management
Seminar, Oktober 1976 pada Da1e Carnegie & Associates. Oktober 1978,
Diploma Marketing pada ITf -Communications Group New York. Dua tahun
setelah itu, ia memperoleh Sertifikat "Manajemen Keuangan" pada SGV
Jakarta; Mendapat ranking No.1 Penataran Type A P-4, 1981; Mengikuti
Penataran Manggala P-4, 1995. Sejak 1970, aktif mengikuti berbagai seminar
manajemen telekomunikasi, komputer, informasi, dan pariwisata di dalam dan
luar negeri.
Memperhatikan jenjang pendidikan forma1 dan pendidikan khusus yang pemah
digeluti, Parapak bagaikan atlet yang sukses berselancar di atas gelombang
perubahan. Penga1aman selaku atlet peselancar itu mewarnai kiprahnya dalam
berbagai tugas yang pernah dan sedang diembannya.
Peran di Masyarakat
Kalau mau disebutkan satu per satu kegiatan dan peran Jonathan Parapak
dalam bidang keagamaan maupun sosial, mungkin harus dibuat satu buku
tersendiri. Ia ikut aktif mendirikan lembaga pendidikan, pemberdayaan, dan
pelayanan masyarakat, organisasi kemasyarakatan atau lembaga yang
berkaitan dengan kegiatan pelayanan Gereja.
Parapak merupakan pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pelayanan
Mahasiswa, Perkantas. Ia menjadi pemrakarsa, salah satu pendiri, bahkan
menjadi Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi dan
Informatika. Ia pun pemrakarsa, salah satu pendiri bahkan menjadi Ketua
Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia yang juga menyelenggarakan beasiswa
untuk telekomunikasi dan informatika. Demikian juga pemrakarsa, pendiri
dan Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Informatika.
Ia salah satu pendiri dan Ketua Yayasan Bina Insan Pembangunan untuk
beasiswa.
Di bidang kegiatan dan pelayanan Gerejani, ia juga memrakarsai beberapa
yayasan, antara lain ia adalah sa1ah satu pendiri dan Ketua Yayasan Damai
Sejahtera untuk Pelayanan dan Kesaksian, Ketua Dewan Pembina Yayasan
Pembaca Alkitab. Ia Ketua Dewan Penasihat PIKI (Persatuan Inteligensia
Kristen Indonesia), Ketua Dewan Penyantun STT Jakarta, Ketua Dewan
Penyantun STT Rantepao.
Sedangkan di berbagai lembaga kedaerahan ia selalu diminta untuk berperan
maksimal, dan peran itu dia terima meskipun kesibukannya sela1u penuh. Ia
sela1u berusaha memegang prinsip dan pedoman hidupnya: mengabdi adalah
memberikan yang terbaik. Masih banyak lembaga yang meminta partisipasi dan
perannya.
Satu hal yang perlu digarisbawahi tentang Parapak, yakni kemampuannya
mengatur waktu sehingga pelayanan, pertisipasi dan bahkan kepemimpinannya
dalam berbagai organaisasi atau lembaga selalu maksimal. Itu sebabnya ia
merasa heran kalau ada orang yang menolak pelayanan atau tugas dengan
alasan sibuk. Ia memang telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang mampu
melakukan penatalayanan waktu yang diberikan Tuhan kepadanya secara
bertanggung jawab.
Nathan tidak hanya berhasil menuntut ilmu di Negeri Kanguru, tapi ternyata
juga akhirnya ia mempersunting gadis dari Australia. Menurut penuturannya,
ia berkenalan dengan Anne Atkinson melalui persekutuan Kristen di
Universitas Tasmania. Mereka bersama melayani sebagai pengurus di kampus
dan dalam pelayanan lainnya.
Bibit perkenalan di Australia itu berkembang menjadi cinta. Yaitu setelah
beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, Anne bertugas sebagai
sukarelawati ke Indonesia, dan menjadi dosen sastra Inggris di Universitas
Padjadjaran Bandung. Akhirnya mereka menikah 4 Desember 1971, setelah Anne
merasa dapat tinggal di Indonesia. Perkawinan itu dikaruniai tiga anak,
semuanya perempuan, yaitu Esther, Lise, dan Kathryn. Semua anak sudah
menikah.
Parapak bangga dengan isterinya yang dapat menyesuaikan diri dengan begitu
hebat. Termasuk menjadi Ketua Dharma Wanita waktu ia menjadi Dirut Indosat
dan Sekjen Depparpostel karena menterinya tak punya isteri.
Latar belakangnya sebagai orang desa yang akhirnya mengarungi dunia
intemasional, tidak membuatnya lupa akan keakrabannya dengan alam, sesama
maupun Tuhannya. Bahkan, semua pengalaman dan pemahaman itu membuatnya
menjadi manusia yang berimbang. Ia mampu membangun sikap yang seimbang
terhadap alam dan teknologi, terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan
Allahnya.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari Buku Jonathan Parapak:
Pembelajar dan Pelayan.
|
|