| |
C © updated 21052008 -
17022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Jenderal TNI AD Djoko Santoso
Lahir:
Solo, 8 September 1952
Jabatan:
Panglima TNI, 28 Desember 2007-sekarang
Istri:
Angky Retno Yudianti
Anak:
- Andika Pandu
- Ardya Pratiwi Setyawati
Ayah:
Djoko Soedjono (alm)
Ibu:
Sulani (alm)
Pendidikan:
= Akabri (1975)
= Seskoad (1990)
= S1 FISIP (1994)
= S2 Manajemen (2000)
Riwayat Jabatan:
= Waassospol Kaster TNI (1998)
= Kasdam IV/Diponegoro (2000)
= Pangdivif 2 Kostrad (2001)
= Pangdam XVI/Pattimura & Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam)
2002-2003
= Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mei 2003-Oktober 2003
= Wakil Kepala Staf TNI AD 2003-2005
= Kepala Staf TNI AD 2005-2007
= Panglima TNI, 28 Desember 2007-sekarang
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Djoko Santoso
Jenderal yang Perfeksionis
Djoko Santoso seorang jenderal yang kalem, low profile, bersahaja tapi tegas dan cenderung
perfeksionis. Setelah dua tahun menjabat Kasad, perwira intelijen yang kebapakan
dan luwes, ini dilantik
Presiden SBY sebagai Panglima TNI menggantikan
Marsekal Djoko Suyanto,
Jumat (28/12/2007) siang di Istana Negara, Jakarta.
Selain melantik Panglima TNI, Presiden SBY juga melantik Letnan
Jenderal TNI
Agustadi Sasongko Purnomo
sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal TNI
Djoko Santoso dan Marsekal Madya TNI-AU
Soebandrio sebagai Kepala
Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) menggantikan
Marsekal Herman
Prajitno yang sudah memasuki masa pensiun.
Serah terima jabatan Panglima TNI dari
Marsekal Djoko Suyanto
kepada Jenderal TNI AD Djoko Santoso dilakukan dalam upacara militer
pada Selasa 8 Januari 2008 pukul 09.00 Wib di halaman Plaza Mabes TNI,
Cilangkap, Jakarta Timur. Upacara itu berlangsung sederahana tapi hikmat
dihadiri sejumlah undangan.
Jenderal TNI Djoko Santoso, lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 September
1952. Lulusan Akabri (1975) ini berpengalaman di lingkungan intelijen
negara yang memang secara karakter tidak boleh high profile. Alumni
Seskoad (1990) ini lebih banyak bertugas di lingkungan direktorat dan
intelijen strategis pertahanan luar negeri. Sehingga eksposenya sangat
minim.
Sejak menjabat Kasdam IV/Diponegoro (2000), karirnya mekin cemerlang.
Dia kemudian dipercaya menjabat Waassospol Kaster TNI (1998). Kemudian,
menjabat Pangdivif 2 Kostrad (2001). Lalu menjabat Pangdam XVI/Pattimura
dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam)
2002-2003 dan Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mei 2003-Oktober 2003.
Karakter penugasan sarjana (S1) FISIP (1994) dan S2 Manajemen (2000)
ini kembali menuntut sikap low profile saat dipercaya menjabat Wakil
Kepala Staf TNI AD 2003-2005. Kemudian pada tanggal 18 Februari 2005, Ia
dilantik menjadi KSAD, menggantikan Ryamizard Ryacudu. Kala itu, Tokoh
Indonesia telah memperkirakan dia akan menjabat
Panglima TNI berikutnya.
Sebelum dilantik,
KSAD Jenderal Djoko Santoso diusulkan menjabat Panglima Tentara Nasional
Indonesia menggantikan Marsekal Djoko Suyanto. Usulan itu tertuang dalam
Surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Nomor 65 yang diajukan ke
pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Surat diterima Ketua DPR Agung
Laksono, Senin (26/11/07) sore.
Surat presiden itu dibacakan di rapat paripurna DPR. Selanjutnya, Badan
Musyawarah DPR menugaskan Komisi I yang membidangi masalah
pertahanan untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan. Kemudian dalam
sidang paripurna DPR
menyetujui calon yang diajukan Presiden untuk
dilantik sebagai Panglima TNI.
Djoko Santoso
Jenderal yang Perfeksionis
Jakarta 18/02/2007: Dia jenderal yang kalem, low profile, bersahaja tapi tegas dan cenderung
perfeksionis. Perwira intelijen yang kebapakan ini juga luwes dalam
pergaulan sehari-hari. Dia diangkat menjadi KASAD
menggantikan Jenderal Ryamizard Ryacudu, ini, bahkan mungkin akan menjabat
Panglima TNI berikutnya.
Dia dikenal dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi kalangan
hak asasi manusia, Djoko Santoso juga praktis tidak tercela. Dia tidak
terkait dengan masalah-masalah pelanggaran HAM besar seperti tragedi Mei,
Semanggi dan Timtim. Juga tidak ada kaitan dengan masalah bisnis,
perusahaan dan yayasan.
Pria kelahiran Solo, 8 September 1952, ini memang dibesarkan di intelijen
negara yang memang secara karakter tidak boleh high profile. Apalagi di
bidang tugas intelijen, dia juga kebanyakan di direktorat dan intelijen
strategis pertahanan luar negeri. Sehingga eksposenya sangat minim.
Sebelum menjabat Kasdam IV/Diponegoro (2000), suami dari Angky Retno
Yudianti, ini menjabat Waassospol Kaster TNI (1998). Kemudian lulusan
Akabri (1975) ini menjabat Pangdivif 2 Kostrad (2001). Nama alumni Seskoad
(1990) ini mulai menonjol setelah menjabat Pangdam XVI/Pattimura &
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003
dan Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mei 2003-Oktober 2003.
Karakter penugasan sarjana (S1) FISIP (1994) dan S2 Manajemen (2000) ini
kembali menuntut sikap low profile saat dipercaya menjabat Wakil Kepala
Staf TNI AD 2003-2005. Tugas Wakasad yang secara organisasi memang harus
di belakang layar dan menyediakan semua kebutuhan-kebutuhan operasional
dari KASAD.
Jadi Wakasad
Ayah dua orang anak (Andika Pandu dan Ardya Pratiwi Setyawati) ini
dilantik menjadi Wakil Kepala Staf TNI AD (Wakasad) menggantikan Letjen
TNI Darsono, MSc yang memasuki masa pensiun pada 31 Oktober 2003. Jabatan
Pangdam Jaya yang ditinggalkannya diisi oleh Mayjen TNI Agustadi SP, yang
sebelumnya menjabat Pangdam XVI/Pattimura.
Promosi ini tertuang dalam Surat Keputusan (Skep) Panglima TNI Jenderal
TNI Endriartono Sutarto tanggal 24 Oktober 2003. Dalam Skep Panglima TNI
itu sekaligus terjadi perubahan jabatan atas 120 Perwira Tinggi (Pati) dan
Perwira Menengah (Pamen) di lingkungan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas),
Departemen Pertahanan, Fraksi TNI/Polri DPR RI, Dewan Pertahanan Nasional
(Wantanas), Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes TNI AL dan Mabes TNI AU.
Di antaranya Jenderal TNI Tyasno Sudarto pensiun dari pos terakhirnya
sebagai Pati di Mabes TNI, Komandan Sekolah Komando TNI Letjen TNI Djadja
Suparman, SIP dimutasi jadi Inspektur Jenderal TNI (Irjen TNI). Mayjen TNI
Mahidin Simbolon menjadi Inspektur Jenderal TNI AD (Irjenad).
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Sunarso menjadi Pangdam IV/Diponegoro.
Brigjen TNI Syahrial BPP (Kasdam II/Sriwijaya) dipromosikan menjadi
Pangdam II/Sriwijaya. Pos yang ditinggalkan Syahrial diisi oleh Brigjen
TNI Bambang Suranto, Kepala Staf Divisi I Kostrad.
Panglima Kodam
Dalam suatu upacara militer di Makodam Jaya, Jakarta, Rabu (5/3/03) pagi,
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu melantik
Mayjen Djoko Santoso sebagai Panglima Kodam (Pangdam) Jaya menggantikan
Mayjen A Yahya.
Pelantikan Pangdam Jaya itu dihadiri para mantan Pangdam Jaya, seperti Try
Sutrisno, Surjadi Soedirdja, Wiranto, Sutiyoso, dan Letjen Djadja Suparman.
Juga dihadiri mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto di samping para
perwira teras TNI AD lainnya.
Sebelumnya dia menjabat Pangdam XVI/Pattimura, sekaligus Panglima Komando
Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) Maluku menggantikan pejabat
lama Brigjen Moestopo. Pangangkatannya jadi Pangdam XVI/Pattimura tertuang
dalam Surat Keputusan Panglima TNI No 388/V/2002 tertanggal 27 Mei 2002.
Komando Pengendalian Koopslihkam di Maluku itu langsung di bawah Penguasa
Darurat Sipil (PDS) Maluku ketika itu. Dia bertanggung jawab kepada PDS
Maluku. Tugas utama Kodam Pattimura ketika itu adalah untuk membantu
menyelesaikan konflik. Pembentukan Koopslihkam yang dipimpin Pangdam XVI/Pattimura
itu membawahi Satgas Keamanan dan Satgas Penegakan Hukum yang terdiri dari
TNI dan Polri.
Sebagai Pangdam XVI/Pattimura dan Pangkoopslihkam, dia dinilai menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, sehingga dia mendapat promosi
menjadi Pangdam Jaya. Dia digantikan Mayjen TNI Agustadi SP, yang kemudian
menggantikannya pula menjabat Pangdam Jaya.
Djoko Santoso adalah lulusan Akabri 1975, teman seangkatan Pangdam VII/
Wirabuana Mayjen Amirul Isnaeni (akan dimutasi menjadi Pangdam IV/Diponegoro)
dan Brigjen Hartono Suratman (Wakapuspen TNI). Saat ini, Mayjen Djoko
Santoso masih menjabat Pangdam XVI/Pattimura, dan penggantinya adalah
Mayjen Agustadi.
Sedangkan Mayjen A Yahya akan ditarik ke Mabes TNI AD sebagai Irjen TNI
AD. Jabatan strategis lainnya yang pernah dijabat Jenderal lulusan Akabri
1972 itu adalah Kasdam Jaya, Kordinator Staf Ahli KSAD saat KSAD dijabat
Tyasno Sudarto dan kemudian menjadi Pangdam VII/Wirabuana. Mayjen A Yahya
dinilai berbagai kalangan berhasil dalam menangani kerusuhan Poso.
**
Satu-satunya tokoh Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Darat (TNI-AD)
yang menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AD (WAKASAD) dan Kepala Staf TNI-AD (KASAD)
pada urutan yang sama adalah Jenderal TNI Djoko Santoso. Perwira yang
dibesarkan di intelijen negara ini menjabat sebagai WAKASAD pada urutan
ke-24 menggantikan pendahulunya, Letjen TNI Darsono, MSc yang memasuki
masa pensiun pada 31 Oktober 2003. Selanjutnya, ayah dari dua anak ini (Andika
Pandu dan Ardya Pratiwi Setyawati) diangkat menjadi KASAD menggantikan
Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, juga di urutan KASAD ke-24, pada 18
Februari 2005.
Suami dari Angky Retno Yudianti ini terlahir dengan nama Djoko Santoso
dari keluarga guru di Solo (Jawa Tengah), 8 September 1952 . Lahir
sebagai anak pertama dari 9 orang bersaudara memaksa Djoko harus
melewati masa kecil dengan hidup penuh keprihatinan. Ditambah lagi
dengan kondisi keuangan orang tuanya yang hanya mengandalkan gaji
almarhum ayah sebagai seorang guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Dapat
dibayangkan, betapa keseharian Djoko kecil bukanlah sebuah masa
kanak-kanak yang menggembirakan, tapi penuh kesulitan. Namun, kondisi
itu justru telah memberikan pelajaran hidup terbaik bagi Sang Jenderal
untuk menempa dirinya sebagai pejuang. Kerja keras dan belajar
sungguh-sungguh adalah bahagian dari cerita perjuangan hidupnya dari
kecil hingga saat ini. Tidak ada suatu masa pun yang dilewati dengan
hanya bersantai-santai, apalagi berhura-hura.
Sebahagian kalangan menilai bahwa Djoko Santoso adalah figur seorang
Jenderal yang cenderung perfeksionis. Mungkin ini ada benarnya, terlihat
dari penampilan dan kepemimpinannya yang sedikit hati-hati, kalem, low
profile , bersahaja tapi tegas dan menginginkan segalanya berjalan
sesempurna mungkin. Selain itu, Perwira Tinggi (Pati) kebapakan ini juga
luwes dalam pergaulan sehari-hari. Setelah menempati berbagai pos
kepemimpinan di tubuh TNI, dia kemudian dipercaya menjadi Kepala Staf
TNI-AD (KASAD) yang diembannya sejak awal tahun 2005 hingga sekarang.
Di kalangan aktivis hak asasi manusia, Djoko Santoso praktis tidak
tercela. Dia diyakini tidak terkait dengan masalah-masalah pelanggaran
HAM yang hingga sekarang masih menjadi misteri di negeri ini. Djoko
Santoso juga tidak mempunyai kaitan dengan masalah bisnis, perusahaan
dan yayasan TNI yang sering menimbulkan persoalan nasional.
Kiprah alumni Akademi Militer (1975) ini sebelumnya memang tidak banyak
terdengar. Maklum, hal itu disebabkan oleh penugasannya yang lebih
banyak berhubungan dengan masalah intelijen yang memang dituntut untuk
berkarakter pendiam dan jarang sekali diekspos. Namanya kemudian mulai
berkibar setelah menjabat Panglima Kodam (Pangdam) XVI/Pattimura &
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003
yang berhasil gemilang meredam konflik di Maluku, diteruskan dengan
jabatan berikutnya sebagai Pangdam Jaya Maret 2003 – Oktober 2003.
Karakter low profile itu harus dilakoni kembali tatkala Djoko Santoso
dipercaya menjabat Wakil Kepala Staf TNI-AD 2003-2005, karena tugas
seorang WAKASAD adalah berada di belakang layar sebagai penyedia semua
kebutuhan-kebutuhan operasional dari KASAD.
Saat ini, Jenderal penerima tanda penghargaan Pingat Jasa Gemilang dari
Singapura itu telah menjalankan tugasnya di tampuk tertinggi
kepemimpinan TNI-AD selama lebih dari 2,5 tahun. Mengemban tugas
memimpin institusi TNI-AD di masa reformasi ini cukup sulit; menahkodai
sebuah organisasi yang sedang mereformasi diri dan mengarahkan perannya
kepada TNI yang profesional, pengemban tugas menjaga kedaulatan negara
dan keutuhan bangsa Indonesia , lepas dari kehidupan dunia politik.
Sampai pada titik ini, Djoko Santoso yang juga penyandang gelar
kesarjanaan S-2 Manajemen ini dinilai berhasil, baik dalam karir militer
maupun dalam kepemimpinannya sebagai KASAD.
►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|