| |
C © updated 10102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ip |
|
| |
Nama:
Mayjen (Pur) TNI Djali Jusuf
Lahir:
Pendidikan:
Akmil angkatan 1972
Karier:
Pangdam I/Iskandar Muda (2002-2003)
Sumber:
Indo Pos Minggu, 10 Okt 2004
|
|
| |
|
|
|
|
Mayjen (Pur) TNI Djali Jusuf
'Body Guard' Terpilihnya SBY
Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden tidak terlepas
dari beberapa rekan dekatnya, termasuk, Mayjen TNI (pur) Djali Jusuf. Pria
paro baya yang berambut sedikit botak ini memang, selama kampanye hampir
tidak pernah lepas dari presiden terpilih SBY. Dalam setiap kesempatan,
pria yang selalu mengenakan setelan gelap tersebut selalu mendampingi SBY
tampil di hadapan publik, sering berperan layaknya seorang body guard.
Bahkan, tidak jarang pria itu berlaku sebagai pagar betis yang menjaga SBY
dari kerumunan warga. Sosok pria yang selalu berperan sebagai body guard
SBY tersebut tidak lain adalah Mayjen TNI (pur) Djali Jusuf.
Sepintas, masyarakat tentu tidak pernah membayangkan bahwa sang body guard
SBY tersebut adalah purnawirawan perwira tinggi TNI-AD. Bahkan, sebelum
pensiun dari jajaran TNI, Djali sempat menduduki jabatan penting, yakni
Pangdam I/Iskandar Muda di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Djali yang juga merupakan putra asli Aceh tersebut menyerahkan jabatannya
kepada penggantinya, Mayjen TNI Endang Suwarya, sekitar pertengahan 2003.
Selanjutnya, dia berdinas di Mabes TNI hingga masa purnabaktinya.
Setelah berdinas di bidang militer, Djali memulai usaha baru di bidang
konstruksi. Namun, belum lagi bisnis yang baru dirintisnya tersebut sampai
pada tataran mapan, dia harus kembali meninggalkannya. Sebab, dirinya
harus mengawal SBY yang sedang berkampanye. "Tidak ada masalah pada bisnis
saya. Sudah ada orang yang menjalankannya," ujar Djali sambil mengisap
dalam-dalam rokok kreteknya.
Dia mengungkapkan, sebenarnya tidak ada yang mengharuskan dirinya mengawal
SBY dalam masa kampanye lalu. Hanya, sebagai seorang rekan dekat, dirinya
merasa berkewajiban membantu SBY. "Hubungan kami ini tidak lagi sebagai
capres dengan konstituen. Namun, kami sudah selayaknya seorang saudara,"
tegas alumnus Akmil angkatan 1972 itu.
Soal perannya selama kampanye yang lebih mirip body guard SBY tersebut,
Djali menjelaskan bahwa hal itu bukan suatu masalah. Meski merupakan kakak
tingkat SBY, dirinya tidak pernah merasa risi melakukan pengamanan pribadi
terhadap diri SBY.
Menurut dia, SBY merupakan suatu aset bangsa Indonesia yang pantas
dilindungi. Buktinya, tegas dia, SBY tampil sebagai presiden pertama
pilihan rakyat Indonesia. "Saya kira, tampilnya SBY sebagai presiden
sangat tepat. Lihat saja, sebagai politikus, dia selalu berbicara secara
santun dan tidak pernah membalas fitnah terhadap dirinya," ungkapnya.
Soal pengalaman selama mengawal SBY, Djali mengungkapkan bahwa dirinya
terkesan pada sikap mantan Kaster ABRI yang tidak pernah mengeluh. "Tidak
semua acara kunjungan ke daerah selalu lancar. Sering dalam kunjungan ke
daerah, sarana transportasi selalu berubah. Tidak jarang kita jalan jauh
dengan menggunakan kendaraan umum. Namun, Pak SBY tidak pernah mengeluh,"
ujarnya.
Demikian juga dengan kesediaan SBY untuk selalu menerima tamu di sela-sela
kunjungannya ke daerah. Padahal, kata Djali, saat itu kondisi SBY sedang
capek. "Itulah Pak SBY, dia tidak pernah menganggap rendah orang lain,"
jelas pensiunan bintang dua TNI itu.
Soal maraknya bursa calon menteri setelah kemenangan SBY, Djali mengaku
tidak terlalu memedulikannya. Menurut Djali, dirinya sama sekali tidak
memiliki pamrih atau keinginan untuk mendapatkan kedudukan dalam
pemerintahan SBY mendatang. "Ini hubungan persaudaraan," tukasnya.
Menurut Djali, dirinya sudah merasa senang karena telah mengantar SBY
untuk menapaki karpet merah ke Istana Merdeka. "Bagaimanapun, saya pantas
bangga karena hal itu," jelasnya.
Mengenai peran Djali setelah SBY menduduki kursi RI-1, kakak tingkat SBY
di Akmil tersebut mengaku belum tahu. "Saya tidak tahu apakah akan ikut
Pak SBY ke istana atau tidak. Yah, kalau Pak SBY memerlukan saya, tentu
saya akan datang," terangnya. Namun, bila ternyata SBY tidak mengajak ke
istana, dia akan kembali menekuni bisnis konstruksinya yang dirintis sejak
akhir 2003 lalu itu.
Djali juga menceritakan bahwa sebenarnya dirinya telah lama mengenal SBY.
Namun, hubungan keduanya baru dekat saat Djali bertugas sebagai Pangdam di
NAD sekitar 2002-2003. "Saat itu kami berdua sering terlibat dalam
berbagai diskusi. Sebab, saya saat itu adalah Pangdam Iskandar Muda,
sedangkan Pak SBY adalah Menko Polkam," terangnya.
Tak jelas, apakah karena pengaruh Djali sehingga masalah Aceh (dan Papua)
termasuk dalam lima prioritas pertama yang digarap pemerintahan SBY-Kalla.
Hubungan keduanya kian bertambah dekat ketika Djali tidak lagi menjabat
Pangdam. Menurut Djali, dirinya kerap ngobrol dan bertemu secara pribadi
dengan SBY. Bahkan, kedua lulusan Akmil tersebut juga sering saling curhat.
"Ya, kami ini jadi seperti saudara-lah," katanya.
Hal yang biasa dijadikan topik pembicaraan keduanya adalah masalah
keluarga. Ini memang sangat dimengerti. Sebab, sebagai anak tunggal,
selama ini agak sulit bagi SBY untuk membicarakan masalah keluarga. Selain
mengobrol, keduanya sering terlihat akrab saat bermain golf. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|