| |
C © updated
12122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ pr |
|
| |
Nama:
Dr Hj Dewi Lailatul Badriah MSc Mkes
Lahir:
Cirebon, 1965
Agama:
Islam
Penghargaan:
Ibu Teladan Indonesia 2003
Suami:
Drs. H. Kusmayadi
Anak:
Imam Subhki
Sofia Kusumadewi
Pendidikan:
Doktor program Ilmu Kedokteran Bidang Kajian Utama Kedokteran
Olahraga pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
Pekerjaan:
Pembantu Dekan di Universitas Siliwangi (Tasikmalaya)
Pembantu Rektor di Universitas Bung Karno (Jakarta)
Ketua Sekolah Tinggi Kesehatan Tasikmalaya
Konsultan Kesehatan Tasikmalaya dan Konsultan Pengembangan Pendidikan
Tinggi.
Asosiasi Perempuan Tasikmalaya (ASPER)
Pusat Pelatihan & Informasi Perempuan RAHIMA
Korps HMI-wati (Kohati) Tasikmalaya
Alamat Panitia PITI 2003:
Rona Communication, Gedung Manggala Wanabakti Lt 2 Suite 208A Jalan
Gatot Soebroto Senayan Jakarta 10210 Telp 021-5746749, 021-5703246-65 ekst
5318 fax 021-5746749 email: ronacomm@cbn.net.id dan tbs@cbn.net.id. |
|
| |
|
|
|
|
Dewi Lailatul Badriah
Ibu Teladan Indonesia 2003
Dr Hj Dewi Lailatul Badriah MSc Mkes, berhasil meraih Ibu Teladan
Indonesia 2003 dengan mengungguli empat finalis lainnya yang sebelumnya
disaring dari 14 semifinalis dan 103 peserta dari seluruh Indonesia. Dewi,
seorang ibu berprestasi, ini ingin membuat klinik bersalin dan pusat
kesehatan masyarakat yang memberi pelayanan gratis bagi orang-orang yang
tidak tidak mampu.
Dosen di beberapa perguruan tinggi ini terbilang produktif untuk
melahirkan banyak karya ilmiah dan buku, yang menjadi bahan kajian di
berbagai seminar nasional. Tulisan-tulisannya juga banyak mengisi surat
kabar nasional.
Dalam pencalonan Pemilihan Ibu Teladan Indonesia (PITI) 2003, yang
diselenggarakan Rona Communication bekerjasama dengan Kementerian PP,
didukung oleh Minyak Goreng Sania, dalam rangka Peringatan hari Ibu (PHI)
75, ini Dewi paling banyak mendapat dukungan promotor. Tak kurang dari 3
LSM, 1 organisasi massa, 1 perguruan tinggi, serta banyak tokoh pendidik
dan masyarakat Tasikmalaya melampirkan dukungan pada berkas pencalonannya.
Dewi mengakui, sejak beberapa tahun lalu, banyak pihak memintanya
mengikuti ajang pemilihan sejenis. “Namun, pada saat itu Allah belum
menggerakkan hati saya,” tutur perempuan asal Tasikmalaya itu. Kemudian,
kali ini ia tergugah untuk bersedia disertakan dalam PITI 2003. Alasannya,
terinspirasi dari karya dua tokoh yang dikaguminya, yaitu Ibu Teresa dan
Mahatma Gandhi. Menurutnya, kedua tokoh tersebut dengan tulus melayani
orang lain yang menderita.
Ibu Teladan Indonesia 2003 ini mengatakan berkarya melalui kedamaian akan
lebih berhasil daripada melalui kekerasan. Ia mengaku, pernyataan itu.
“Suatu negara akan maju kalau para ibunya mampu menjadi soko guru bagi
penciptaan dan pelestarian generasi muda yang tangguh, mandiri dan
profesional baik di bidang agama, ilmu pengetahuan maupun keterampilan.
Banyaknya dukungan kepada dosen Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, ini
dinilai berbagai pihak sangat wajar. Maklum saja, pada usia 35 tahun,
wanita kelahiran Cirebon tahun 1965 ini menjadi wisudawan terbaik untuk
program doktor pada Ilmu Kedokteran Bidang Kajian Utama Kedokteran
Olahraga pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
Selain menjabat Pembantu Dekan di Universitas Siliwangi (Tasikmalaya), ia
juga menjabat Pembantu Rektor di Universitas Bung Karno (Jakarta), Ketua
Sekolah Tinggi Kesehatan Tasikmalaya, Konsultan Kesehatan Tasikmalaya dan
Konsultan Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Ia juga aktif dalam beberapa aktivitas sosial. Dewi aktif memberikan
penyuluhan dan melakukan diskusi dari soal seks dan reproduksi, narkoba,
sampai kenakalan remaja. Soal keperempuanan juga tak luput dari
perhatiannya. Ia aktif sebagai mitra di Asosiasi Perempuan Tasikmalaya (ASPER),
Pusat Pelatihan & Informasi Perempuan RAHIMA, serta Korps HMI-wati (Kohati)
Tasikmalaya, dan aktif memberikan konseling, penyuluhan dan advokasi
kepada kaum perempuan.
Pembekalan dan penyuluhan kepada perempuan itu dimaksukan agar mereka
dalam kodratnya sebagai perempuan tetap dapat mengembangkan potensi di
berbagai hal. Dewi prihatin atas kondisi sebagian perempuan Indonesia yang
masih menganggap karena kodratnya mereka menjadi pasrah. Dengan
penghargaan sebagai Ibu Teladan, ia bertekad lebih meningkatkan kemampuan
untuk memperbaiki pola pikir perempuan Indonesia yang salah seperti itu.
Ia sendiri memang membuktikan pernyataannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Berbagai aktivitasnya itu tak mengubah peran kodratinya sebagai istri dan
ibu. Ia juga mencurahkan segala perhatian dan kemampuannya untuk membina
keluarga dan anaknya. Ia seorang isteri yang santun dan menghargai suami.
Juga selalu membimbing anaknya secara langsung, termasuk mengajarkan baca
al-Quran. Terbukti, kedua anaknya Imam Subhki (13) dan Sofia Kusumadewi
(11) selalu menduduki ranking atas dan sering mewakili sekolahnya dalam
berbagai kesempatan.
Ibu Dewi adalah sosok pejabat, intelektual, ilmuwan, aktivis sosial, serta
istri dan ibu bagi keluarganya. Sehingga pantaslah jika Dewan Juri
Pemilihan Ibu Teladan Indonesia 2003, Rabu malam (10/10/2003) di Jakarta,
menetapkannya sebagai Ibu Teladan Indonesia 2003, menyisihkan 4 finalis
lainnya yang juga memiliki prestasi dan aktivitas yang sangat berguna bagi
lingkungan.
Sebagai Ibu Teladan Indonesia 2003, Dewi memperoleh tropi Ibu Teladan,
uang Rp 20 juta, gratis minyak goreng Sania selama 1 tahun dan memperoleh
kehormatan hadir dalam peringatan Hari Ibu Nasional di Istana Negara.
Sebelum dinobatkan sebagai Ibu teladan 2003, Dewi juga telah banyak
menerima penghargaan dari berbagai instansi.
Ke depan, paling tidak ada dua obsesi Dewi, yakni ingin membuat klinik
bersalin yang ditujukan melayani para perempuan yang tidak mampu dan
membangun pusat kesehatan masyarakat yang memberi pelayanan gratis bagi
orang-orang yang tidak mampu.
PITI 2003
Ketua Panitia Pelaksana Lomba, Retno Wigati Ningrum, yang juga Direktur
Utama Rona Communication, mengtakan Pemilihan Ibu Teladan Indonesia (PITI)
2003 ini dimaksudkan untuk memunculkan sosok ibu yang dapat dijadikan ikon
sosok ibu yang ideal sehingga menjadi penggerak perempuan Indonesia untuk
memperbaiki diri.
“Even ini diharapkan menjadi sarana advokasi yang dapat dimanfaatkan
pemerintah maupun pemerhati masalah perempuan untuk mencapai idealisasi
kaum ibu,” katanya.
PITI terbuka untuk umum baik perorangan, kelompok, organisasi, ataupun
instansi pemerintah. Proses penyaringan calon dilaksanakan mengajak
seluruh lapisan masyarakat untuk mengajukan figur yang dianggap layak.
Penyaringan dimulai 20 Oktober 2003, dengan memilih 14 semifinalis dari
103 peserta. Lalu dilakukan verifikasi informasi dan data peserta, lalu
disaring lagi menjadi 5 finalis. Kelima finalis ini diundang ke Jakarta
mengikuti karantina dan malam grandfinal.
Masa karantina dilakukan 8 - 10 Desember 2003, grandfinal 10 Desember 2003
malam, dan disiarkan langsung melalui stasiun tv Indosiar. Seluruh biaya
finalis, baik transport dari daerah ke Jakarta pulang pergi maupun
akomodasi selama di Jakarta ditanggung penuh oleh Panitia PITI.
Dewan juri terdiri dari Inne Soekaryo (Ketua Umum Kowani), Dr Martha
Tilaar (pakar kecantikan), Pia Alisyahbana (tokoh perempuan), Donna Sita (Pemred
Tabloid Wanita Indonesia), Titiek Puspa (artis), Eduard Depari (pakar
komunikasi), dan Yahya Wiyanto (Sania).
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|