| |
C © updated 21082004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Budi Hamidjaja
Lahir:
Tahun 1961
Pendidikan:
1. Di Randwick North High School, Sydney, Australia tahun 1982
2. The University Of New South Wales, untuk menyelesaikan pendidikan
setingkat Bachelor of Electrical Engineering
Pengalaman Kerja:
1. Bekerja setahun di Rothmans of Pall Mall Australia PTY LTD
2. Sebagai National Sales Training Manager, Indonesia, Rothmans of Pall
Mall Australia Pty Ltd
3. Sebagai Sales Operation Manager, Indonesia, Rothmans of Pall Mall
Australia Pty Ltd
4. Sebagai Field Operation Manager, Indonesia, Philip Morris Asia Inc.
5. Sebagai Senior Marketing Manager Resort – Residential, PT Lippoland
Develoment
6. Sebagai General Manager Marketing, PT Putra Surya Perkasa
7. Sebagai Presiden Direktur, PT Pioneerindo Gourmet, Tbk
|
|
| |
|
|
|
|
Budi Hamidjaja
Bekerja Kreatif, Inovatif dan Religius
Penyaji makakan siap saji terkenal California Fried Chicken (CFC) memasuki
pasar dengan sangat unik. Perusahaan PT Pioneerindo Gourmet Tbk pemilik
dan pengelola CFC yang didirikan 13 Desember 1983 adalah milik pribumi
seratus persen dan tidak ada keterkaitan bisnis sama sekali dengan pihak
atau perusahaan asing manapun.
Namun karena dipilih nama California Fried Chicken dimana California
adalah salah satu negara bagian di Amerika Serikat, maka daging ayam siap
saji yang ditawarkan CFC langsung dipersepsikan sama dengan produk siap
saji lainnya dari Negeri Paman Sam yang sudah lebih dahulu populer.
Anggapan awal kebanyakan orang pun sama menyebutkan bahwa CFC adalah
perusahaan waralaba dari luar negeri.
Budi Hamidjaja kelahiran tahun 1961 Presiden Direktur PT Pioneerindo
Gourmet Tbk mengakui dari sisi brand name nama CFC sangat bagus dan mudah
akrab di telinga masyarakat terutama kalangan anak muda yang pada suatu
masa pernah sangat tergila-gila terhadap aneka produk dan budaya hasil
westernisasi. Padahal, kata Budi, hal itu hanyalah kejelian manajemen
memilih nama.
Sejak masih duduk di bangku sekolah sikap untuk selalu tekun dan bekerja
keras sudah mulai diasah oleh Budi Hamidjaja agar mengkristal menjadi
prinsip hidup. Ketika memulai karier di dunia usaha sikap itu dia buktikan
dengan selalu menekuni tugas yang dibebankan kepadanya kendati misalnya
tugas itu jauh menyimpang dari pendidikan dan keahlian yang dia miliki.
Dia akan selalu mengerjakan segala sesuatu dengan tekun bahkan enjoy.
Budi Hamidjaja menyelesaikan pendidikan di Randwick North High School,
Sydney, Australia tahun 1982 lalu melanjut ke The University Of New South
Wales untuk menyelesaikan pendidikan setingkat Bachelor of Electrical
Engineering. Selama tujuh tahun bermukim di Sydney dia pernah
berkesempatan bekerja setahun di Rothmans of Pall Mall Australia PTY LTD.
Oleh perusahaan sama dia dikirim ke Indonesia menjadi National Sales
Training Manager untuk pertamakalinya, kemudian sebagai Sales Operation
Manager, dan terakhir sebagai Field Operation Manager di perusahaan Philip
Morris Asia Inc.
Dari perusahaan rokok dia mencoba peruntungan ke perusahaan properti PT
Lippoland Develoment dengan memangku jabatan terakhir Senior Marketing
Manager Resort – Residential. Dari grup Lippo dia “lompat pagar” ke PT
Putra Surya Perkasa sebagai General Manager Marketing. Di era inilah dia
mencapai sukses besar antara lain berhasil menjual ribuan unit rumah mulai
dari rumah sederhana, menengah, hingga apartemen.
Bersamaan itu namanya mulai dikenal dan menjadi buah bibir baru di bisnis
properti Indonesia. Prinsip bekerja kreatif, inovatif, dan religius yang
sudah dia asah sejak duduk di bangku sekolah yang kemudian diperkaya
dengan sejumlah pengalaman lapangan menghasilkan sebuah sikap baru untuk
selalu ingin maju. Akumulasi semua itulah yang telah menghantarkan dia
sukses di semua ladang profesi yang pernah ditekuni.
Kendati sudah masuk dalam jajaran elit profesional dia tetap menganggap
hidup sebagai proses belajar yang tak akan boleh berhenti sepanjang hidup
masih tetap berjalan. Karenanya dia tidak pernah berhenti belajar. Sesibuk
apapun mengelola CFC, dia masih menyempatkan diri membaca buku terutama
jika buku itu berkaitan dengan marketing dan cerita tentang orang-orang
sukses. Minimal satu buah buku pasti terselip di tas atau mobilnya.
Itu pula sebab latar belakang disiplin ilmu teknik elektro tidak mampu
membatasi dia untuk menjadi piawai di bidang marketing. Banyak orang
menyebutkan dia telah salah jurusan sebab sepanjang karir profesionalnya
dia kerap kali bergelut di dunia marketing tanpa pernah sekali pun
menyentuh bidang kelistrikan. Dia belakangan malah menangani bisnis
makanan siap saji bernama CFC. ”Tapi semua itu karena proses belajar,”
jelas dia singkat namun tak menutupi rasa bangga yang terselip di
senyumnya.
Dia punya kiat memberikan kepercayaan penuh kepada setiap karyawan
menjalankan pekerjaan masing-masing. Karenanya pantang bagi Budi untuk
bertanya langsung apa yang karyawan perbuat hari demi hari. Namun kepada
masing-masing kepala departemen dia akan selalu mengingatkan tentang garis
kebijakan yang sudah jelas dia tetapkan.
Salah satu cirinya sebagai pemaham manajemen adalah tidak akan pernah
merasa puas melainkan harus selalu haus akan kemajuan. Dia selalu
menginginkan ada perubahan yang berarti hari demi hari. Untuk mengimbangi
dan memperkaya khasanah perubahan yang diinginkan supaya lebih baik itulah
Budi Hamidjaja selalu menambah ilmu dengan banyak membaca buku terutama
cerita tentang orang-orang sukses dari berbagai belahan dunia. Penggemar
buku Unlimited Power karya Antony Robin yang selalu tampil rapi dan segar
ini sering pula mengikuti berbagai seminar di dalam maupun luar negeri.
Untunglah CFC nama yang bagus itu dibarengi dengan kualitas produk makanan
siap saji yang bagus pula hingga setara dengan standar produk restoran
internasional. Sebab nama bagus itu, kata Budi, akan menjadi percuma kalau
rasa yang disajikan tidak bisa memberikan kepuasan kepada pelanggan yang
sudah kadung mempersepsi CFC sebagai makanan bagus.
Budi Hamidjaja agaknya merasa beruntung para pendiri dan manajemen PT
Pioneerindo Gourmet Tbk pada tahun 1983 telah jeli memilih nama CFC nama
yang mudah akrab di telinga masyarakat terutama kalangan anak muda.
Nama bagus itu terbukti efektif untuk dimajukan ke pasar sehingga dalam
perjalanan selanjutnya terdapat banyak cerita keberhasilan yang dibukukan
CFC. Hingga berumur 18 tahun di tahun 2001 lalu saja, misalnya, CFC telah
memiliki 120 gerai yang tersebar di banyak kota Indonesia. Di antaranya
tujuh gerai Sapo Oriental dan 46 gerai Cal Donat di mal-mal Jakarta.
CFC membutuhkan tak kurang 30 hingga 40 ton ayam pedaging setiap minggunya.
Namun jika memasuki hari raya Lebaran, Natal, dan Tahun Baru kebutuhan itu
meningkat menjadi 40 hingga 50 ton perminggu.
Tahun 2001, contohnya, CFC berhasil membukukan pendapatan Rp 154,13 miliar
meningkat 12,32% atau Rp 16,91 miliar dibandingkan pendapatan tahun 2000
yang masih Rp 137,22 miliar.
Dari keseluruhan gerai miliknya hanya 10 yang sudah diwaralabakan ke pihak
ketiga sisanya 110 gerai ditangani langsung oleh Pioneerindo. Kemampuan
menangani sendiri menjadi salah satu kunci keberhasilan CFC. Sebab bisnis
restoran, demikian Budi, biasanya cukup rentan terhadap perubahan sehingga
konsistensi rasa hidangan di setiap gerai harus dipertahankan dari sisi
kualitas dan kontrol makanan secara kontinyu.
Budi Hamidjaja menyebutkan pengusaha yang benar-benar mampu menjiwai usaha
restoran dengan baik umumnya akan sukses. Sedangkan restoran yang tidak
ditangani sendiri dipastikan tidak bisa bertahan lama oleh karena
manajemen ataupun kualitas yang rendah.
Paradigma sukses tidaknya sebuah restoran menurutnya adalah seberapa lama
resotaran itu dapat bertahan serta apakah jumlah pelanggannya terus
bertumbuh. Jadi, bukan sekedar dikunjungi banyak pelanggan yang kadang
temporer saja sifatnya.
Budi belakangan ini giat mempersiapkan manajemen CFC memasuki era
modernisasi dan globalisasi. Setiap perkembangan dan kemajuan teknologi
modern selalu diikuti. Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) juga terus
diperbaiki, seperti menyiapkan berbagai modul pusat pelatihan terpadu
untuk meningkatkan profesionalisme dan asah kemampuan manajerial karyawan.
Sistem remunerasi dia terapkan untuk memacu peningkatan produktivitas dan
kesejahterahan karyawan, seperti pemberian bonus untuk setiap prestasi
kerja bagus karyawan. Bagi Budi SDM adalah aset paling berharga bagi
perusahaan. Karena itu untuk lebih mempererat hubungan antar sesama
karyawan Budi membuat program khusus berwisata bersama atau menggelar
pertandingan olahraga sesama karyawan cabang. Sedangkan di level manajer
dibuat terobosan baru seperti mengajak tamasya ke luar negeri.
Budi beranggapan semua yang dia lakukan itu dimaksudkan agar karyawan
bekerja lebih optimal yang hasilnya tentu untuk perusahaan pula.
Budi merasa perlu intens mengikuti perkembangan teknologi terbaru sebab
kemajuan perusahaan restoran harus ditunjang peningkatan teknologi
terutama teknologi yang berkembang di industri pangan seperti pengelolaan
produk, kualitas layanan, serta administrasi dan pengawasan. Budi tidak
segan-segan merekrut beberapa ahli untuk semakin memperkuat tim
perkembangan teknologi demikian pula untuk pembaruan mesin pengolahan dan
sistem komputerisasi.
Dia menyebutkan semua cabang CFC telah memiliki jaringan kerja terpadu
(networking online) sehingga CFC dikatakannya sudah mantap memasuki
persaingan di era perdagangan bebas ASEAN (AFTA). ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|