| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wilson |
|
| |
Nama:
Bismar Siregar
Lahir:
Sipirok, Sumatera Utara, 15 September 1928
Agama:
Islam
Karir:
-Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur (1971-1980)
-Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Bandung (1981-1982)
-Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, Medan (1982-1984)
-Hakim Agung di Mahkamah Agung RI (1984 - 2000)
Alamat Rumah:
Jalan Cilandak I No 25 A, Jakarta 12430 Telp: 7657416
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA-WAWANCARA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
= WAWANCARA:
01
02 =
DEPTHNEWS: 01
02
03 =
Bismar Siregar (Wawancara 02)
Adili Pak Harto, Haram Hukumnya
Mantan hakim agung Bismar Siregar, SH, yang dikenal publik sebagai
seorang hakim berintegritas tinggi dan memiliki kepekaan dan kebeningan
hati nurani dalam setiap kali memutuskan perkara, mengatakan bahwa
mengadili Pak Harto sama dengan melakukan penganiayaan, haram hukumnya.
Pak Bismar mengatakan haram, sementara ulama
mengatakan tidak. “Persetan sama ulama,” katanya. Apa alasannya
mengatakan hal itu? “Bagi saya menyakiti orang yang sehat sekalipun itu
tidak boleh dan haram, apalagi pada orang yang sudah sakit, diadili
lagi, itu penganiayaan, haram hukumnya,” jelas Bismar Siregar dalam
percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia, di kediamannya Jalan
Cilandak I/25 A, Jakarta Selatan.
Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Medan itu mengutip ayat dari Al-Quran,
bahwa seorang yang berusia 80 tahun, ia telah dikembalikan oleh Tuhan
kembali seperti anak-anak, yang belum berdosa. Dia juga mengutip kitab
suci: Ingatlah kebaikan seseorang, lupakanlah yang tidak baiknya.
“Kenapa kita harus selalu mengingat-ingat dosa Pak Harto?” ucapnya.
Menurutnya, kebiasaan mengingat-ingat kejelekan orang lain adalah budaya
setan.
Mengapa Bismar ‘membela’ Pak Harto? Apakah dia kroni Pak Harto? Simak
jawabannya dalam petikan percakapan Wartawan Tokoh Indonesia Ch Robin
Simanullang dan Anna Fauzia, serta fotgrafer Wilson Edward dengan mantan
hakim agung itu.
MTI: Bagaimana pandangan Anda tentang kepemimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, termasuk pernyataannya memilih mengendapkan masalah
Pak Harto?
BS: Saya tidak tahu apakah SBY memiliki
ketegasan dengan sikapnya. Tetapi sikapnya tentang Pak Harto kemarin,
ragu-ragu. Dia mengatakan harus diendapkan-diendapkan dulu. Kenapa
diberikan lagi peluang bagi rakyat untuk gelisah?
Kenapa tidak berkata, kalau toh saya harus mengambil keputusan mengenai
Soeharto, sebagai seorang Islam, saya sampaikan ada pesan: Datangilah
orang yang ditimpa musibah, berilah dia nasehat, kalau engkau mampu
memberikan nasehat yang sedemikian itu, engkau akan mendapatkan pahala
dari Allah. Mengapa engkau tunda sampai 10 hari baru datang melihat
Soeharto?
Saya sendiri, hari Kamis Pak Harto masuk rumah sakit, hari Jumat saya
sudah datang jenguk. Karena saya merasa, dia merindukan orang yang
mencintainya. Dan di dalam ajaran agama Kristen dan Islam ada: cintailah
saudaramu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Kenapa dia harus
berpikir endapkan dulu, endapkan dulu, dan baru kemarin dulu dia datang
menjenguk?
Sebagai seorang imam, memang saya mengatakan keliru, karena SBY
mengatakan mengendapkan. Kenapa tidak bilang saja: Saya hentikan! Karena
dia telah tua. Dalam iman saya sebagai muslim, kalau orang sudah usia 80
tahun, maka Tuhan mengembalikan dia seperti anak-anak. Anak-anak tidak
ada dosa lagi.
Jadi kenapa selalu kita buat resah rakyat ini. Sampai hari ini, saya
baca koran, Soeharto, Soeharto, Soeharto. Saya kemukakan, kenapa
Soeharto saja yang diributkan?
Waktu itu pun, saat dialog di QTV, kenapa sih ketua MPR mengatakan,
untuk mencabut kasus Soeharto harus dicabut juga Tap MPR. Sehingga harus
sidang lagi MPR untuk hanya sekadar mencabut dan menentukan nasib
seseorang. Koq terlalu beratlah urusan Pak Harto diurusi negara. Habis
waktu dan habis segala macam.
Tapi, kapan kita berpikir untuk menyelesaikan-nya dengan baik. Justru
itu, cintailah saudaramu seperti engkau mencintai dirimu, maafkanlah
orang yang bersalah, janganlah engkau menyimpan dendam di dalam hatimu.
Dalam dialog di QTV, saya berhadapan dengan seorang muda berumur 37
tahun. Dia berkata, tidak bisa Pak Bismar, bahwa dosa Soeharto terlalu
banyak. Boleh jasanya banyak tetapi dosanya juga banyak. Tapi saya
katakan, sebagai orang yang beragama dipesankan: Ingatlah kebaikan
seseorang, lupakanlah yang tidak baiknya.
Kenapa kita harus selalu mengingat-ingat dosa Pak Harto? Sebagai seorang
muslim dan juga seorang kristiani, saya kira, dikatakan: Tidak ada
sesuatu yang terjadi pada setiap pergantian siang dan malam kecuali
dengan izin Allah. Kalau itu izin Allah, kita harus ikhlas menerima
musibah atau tidak musibah. Kalau musibah jangan menggerutu, jangan
mencari kesalahan kepada siapa pun juga, tetapi carilah kesalahan
terhadap dirimu. Si Bismar pun sering melakukan yang demikian. Tidak mau
saya mengadakan kambing hitam. Saya tanya, apa salah saya ya robbi?
Kalau kehidupan kami sebagai keluarga, alhamdulillah sudah mapan, tidak
ada yang saya gelisahkan. Tetapi sebagai warga, saya bilang, masihkah
saya akan melihat negara yang saya cintai ini, yang lahir dan ada berkat
rahmat Allah Yang Maha Kuasa, mendapatkan kemakmuran yang merata, mulai
dari petani lapisan bawah sampai kepada orang nomor satu, merata dan
merata. Masihkah Ya Illahi Robbi?
Kalau Engkau menghendaki mudah, tapi kalau Engkau tidak menghendaki
sulit. Aku tidak akan menyesali walaupun aku tidak menikmati. Tapi saya
tinggalkan tulisan-tulisan, akan dikenang semua orang. Kalau pun nanti
saya tidak ada lagi, supaya ada dibaca orang. Ada seorang yang bernama
si Bismar, anak Batak, anak petani Tapanuli, yang ingin berguna bagi
orang lain dan ingin melihat bangsanya sejahtera.
Karena itu, ada seorang umur pan-jang, panjang dalam bilangan, tetapi
jelek dalam kenangan, itu celaka. Tetapi ada yang panjang dalam
bilang-an juga panjang dalam kenangan.
Termasuk kemana Pak Harto? Panjang dalam bilangan, tahun ini dia sudah
berumur 85 tahun, tetapi juga panjang dalam kenangan. Kenangan yang
panjang itu ialah kembali ingatlah selalu kebaikan seseorang dan jangan
ingat yang tidak baiknya.
MTI: Tapi tampaknya masih banyak elit dan aktivis yang lebih suka
melihat kejelekan daripada kebaikan seseorang?
BS: Iya, mereka lebih ingat yang
jelek-jeleknya. Itu budaya setan. Budaya setan yang selalu ingat yang
tidak baiknya dan melupakan yang baiknya. Selama Soeharto masih belum
diadili dan nasibnya belum ditentukan, saya katakan, di mana engkau
tempatkan maaf dan maaf?
Bagi seorang umat kristiani tentunya tahu, bila pipi kirimu ditampar
kasikanlah pipi kananmu. Sebagai seorang muslim, jangan engkau
menganiaya, jangan engkau teraniaya, kalau engkau teraniaya maafkahlah
orang yang menganiayamu.
Tapi sekarang, ucapan dari kita semua tiada maaf bagimu. Saya baca tadi
di dalam resonansi harian Republika, saya ingin menulis nanti, kenapa
seorang ulama mengatakan semua saya maafkan kecuali Soeharto tiada maaf
bagi dia.
Saya istikfar, istikfar. Inikah umat Islam, inikah ulama? Sampai
keluar ucapannya, kecuali Soeharto saya maafkan!
Tidakkah dia mengetahui, bila seorang berkata tiada maaf bagimu, Tuhan
pun akan menyahut, tiada maaf bagimu. Kenapa dia mengatakan hal
demikian. Itulah kenapa saya gelisah dalam menghadapi yang muda-muda.
Kenapa? Ulama yang salah, rohaniawan yang salah.
Dalam setiap upacara-upacara keagamaan tidak menyentuh hati nurani
daripada orang untuk menerima agama itu sebagaimana mestinya. Tetapi
hanya sekedar mengenai ritual, ritual. Sholatnya bukan main, ibadah
hajinya bukan main. Haji berpuluh kali. Lupa dia, haji setelah satu kali
bisa haram.
Kenapa saya bilang haram? Karena kalau kau sudah satu kali, sudah
selesai. Tapi kalau sudah dua kali — mantan hakim agung prioritas,
segala prioritas—itu sudah haram. Lupakah engkau sungguh banyak sesama
saudaraku di desa yang ingin naik haji? Tetapi karena saya ambil haknya
dia tidak bisa naik haji. Itu penganiayaan. Menganiaya haram hukumnya.
Oleh karena itu, haji yang membawa anak-anaknya yang belum dewasa (belum
saatnya naik haji) itu juga haram. Ulama tersinggung sedikit tidak
apa-apa. Karena buat saya, asalkan Tuhan jangan sampai tersinggung.
Karena saya tidak mampu lagi mengungkapkan yang benar itu benar. Tidak
peduli saya dengan para ulama itu. Percuma ulama itu, saya bilang, tidak
ada perobahan dan sudah terlampau banyak.
Buktinya, demo dan demo menuntut RUU antipornografi dan pornoaksi (RUU
APP) agar segera disahkan. Saya termasuk orang yang anti UU Antiporno.
Barangkali kalian heran, koq Si Bismar anti? Bukan di situ letaknya
manusia tidak berporno. Tapi pembinaan diri dan pembinaan imannya. Di
situ kita tanamkan kepada dia, bukan takutnya pada UU dan bukan takutnya
pada ini dan itu, bukan. Tetapi takutnya kepada yang satu, kepada hati
nurani. Indah sekali pesan itu.
Mampukah engkau menutup mata yang satu, telinga yang satu, yang melihat
dan mendengar semut hitam berjalan di atas batu pualam dalam kelamnya
malam. Alangkah indahnya itu disampaikan, mungkin oleh si Bismar. Kalau
ulama, itu gersang, gersang, tidak menyangkut ke sini (telapak tangan di
dekap di ulu hati), hati nurani.
Tetapi saya ingin menyentuh hati nuraninya. Karenanya dalam
pemberantasan korupsi, saya tulis, memberantas korupsi itu cukup baik,
tapi mampukah engkau memberantas korupsi hati nuranimu? Itu yang paling
parah, saya bilang.
Kalau korupsi uang, kembalikan selesai. Tapi korupsi hati nurani? Antara
lain, saya bilang, yang terjadi di Pertamina. Koq Pertamina menjual
tanker karena kehabisan modal. Kemudian pada rapat umum pemegang saham
dinaikkanlah gaji Pertamina dua kali. Dengan keadaan sekarang, sudikah
mereka merasakan keadaan yang dirasakan oleh rakyat? Tidak! Nurani
mereka tidak merasakan lagi.
Sama dengan PLN, mendapatkan bonus. Bonus itu kan kalau untung. Kalau
tidak untung mana ada bonus. Bukankah itu karena hati nurani yang tidak
berbicara lagi?
MTI: Pada awal reformasi, Anda mengatakan haram hukumnya mengadili
Pak Harto. Kenapa dan apakah Anda kroni Pak Harto?
BS: Saya katakan tentang Pak Harto,
ini barangkali mengundang tanya, kenapa sih, apa Bismar kroni Pak Harto?
Saya bukan kroni Pak Harto. Tapi saya berkenalan dengan Pak Harto pada
suatu saat ketika dia akan diajukan ke pengadilan. Jika tidak salah, itu
pada hari Kamis. Lalu pada hari Jumat saya tampil di televisi. Saya
kemukakan mengadili Pak Harto sama dengan melakukan penganiayaan, haram
hukumnya.
Pak Bismar mengatakan haram, ulama mengatakan tidak. Persetan sama
ulama, saya bilang. Kenapa itu saya bilang? Bagi saya menyakiti orang
yang sehat sekalipun itu tidak boleh dan haram, apalagi pada orang yang
sudah sakit, diadili lagi, itu penganiayaan, haram hukumnya.
Pernyataan saya itu rupanya didengar oleh mereka. Saya tidak tahu apakah
mereka dengar lagi di QTV kemarin, saya tidak tahu dan itu tidak perlu.
Tapi dulu itu didengar. Bahkan begitu sampai di rumah, saya ditelepon
Saadilah Mursjid: Maukah Pak Bismar datang ke Cendana?
Kenapa? Mereka sangat terharu waktu mendengar Pak Bismar mengatakan
haram mengadili Pak Harto. Kalau hal itu yang ditanyakan, saya merasa
berkewajiban. Kewajibannya adalah kalau ada orang yang ditimpa musibah,
datangilah dia, berilah dia nasehat, kemudian kalau engkau mampu memberi
dia nasehat, maka Allah akan menyukai kamu.
Itulah rindu awal dari Cendana. Sampai ada suatu harian di Jakarta
menyebut si Bismar itu tokoh spiritual dari Cendana. Alhamdulillah, itu
hal yang baik kan. Tapi nada mereka sudah lain sebetulnya. Tapi bagi
saya tidak ada masalah. Sampai begitu dekatnya dengan Pak Harto. Sampai
pada waktu ulang tahunnya yang ke 80, saya diminta oleh keluarga membuat
kata-kata sekapur sirih dalam bukunya yang akan diterbitkan.
Tolong renungkanlah, Si Bismar orang Batak, koq diminta untuk membuat
tulisan buat orang Jawa, itu kan sudah lain dari pada yang lain. Jadi
tidak salah kalau Harmoko mengatakan, ada orang Batak yang lebih halus
dari orang Solo. Siapa itu? Pak Bismar, ha ha haaa.
MTI: Tadi pertanyaannya belum secara ekspilisit Anda jelaskan.
Sekarang ini Pak Harto dalam keadaan sakit masih terus dituntut untuk
diadili?
BS: Kalau tadi saya ambil dari Surat
Yohannes. Maka pada Pak Harto, saya ambil ayat dari Al-Quran: Seorang
yang berusia 80 tahun, ia telah dikem-balikan oleh Tuhan kembali seperti
anak-anak, yang belum berdosa.
Kok Si Bismar mengatakan Pak Harto tidak harus dihukum. Berarti engkau
melebihi Tuhanmu. Tidakkah engkau takut nanti murkaNya akan menimpa
bangsamu ini. Murkanya akan menimpa. Karena ia sudah meminta maaf, maka
sesuai dengan ajaran agama, maka layaklah kita memaafkannya.
Kalau dikatakan belum meminta maaf, ya Alhamdulillah, kemarin
keluarganya sudah meminta maaf. Sebetulnya waktu kami dialog di QTV itu,
belum mememinta dimaafkan. Seperti kemarin disampaikan oleh Titi, apakah
kita tidak mau memaafkan.
Saya juga menyampaikan surat kepada Pak Harto. Mengenai harta, dari dulu
pun saya mengatakan seandainya barangkali kita persuasif untuk Pak
Harto. Kalau saya umpamanya ditugaskan di situ, saya akan kemukakan:
“Pak Harto! Apa sih makna harta kalau kita sudah kembali menghadap
Tuhan. Nggak ada makna harta itu. Yang kita bawa hanya kain kafan.” Tapi
kita ini terus menghujat dan menghujat terus. Sehingga saya berbicara
demikian tidak bisa lagi.
Tapi sekarang sudah, kembalikanlah harta. Seperti Ginandjar Kartasasmita
yang Ketua DPD sekarang. Bukankah dia koruptor, atau tidak? Seandainya,
engkau Ginanjar Kartasasmita, engkau begini, begini, maukah engkau
mengembalikan? Kembalikanlah!
Kepada Jaksa Agung Abdurrahman Saleh juga, saya kirim surat. “Mampukah
engkau mengundang teman senamamu yang engkau gantikan, Muhammad
Abdurahman?” Cuma namamu Abdurrahman yang Saleh, mampukah engkau untuk
mengatakan, ini daftar kekayaan dahulu yang dibuat SP3-nya, sekarang
lengkapilah supaya ini bisa selesai. Kan ada rumahnya dulu yang tidak
terdaftar yang dilaporkan oleh seorang jaksa. Kemudian jaksa itu
dihukum.
Maukah engkau? Kalau dia mau, oh sudah cukup. Namun, belum direspon.
Tidak usah semua hartanya, 70% pun bolehlah, saya bilang. Kita tidak mau
dia hidup kere, ambillah 30% dari harta ini. Ikhlaskan. Wah, ada
mobilnya 10 ambillah dua tidak apa-apa, yang 8 kembalikanlah kepada
negara. Barangkali dia pilih, jaguar, boleh tapi bayarlah pajaknya. Kan
itu persuasif sebetulnya, dan itu bisa dilaksanakan dengan penuh budaya
kita, budaya yang Pancasila.
Pak Harto juga sama, kalau dikatakan, sesen pun saya tidak punya. Mana
dapat sen sekarang ini. Memang betul, dia tidak salah kok. Waktu dia
pulang dari Mesir dia mengatakan sesen pun saya tidak punya. Memang
betul, tetapi adakah kita menggugah hatinya supaya pada waktu dia
berangkat nanti tidak ada dosa tentang utang dan sebagainya.
Saya akan bilang, utang Pak Harto karena belum dikembalikan kepada
negara ini, itu menutup pintu sorga yang berhutang itu. Itu bisa
disampaikan. Jadi kalau tentang Pak Harto, saya sangat berharap sekali,
mudah-mudahan apa yang saya tuliskan itu dicermati.
MTI: Lebih dari 30 tahun Pak Harto berkuasa, sebagai manusia dia
pasti punya kesalahan, tapi tentu juga pasti punya jasa-jasa untuk
bangsa ini. Kalau menurut catatan Anda apa jasanya?
BS: Jasanya pembangunan yang kita
nikmati sekarang ini, yang lahiriah, apakah lepas dari Pak Harto? Jalan
tol, ini, itu, tidak bisa lepas. Bahwa ada dosanya secara politik.
Karena itu saya menulis: ‘Golkar, Golkar kaulah penyebab mengenai negara
ini hancur.’ Sekarang mestinya Golkar harus menahan diri, jangan mereka
menonjolkan diri, sekarang menonjolkan diri. Mestinya kan tidak, karena
dosa mereka besar sekali.
Ketika Pak Harto mengatakan ingin lengser keprabon madek pandito, mereka
itulah yang mengatakan, itu tidak bisa pak, satu-satunya Pak Harto yang
diinginkan rakyat. Ditambah ulamanya, ulamanya juga ikut loh. Mestinya
waktu itu mereka berkata, Pak Harto, sudah cukuplah jasamu, turunlah,
bahagialah kita. Tapi ini tidak. Satu-satunya. Hebat tidak,
satu-satunya. Kesalahan Pak Harto banyak, tapi itu sekelilingnya. SBY
ini juga, sekelilingnya.
Jadi kalau orang sudah tua tentu menurun, saya juga pasti seperti itu.
Tapi dalam usia seperti itu, saya merasa dan itu yang saya imani. Engkau
berikan usia yang panjang bagiku ya Tuhan, jangan jadikan itu yang kufur
atas kurnia rahmat-Mu itu usia. Berikanlah kesempatan untuk lebih banyak
beribadah kepada-Mu. Beribadah ialah kalau ada orang yang mengundang
saya untuk sebutlah ceramah atau entah apa namanya, saya tidak pernah
menolak, karena menolak harapan orang kepada seseorang yang mampu
memberikannya, itu dosa besar.
Kalau capek, dijalani sedemikian rupa itu merupakan nikmat. Kalau
ceramah barangkali saya disenangi oleh orang karena setiap saat dan
ketika kami senang Pak Bismar tampil di televisi dalam ceramah agama. ►mti/crs-ad
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|