| |
C © updated 23122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Aryanthi Baramuli Putri, SH, MH
Lahir:
Jakarta, 18 Oktober 1964
Agama:
Islam
Jabatan:
Anggota Dewan Perwakilan Daerah mewakili Sulawesi Utara,
2004-2009
Anak:
- Andhika Yahya
- Anissa Noor Fitri
Ayah:
Dr Achmad Arnold Baramuli, SH
Ibu:
Prof Albertina Nomay Baramuli-Kaunang, SH, PhD
Pendidikan:
- TK Regina Pacis, Slipi, Jakarta, 1969-1970
- International School Vilsteren, Huize Vilsteren, Belanda dan SD
Sudirman Jakarta, SD Blok P V Pagi Jakarta, 1971-1974
- SMPN 72 Gambir, Jakarta, 1975-1977
- SMAN IV, Jakarta, 1978-1981
- Bell College, Essex, Inggris, 1982
- Finishing School Institute Villa Pierrefeu, Glion/Montreux, Swiss,
1985
-Diavox, Institute Moderne De Langues, Laussane, Swiss, 1986
- S1 Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, 1981-1987
- Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, 1999-2005
Karir:
- Karyawan Poleko Group, 1983-1998
- Chairwoman Poleko Group, 1998-2006
- Anggota Dewan Perwakilan Daerah utusan Sulawesi Utara, 2004-2009
- Wakil Ketua Badan Kehormatan DPD, 2004-2007
Organisasi:
- Ketua II OSIS SMAN IV, Jakarta
- Sekretaris DPP Yayasan Baramuli, 1989 - sekarang
- Pendiri dan Ketua Cancer Information & Support Center (CISC),
2003-sekarang
- Ketua Pengda Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Sulawesi Utara,
2003-2008
- Wakil Ketua Ikatan Alumni Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi),
2005-2010
Penghargaan:
- The Indonesian Best Entrepreneur Award, 2001
- Citra Wanita Pembangunan Indonesia, 2003
- Bitang Kehormatan Legiun Veteran, 2005
|
|
| |
|
|
|
|
| ARYANTHI HOME |
|
|
 |
Aryanthi Baramuli
Politisi Perempuan PotensiaI
Apa hubungan antara politik, tinju, dan kelapa? Bagi Aryanthi Baramuli
Putri, tiga hal itulah yang membentuk dan mewarnai hidupnya saat ini.
Masih ada lagi, Aryanthi senang mengumpulkan benda-benda purbakala dari
waruga, kuburan kuno masyarakat Minahasa, juga bermain sepak bola.
Maskulin? "Saya tetap perempuan," tukasnya.
Pada bulan Desember, Aryanthi mengaku mendapat banyak undangan Natal di
berbagai tempat. Biasanya, Aryanthi, pemeluk Islam, datang didampingi
sang ibu, Albertina Kaunang, yang beragama Protestan. Bagi Aryanthi
pertemuan dengan masyarakat adalah hal yang menyenangkan. Selepas bulan
Ramadhan Aryanti berhalalbihalal sampai ke pelosok desa.
"Kami berbagi kasih dengan kaum duafa, pertemuan dengan masyarakat
menjadi ajang merukunkan diri," ujarnya.
Sebagai politisi, Aryanthi saat ini adalah anggota Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) periode 2004-2009 mewakili daerah Sulawesi Utara. Tahun
2005, Aryanthi menjadi calon wakil gubernur Provinsi Sulawesi Utara dari
Partai Golkar, meski akhirnya kalah dalam pemilihan gubernur secara
langsung pertama di Sulut itu.
Jalan hidup menjadi politisi tak pernah direncanakan sebelumnya, meski
ia mewarisi "darah" politik di keluarganya. Ayahnya, almarhum AA
Baramuli, menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Utara dan Tengah pada
1960-1962 dan melalui perjalanan berliku di dunia politik hingga menjadi
Ketua Dewan Pertimbangan Agung pada 1998-1999. Ibunya, Albertina Nomay
Kaunang, adalah mantan guru besar Hukum Tata Negara Universitas
Indonesia (UI).
Aspirasi
Setelah meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1987, Aryanthi menekuni
bisnis keluarga di kelompok usaha Poleko Group. Salah satu bidang
usahanya adalah pabrik tepung kelapa di Airmadidi, Kabupaten Minahasa
Utara, Sulut, yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Aryanthi,
tempat kami berbincang-bincang santai, Minggu (16/12) lalu. "Sejak jadi
anggota DPD, saya bolak-balik Jakarta-Manado terus. Empat puluh persen
waktu saya ada di Sulut, untuk menjaring aspirasi masyarakat," katanya.
Pengalamannya sebagai pengusaha tepung kelapa menjadi salah satu
aspirasi yang ia bawa dalam sidang-sidang DPD di Jakarta. "Saat ini
industri pengolahan kelapa kekurangan bahan baku karena tidak ada
peremajaan lahan dan hasilnya sebagian besar diekspor. Sulut dijuluki
’Provinsi Nyiur Melambai’, tetapi tidak memerhatikan kelapa," ungkap
alumni Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini.
Sebagai perempuan politisi, Aryanthi pun memperjuangkan kesetaraan
hak-hak perempuan. Salah satunya adalah kesetaraan di bidang olahraga
dengan memperjuangkan diakuinya cabang tinju perempuan di KONI. "Tinju
tak ada bedanya dengan olahraga bela diri lain. Kalau di taekwondo atau
karate ada atlet perempuan, mengapa di tinju tidak?" ujar Aryanthi yang
menjadi Ketua Pengurus Daerah Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Provinsi
Sulut sejak tahun 2003 ini.
Menurut dia, tinju amatir justru lebih aman dibanding cabang bela diri
lain karena dilengkapi dengan berbagai perangkat pelindung tubuh.
Perjuangan tersebut berhasil setelah Indonesia resmi mengutus perempuan
petinju pada SEA Games 2005 di Manila, Filipina. "Di Sulut paling banyak
bibit perempuan petinju. Buktinya, pada SEA Games di Thailand kemarin,
atlet Sulut yang meraih medali," tutur satu-satunya perempuan di jajaran
Ketua Pengurus Daerah Pertina seluruh Indonesia ini.
Tomboi
Rasanya sulit membayangkan Aryanthi yang berperawakan kecil dan lembut
itu memimpin organisasi olahraga keras, seperti tinju. Namun, bagi
Aryanthi, semua itu biasa saja karena ia sejak dulu terbiasa dengan
berbagai kegiatan yang sering diidentikkan dengan laki-laki. "Jangan
salah, saya dari kecil tomboi banget," ungkap ibu dua anak ini.
Sifat maskulin Aryanthi tercermin saat bergabung dengan tim sepak bola
UKI, kemudian masuk tim hoki. Di tim sepak bola Aryanthi berposisi kiri
luar, yang tentu menguras tenaga karena harus berlari kencang saat
timnya menyerang. Berapa banyak gol yang sudah dicetak Aryanthi? "Di
sepak bola dan hoki saya berperan sebagai pengumpan. Filosofinya, saya
merintis kemenangan tim," katanya.
Kecerdasan dan keberaniannya sudah terlihat dan terasah sejak kecil.
Saat masih berusia lima tahun, Aryanthi sudah hidup mandiri di sebuah
sekolah asrama di Belanda. "Saya ikut Mami tugas belajar di Belanda dan
disekolahkan di sebuah asrama. Berbulan-bulan saya tidak ketemu Mami,"
kenangnya.
Di sekolah dasar, Aryanthi loncat kelas dua kali sehingga lulus lebih
cepat dari teman-teman sebayanya. Berbagai aktivitas organisasi dijalani
sejak sekolah, mulai dari menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
saat SMA hingga menjadi pengurus Resimen Mahasiswa saat kuliah.
Saking tomboinya, ayah Aryanthi merasa perlu mengirimkan anaknya ke
sekolah khusus di Eropa agar kembali menjadi "perempuan". "Waktu itu
ayah juga khawatir saya lulus sarjana terlalu cepat karena usia saya
baru 20 tahun. Jadi, saya dikirim ke finishing school di Swiss. Itu
semacam sekolah etiket untuk putri-putri bangsawan Eropa," katanya.
Sejak itu, Aryanthi mengaku menjadi lebih feminin dibanding sebelumnya.
Bahkan, saat masih aktif sebagai pengusaha, ia selalu tampil anggun,
seperti ditunjukkannya pada sebuah foto keluarga di dinding rumahnya. "Sebagai
pengusaha, waktunya lebih leluasa karena jadwal diatur sendiri. Jadi,
saya masih sempat merawat rambut panjang dan memakai kuteks. Sekarang,
sudah enggak sempat lagi karena jadwal sudah diatur orang lain," tutur
Aryanthi yang kini lebih sering tampil bersahaja.
Meski lahir dan besar di Jakarta, Aryanthi merasa tak pernah lepas sama
sekali dari kultur tanah leluhurnya di Sulawesi Utara. "Sejak dulu, Mami
selalu mengajak orang-orang dari sini untuk bekerja di Jakarta. Jadi, di
rumah, saya selalu bergaul dengan orang Manado," ujarnya. Baru pada
tahun 1995, setelah sebuah peristiwa menyedihkan dalam hidupnya,
Aryanthi benar-benar kembali ke kampung halaman. Namun, justru di
situlah titik balik perjalanan hidupnya. Aryanthi mulai melihat
permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat Sulut, mulai
dari kurangnya pendidikan kejuruan hingga kekurangan kelapa untuk bahan
baku industri. Tahun 2002, saat institusi DPD resmi menjadi salah satu
lembaga negara, Aryanthi memutuskan terjun ke dunia politik.
***
Aryanthi Perlu Digoda
Aryanthi sangat sulit tersenyum kalau dipotret. Ia tampak tegang setiap
kali kamera membidik wajahnya. Untuk urusan foto, Aryanthi mengaku perlu
"digoda". "Lha, kalau gak digoda, gambarnya seperti ini, tegang banget,"
katanya sambil menunjuk sebuah gambar dirinya di dalam kamera digital.
Sikap Aryanthi di depan kamera berbeda saat ia bercakap dengan lawan
bicaranya. Entah itu siapa. Ia "mengobral" senyum sepanjang pembicaraan.
Bagi Aryanthi, senyum itu penting. Di China, orang malah harus belajar
senyum. Lalu kenapa kita malas tersenyum.
Karena senyum itu, Aryanthi cepat beradaptasi dengan masyarakat Kawanua
yang suka senyum—smiling people. Dari senyumnya itu Aryanthi meluncur ke
dunia politik, memberanikan diri maju dalam pemilihan anggota Dewan
Perwakilan Daerah dari Sulawesi Utara dua tahun lalu.
Alhasil ia terpilih bersama tokoh yang sudah lama beken di daerahnya,
sebut saja Edwin Kawilarang (pengusaha), Ny Sintje Sondakh Mandey (istri
mantan gubernur), dan Marhany Pua (tokoh pemuda Sulut).
Ia mendompleng ketenaran ayahnya, AA Baramuli? "Ya mungkin saja, tetapi
saya ingin jadi diri saya sendiri," katanya. Nama Aryanthi memang cukup
terkenal di kalangan masyarakat Sulut, tetapi Aryanthi perlu media
memperkenalkan dirinya.
Namanya menghias hampir tiap hari di media lokal, mulai dari berita
hingga iklan. Sebuah media lokal bahkan mem-blow up sepak terjang
Aryanthi setiap hari dalam beberapa halaman.
Politik bagi Aryanthi adalah dunia penuh tantangan. Citra politisi di
Tanah Air yang telanjur negatif tidak menghentikan langkahnya berkiprah
di bidangnya. Aryanthi justru merasa memikul tugas besar, terutama
tanggung jawab sosial kepada konstituennya.
Oleh karena itu, ia mendirikan sejumlah kantor perwakilan di sejumlah
kabupaten di provinsinya. "Banyak teman di daerah yang membantu saya.
Aspirasi masyarakat macam-macam, mulai dari persoalan jender hingga
masalah pelanggaran hukum." Sekarang ia tengah menangani kasus tanah
warga di Bitung yang dicaplok oleh oknum pemerintah.
"Saya gak mau jadi politisi munafik dan standar ganda. Mereka mengkritik
pemerintah dengan tujuan mendapat imbalan. Politisi seperti itu tak
ubahnya pedagang, selalu berpikir untung rugi," tukasnya.
Aryanthi mengibaratkan politisi adalah pelayan, siap berkorban, materi,
waktu, dan tenaga. "Kalau mau enak, mending saya jadi orang biasa saja,
setiap saat bisa pelesir ke luar negeri," tambahnya sambil mengumbar
senyumnya lagi. (Dahono Fitrianto dan Jean Rizal Layuck, Kompas,
Minggu 23 Desember 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|