| |
C © updated 05102008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
BIODATA
Nama :
AHMAD SYAFI'I MA'ARIF
Lahir :
Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935
Agama :
Islam
Pendidikan :
:: SD, Sumpurkudus (1947)
:: SMP, Lintau/Yogya (1950)
:: SMA, Yogyakarta (1956)
:: FKIP Cokroaminoto, Surakarta (1964)
:: FKIS IKIP, Yogyakarta (1968)
:: Universitas Chicago, AS (Doktor, 1982)
Alamat kantor :
Karangmalang, Yogyakarta Telp: 86168
MAARIF Institute:
Jalan Muria No.7, Guntur, Setiabudi, Jakarta 12980 Indonesia
Telp/Fax : 62-21 - 8296127
E-mail:
maarif@maarifinstitute.org
Homepage:
www.maarifinstitute.org
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Ahmad Syafii Maarif Peradaban Politik Masih Kumuh
Tingkat peradaban politik kita masih rendah dan kumuh. Kotor. Ya politik
uang, ya moral. Setelah reformasi, relatif demokrasi kita ada, dipuji,
meski berada di tangan mereka yang tidak bertanggung jawab, yang
wawasannya picik. Kualitas demokrasi kita di bawah standar.
Ini pernyataan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif: bangsa Indonesia mengalami
krisis kepemimpinan karena politik menjadi ajang kompetisi
kepentingan-kepentingan sempit kelompok, bukan untuk mencapai keadilan
sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti dicita-citakan para
pendiri negeri ini.
Tokoh intelektual, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998-2005) dan
pendiri Maarif Institute itu ditemui suatu pagi, di Jakarta.
Syafii Maarif (73) adalah tokoh Indonesia kedua yang dianugerahi
penghargaan Magsaysay untuk kategori Perdamaian dan Pemahaman
Internasional setelah tokoh intelektual Soedjatmoko pada tahun 1978.
Tokoh Indonesia yang pernah mendapat penghargaan yang sama adalah
Mochtar Lubis (1958), Pramoedya Ananta Toer (1995), dan Atmakusumah
Astraatmadja (2000) untuk kategori Jurnalisme, Kesusastraan, dan Seni
Komunikasi Kreatif, Abdurrahman Wahid (1993) untuk kategori Kepemimpinan
Masyarakat, serta Dita Indah Sari (2001) untuk kategori Kepemimpinan
Muda.
Presiden Raymond Magsaysay Award Foundation, Carmencita T Abella, dalam
surat elektroniknya kepada Maarif Institute tanggal 31 Juli 2008
menyatakan, Syafii Maarif dipilih karena komitmen dan kesungguhannya
membimbing umat Islam untuk meyakini dan menerima toleransi dan
pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia, bahkan di
dunia.
Mengutip siaran pers Maarif Institute, dalam sambutan singkat di depan
sekitar 2.000 undangan pada resepsi tanggal 31 Agustus 2008 di Manila,
Filipina, Syafii Maarif mengatakan, penghargaan itu tak bisa dilepaskan
dari Persyarikatan Muhammadiyah yang membesarkannya.
Ia mengakui, kerja sama dengan para tokoh lintas agama sebagai kekuatan
sosio-kultural sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia yang
plural di bawah Pancasila. Usahanya bersama para tokoh lintas agama
untuk mempromosikan pluralisme, toleransi, dan inklusivisme itu mendapat
apresiasi dan dukungan dari arus besar masyarakat Indonesia.
Komitmen kuat
Penganugerahan itu disambut gembira oleh masyarakat lintas iman dan
pendukung pluralisme Indonesia, tetapi dicibir oleh kelompok yang
menolaknya. Pagi itu, ia membacakan kalimat bernada keras yang dikirim
melalui layanan pesan singkat.
Mengapa ada yang tak mau menerima fakta keberbagaian?
Saya kira karena wawasan yang sempit, atau mungkin kecewa. Solusinya di
daerah, ya perda-perda diskrimatif itu. Anehnya, itu didukung
partai-partai sekuler. Ini persoalan. Tidak tulus. Tingkat peradaban
politik kita masih rendah dan kumuh.
Maksudnya?
Kotor. Ya politik uang, ya moral. Setelah reformasi, relatif demokrasi
kita ada, dipuji, meski berada di tangan mereka yang tidak bertanggung
jawab, yang wawasannya picik. Kualitas demokrasi kita di bawah standar.
Dapat dibilang, politik telah menjadi mata pencaharian karena seluruh
kegiatan politik bukan untuk menyejahterakan rakyat.
Mungkin biaya masuk ke politik besar sekali, sehingga kalau sudah masuk
banyak yang mencoba mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan…
Kenapa Pemilu 1955 tidak begitu? Itu pemilu terbagus sepanjang sejarah.
Meskipun pertentangan ideologi begitu tajam dan galak, tak setetes pun
darah yang tumpah. Sekarang banyak politisi instan. Kelakuannya dari
pusat sampai daerah sama.
Apa masalah pokoknya?
Saya kira soal kepemimpinan. Kita punya orang-orang hebat, tetapi banyak
tetapinya.
Pengaruh kapitalisme global?
Harusnya pengaruh itu bisa diminimalisasi, kalau tak ada proses
pembusukan dari dalam. Ada kerapuhan dari dalam. Kultur kita rapuh.
Kalau rapuh, bagaimana bisa bertahan sekian lama?
Itu pertanyaan menarik. Sejarawan besar Australia, MC Ricklefs (penulis
buku A History of Modern Indonesia) mengatakan, Indonesia ini terlalu
besar untuk jadi satu negara. Diperkirakan pecah, tetapi tidak juga. Ada
misteri di situ.
Apakah dasarnya survival?
Bertahan dalam penderitaan dan ketidakadilan. Coba Anda pergi ke
pulau-pulau kecil di Indonesia timur. Mereka sangat cinta Indonesia,
tetapi selalu dizalimi. Lihat Riau yang terbengkalai, padahal
sumbangannya besar, selain sumber daya alamnya, juga bahasa. Lihat juga
Aceh yang di zaman revolusi memberi banyak untuk republik ini.
Tujuan kita ini sebagai bangsa apa? Sila kelima Pancasila itu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sekarang lihat angka kemiskinan.
Kalau pakai standar pendapatan dua dollar AS sehari, disebut ekonom
Faisal Basri angkanya mencapai 106 juta dari sekitar 225 juta orang.
Lihat, orang berburu zakat sampai meninggal, entah berapa yang luka-luka,
belum lagi daging busuk yang dikonsumsi rakyat. Ini sudah luar biasa….
Rapuh karena tak bisa keluar dari belenggu struktural?
Ya. Salah satu indikator kerapuhan itu adalah kepekaan kita lemah dan
semakin lemah, terutama karena kepemimpinan kita tak punya kepekaan dan
tidak bertanggung jawab.
Bangsa baru
Bagaimana keterkaitan semua itu dengan sejarah? Syafii Maarif mengatakan,
bangsa ini memanggul beban berat sebagai ”bangsa yang terjajah selama
350 tahun”, sehingga kultur bangsa terjajah tetap membayangi.
Rendahnya posisi tawar dalam kontrak-kontrak karya pertambangan, minyak
dan gas, adalah salah satu contoh yang ia sebutkan.
”Kapitalisme masuk dengan memanfaatkan parlemen kita dalam pembuatan
undang-undang, juga pemerintah. Saya rasa kita tidak begitu yakin dengan
diri kita sebagai bangsa yang merdeka,” ia melanjutkan.
”Kita menjual semua yang kita punya, sumber daya alam dan semuanya
sumber daya ekonomi yang kita punya. Sebagian UU yang dihasilkan
memperlihatkan kepandiran bangsa ini. Ibarat tukang, siang hari ia
menenun, malamnya dilepaskan lagi.”
Ketidakmampuan menangkis pengaruh ideologi juga terlihat dari alasan
para teroris yang menggunakan kekerasan untuk mewujudkan apa yang
dibayangkan sebagai situasi ”ideal”. Di sisi lain, orang tak bisa
menahan rayuan konsumtivisme yang disebarkan kapitalisme global karena
filternya lemah.
Karena itu, ”Kita harus menyiapkan manusia Indonesia yang tangguh. Bisa
dilakukan melalui pendidikan dalam arti luas, dimulai dari keluarga.
Kemerdekaan harus diartikan sebagai warga yang terbebaskan, berdaulat,
dan punya kebanggaan.”
Ia mengingatkan, Bung Karno selalu mengatakan pembangunan karakter
bangsa harus terus dilakukan. ”Tetapi, ada satu hal di pikiran saya.
Pertama, saya menolak 100 tahun Kebangkitan Nasional,” ia menegaskan.
Berdasarkan fakta sejarah, Indonesia sebagai bangsa baru muncul tahun
1920-an. Syafii Maarif memaparkan, ”Saya tidak tahu apakah kita ambil
peralihan dari Indische Vereeniging, Perhimpunan Hindia, tahun 1908
menjadi Indonesische Vereeniging, Perhimpunan Indonesia, tahun 1922,
atau kita ambil Sumpah Pemuda tahun 1928. Sebelum itu yang ada etnisitas.
Ali Sastroamidjojo, orang Jawa. Hatta orang Sumatera. Kita perlu bicara
lebih mendalam dan serius tentang kapan sebetulnya kita menjadi
Indonesia.”
Dengan demikian, beban psikologisnya menjadi lebih ringan karena tidak
lagi merasa sebagai bangsa yang dijajah 350 tahun. ”Memang karena
penjajahan, kita menjadi Indonesia, menjadi satu atas kemauan sendiri.
Jadi, kita harus menghargai keberbagaian di rumah Indonesia ini. Proses
menjadi bangsa ini masih terus berlangsung.”
Yang kedua?
Saya tak tertarik dengan jargon NKRI, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, karena ”kesatuan” membentuk uniformitas yang tak menghargai
Bhinneka Tunggal Ika. Saya tertarik dengan Negara Persatuan Republik
Indonesia. Persatuan berarti menghargai kultur-kultur yang hebat ini.
Dengan ”persatuan” tak bisa lagi melihat Indonesia dari kacamata
Jakarta.
Bukankah ada otonomi daerah?
Tak sama benar. Banyak pemekaran yang sifatnya sangat politis. Itu
ambisi raja-raja kecil. Kita harus kembali ke filosofi laut. Pensiunan
Kepala Angkatan Laut India, Admiral L Ramdas, yang saya temui di Manila,
mengingatkan, ”Oceans unite, lands divide”. (Kompas, Minggu, 5
Oktober 2008, Maria Hartiningsih & Ninuk Mardiana Pambudy) ►e-ti
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|