| |
C © updated 02032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
BIODATA
Nama :
AHMAD SYAFI'I MA'ARIF
Lahir :
Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935
Agama :
Islam
Pendidikan :
:: SD, Sumpurkudus (1947)
:: SMP, Lintau/Yogya (1950)
:: SMA, Yogyakarta (1956)
:: FKIP Cokroaminoto, Surakarta (1964)
:: FKIS IKIP, Yogyakarta (1968)
:: Universitas Chicago, AS (Doktor, 1982)
Alamat kantor :
Karangmalang, Yogyakarta Telp: 86168
MAARIF Institute:
Jalan Muria No.7, Guntur, Setiabudi, Jakarta 12980 Indonesia
Telp/Fax : 62-21 - 8296127
E-mail:
maarif@maarifinstitute.org
Homepage:
www.maarifinstitute.org
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Ahmad Syafii Maarif Magsaysay Award 2008 Jakarta,
1 Agustus 2008: Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah
dan Pendiri Maarif
Institute, Ahmad Syafii Maarif, dianugerahi Magsaysay Award
2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional. Dewan Pengawas Ramon Magsaysay Award Foundation di Manila,
mengumumkan hal itu Kamis (31/7/2008). Pria kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935, ini dinilai punya komitmen dan kesungguhan
tinggi dalam membimbing umat Islam di Indonesia dan dunia untuk meyakini
dan menerima toleransi dan pluralisme, sebagai basis menciptakan
kehidupan yang harmonis dan berkeadilan. Penghargaan ini diserahkan di Manila, Filipina, 31
Agustus 2008. Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya, itu
menganggap penghargaan ini terlalu besar baginya. Lulusan doktor dari Universitas Chicago, AS (1982)
ini merasa apa yang dilakukannya belum
banyak, belum signifikan, dan belum memberikan arti besar. Buya menilai penghargaan ini tak ditujukan untuk dirinya semata. Banyak
pihak lintas-agama, kultur, dan etnik yang membantunya mengembangkan
penghargaan atas pluralisme dan toleransi. Sikapnya untuk terus
mengembangkan hubungan antarmasyarakat lintas-iman diyakini didukung
sebagian besar umat Islam di Indonesia.
Dia menilai kehadiran kelompok radikal yang menonjol hal wajar, sebatas
beradu argumen dan wacana. ”Tetapi, jika sudah melakukan kekerasan fisik,
itu tindakan biadab,” tegasnya sebagaimana dikutip Kompas (1/8/2008).
Buya berharap penghargaan ini mampu menginspirasi kaum muda
untuk terus mengembangkan kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan
plural.►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
***
Achmad Syafi'i Ma'arif
Orang Tak Beriman pun Berhak Hidup
Indopos Minggu, 07 September 2008:
Kiprah tokoh Indonesia kembali mendapat apresiasi lembaga luar negeri.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Achmad Syafi'i Ma'arif pada 31 Agustus
lalu menerima Magsaysay Award 2008 untuk kategori Peace and
International Understanding. Berikut wawancara Jawa Pos dengan Buya
Syafi'i.
Anda baru saja menerima pengakuan internasional di bidang perdamaian.
Bagaimana perasaan Anda?
Sesungguhnya perasaan saya terbelah dua saat diberi tahu akan mendapat
penghargaan ini. Di satu sisi tentu saya bergembira. Tapi, di bagian
lain saya juga agak khawatir. Sebab, dengan adanya penghargaan ini, bisa
jadi saya dituntut untuk berbuat lebih banyak lagi. Harus diakui, ini
yang berat.
Selain itu, sejujurnya saya tidak memahami betul alasan Ramon Magsaysay
Award Foundation (Filipina) menjatuhkan pilihan penghargaan itu ke saya.
Saat ditanya, hanya dijawab bahwa mereka punya kriteria khusus yang
tidak bisa dibuka semuanya. Namun, saya yakin, apa pun alasan mereka,
semuanya tidak terlepas dari persyarikatan Muhammadiyah yang telah
membesarkan saya. Saya sempat diberi kepercayaan memimpin Muhammadiyah
ketika Indonesia menghadapi masalah yang kompleks.
Apa yang Anda lakukan saat itu?
Saya terus berhubungan dan bekerja sama dengan para tokoh lintas agama (Katolik,
Protestan, Buddha, Hindu, termasuk Konghuchu). Sebagai kekuatan
sosiokultural, keberadaan mereka sangat penting dalam menentukan masa
depan Indonesia yang sangat plural di bawah Pancasila. Bersama-sama kami
mempromosikan pluralisme, toleransi, dan inklusivisme agar mendapat
apresiasi dan dukungan dari arus besar masyarakat Indonesia.
Dengan penghargaan ini, apa harapan Anda selanjutnya?
Minimal, penghargaan ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk
ikut terus mendorong budaya saling menghargai perbedaan di antara kita.
Penghargaan terhadap pluralitas itu harus terus didesakkan menjadi
kultur. Sebab, saudara seibu dan seayah pasti memiliki perbedaan,
apalagi dengan keberagaman suku, agama, dan ras yang dimiliki Indonesia.
Saya begitu merindukan terwujudnya hal itu menjadi sebuah common
platform dari masyarakat di sini. Titik akhirnya, tentu adalah
perdamaian.
Anda optimistis hal itu akan terwujud?
Saya sadar bahwa perdamaian mempunyai banyak halangan dan tantangan.
Tapi, tanpa perdamaian, hidup menjadi tidak relevan (irrelevant) dan
tidak bermakna lagi (meaningless). Karena itu, tidak boleh lelah
memperjuangkannya.
Untuk menguatkan tekad tersebut, saya ingin mengungkapkan filosofi
sederhana hidup saya. Bahwa tidak hanya orang beriman yang berhak hidup
di muka bumi, tapi juga orang yang tidak beriman, bahkan ateis sekalipun.
Dengan satu syarat, semuanya sepakat untuk hidup berdampingan dengan
saling menghargai dan menghormati secara damai. Jika itu kita yakini,
semuanya jadi lebih ringan.
Bagaimana Anda membuat hal itu menjadi kesadaran bersama?
Soal filosofi itu ada juga yang marah. Tapi, asal diketahui, saya
mengambilnya dari intisari Alquran. Tuhan mengatakan, beriman atau tidak
beriman itu persoalan pilihan saja. Orang boleh beriman, boleh juga
tidak. Tidak ada seorang pun yang berhak memaksa-maksa. Dalam Surat
Yunus ayat 100 dinyatakan bahwa persoalan iman itu bukan urusan Allah.
Itu murni hak manusia, muncul dari kesadaran kita semua. Yang paling
penting adalah kerukunan dan tidak saling mengganggu. Tidak saling
membunuh, tidak pula saling meniadakan. Roda sejarah harus kita putar ke
arah itu.
Menurut Anda, sebenarnya bagaimana realitas penghargaan terhadap
perbedaan di negeri ini?
Dalam sejumlah kesempatan berbicara di kalangan internasional, saya
selalu menyatakan kalau sebenarnya secara umum toleransi umat beragama
di Indonesia cukup baik. Memang, ada kelompok-kelompok kecil dengan
jumlah yang kecil pula, menurut saya, masih berpikiran sempit. Mereka
itulah yang menyesakkan dada. Tapi, saya yakin, seiring keadaan negeri
yang makin membaik, keadilan sosial yang makin terjamin, dan sebagainya,
seharusnya kelompok-kelompok itu akan menghilang dengan sendirinya.
Apa peran yang harus diambil kelompok mayoritas, semisal NU dan
Muhammadiyah untuk mendorong penghargaan terhadap perbedaan?
Itu yang sebenarnya saya prihatinkan. Organisasi masyarakat kita terlalu
disibukkan untuk hanya mengurusi masalah-masalah keseharian. Misalnya,
sibuk ngurusi sekolah-sekolah atau lembaga kesehatan yang dimiliki. Tapi,
masalah kenegaraan yang seperti ini kerap terlewatkan.
Apakah ini artinya kita semakin kehilangan tokoh yang memiliki jiwa
kenegarawanan?
Saya memang makin tidak melihatnya saat ini. Dalam diri para pemimpin
dan politikus negara ini tidak tecermin ciri tersebut. Tampaknya, kita
sedang benar-benar miskin sosok negarawan. Para pemimpin kita, termasuk
para pemimpin ormas, sering terjebak pada hal-hal yang sempit dan
pragmatis. Padahal, di sisi lain, elite NU maupun Muhammadiyah
sebenarnya untuk menggaungkan solusi atas masalah-masalah bangsa. Mereka
dituntut bicara tentang persoalan bangsa. Bicaralah yang lantang, tapi
sopan. Itu yang seharusnya. (dian wahyudi/nw)
|
|