| MAJALAH TI-36 |
|
|
 |
MTI-36: TOKOH UTAMA: 01
02
03
04
05
WAWANCARA: 06
TOKOH PILIHAN:
07 PERSPEKTIF:
08
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24 == Agustin Teras Narang
Profil Provinsi Kalimantan Tengah 50 Tahun Mengejar
Ketertinggalan & Menggali Potensi Sumberdaya Alam (1957-2007)
MTI-36-08- PERSPEKTIF: Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal
23 Mei 2007 ini genap berusia 50 tahun. Didirikan sejak 23 Mei 1957,
memasuki “Tahun Emas”pemilik julukan “Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah
Sejuta Sungai” ini semakin mantap menatap kesejahteraan di masa depan.
Kalteng saat ini aktif bergerak mengejar ketertinggalannya, sekaligus
menggali potensi sumberdaya alam untuk memulihkan martabat Kalteng.
Segala akibat ketertinggalan karena ketimpangan pembangunan masa lalu,
akibat kekurangberpihakan pusat kepada daerah, serta akibat kesalahan
dalam mendesain model pembangunan di daerah, dihadapi warga dan pemimpin
Kalimantan Tengah dengan penuh optimisme.
Demikian pula segala duka masa lalu pupus oleh besarnya harapan yang
ditebar oleh pemimpin baru mereka, Agustin Teras Narang dan Achmad Diran.
Inilah profil Provinsi Kalimantan Tengah dan kondisi aktual yang
melingkupinya.
“Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah Sejuta Sungai” adalah nama lain yang
diberikan kepada Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), yang pada tanggal
23 Mei 2007 ini memasuki “Tahun Emas” saat genap berusia 50 tahun.
Sebutan khas “Daerah Sejuta Sungai” sangat mengena dan beralasan sekali
mengingat begitu banyaknya sungai besar dan kecil yang mengaliri
provinsi terbesar ketiga di Indonesia ini.
Sungai sekaligus pula berfungsi sebagai urat nadi perekonomian dan
tulang punggung sarana transportasi utama masyarakat Kalimantan Tengah
yang terdiri dari bermacam etnis suku bangsa. Provinsi yang dinahkodai
oleh duet Agustin Teras Narang SH dan Ir. H. Achmad Diran, kini sedang
giat-giatnya bekerja keras demi mengejar ketertinggalannya dengan
provinsi-provinsi lain.
Selama lima tahun kepemimpinannya (2005-2010), Teras Narang dan Achmad
Diran merumuskan visi pembangunan dengan seuntai kalimat yang cukup
menyentuh, sekaligus menyejukkan, “Menembus Isolasi Menuju Kalimantan
Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat”.
Istilah “isolasi”, barangkali, mengandung makna kerendahan hati dan
kesadaran kalangan penyelenggara pemerintahan provinsi, bahwa daerah
yang sedang mereka bangun saat ini memang masih harus diperjuangkan
kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
Seluruh aparat penyelenggara pemerintahan masih harus bekerja keras
untuk “merapatkan barisan” memadusatukan visi misi, serta mempertautkan
semua wilayah dan semua potensi sosial, ekonomi dan politik yang ada di
daerah yang kaya akan sumberdaya alam ini.
Keberhasilan pembangunan memang harus diarahkan demi peningkatan
kesejateraan masyarakat Kalteng secara keseluruhan, dan bukan
kesejahteraan orang per orang atau kelompok/golongan. Peningkatan
kesejahteraan sangat diharapkan mampu memulihkan martabat warga
Kalimantan tengah, yang di era Orde Baru terabaikan bahkan setelahnya
malah menjadi sempat tercabik-cabik.
Provinsi Kalimantan Tengah yang beribukotakan Palangkaraya merupakan
provinsi terluas ketiga di Indonesia setelah Papua dan Kalimantan Timur.
Luas wilayahnya mencapai 153.564 kilometer persegi atau hampir satu
setengah kali luas pulau Jawa. Namun penduduknya masih tergolong jarang.
Hingga akhir tahun 2005, penduduk Kalteng baru mendekati 2 juta orang,
atau hanya 13 jiwa per kilometer persegi.
Berdiri 23 Mei 1957
Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat
Nomor 10 tahun 1957 tertanggal 23 Mei 1957. Tercatat dalam Lembaran
Negara Nomor 53 tahun 1957 dan dalam Tambahan Lembaran Negara Nomor
1284. Undang-Undang Darurat ini kemudian diperkuat dengan terbitnya UU
No. 21 Tahun 1958.
Itulah sebab tanggal 23 Mei dijadikan sebagai hari jadi kelahiran
Provinsi Kalimantan Tengah. Sejak berdiri hingga tahun 2007, Provinsi
Kalimantan Tengah sudah pernah memiliki 12 orang pemimpin. Agustin Teras
Narang adalah Gubernur ke-12.
Presiden RI pertama Bung Karno turut berperan besar mewujudkan
terciptanya provinsi baru yang kemudian diberi nama Kalimantan Tengah,
bersama-sama dengan para tokoh Kalimantan Tengah diwakili Tjilik Riwut.
Bahkan Bung Karno ketika itu sempat pula menggagas agar Ibukota Negara
Kesatuan Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Palangkaraya,
yang letaknya persis di tengah-tengah Nusantara.
Provinsi Kalimantan Tengah semula terdiri dari tiga daerah otonom,
berasal dari eks daerah Dayak Besar dan Swapraja yang berada dalam
Keresidenan Kalimantan Selatan. Ketiga daerah otonom tersebut adalah
Kabupaten Barito, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Kotawaringin.
Provinsi Kalimantan Tengah pernah menjadi pusat perhatian masyarakat
Indonesia dan dunia internasional, ketika Pemerintah Orde Baru
mencanangkan proyek raksasa yang terkenal dengan nama Proyek Lahan
Gambut Sejuta Hektar (PLG), berlokasi di beberapa kabupaten di
Kalimantan Tengah.
Hingga kini PLG masih tetap terkenal namun dalam konteks yang sudah
berbeda. Gubernur Agustin Teras Narang belum lama ini berhasil
memperjuangkan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) tentang Percepatan
Rehabilitasi dan Revitalisasi Proyek Lahan Gambut (PLG), yang akan
menjadi payung hukum pemadusatuan semua institusi di pusat dan daerah
untuk terlibat aktif menyelamatkan PLG kembali ke fungsinya yang paling
optimal.
Berdasarkan Inpres tersebut, hingga tahun 2009, PLG membutuhkan dana
rehabilitasi dan revitalisasi sebesar Rp 9 triliun.
Dunia internasional termasuk setuju dengan program Teras Narang, seperti
pemerintah Belanda. Ketika berkunjung ke Negeri Kincir Angin tersebut,
atas undangan pemerintah dan sejumlah LSM di sana, Gubernur Teras Narang
atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menerima donasi sebesar
5 juta euro untuk rehabilitasi PLG.
Mengalami Pemekaran
Berdasarkan UU Nomor 5 tahun 2002 Provinsi Kalimantan Tengah mengalami
pemekaran. Provinsi ini dimekarkan dari sebelumnya 5 kabupaten dan 1
kotamadya, menjadi 13 kabupaten dan 1 kotamadya. Peresmiannya dilakukan
oleh Mendagri Hari Sabarno, 2 Juli 2002.
Ketigabelas kabupaten tersebut adalah Kabupaten Kotawaringin Barat (dengan
ibukota Pangkalan Bun), Kota Waringin Timur (Sampit), Kabupaten Kapuas
(Kuala Kapuas), Kabupaten Barito Selatan (Buntok), Barito Utara (Muara
Teweh), Kabupaten Sukamara (Sukamara), Kabupaten Lamandau (Nanga Bulik),
Kabupaten Seruyan (Kuala Pembuang), Kabupaten Katingan (Kasongan),
Kabupaten Pulang Pisau (Pulang Pisau), Kabupaten Gunung Mas (Tamiang
Layang), dan Kabupaten Murung Raya dengan ibukota Puruk Cahu. Ditambah
satu Pemerintahan Kota Palangkaraya, yang juga merupakan ibukota
Provinsi Kalimantan Tengah.
Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten yang terbanyak penduduknya yaitu
340.236 jiwa, sedangkan kabupaten yang paling sedikit penduduknya adalah
Sukamara yang dihuni hanya oleh 33.553 jiwa. Kota Palangka Raya
merupakan daerah yang terpadat penduduknya yakni 76 jiwa/km2, sedangkan
yang paling jarang penduduknya adalah Kabupaten Murung Raya dengan
kepadatan hanya 4 jiwa/km2.
Dengan demikian, setelah pemekaran saat ini Provinsi Kalimantan Tengah
memiliki sebanyak 105 kecamatan, 66 kademangan, 120 kelurahan, dan 1.356
desa termasuk Unit Pemukiman Transmigrasi dan pemukiman masyarakat
terasing wilayah Kalimantan Tengah.
Penggunaan lahan di “Bumi Tambun Bungai” ini mayoritas diperuntukkan
untuk hutan dan pertanahan lainnya sekitar 134.934,25 kilometer persegi
(87,87 persen), disusul peruntukan sawah dan ladang seluas 10.744,79 km2
(7 persen), perkebunan 6.637,62 km2 (4,32 persen), dan untuk wilayah
pemukiman dan bangunan lainnya 1.24,24 km2 (0,81 persen).
Teras Narang memiliki peran besar memekarkan Kalimantan Tengah menjadi
beberapa kabupaten dan kotamadya, saat menjabat sebagai Ketua Komisi II
DPR RI yang salah satunya membidangi Departemen Dalam Negeri.
Dialiri 11 Sungai Besar
Julukan “Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah Sejuta Sungai” sangat mengena
bagi Provinsi Kalimantan Tengah.
Salah satu ciri khas Kalimantan Tengah adalah hampir seluruh wilayahnya
dialiri oleh sungai-sungai besar maupun kecil yang mengalir dari utara
hingga ke selatan dan bermuara di Laut Jawa.
Tak kurang 11 sungai besar serta 33 sungai kecil membelah Provinsi
Kalimantan Tengah. Aliran sungai merupakan potensi alam yang dapat
dikembangkan untuk berbagai keperluan.
Ke-11 sungai besar yang memberikan kekayaan dan keindahan alam
Kalimantan Tengah itu adalah Sungai Barito dengan panjang 900 km dan
lebar 500 meter. Kemudian disusul Sungai Katingan (panjang 650 km, lebar
450 m), Sungai Kahayan (600 km, 450 m), Sungai Kapuas (600 km, 450 m),
Sungai Mentaya (400 km, 350 m), Sungai Seruyan (350 km, 250 m), Sungai
Lamandau (300 km, 150 m), Sungai Arut (250 km, 100 m), Sungai Sebangau
(200 km, 100 m), Sungai Jelai (200 km, 150 m) dan Sungai Kumai (175 km,
250 m).
Sungai-sungai tersebut dapat dilayari sampai ratusan kilometer jauhnya
ke arah hulu. Karena itulah, angkutan sungai merupakan salah satu urat
nadi perekonomian daerah ini.
Walau kondisi geografis wilayahnya sebagian besar masih terisolir,
potensi Provinsi Kalimantan Tengah sesungguhnya sangat pantas untuk
diperhitungkan. Provinsi ini memiliki potensi yang cukup melimpah berupa
hasil kehutanan, pertambangan, perikanan, wisata alam dan sebagainya.
Khusus dalam pembangunan pertanian, sebagaimana disebut di muka,
keharuman Provinsi Kalimantan Tengah sempat mencuat ke permukaan ketika
pemerintah pusat mencanangkan Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar
terletak di beberapa kabupaten dan kota Palangkaraya). PLG yang sempat
terlantar beberapa tahun tetap saja mencuatkan harapan besarnya potensi
Kalimantan Tengah sebagai gudang pangan nasional di masa depan,
khususnya untuk kawasan timur Indonesia. Keharuman itu sudah sangat
lekat sekali dengan citra Kalimantan Tengah.
Untuk itulah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama pusat,
memprogramkan kembali pemanfaatan potensi tersebut, lewat perjuangan
menerbitkan Inpres Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi PLG agar
suatu saat Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan benar-benar menjadi
kenyataan.
Didiami Beragam Etnis
Latar belakang etnis penduduk yang bermukim di Kalimantan Tengah cukup
beragam. Selain terdiri dari penduduk asli yang jumlahnya terbesar,
yaitu Suku Dayak, yang masih terbagi lagi ke dalam berbagai sub etnis,
hampir semua suku di Indonesia terdapat di daerah ini terutama di kota
Palangkaraya. Misalnya, suku Banjar, Batak, Madura, Melayu, Padang, dan
China dan sebagainya hidup rukun selama puluhan tahun.
Tidaklah salah apabila Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya kota
Palangkaraya dapat disebut sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia.
Mereka berbeda-beda tetapi tetap satu dalam semangat “Bumi Tambun Bungai”.
Demikian pula dari segi agama, masing-masing warga hidup damai dan
toleran walau menganut agama yang berbeda-beda. Semua agama hidup subur
dan damai di Kalimantan Tengah, termasuk agama Kaharingan yang merupakan
warisan lelulur Suku Dayak Kalimantan.
Dari segi sosial budaya, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mempunyai
sifat keterbukaan dan jiwa toleransi yang tinggi. Karakter ini tercermin
dalam falsafah “Huma Betang”, di mana dalam sebuah rumah besar adat
tinggal bersama sejumlah keluarga dengan segala perbedaannya: status
sosial, ekonomi maupun agama.
Namun sebagai satu komunitas, mereka tetap hidup rukun, harmonis,
toleran dan kooperatif. Sifat gotong-royong masyarakat Suku Dayak
masih tetap terpelihara sampai kini terutama terlihat dalam gerak
hidupnya bermasyarakat. Tercermin misalnya, dalam tradisi kerja “Habaring”,
“Hurung”, “Handep”, dan “Harubuh”.
Sementara keragaman seni budaya baik yang tradisional maupun kontemporer
terus pula berkembang dan terpelihara dengan baik. Berbagai ragam dan
jenis kesenian tradisional masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat
di daerah ini, antara lain seni tari, seni suara, seni rupa, seni ukir
dan seni anyam-anyaman.
Seni tari yang ada di Kalimantan Tengah sebagian besar merupakan tari
pergaulan, sebagian lagi tarian yang bersifat magis namun sering
dikreasikan menjadi tarian pertunjukan. Beberapa tarian khas Kalimantan
Tengah yang sampai saat ini masih terus dipelihara adalah Tari Deder,
Tari Kinyah, atau Tari Mandau yang tersaji dalam bentuk tari.
Sementara seni suara berupa lagu-lagu daerah dikenal dengan istilah
Karungut, Kandan, Parung , Karinci dan lain-lain. Kalimantan Tengah juga
kaya dengan berbagai jenis upacara adat seperti Tiwah, Manyanggar Lewu (bersih
desa), Mampakanan Sahur Parapah.
Tiwah merupakan upacara ritual agama Kaharingan yaitu mengantarkan arwah
orang yang telah meninggal ke Lewu Tatau (Sorga). Acara ini memakan
waktu yang cukup lama hingga mencapai sekitar satu bulan atau lebih.
Kondisi Perekonomian
Penduduk Kalimantan Tengah yang berumur 10 tahun ke atas atau masuk
kategori usia produktif jumlahnya mencapai 75 persen.
Penduduk yang berumur 10 tahun ke atas itu sebagian besar bekerja di
sektor pertanian. Sektor keuangan adalah sektor yang terkecil
penyerapannya. Komposisi angkatan kerja di Kalimantan Tengah didominasi
oleh penduduk yang berusia antara 25-29 tahun sebanyak 57 persen.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama segenap unsur masyarakat
terus berupa menurunkan tingkat angka kemiskinan. Dari sebanyak
1.958.428 jiwa jumlah penduduk Kalimantan Tengah, yang termasuk kategori
keluarga miskin sebesar 40,93 persen (2003). Tetapi usia harapan hidup
masyarakatnya termasuk cukup tinggi yakni 71,98 tahun.
Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2004 mengalami pertumbuhan ekonomi
sebesar 4,98 persen. Dari angka ini sektor pertanian masih sangat
dominan memberikan kontribusi, yakni sekitar 47,54 persen atau hampir
separuh dari total PDRB provinsi.
Kontributor terbesar kedua adalah sektor perdagangan sebesar 19,94
persen, kemudian diikuti sektor jasa 11,05 persen, sektor angkutan dan
komunikasi 7,43 persen, sektor industri pengolahan 6,43 persen, sektor
bangunan 4,2 persen, dan sektor pertambangan 0,79 persen.
Yang cukup menggembirakan dari Provinsi Kalimantan Tengah adalah
Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya yang dari tahun ke tahun terus
meningkat. Pada tahun 2004, misalnya, PAD Kalimantan Tengah baru
mencapai Rp 120 miliar. PAD itu kemudian naik di tahun 2005 menjadi Rp
135,57 miliar, dan tahun 2006 menjadi sekitar Rp 188,969 miliar.
Penyumbang terbesar PAD berasal dari retribusi daerah dari jasa
pelayanan kesehatan, ijin trayek, pengujian kendaraan, sewa tanah dan
bangunan yang jumlahnya mencapai Rp 12,68 miliar. Kemudian laba usaha
daerah yang bersumber dari keuntungan Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Kalimantan Tengah, dan dari perusahaan daerah Banana Tingang sebesar Rp
7,095 miliar. Sedangkan dari pendapatan lain-lain seperti dari giro,
penjualan aset, penerimaaan dinas-dinas jumlahnya mencapai sebesar Rp
9,889 miliar. Total PAD selama tahun 2006 mencapai Rp 188,969 miliar.
Bersamaan itu Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi
Kalimantan Tengah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Teras
Narang bersama segenap unsur Muspida, terutama dengan kalangan DPRD
mempunyai komitmen yang sama untuk terus menaikkan APBD ini.
Apabila pada tahun 2004 APBD Kalimantan Tengah baru mencapai Rp 300
miliar, pada tahun 2005 mulai naik menjadi Rp 500 miliar, dan tahun 2006
melonjak lagi menjadi Rp 962 miliar.
Memasuki tahun 2007 APBD Kalimantan Tengah berhasil menembus angka
psikologis Rp 1 triliun, tepatnya di angka Rp 1,082 triliun.
Peningkatan APBD adalah salah satu janji kampanye Teras Narang bersama
Achmad Diran. Keduanya berjanji pada tahun 2008 APBD Kalimantan Tengah
akan tembus Rp 1 triliun. Tetapi nyatanya sebelum waktunya tiba APBD di
atas Rp 1 triliun sudah terealisasi.
Walau APBD Kalimantan Tengah tergolong terkecil diantara tiga provinsi
lain di pulau Kalimantan, Teras Narang dan Achmad Diran bersama DPRD dan
segenap unsur Muspida yakin salah satu cara tercepat membangun “Bumi
Tambun Bungai” adalah memperbesar APBD tahun demi tahun.
Provinsi Kalimantan Tengah terus mengalami peningkatan komposisi dana
perimbangan. Peningkatan akselerasi itu tergambarkan dari tahun 2005 ke
2006.
Pada tahun 2005 Kalimantan Tengah memperoleh Bagi Hasil Pajak dan Bukan
Pajak sebesar Rp 67,750 miliar, dan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp
287,641 miliar. Memasuki tahun 2006 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
naik menjadi Rp 85,25 miliar, sedangkan DAU melejit menjadi Rp 552
miliar.
Kondisi Infrastruktur
Kalimantan Tengah kini memiliki panjang jalan sekitar 12.200 km, terdiri
dari jalan negara 1.714 km, jalan provinsi 1.776 km, dan jalan kabupaten
sepanjang 8.710 km.
Khusus jalan negara yang menghubungkan keempat provinsi di Pulau
Kalimantan sepanjang 1.714 km. Yang juga dikenal dengan nama Trans
Kalimantan, dimana 85 persen dalam kondisi rusak berat. Yang bisa
dinikmati hanya 15%. Pemerintah lama hanya bisa membangun tapi tak kuasa
merawat dengan baik.
Gubernur Teras Narang yang pada awal Februari 2007 terpilih sebagai
Koordinator Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan di
Kalimantan, menegaskan, perbaikan jalan negara Trans Kalimantan harus
selesai tahun 2009. Ia berprinsip, jalan negara Trans Kalimantan adalah
haknya seluruh wrga Kalimantan, bukan pemberian pusat.
Berdasarkan prinsip itulah, perbaikan jalan negara selama satu tahun
pertama kepemimpinannya berhasil diperbaiki sebanyak 26 persen. “Karena
doa orang banyak saya bisa memperkecil dari yang 85% itu hilang 26%,”
kata Teras. Memasuki tahun 2007 masih tersisa jalan rusak 63 persen,
ditargetkan selesai diperbaiki sekitar 20%-25%. Sehingga, kelak jalan
rusak yang masih tersisa 40% dapat diperbaiki di tahun 2008-2009.
“Nanti, terutama untuk tahun 2009 semuanya dalam keadaan memadai
sehingga empat provinsi di Kalimantan, Tengah, Selatan, Timur, dan Barat
bisa terintegrasi,” ujarnya.
Kalimantan Tengah memiliki delapan buah pelabuhan laut yang dapat
dipergunakan sebagai infrastruktur kegiatan angkutan perdagangan barang
dan jasa serta lalulintas manusia. Yakni Pelabuhan Laut Kumai di
Kabupaten Kotawaringin Barat, Pelabuhan Laut Sampit di Kabupaten
Kotawaringin Timur, Pelabuhan Kapuas di Kabupaten Kapuas, Pelabuhan
Palang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau, Pelabuhan Sukamara di Kabupaten
Sukamara, Pelabuhan Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan, Pelabuhan
Pegatan Mendawaidi Kabupaten Katingan, dan Pelabuhan Sebangau di Kota
Palangkaraya.
Sementara bandar udara (Bandara) yang ada seluruhnya berjumlah 9 buah,
yakni Bandara Tjilik Riwut di kota Palangkaraya, Bandara Iskandar di
Pangkalan Bun, Bandara H. Asan di Sampit, Bandara Beringin di Muara
Teweh, Bandara Sangkelemo di Kuala Kurun, Bandara Sanggu di Buntok,
Bandara Dirung di Puruk Cahu, Bandara Kuala Pembuang di Kuala Pembuang,
dan Bandara Tumbang Samba di Tumbang Samba.
Pengembangan jaringan rel kereta api adalah sesuatu yang sangat
prospektif untuk dibangun guna membelah sekaligus membuka isolasi
Provinsi Kalimantan Tengah. Prospek itu sedemikian besarnya seiring
dengan potensi sumber daya alam bahan galian di Kalimantan Tengah,
khususnya batubara yang banyak tersedia di bagian Utara seperti di
Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Utara.
Sumberdaya alam batubara sudah mulai dieksploitasi. Maka itu, tahapan
pertama pembangunan rel kereta api yang akan membelah Kalimantan Tengah
adalah rute Puruk Cahu-Muara Teweh-Kandui-Ampah-Buntok-Mentanga-Pulang
Pisau-Pelabuhan Laut Bahaur sebagai outlet wilayah Kalimantan Tengah.
Selanjutnya ke arah wilayah tengah adalah membuka rute dari Puruk
Cahu-Tumbang Laung-Kuala Kurun-Tumbang Jutuh-Rabambang-Tumbang
Talaken-Palangkaraya-Pulang Pisau.
Sementara itu, khusus untuk mengangkut hasil kehutanan dan perkebunan di
outlet bagian tengah akan dipilih rute Rabambang-Kuala Pembuang-Teluk
Segintong. Masih untuk mengangkut hasil kehutanan dan perkebunan, untuk
outlet bagian barat dipilih rute Tumbang Samba-Pangkalan Bun-Pelabuhan
Laut Kumai.
Beberapa sektor lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan di
Kalimantan Tengah untuk mendatangkan devisa karena prospeknya yang
demikian cerah, adalah sektor perikanan, perkebunan, kehutanan dan
pertambangan.
Sektor perikanan hingga saat ini masih didominasi usaha penangkapan ikan
baik penangkapan di laut maupun di perairan umum. Rakyat dan pemerintah
Provinsi Kalimantan Tengah memanfaatkan sungai-sungai besar untuk
kegiatan budidaya perikanan air tawar.
Di sungai-sungai besar di Kalimantan Tengah saat ini dikembangkan produk
unggulan udang dan kepiting, kemudian labi-labi dan ikan hias. Data
hasil perikanan tahun 2003 menunjukkan, perikanan tangkap laut
menghasilkan ikan sebesar 56.758 ton, dari perairan umum dan sungai
sebesar 34.884 ton, perikanan tambak payau sebesar 1.424 ton, dan
perikanan tambak 621 ton.
Kondisi Karet dan Kelapa Sawit
Provinsi Kalimantan Tengah dikenal pula dengan sebutan lain sebagai
“Provinsi Seribu Pulau”. Sebab ia memiliki potensi besar perkebunan
terutama perkebunan karet dan kelapa sawit.
Kalimantan Tengah memiliki ketersediaan potensi lahan untuk pengembangan
perkebunan tak kurang dari 6,637 juta hektar. Dari luasan ini tanaman
perkebunan yang sudah terbentuk menjadi perkebunan karet baru mencapai
346,51 ribu ha, dan perkebunan sawit terdiri 295,94 ribu ha.
Hingga tahun 2010 Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sudah mencangkan
akan membangun tambahan perkebunan besar rakyat, terdiri 152 ribu hektar
perkebunan karet dan 450 ribu hektar perkebunan sawit. Total anggaran
yang akan dialokasikan mencapai Rp 14 triliun.
“Ini, sepenuhnya adalah milik rakyat. Bukan lagi milik si A milik si B
tapi sepenuhnya milik rakyat,” kata Teras mengoreksi model pembangunan
era lama yang hanya menempatkan rakyat sebagai objek pembangunan, bukan
subjek.
Di perkebunan rakyat, yang digagas Gubernur Teras Narang pengusaha hanya
akan berperan sebagai developer atau pengembang. Pengusaha membangun
perkebunan milik rakyat setelah memperoleh subsidi kredit komersial dari
pemerintah sebesar enam persen. Dengan demikian, dari bunga kredit
komersial yang saat ini mencapai 16 persen pengusaha hanya dibebani
membayar bunga 10 persen saja.
Sektor kehutanan merupakan primadona masa lalu Kalimantan Tengah.
Provinsi ini memiliki luas areal lahan kehutanan 13,494 juta hektar,
atau sekitar 87 persen dari seluruh luas wilayah Kalimantan Tengah.
Tetapi dengan berkurangnya produksi kayu bulat dan kayu olahan,
Kalimantan Tengah kini beralih memacu produksi rotan sega/taman yang
pada tahun 2003 mencapai produksi 1.099 ton, kemudian rotan irit, rotan
semambu, jetah jelutung, damar dan lain-lain.
Di sektor pertambangan, Provinsi Kalimantan Tengah secara serius
memprioritaskan eksploitasi batubara. Dari hasil penelitian diketahui,
“Bumi Tambun Bungai” memiliki cadangan deposit batubara sekitar 1 miliar
ton, sementara jumlah kandungan batubara yang sudah terbukti, mencapai
43 juta ton.
Bahan galian batubara tersebar merata antara lain di Kabupaten Murung
Raya, Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito
Timur, Kabupaten Kapuas, Gunung Mas dan Kabupaten Katingan.
Bahan galian berupa emas dan perak terdapat di hampir seluruh kabupaten.
Sedangkan zirkon dan biji besi tersebar di Kabupaten Lamandau, Kabupaten
Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Ktingan, Gunung Mas dan
Kota Palangkaraya. Sebagian dari bahan galian tersebut sudah diusahakan
oleh kalangan investor termasuk bahan galian industri (golongan C).
Pertimbangkan Berbagai Aspek
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sudah menetapkan kebijakan bahwa
penetapan pengembangan komoditas unggulan masa depan dilakukan dengan
mempertimbangkan berbagai aspek seperti potensi lahan, nilai ekonomis,
penciptaan lapangan kerja, serta kelestarian lingkungan.
Berdasarkan kriteria tersebut, provinsi ini menetapkan sejumlah komoditi
unggulan yang akan dipacu pengembangannya, yakni usaha perikanan
budidaya, pengembangan kelapa sawit, karet, hutan tanaman industri,
batubara dan sebagainya.
Dengan mempertimbangkan berbagai ketertinggalan yang dimiliki, tetapi
bersamaan itu menengok pula beragam potensi besar yang dimiliki, maka
akan sangat terbuka kesempatan berusaha luas sekali di Kalimantan Tengah.
Ini mengibaratkan cerita lama bagaimana sebuah perusahaan sepatu
multinasional yang sudah kelas dunia, memiliki cara bagaimana melihat
benua hitam Afrika saat dahulu kehidupannya masih tertinggal sebab tak
ada satu pun warganya yang mengalasi kaki dengan sepatu.
Kemudian muncullah berkembang dua pemikiran di kalangan para eksekutif
perusahaan sepatu kelas dunia tersebut. Pertama pemikiran yang
pesimistik, yang mengatakan industri dan perdagangan sepatu tak akan
bisa bertahan hidup di benua hitam itu karena warganya tak satupun yang
mau bersepatu.
Tetapi pandangan positif mengatakan berbeda seratus delapan puluh
derajat. Mereka mengatakan justru warga yang belum satu orangpun
bersepatu itu sebagai potensi pasar terbesar untuk pemasaran sepatu
mereka, bila potensi besar itu berhasil digali dan dibangunkan.
Dengan sistem pemasaran yang menekankan pada pendekatan edukasi pasar
maka, bila berhasil, dan ini sangat mereka yakini akan sangat berhasil,
kelak seluruh warga Afrika yang belum bersepatu itu adalah akan menjadi
pembeli dan pengguna terbesar sepatu. Dan benua Afrika akan menjadi
pusat peredaran baru sepatu terbesar dunia.
Pandangan positif itulah yang akhirnya terbuktikan menang. Saat ini
nyaris semua warga Afrika sudah mengenakan sepatu.
Demikian pula investor memandang Provinsi Kalimantan Tengah. Apabila
digunakan pandangan positif, dan diyakini itu pasti benar,
ketertinggalan yang saat ini menyelimuti keseluruhan Provinsi Kalimantan
Tengah justru merupakan peluang pasar yang pasti. Termasuk potensi alam
yang dimiliki adalah sumberdaya yang tak akan habis dalam waktu singkat
ini.
Maka itu kedua-duanya antara mengejar ketertinggalan dan menggali
potensi harus disinergikan. Ketertinggalan dalam segala hal harus
dikejar. Dan investasi dalam mengejar ketertinggalan serta menggali
potensi itu pasti akan kembali, sebab sumberdaya alam yang dimiliki
“Bunga Tambun Bungai” ini sangat cukup untuk melunasinya.
Nyatalah, di tangan para pemikir yang optimistik ketertinggalan justru
sebuah potensi yang bila digali untuk menghasilkan sesuatu yang lebih
bernilai. Optimisme Teras Narang bersama Achmad Diran dan segenap unsur
Muspida hadir untuk mewujudkan itu semua, supaya kesejahteraan
masyarakat Kalimantan Tengah bisa lebih bermartabat. ►ti-crs-tum-ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|