| |
C © updated 23042008 -
06122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama :
KH Achmad Mustofa Bisri
Lahir :
Rembang, 10 Agustus 1944
Agama :
Islam
Jabatan:
Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah
Istri:
Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah:
Mustofa Bisri
Ibu:
Ma’rafah Cholil
Pendidikan :
- Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
- Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
- Raudlatuh Tholibin, Rembang
- Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Karya Tulis Buku:
- Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
- Ensklopedi Ijma' (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka
Firdaus, Jakarta, 1987);
- Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya
Favorit Press Jakarta, 1979);
- Kimiya-us Sa'aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
- Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
- Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
- Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
- Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
- Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan
II, Jakarta, 1995);
- Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
- Mahakiai Hasyim Asy'ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
- Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia
Surabaya, 1996);
- Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
- Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
- Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz,
Rembang, 1997);
- Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit
Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
Organisasi:
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode
1994-1999 dan 1999-2004
Alamat Rumah :
Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Jalan Mulyo No. 4 Rembang
59217 Telepon/Faksimile : 0295-691483
Sumber:
Antara lain, Kompas Minggu 24 Oktober 2004, Gatra Nomor 8/IV, 10
Januari 1998, dan PDAT
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
KH Achmad Mustofa Bisri
Sang Kiyai Pembelajar
Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini
telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan
politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius.
Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut
Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi
Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di
Boyolali, Jawa Tengah.
KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip
harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia
selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus
Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada
Muktamar NU ke-31 itu.
“Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap
berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya,” jelas
alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah
mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya
waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku
sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab
dengan bumbu tambahan.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri.
Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya,
KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut
Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.
Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut
prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang
kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah
tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren
Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren
Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama
hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung
diasuh ayahnya.
KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling
banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan
kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas
Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga
tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di
antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad
Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri
di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan
pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.
Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin
dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra
Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang
Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota
Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.
Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak
sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu
di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi
tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula
menjadi tempat mengajar santrinya.
Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu
yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di
karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba,
keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf,
Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal
di situ.
Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan,
pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi.
Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap
kritisnya terhadap “budaya” yang berkembang dalam masyarakat. Tahun
2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista
menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan
lukisannya yang berjudul “Berdzikir Bersama Inul”. Begitulah cara Gus
Mus mendorong “perbaikan” budaya yang berkembang saat itu.
Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren
Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah
satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi.
Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga
setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan
menggambar. “Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret.
Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius,” kata Gus
Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus
rokok.
Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan
amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung
Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa
Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat
lukisannya beda dengan kaligrafi. “Sebagian besar kaligrafi yang ada
terkesan tulisan yang diindah-indahkan,” kata Jim Supangkat, memberi
apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran
lukisan.
Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di
Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin
majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada
halaman kosong, Mustofa Bisri diminta mengisi dengan puisi-puisi
karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia
diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun,
atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu,
Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.
Namun adalah Gus Dur pula yang ‘mengembalikan’ Gus Mus ke habitat
perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian
Jakarta, Gus Dur membuat acara “Malam Palestina”. Salah satu mata acara
adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan
puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang
fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair
Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul
dengan para penyair.
Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai
diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi
mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak,
Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah
kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang
ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri
Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk
maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang
pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia
diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.
Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak
yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi
Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993),
Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia
juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas
Manusia (1990).
Tentang kepenyairan Gus Mus, ‘Presiden Penyair Indonesia’ Sutardji
Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak
berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam
gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau
berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya
langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise.
“Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan
pendamba kearifan,” kata Sutardji.
Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi
Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang
kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: “Tuhan,
kami sangat sibuk. Sudah.”
Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan
cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku
yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama
KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga
menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia
menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh
Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).
Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, “Doaku untuk Indonesia”
dan “Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia”. Buku yang berisi kumpulan humor sejak
zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media
massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya “panas” jika tulisan
kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya
ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat,
guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus
Mus juga rajin membuat catatan harian.
Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk
aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari
Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang.
Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan
Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa
Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.
Enggan Ketua PB NU
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan
sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan
kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri
sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di
Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan
langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib
Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama
yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru
bersikukuh menolak.
Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan
calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu
Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah
‘berpasangan’ dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan
Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH
Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur,
ulama ‘kontroversial’.
Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak
merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri.
Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian
pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan
Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau
dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu,
ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun
gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.
Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah
ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa
Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri
digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang
pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang
diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. “Selama
saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya,
karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan
dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah,” kata
Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami
selama menjadi politisi.
Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus.
Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke
permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia
selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai
calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta
kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Ma’rafah
Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya
menjawab lugas khas warga ulama NU, ”Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB
NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum.
Nanti saya tak pernah ketemu.”
Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas
menyebutkan, “Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak,” ucap pria
bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur
selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta
makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum
turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur
melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah
Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya
bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang
pula berkomunikasi melalui telepon. ►eti/ht-tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|