| PERSPEKTIF |
|
|
 |
Syaykh Dr Abdussalam Panji Gumilang
Keteduhan dalam Rumah Indonesia
Indonesia semestinya dapat menjadi rumah tempat berteduh bagi individu
(bangsa) penghuninya yang majemuk. Penghuni rumah Indonesia yang
pluralistik ini semestinya tampil secara sadar sebagai aktor pembangunan
sikap dan jiwa altruistik (nahniyah). Sekat-sekat budaya, ras dan agama
semestinya tidak menjadi penghambat penghuni rumah Indonesia.
Hal itu dikemukakan Syaykh AS Panji Gumilang dalam Khutbah ‘Ied
al-Adlha 1426 H/2006 M di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Kampus Al-Zaytun,
pada tarikh 10 Dzu al-Hijjah 1426 H (10 Januari 2006 M) bertajuk
“Membangun Kebersamaan Demi Terwujudnya Kehidupan Sejahtera dalam Negara
Indonesia Merdeka.”
Menurut tokoh pembawa dan penebar toleransi dan damai itu, rumah
Indonesia akan dapat berfungsi peneduh secara hakiki, jika individu
maupun kelompok penghuninya tidak egoistik (ananiyah). Maka Syaykh
mengingatkan, sikap dan jiwa egoistik yang merasuk ke dalam aspek
berbangsa dan bernegara dapat menimbulkan kesengsaraan-kesengsaraan.
Selengkapnya, berikut ini kami sajikan khutbah ‘Ied al-Adlha 1426 H
Syaykh al-Ma’had Dr AS Panji Gumilang tersebut.
2006, Tahun Efisiensi
Hari raya Qurban waktu ini (1426 H) tiba bersamaan dengan datangnya
tahun baru 2006 M. Bulan Dzu al-Hijjah merupakan bulan bungsu bagi tahun
komariyah tiba bersamaan dengan datangnya Januari yang merupakan bulan
sulung bagi tahun syamsiyah. Tahun komariyah adalah tahun yang
perhitungan tanggal harinya berdasar peredaran bulan/komar, sedangkan
tahun syamsiyah berdasar peredaran matahari/syams.
Memaknai ketibaan akhir tahun komariyah di awal tahun syamsiyah ini,
kita sepakat untuk menyambutnya dengan suatu tekad: Bahwa tahun 2006 ini
dan selanjutnya, sebagai Tahun Efisiensi. Yakni pemantapan kemampuan
dalam menjalankan tugas/kerja/usaha secara baik dan tepat dengan tidak
membuang-buang waktu, tenaga, maupun biaya.
Perwujudan dari tekad itu, kita adakan penyempurnaan kembali terhadap
berbagai aspek tatanan sosial kemasyarakatan dalam lingkup mikro kampus
kita (Al-Zaytun) ini. Hal tersebut merupakan sesuatu yang harus ditempuh
sebagai langkah ikmal wa itmam (perfection) terhadap kerja membangun
yang sedang dan terus kita laksanakan di dalamnya.
Maknanya kita menyadari bahwa membangun (pembangunan) itu
bersifat kumulatif, maknanya bahwa membangun (pembangunan) itu harus
mampu berlanjut (berkelanjuntan) makin lama makin besar, makin banyak,
makin baik, makin berkualitas, dan makin bermanfaat bagi setiap ummat
manusia. Dan untuk itu kita mengedepankan efisiensi sebagai kendali
pelaksanaannya.
Membangun dari Masa ke Masa
Bangsa Indonesia semenjak memproklamasikan kemerdekaannya telah
mencanangkan usaha (kerja) membangun negaranya. Sejarah mencatat pada
zaman pemerintahan Presiden Soekarno telah disusun rancangan pembangunan
bagi negara Indonesia, dengan istilah Pola Pembangunan Nasional Semesta
Berencana yang telah ditetapkan oleh MPRS tahun 1960, dimulai tahun 1961
dan akan berakhir pada tahun 1969.
Kemudian, seiring dengan pergantian pemerintahan dari Presiden Soekarno
kepada Presiden Soeharto yang terkenal dengan istilah Orde Baru, telah
disepakati untuk menyusun suatu rancangan pembangunan yang berjangka
sekitar 25 tahun, yang selalu disebut Pembangunan Nasional Jangka
Panjang. MPR menetapkan kurun waktunya antara April 1969 sampai dengan
Maret 1994. Dan, untuk pelaksanaannya ditetapkan tahapan-tahapan lima
tahunan, yang biasa disebut dengan Repelita (Rencana Pembangunan Lima
Tahun).
Dalam kurun waktu 25 tahun terdapat 5 Repelita yaitu
Repelita I tahun 1969 – 1974. Repelita II tahun 1975 – 1979, Repelita
III tahun 1980 – 1984, Repelita IV tahun 1985 – 1989, Repelita V tahun
1990 – 1994. Dari Repelita I – Repelita V terangkai suatu cita-cita
luhur, terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.
Bangsa Indonesia dalam pemerintahan Orde Baru terus mencanangkan
cita-cita pembangunannya sebagai kelanjutan pembangunan jangka panjang
itu dengan istilah tahap tinggal landas, yang tahapannya masuk dalam
Repelita VI tahun 1995 – 1999. Seiring dengan cita-cita luhur yang ingin
dicapai di dalam Repelita VI yakni, bangsa Indonesia benar-benar tinggal
landas untuk berpacu menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur,
tokoh pengendali Repelita dan pemerintahannya berhenti dan mundur dari
arena cita-cita luhur itu baik secara sengaja maupun dipaksa oleh
situasi dan kondisi.
Kita yakin bahwa bangsa ini akan terus membangun diri dan negaranya,
sekalipun dalam kurun waktu belakangan ini jati diri pembangunan dan
tahapan-tahapannya belum terlalu tampak “jelas”. Presiden Soekarno
dengan pemerintahannya menampilkan suatu keberanian yang jelas otokritik
terhadap pemerintahannya sebelum tahun 60-an, dengan jalan keluar
penetapan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana dengan tahapan
yang pasti. Kemudian sejalan dengan pergantian pemerintahan Presiden
Soeharto dengan pemerintahnya meneruskan pembangunan dengan berbagai
koreksi terhadap pembangunan yang dilaksanakan oleh pendahulunya.
Dalam kurun waktu satu windu belakangan ini Indonesia disibukkan oleh
pergantian pemerintahan negaranya, dimana pergantian empat presiden
terjadi dalam tujuh tahun. Sangat boleh jadi kondisi seperti itulah yang
menjadi sebab: “Tidak jelasnya Program Pembangunan yang dianutnya”.
Tidak jelas bukan berarti tidak ada pembangunan di Indonesia era ini.
Namun Indonesia sebagai negara, bangsa, yang intinya adalah rakyat yang
menjunjung tinggi eksistensinya, sangat memerlukan definisi real
terhadap kerja (usaha) membangun Indonesia yang dicintai ini. Sehingga
kesinambungan pembangunan dari masa ke masa tidak terputus hanya karena
ketidakmampuan penanggung jawab pembangunan mendefinisikan kelanjutan
pembangunan Indonesia yang sama-sama kita cintai.
Dalam kesempatan ini, kita tidak ingin menilai keberhasilan pembangunan
Indonesia maupun sebaliknya. Namun sebagai warga bangsa, ingin ikut
memperkaya kemampuan bangsa dalam memaknai pembangunan negaranya dari
masa ke masa, yang memiliki berbagai masalah substansial yang akan kita
bangun dalam pembangunan Indonesia masa kini dan mendatang.
Kebersamaan Merupakan Substansi
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh bangsanya melalui lisan
proklamator yang mewakili bangsa, merupakan titik awal terbentuknya
(terciptanya) masyarakat Indonesia. Yakni keluarga besar bangsa dalam
arti seluas-luasnya, yang terikat oleh suatu fakta sosial yang mereka
tetapkan dan sepakati. Karenanya masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang diciptakan oleh bangsa Indonesia.
Masing-masing individu (dalam pengertian sosial maupun sosiologi)
manusia Indonesia menyatakan: Indonesia Tanah Airku, Kebangsaanku,
Bahasaku. Pengakuan individu ini merupakan modal besar bagi perwujudan
rasa cinta masing-masing manusia Indonesia terhadap negaranya. Cinta
terhadap negara yang telah dimiliki oleh setiap individu manusia
Indonesia itu dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan substansi
pembangunan kebersamaan.
Indonesia yang telah kita proklamirkan kemerdekaannya itu, berupa
masyarakat majemuk, yakni masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok
persatuan yang sering memiliki kebudayaan yang berbeda. Namun karena
kecintaannya terhadap Indonesia sebagai negara, bangsa, dan bahasanya,
terciptalah suatu ikatan: Bersatu di dalam kepelbagaian.
Karenanya Indonesia bagi bangsanya semestinya dapat menjadi rumah tempat
berteduh bagi individu penghuninya yang majemuk itu. Rumah Indonesia
akan dapat berfungsi peneduh secara hakiki, jika individu maupun
kelompok penghuninya tidak egoistik (ananiyah). Namun fungsi peneduh
yang hakiki itu dapat dirasakan dengan seksama jika sikap dan jiwa
altruistik, nahniyah, kebersamaan dalam arti seluas-luasnya dapat
diwujudkan dalam rumah Indonesia ini.
Di dalam rumah Indonesia ada sistem sosial yang merupakan sejumlah
kegiatan atau sejumlah individu yang selalu berinteraksi, untuk selalu
mempertahankan berdiri tegaknya rumah Indonesia dan berbagai
kegiatannya. Sistem sosial itu diciptakan oleh manusia penghuninya,
dipertahankan, bahkan malah diubah dan diganti oleh penghuninya. Sistem
sosial yang diciptakan manusia Indonesia akan mempengaruhi perilaku
Indonesia.
Jika yang tampak dalam perilaku manusia Indonesia adalah sikap dan jiwa
egoistik (ananiyah), maka sesungguhnya pembangunan yang selama ini
dijalankan, dan sistem sosial yang diciptakannya adalah kurang atau
mungkin tidak menyentuh secara hakiki dalam membangun sikap maupun jiwa
altruistik, nahniyah, kekitaan, kebersamaan itu. Sikap dan jiwa egoistik
yang merasuk ke dalam aspek berbangsa dan bernegara dapat menimbulkan
kesengsaraan-kesengsaraan.
Jiwa egoistik, mempercepat hilangnya patriotisme orang perorang.
Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan
segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah air dan negaranya,
sebagai manifestasi semangat cinta tanah air. Sikap dan jiwa egoistik
menghambat tumbuhnya sikap dan jiwa toleransi, dalam rumah besar
Indonesia ini memerlukan jiwa toleransi yang tinggi karena penghuninya
terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki budaya masing-masing yang
semestinya saling berinteraksi dengan penuh toleransi.
Sikap dan jiwa egoistik sulit menemukan rumusan bersama
dalam bentuk definisi real yang dapat diterima, karena real-nya dan
sebaliknya selalu mengarah hanya untuk kelompok tertentu saja. Jiwa
egoistik, sulit untuk menghantar kepada sikap mandiri, selalu bersandar
kepada kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh selain dirinya. Lain halnya
dengan jiwa altruistik, nahniyah dan kekitaan, ianya akan dapat
menghantarkan kepada kebalikan dari egoistik tersebut.
Penghuni Rumah Indonesia
Penghuni rumah Indonesia yang pluralistik ini semestinya tampil secara
sadar sebagai aktor pembangunan sikap dan jiwa altruistik (nahniyah).
Sekat-sekat budaya, ras, dan agama semestinya tidak menjadi penghambat
penghuni rumah Indonesia. Ras, budaya, agama, dan lain-lain yang
dimiliki oleh penghuni rumah Indonesia ini kita miliki untuk memperkaya
subyek dalam melakukan sesuatu di dalam rumah Indonesia ini.
Kita jadikan kekayaan budaya itu untuk meningkatkan
kecerdasan pikiran kita, mempertebal sikap toleransi dalam memiliki dan
menyampaikan kehendak, memperhalus memaknai kebebasan dan kemerdekaan
yang kita miliki, selanjutnya dapat memberikan arti dan makna atas
segala sesuatu yang kita lakukan dan karenanya kita mampu menilai
tindakan dan hasil tindakan kita sendiri. Membangun jiwa kekitaan yang
tumbuh dari keluarga besar rumah Indonesia dengan sadar, akan mengangkat
harkat dan martabat Indonesia kini dan mendatang.
Tumbuhnya kebersamaan dan kekitaan dalam keluarga besar Indonesia akan
mempercepat langkah memperoleh kembali sesuatu yang kita anggap hilang,
tatkala sesuatu yang baik itu menjadi dambaan kita. Kebersamaan
(kekitaan) akan menghantar sikap percaya diri dalam melaksanakan
berbagai pembangunan negara dan bangsa.
Kebersamaan dan kekitaan akan menghantar warga bangsa
penghuni rumah Indonesia ini memperkecil ketergantungannya kepada
bantuan orang lain, karena kekayaan hati nurani kita akan mengatakan
bahwa sebenarnya kita mampu dengan kekayaan kita menafkahi keluarga
besar rumah Indonesia ini tanpa harus memperbesar jumlah hutang yang
ditanggung oleh keluarga besar Indonesia. Kekitaan dan kebersamaan akan
memacu keluarga besar penghuni rumah Indonesia ini menjadi warga yang
cerdas, berkemampuan hidup yang hakiki, yang karenanya dapat memperkecil
bahkan menghapus sikap menyengsarakan sesama ummat manusia.
Tertanamnya kebersamaan dan kekitaan yang kokoh, akan dapat memaknai
sebuah cita-cita dan harapan yang sering dikumandangkan: Indonesia harus
kuat. Dengan kebersamaan dan kekitaan kita dapat menghantarkan cita-cita
itu bukan dengan besarnya jumlah penduduk dan kekayaan yang terkandung
dalam Indonesia namun kita akan sanggup menempuhnya dengan kecerdasan
warga bangsa yang terlatih serta teruji, juga karena kecintaan mereka
terhadap Indonesia yang mendalam semua tertanam di dalam setiap warga
bangsa sebagai sikap dan perbuatan. Ide besar:
Indonesia
Harus Kuat, mesti dipahami secara real, dimengerti secara bersama dan
dilaksanakan secara bersama pula. Tidak ada satu kekuatan apapun yang
dapat menghalangi cita-cita ini jika sikap dan jiwa altruistik, nahniyah
dan kekitaan telah menghujam sebagai darah daging bangsa Indonesia,
selanjutnya egoistik (ananiyah) kita kubur dalam-dalam.
Kiranya, inilah yang dapat kita maknai dari Ied al-Qurban tahun ini
sebagai penanaman cita-cita dan sikap kebersamaan, untuk menghantarkan
Indonesia menjadi kuat. Indonesia harus Kuat. ►ti ►Versi
Word Document
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |