A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
 
 
  C © updated 10012006  
   
  ► e-ti/ms  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Jabatan:
Syaykh al-Ma'had Al-Zaytun
 
 
     
 
PERSPEKTIF

 

Syaykh Dr Abdussalam Panji Gumilang

Keteduhan dalam Rumah Indonesia


Indonesia semestinya dapat menjadi rumah tempat berteduh bagi individu (bangsa) penghuninya yang majemuk. Penghuni rumah Indonesia yang pluralistik ini semestinya tampil secara sadar sebagai aktor pembangunan sikap dan jiwa altruistik (nahniyah). Sekat-sekat budaya, ras dan agama semestinya tidak menjadi penghambat penghuni rumah Indonesia.
 

Hal itu dikemukakan Syaykh AS Panji Gumilang dalam Khutbah ‘Ied al-Adlha 1426 H/2006 M di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Kampus Al-Zaytun, pada tarikh 10 Dzu al-Hijjah 1426 H (10 Januari 2006 M) bertajuk “Membangun Kebersamaan Demi Terwujudnya Kehidupan Sejahtera dalam Negara Indonesia Merdeka.”


Menurut tokoh pembawa dan penebar toleransi dan damai itu, rumah Indonesia akan dapat berfungsi peneduh secara hakiki, jika individu maupun kelompok penghuninya tidak egoistik (ananiyah). Maka Syaykh mengingatkan, sikap dan jiwa egoistik yang merasuk ke dalam aspek berbangsa dan bernegara dapat menimbulkan kesengsaraan-kesengsaraan.
Selengkapnya, berikut ini kami sajikan khutbah ‘Ied al-Adlha 1426 H Syaykh al-Ma’had Dr AS Panji Gumilang tersebut.

2006, Tahun Efisiensi
Hari raya Qurban waktu ini (1426 H) tiba bersamaan dengan datangnya tahun baru 2006 M. Bulan Dzu al-Hijjah merupakan bulan bungsu bagi tahun komariyah tiba bersamaan dengan datangnya Januari yang merupakan bulan sulung bagi tahun syamsiyah. Tahun komariyah adalah tahun yang perhitungan tanggal harinya berdasar peredaran bulan/komar, sedangkan tahun syamsiyah berdasar peredaran matahari/syams.


Memaknai ketibaan akhir tahun komariyah di awal tahun syamsiyah ini, kita sepakat untuk menyambutnya dengan suatu tekad: Bahwa tahun 2006 ini dan selanjutnya, sebagai Tahun Efisiensi. Yakni pemantapan kemampuan dalam menjalankan tugas/kerja/usaha secara baik dan tepat dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, maupun biaya.


Perwujudan dari tekad itu, kita adakan penyempurnaan kembali terhadap berbagai aspek tatanan sosial kemasyarakatan dalam lingkup mikro kampus kita (Al-Zaytun) ini. Hal tersebut merupakan sesuatu yang harus ditempuh sebagai langkah ikmal wa itmam (perfection) terhadap kerja membangun yang sedang dan terus kita laksanakan di dalamnya.

 

Maknanya kita menyadari bahwa membangun (pembangunan) itu bersifat kumulatif, maknanya bahwa membangun (pembangunan) itu harus mampu berlanjut (berkelanjuntan) makin lama makin besar, makin banyak, makin baik, makin berkualitas, dan makin bermanfaat bagi setiap ummat manusia. Dan untuk itu kita mengedepankan efisiensi sebagai kendali pelaksanaannya.

Membangun dari Masa ke Masa
Bangsa Indonesia semenjak memproklamasikan kemerdekaannya telah mencanangkan usaha (kerja) membangun negaranya. Sejarah mencatat pada zaman pemerintahan Presiden Soekarno telah disusun rancangan pembangunan bagi negara Indonesia, dengan istilah Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana yang telah ditetapkan oleh MPRS tahun 1960, dimulai tahun 1961 dan akan berakhir pada tahun 1969.


Kemudian, seiring dengan pergantian pemerintahan dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto yang terkenal dengan istilah Orde Baru, telah disepakati untuk menyusun suatu rancangan pembangunan yang berjangka sekitar 25 tahun, yang selalu disebut Pembangunan Nasional Jangka Panjang. MPR menetapkan kurun waktunya antara April 1969 sampai dengan Maret 1994. Dan, untuk pelaksanaannya ditetapkan tahapan-tahapan lima tahunan, yang biasa disebut dengan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).

 

Dalam kurun waktu 25 tahun terdapat 5 Repelita yaitu Repelita I tahun 1969 – 1974. Repelita II tahun 1975 – 1979, Repelita III tahun 1980 – 1984, Repelita IV tahun 1985 – 1989, Repelita V tahun 1990 – 1994. Dari Repelita I – Repelita V terangkai suatu cita-cita luhur, terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.


Bangsa Indonesia dalam pemerintahan Orde Baru terus mencanangkan cita-cita pembangunannya sebagai kelanjutan pembangunan jangka panjang itu dengan istilah tahap tinggal landas, yang tahapannya masuk dalam Repelita VI tahun 1995 – 1999. Seiring dengan cita-cita luhur yang ingin dicapai di dalam Repelita VI yakni, bangsa Indonesia benar-benar tinggal landas untuk berpacu menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur, tokoh pengendali Repelita dan pemerintahannya berhenti dan mundur dari arena cita-cita luhur itu baik secara sengaja maupun dipaksa oleh situasi dan kondisi.


Kita yakin bahwa bangsa ini akan terus membangun diri dan negaranya, sekalipun dalam kurun waktu belakangan ini jati diri pembangunan dan tahapan-tahapannya belum terlalu tampak “jelas”. Presiden Soekarno dengan pemerintahannya menampilkan suatu keberanian yang jelas otokritik terhadap pemerintahannya sebelum tahun 60-an, dengan jalan keluar penetapan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana dengan tahapan yang pasti. Kemudian sejalan dengan pergantian pemerintahan Presiden Soeharto dengan pemerintahnya meneruskan pembangunan dengan berbagai koreksi terhadap pembangunan yang dilaksanakan oleh pendahulunya.


Dalam kurun waktu satu windu belakangan ini Indonesia disibukkan oleh pergantian pemerintahan negaranya, dimana pergantian empat presiden terjadi dalam tujuh tahun. Sangat boleh jadi kondisi seperti itulah yang menjadi sebab: “Tidak jelasnya Program Pembangunan yang dianutnya”. Tidak jelas bukan berarti tidak ada pembangunan di Indonesia era ini.

 

Namun Indonesia sebagai negara, bangsa, yang intinya adalah rakyat yang menjunjung tinggi eksistensinya, sangat memerlukan definisi real terhadap kerja (usaha) membangun Indonesia yang dicintai ini. Sehingga kesinambungan pembangunan dari masa ke masa tidak terputus hanya karena ketidakmampuan penanggung jawab pembangunan mendefinisikan kelanjutan pembangunan Indonesia yang sama-sama kita cintai.


Dalam kesempatan ini, kita tidak ingin menilai keberhasilan pembangunan Indonesia maupun sebaliknya. Namun sebagai warga bangsa, ingin ikut memperkaya kemampuan bangsa dalam memaknai pembangunan negaranya dari masa ke masa, yang memiliki berbagai masalah substansial yang akan kita bangun dalam pembangunan Indonesia masa kini dan mendatang.

Kebersamaan Merupakan Substansi
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh bangsanya melalui lisan proklamator yang mewakili bangsa, merupakan titik awal terbentuknya (terciptanya) masyarakat Indonesia. Yakni keluarga besar bangsa dalam arti seluas-luasnya, yang terikat oleh suatu fakta sosial yang mereka tetapkan dan sepakati. Karenanya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang diciptakan oleh bangsa Indonesia.


Masing-masing individu (dalam pengertian sosial maupun sosiologi) manusia Indonesia menyatakan: Indonesia Tanah Airku, Kebangsaanku, Bahasaku. Pengakuan individu ini merupakan modal besar bagi perwujudan rasa cinta masing-masing manusia Indonesia terhadap negaranya. Cinta terhadap negara yang telah dimiliki oleh setiap individu manusia Indonesia itu dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan substansi pembangunan kebersamaan.


Indonesia yang telah kita proklamirkan kemerdekaannya itu, berupa masyarakat majemuk, yakni masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok persatuan yang sering memiliki kebudayaan yang berbeda. Namun karena kecintaannya terhadap Indonesia sebagai negara, bangsa, dan bahasanya, terciptalah suatu ikatan: Bersatu di dalam kepelbagaian.


Karenanya Indonesia bagi bangsanya semestinya dapat menjadi rumah tempat berteduh bagi individu penghuninya yang majemuk itu. Rumah Indonesia akan dapat berfungsi peneduh secara hakiki, jika individu maupun kelompok penghuninya tidak egoistik (ananiyah). Namun fungsi peneduh yang hakiki itu dapat dirasakan dengan seksama jika sikap dan jiwa altruistik, nahniyah, kebersamaan dalam arti seluas-luasnya dapat diwujudkan dalam rumah Indonesia ini.


Di dalam rumah Indonesia ada sistem sosial yang merupakan sejumlah kegiatan atau sejumlah individu yang selalu berinteraksi, untuk selalu mempertahankan berdiri tegaknya rumah Indonesia dan berbagai kegiatannya. Sistem sosial itu diciptakan oleh manusia penghuninya, dipertahankan, bahkan malah diubah dan diganti oleh penghuninya. Sistem sosial yang diciptakan manusia Indonesia akan mempengaruhi perilaku Indonesia.


Jika yang tampak dalam perilaku manusia Indonesia adalah sikap dan jiwa egoistik (ananiyah), maka sesungguhnya pembangunan yang selama ini dijalankan, dan sistem sosial yang diciptakannya adalah kurang atau mungkin tidak menyentuh secara hakiki dalam membangun sikap maupun jiwa altruistik, nahniyah, kekitaan, kebersamaan itu. Sikap dan jiwa egoistik yang merasuk ke dalam aspek berbangsa dan bernegara dapat menimbulkan kesengsaraan-kesengsaraan.


Jiwa egoistik, mempercepat hilangnya patriotisme orang perorang. Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah air dan negaranya, sebagai manifestasi semangat cinta tanah air. Sikap dan jiwa egoistik menghambat tumbuhnya sikap dan jiwa toleransi, dalam rumah besar Indonesia ini memerlukan jiwa toleransi yang tinggi karena penghuninya terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki budaya masing-masing yang semestinya saling berinteraksi dengan penuh toleransi.

 

Sikap dan jiwa egoistik sulit menemukan rumusan bersama dalam bentuk definisi real yang dapat diterima, karena real-nya dan sebaliknya selalu mengarah hanya untuk kelompok tertentu saja. Jiwa egoistik, sulit untuk menghantar kepada sikap mandiri, selalu bersandar kepada kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh selain dirinya. Lain halnya dengan jiwa altruistik, nahniyah dan kekitaan, ianya akan dapat menghantarkan kepada kebalikan dari egoistik tersebut.

Penghuni Rumah Indonesia
Penghuni rumah Indonesia yang pluralistik ini semestinya tampil secara sadar sebagai aktor pembangunan sikap dan jiwa altruistik (nahniyah). Sekat-sekat budaya, ras, dan agama semestinya tidak menjadi penghambat penghuni rumah Indonesia. Ras, budaya, agama, dan lain-lain yang dimiliki oleh penghuni rumah Indonesia ini kita miliki untuk memperkaya subyek dalam melakukan sesuatu di dalam rumah Indonesia ini.

 

Kita jadikan kekayaan budaya itu untuk meningkatkan kecerdasan pikiran kita, mempertebal sikap toleransi dalam memiliki dan menyampaikan kehendak, memperhalus memaknai kebebasan dan kemerdekaan yang kita miliki, selanjutnya dapat memberikan arti dan makna atas segala sesuatu yang kita lakukan dan karenanya kita mampu menilai tindakan dan hasil tindakan kita sendiri. Membangun jiwa kekitaan yang tumbuh dari keluarga besar rumah Indonesia dengan sadar, akan mengangkat harkat dan martabat Indonesia kini dan mendatang.


Tumbuhnya kebersamaan dan kekitaan dalam keluarga besar Indonesia akan mempercepat langkah memperoleh kembali sesuatu yang kita anggap hilang, tatkala sesuatu yang baik itu menjadi dambaan kita. Kebersamaan (kekitaan) akan menghantar sikap percaya diri dalam melaksanakan berbagai pembangunan negara dan bangsa.

 

Kebersamaan dan kekitaan akan menghantar warga bangsa penghuni rumah Indonesia ini memperkecil ketergantungannya kepada bantuan orang lain, karena kekayaan hati nurani kita akan mengatakan bahwa sebenarnya kita mampu dengan kekayaan kita menafkahi keluarga besar rumah Indonesia ini tanpa harus memperbesar jumlah hutang yang ditanggung oleh keluarga besar Indonesia. Kekitaan dan kebersamaan akan memacu keluarga besar penghuni rumah Indonesia ini menjadi warga yang cerdas, berkemampuan hidup yang hakiki, yang karenanya dapat memperkecil bahkan menghapus sikap menyengsarakan sesama ummat manusia.


Tertanamnya kebersamaan dan kekitaan yang kokoh, akan dapat memaknai sebuah cita-cita dan harapan yang sering dikumandangkan: Indonesia harus kuat. Dengan kebersamaan dan kekitaan kita dapat menghantarkan cita-cita itu bukan dengan besarnya jumlah penduduk dan kekayaan yang terkandung dalam Indonesia namun kita akan sanggup menempuhnya dengan kecerdasan warga bangsa yang terlatih serta teruji, juga karena kecintaan mereka terhadap Indonesia yang mendalam semua tertanam di dalam setiap warga bangsa sebagai sikap dan perbuatan. Ide besar:

 

Indonesia Harus Kuat, mesti dipahami secara real, dimengerti secara bersama dan dilaksanakan secara bersama pula. Tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat menghalangi cita-cita ini jika sikap dan jiwa altruistik, nahniyah dan kekitaan telah menghujam sebagai darah daging bangsa Indonesia, selanjutnya egoistik (ananiyah) kita kubur dalam-dalam.
Kiranya, inilah yang dapat kita maknai dari Ied al-Qurban tahun ini sebagai penanaman cita-cita dan sikap kebersamaan, untuk menghantarkan Indonesia menjadi kuat. Indonesia harus Kuat. ►ti Versi Word Document

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)