| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 16 ==
►
English Version
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (3)
Pelopor Pendidikan Terpadu (3)
= Visi Kenegaraan
Membangun negara, tak ubahnya dengan menanam pohon jati. Dibutuhkan
kerelaan dan keiklasan yang murni untuk mau bersusah payah, namun dengan
sadar ia tahu hasilnya tidak akan sempat dinikmatinya namun dinikmati oleh
generasi berikutnya.
Berpikir untuk dirinya sendiri, Syaykh yang kini hanya makan jagung, buah,
ikan yang harus direbus serta daging sekali seminggu, ini sebenarnya tidak
menginginkan begitu banyak lagi. Namun berpikir untuk masa depan
anak-anaknya, anak-anak bangsa, baik dalam pengertian sebenarnya maupun
dalam pengertian berbangsa, kini ia masih menanam jati. Harapannya apa
yang ia tanam sekarang akan bisa dinikmati oleh putra-putri bangsa ini.
Melihat permasalahan yang dialami bangsa ini, Syaykh mengatakan,
permasalahan bangsa Indonesia sekarang adalah masyarakat urbannya.
Menurutnya, bangsa ini terdiri dari 57% rural dan 43% urban. Namun
urbannya bangsa ini masih tidak menghormati hukum, masih kurang memahami
HAM, jiwa toleransinya kurang tinggi, cinta damainya makin tidak nampak.
Di negeri ini, orang ramai-ramai meninggalkan pekerjaan yang terpaksa
yaitu bertani. Itu dilakukan bukanlah karena kecerdasannya, tapi karena
memang tidak bisa bergerak lagi. Petani itu sudah laksana terendam lumpur
sebatas leher sehingga ombak sekecil apapun sudah menenggelamkan. Karena
itu bertani pun ditinggalkan, kemudian masuk ke kota. Jadi masyarakat
urban negeri ini belum mengenal nilai dan peradaban urban yang sebenarnya.
Meratakan kualitas penduduk urban dan rural inilah sebenarnya yang harus
ditata. Oleh karena itu, rural development dan urban development perlu
dijembatani oleh pendidikan yang berkualitas. Sehingga antara rural dan
urban sedikit demi sedikit akan mendekat karena sistem dan kualitas
pendidikannya sama.
Perbaikannya, menurutnya, tidak ada jalan lain lagi kecuali melalui
pendidik-an. Pendidikan itu harus diciptakan sebagai gula dan ekonomi
sebagai semutnya. Jangan malah ekonomi yang diciptakan sebagai gula dan
rakyat jadi semutnya. Bila pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai
semut, maka semut (ekonomi) akan mendatangi orang yang terdidik. Karena
semut adalah makhluk yang mengerti kualitas dirinya terhadap gula,
sehingga semut tidak akan terkena sakit gula.
Sekarang, bangsa Indonesia membuat ekonomi sebagai gula dan rakyat jadi
semutnya, sehingga banyak yang kena sakit gula. Sakit gula ekonomi, sakit
gula jiwa. Gulanya kelewatan, akhirnya diamputasi.
Di negeri ini harus diciptakan pendi-dikan berkualitas sebanyak mungkin,
sebab simpanan atau invesment yang paling besar adalah manusia yang su-dah
punya knowledge. Dan knowledge itu dibentuk dari pendidikan.
Mengingat negara ini sebagai negara agragris, maka produk andalannya harus
dibuat dari hasil pertanian. Pertanian yang dikelola oleh manusia yang
terdidik dan tenaga mahir. Karena ke depan, hajat dunia ini lebih dari 50%
adalah produk pertanian, maka negeri ini harus siap dengan itu. Jika
negeri ini tidak siap dengan itu maka dengan sendirinya akan mengimpor.
Dan tatkala mengimpor, republik ini akan dimakan oleh kekuatan yang
sengaja mau menenggelamkannya.
Jadi produk pertanian harus ditingkatkan, tapi tentunya kiblatnya bukan
green revolution. Walaupun kreim revolusi itu mempunyai makna
besar dalam menata, menghilangkan kelaparan, tapi kita jangan berkiblat ke
situ.
Selanjutnya jika bangsa ini nanti sudah terdidik, maka kemudian akan masuk
pada gen revolusi. Masuk pada gen revolusi, bangsa ini akan menggetarkan
dunia melalui kemampuan knowledge tadi. Dan menurut Syaykh, hal itu tidak
lama kalau dipersiapkan. Dengan optimis ia mengatakan bahwa tahun 2020 hal
itu sudah bisa tercapai.
Di samping itu, Syaykh yang suka olahraga murah yakni naik turun masjid,
ini mengatakan bahwa bangsa ini juga harus dekat ke masyarakat desa.
Menata pendidikannya, menata perikehidupannya, untuk didekatkan ke
masyarakat kota. Dengan demikian, tidak ada kecemburuan sosial antara
masyarakat kota dan desa. Dan pelan-pelan desanya menjadi kota, kotanya
seperti masyarakat desa. Akhirnya Indonesia yang sangat luas ini menjadi
berekosistem.
Untuk merubah semua ini, tidak perlu menunggu orang lain, tapi bisa
dimulai dari diri masing-masing. Sebab negara ini adalah milik rakyat,
jadi tatkala rakyat sudah cerdas, dengan sendirinya negara ini juga pasti
cerdas.
Melihat bangsa ini yang sepertinya kurang inovatif sehingga menjadi
pembeli sampai sekarang, menurutnya, hal itu terjadi karena diawali dari
pendidikan yang tidak menanamkan rasa entrepreneurship yang tinggi,
sehingga penyelenggara pendidikan dan peserta didiknya bercita-cita untuk
menjadi pegawai bukan bercita-cita untuk mempunyai pegawai
sebanyak-banyaknya.
Dikatakannya, kalau menjadi petani seharusnya seperti petani Amerika yang
jumlahnya cuma 3 juta atau hanya 7,2% dari jumlah penduduk usia kerja,
tapi mampu memberi makan 1,3 milyar manusia di dunia atau satu petani
mampu memberi makan 400 orang. Hal tersebut bisa terwujud karena satu
petani menghasilkan 74 ton biji-bijian untuk dimakan manusia.
Ia kemudian membandingkannya dengan petani Indonesia yang jumlahnya 42,5%
dari tenaga kerja yang jumlahnya 40 juta lebih sekarang ini. Maka seorang
petani Indonesia cuma bisa menghasilkan 1,48 ton. Jadi 1 berbanding 50.
Padahal pengalaman berbangsanya sama, dimana Amerika dulunya menggali
tanah dengan kuda, sedangkan Indonesia di sini dengan kerbau. Namun karena
dibekali ‘knowledge’ maka Amerika menjadi ‘knowledge worker’.
Pengalaman adalah guru yang paling baik, kata-kata bijak itu masih melekat
dalam hati Syaykh. Tatkala melihat perkembangan bangsa ini, ia
menyimpulkan bahwa bangsa ini sepertinya tidak pernah mau belajar dari
pengalaman masa lalu. Padahal sekedar membandingkan, ia melihat
bangsa-bangsa yang mau belajar dari pengalaman seperti Amerika dan Jepang,
sekarang sudah luar biasa. Seperti Jepang yang menyerah pada sekutu pada
Perang Dunia II tahun 1945 misalnya, mereka mau belajar dari kekalahan itu,
yakni perlunya penguasaan ilmu pengetahuan. Ketika itu, pertanyaan Sang
Kaisar pada bawahannya bukan berapa banyak tentara yang masih ada, tapi
berapa lagi guru yang tinggal. Kaisar memikirkan pendidikan agar bisa
menyamai Amerika yang mengalahkan mereka.
Di negeri ini, jika pemimpin masih belum sadar mengenai pentingnya
mengutamakan pendidikan, menurut Syaykh rakyat tidak harus menunggu
sama-sama sadar baru berbuat. “Tatkala kapal mau tenggelam, harus ada satu
yang berani tidak tenggelam. Jangan semua mau tenggelam. Kalau semuanya
tenggelam selesailah kapal kita ini. Jangan nunggu rame-rame,” katanya
mengibaratkan.
Syaykh sangat prihatin melihat cara pemikiran bangsa ini. Bukan hanya
pemimpin tapi juga guru sendiri. Seperti yang belakangan ini terjadi di
Kabupaten Kampar. Dimana mau menumbangkan bupati saja, seluruh guru
meliburkan sekolah. Anak disuruh demonstrasi, guru disuruh demonstrasi.
Ini cara berpikiran yang belum sehat.
Padahal seorang guru itu dalam
menghadapi gubernur atau bupati cukup dengan diplomasi guru saja. Guru
yang punya Metodik Didaktik dimana untuk menaklukkan murid yang bodoh saja
bisa pintar, apalagi bupati yang sudah pintar. Jadi menurutnya tidak perlu
meliburkan sekolah sampai berpekan-pekan di luar hari libur sekolah. Itu
sudah kebiasaan yang tidak bisa ditolerir.
Disitulah kelihatan bahwa guru sendiri masih belum mementingkan pendidikan
anak-anak itu sendiri. Guru merusak sistem hanya alasan menjatuhkan bupati,
menurutnya itu bukan area atau domain guru. Domain guru adalah mendidik,
libur sesuai dengan waktu libur yang disepakati, itulah sistem. Guru
melanggar sistem, dunia ini hancur.
Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Ma’had Al-Zaytun, Syaykh
sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya hingga saat ini. Ia makan
dengan menu yang teratur dan sehat serta rutin melakukan olahraga murah,
naik turun masjid. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat
badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg
sekarang ini. ►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|