| |
C © updated 06092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/repro
eksekutif |
|
| |
Nama:
Alfonsus Budi Susanto
Lahir:
Yogyakarta, 5 September 1950
Istri:
Suhartati
Pendidikan:
*SMU De Britto, Yogyakarta lulus 1969
*Kedokteran Universitas Bonn, Jerman
*S2 Kedokteran, Universitas Duesseldorf, Jerman.
*Mendapat Gelar doktor untuk Endrocrinology-Diabetology dari Universitas
Duesseldorf, Jerman
*Diamond Graduation, Gemmological Institute of Idar Oberstein, Jerman (sekolah
ahli permata)
*Program Ekstensi Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, Jakarta
*Master of arts Universitas Indonesia
Karier:
*Research assistant pada Diabetes Research Institute di
Universitas Duesseldorf, Jerman, tahun 1973-1976.
*Medical Docter ditiga tempat; Rumah Sakit Ratingen, Rumah Sakit Marien,
dan Klinik Diabetes Bad Oeyhansen, Jerman
Tahun 1976 - 1978
*Scheering AG Indonesia sebagai direktur medis hingga tahun 1978-1983
*Pendiri sekaligus ketua lembaga The Jakarta Consulting Group (JCG),
Partner in Change dengan moto "Our Goals is to Assist our Clients to
Achieve Theirs". Sejak tahun 1984-sekarang
*Anggota Unicef Indonesia sebagai National Corporate Advisory Council
*Ketua Dewan Pengawas Yayasan Mahatma Gandhi
*Anggota Dewan Pakar Asosiasi Manajer Indonesia
*Pengajar program magister manajemen di berbagai universitas.
Karya:
Sejak tahun 1997- sekarang, AB Susanto telah melahirkan sebanyak
40 buah buku manajemen. |
|
| |
|
|
|
|
| AB SUSANTO HOME |
|
|
 |
AB Susanto
Sukses dalam Tiga Keahlian
Tidak semua orang bisa sukses menguasai tiga bidang keahlian berbeda
dalam waktu bersamaan. Kalaupun ada, pastilah dia sosok yang luar biasa.
Begitupun dengan sosok yang satu ini, Alfonsus Budi Susanto yang akrab
disapa AB Susanto. Pria kelahiran Yogyakarta, 5 September 1950 ini
setidaknya menguasai tiga bidang keahlian sekaligus, ahli kesehatan,
terutama diabetes, ahli manajemen dan ahli permata, khususnya berlian.
Hebatnya, semua keahlian yang dimiliki pria asal Pakuningratan, Yogyakarta
ini didukung oleh latar belakang pendidikan formal yang pernah
ditempuhnya.
Dalammeniti semua kehidupannya itu, pria murah senyum dan ramah ini
melakukannya tanpa beban dan paksaan. Dia juga termasuk pekerja keras
dengan kemauannya yang selalu haus ilmu. Bukan berarti melakukannya
secara buru-buru, dia selalu berakitivitas dengan santai dan mengalir
bagaikan air.
Ketika lulus SMA de Britto tahun 1969 Susanto meninggalkan keluarga
besarnya di Yogyakarta untuk melanjutkan studi di Jerman. Tak
tanggung-tanggung, bidang studi yang dia ambil adalah fakultas
kedokteran, yang barangkali bagi sebagian orang masih dianggap sulit dan
memerlukan biaya yang tidak sedikit. Awalnya, dia memulai belajar di
fakultas kedokteran di Universitas Bonn, lulus dari sana melanjut ke
Universitas Duesseldof hingga akhirnya memperoleh gelar doctor bidang
Endrocrinology-Diabetalogy atau sebagai dokter ahli bidang endrologi dan
penyakit diabetes.
Selama di Jerman, suami dari Suhartati ini pernah bekerja sebagai
medical doctor di dua rumah sakit cukup terkenal di Jerman, rumah sakit
Merien dan rumah sakit Ratingen. Dia pun pernah bekerja pada sebuah
kilinik terkenal, Diabetes Bad Oeyhansen di Jerman. Klinik ini terkenal
sebagai tempat rujukan orang-orang penting dunia untuk berobat, termasuk
Presiden ke 2 dan ke 3 Indonesia, Soeharto dan Habibie, para pangeran
Timur Tengah dan masih banyak lagi orang terkenal lainnya. Dia bekerja
di dua rumah sakit dan satu klinik di Jerman ini mulai tahun 1976 sampai
tahun 1978. Sebelumnya, pria penyuka golf ini pernah bekerja sebagai
research assistant pada Diabetes Research Institute di Universitas
Duesseldorf, tahun 1973 hingga tahun 1976.
Walau di Jerman hidup serba kecukupan, tapi AB Susanto ternyata
merindukan tanah airnya, Indonesia. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang
ke Indonesia. Tak berapa lama kemudian, tepatnya tahun 1978, pria yang
selalu murah senyum dan berpenampilan perlente ini diterima bekerja di
Scheering AG sebagai direktur medis. Disinilah awalnya dia banyak
bersentuhan dengan berbagai hal tentang manajemen, tentu saja ini adalah
sesuatu yang berbeda dengan disiplin ilmu kedokteran yang telah dia
punyai sebelumnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil program
ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Pada disiplin
ilmu yang baru ini, AB Susanto banyak memelajari tentang seluk-beluk
manajemen.
Dengan disiplin ilmu barunya, AB Susanto yang terkenal ulet dan bekerja
keras ini akhirnya dipercaya memberikan konsultasi mengenai pemasaran
perhiasan berlian De Beers di Indonesia. Inilah awalnya, dia dikenal
sebagai seorang ahli manajemen di Indonesia. Namanya terus meroket bak
meteor, yang akhirnya dia seringkali diminta menjadi konsultan di
beberapa perusahaan swasta maupun BUMN. Tahun 1984, AB Susanto
mendirikan The Jakarta Consulting Group (JCG) Partner of Change, lembaga
yang bergerak pada jasa manajemen. Lembaga yang memiliki motto "Our
Goals is to Assist our Clients to Achieve Theirs" ini, AB Susanto
dibantu oleh 35 staff.
Hingga sekarang JCG yang bermarkas di Wisma 46-kota BNI berhasil
menangani beberapa perusahaan besar antara lain, Matahari Department
Store, Accer Computer, De Beers, Telkomsel, dan Gudang Garam. Pria yang
suka memakai kemeja putih yang dipadu frenchcuff dengan manset ini
menyatakan bahwa keberhasilan menjalani lembaga JCG adalah berkat kerja
keras serta dukungan berbagai pihak. Bahkan dia pernah harus bekerja 500
jam per tahun untuk memenuhi 16 proyek kliennya.
Setelah memiliki dua keahlian, sebagai dokter diabetes dan ahli
manajemen, ternyata AB Susanto juga mumpuni dalam hal menilai berlian
dengan disiplin ilmu tersendiri. Untuk hal yang satu ini AB Susanto agak
merendah, bahwa ilmu yang dimilikinya tersebut merupakan ilmu turunan
dari orang tuanya. Katanya, orangtuanya dulu berjualan emas di Malioboro,
Yogyakarta, dari sana AB Susanto banyak tahu tentang menilai berlian
yang bagus atau tidak.
Kendati demikian, AB Susanto juga menjelaskan bahwa ketika masih berada di
Jerman dia sempat belajar di Diamond Graduation di Gemmological
Institute of Idar Oberstein. Di sini lebih banyak tahu tentang disiplin
ilmu yang memelajari tentang seluk-beluk berlian. Kemampuannya sebagai
ahli berlian ini juga diikuti dua putrinya, Yohana dan Patricia, yang
juga meraih sertifikat sebagai gemologist.
Dengan berbagai kesibukannya tersebut tak membuat penggemar novel karya
John Grisham dan Sydney Sheldon terkuras habis. Bahkan sejak tahun 1997
hingga sekarang, AB Susanto masih produktif melahirkan buku-buku
manajemen, tak kurang 40 buku manajemen telah dia tulis.
Kendati begitu, dia pun mempunyai berbagai aktivitas lain seperti menjadi
anggota Unicef Indonesia, Anggota National Corporate Advisory Council,
Ketua Dewan Pengawas Yayasan Mahatma Gandhi, anggota Dewan Pakar
Asosiasi Manajer Indonesia, dan pengajar program magister manajemen di
berbagai universitas. ►ti/nur azizah, dari berbagai
sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|