ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
OPINI
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
R Kps © updated 230503
 
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Satjipto Rahardjo

Mengangkat Orang-orang Baik


Tulisan ini ingin berbicara tentang usaha kita mendorong bangkit atau tampilnya orang-orang baik negeri ini dalam sektor kehidupan publik. Selama ini kita terlalu banyak menyoroti keburukan institusi kita, seperti keuangan, pengadilan, birokrasi, dan parlemen.

Meski sorotan itu tak dapat dihindari karena "statistik" menunjukkan tampilan yang buruk, tetapi haruskah itu mendominasi potret bangsa secara absolut? Tidak adakah ruang untuk berbicara hal-hal yang baik tentang bangsa ini? Adalah tidak adil bila kita tidak berbicara tentang orang-orang baik di negeri ini.

Sebelum masuk topik bahasan lebih lanjut, ingin dikemukakan mengapa penulis terdorong menghadirkan kehadiran orang-orang baik di negeri ini. Alasan utama adalah kerisauan atas fenomena kekasaran dan kekerasan massa yang kian meningkat akhir-akhir ini. Keadaan itu memunculkan istilah seperti "para preman" dan "premanisme".

Kebangkitan mereka akhir-akhir ini memperburuk potret kualitas bangsa kita. Bila hal itu dibiarkan, dikhawatirkan negeri ini tidak akan mengalami kepulihan atau kebangunan kembali (recovery), tetapi malah kian terperosok lebih dalam. Karena itu, kita ingin mencoba kekuatan penangkal guna menghentikan merebaknya apa yang disebut premanisme. Salah satu usaha itu adalah mendorong bangkitnya orang-orang baik di negeri ini di sektor publik.

Bangkitnya massa
Menghadapi fenomena itu, ingatan kita melayang ke belakang lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Yang dimaksud adalah diterbitkannya buku karya Jose Ortega y Gasset, La Rebelion de las Masas (1930). Tulisan itu rupanya menarik perhatian dunia sehingga istilahnya menjadi milik dunia, sebagaimana diucapkan dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti "the revolt of the masses" (Inggris) dan "de opstand der horden" (Belanda).

Ortega menulis dengan latar belakang Eropa di masa itu. Penulis dan pemikir Spanyol itu mengamati munculnya suatu golongan di masyarakat dalam posisi publik yang menampilkan karakteristik, sifat-sifat, mental, dan kualitas yang berbeda dari golongan yang selama itu tampil dalam jabatan-jabatan publik. Lapisan elite ini dipercaya mengemban jabatan publik karena memiliki atau memenuhi standar kualitas mental yang diunggulkan.

Akan tetapi, karena faktor sosial tertentu di Eropa lalu muncul suatu golongan yang juga beraspirasi untuk menduduki jabatan publik, namun tidak memiliki sikap dan perilaku standar yang diunggulkan selama ini. Justru golongan yang muncul itu menunjukkan kualitas yang berseberangan, seperti kekasaran, mengandalkan fisik, dan memaksakan kehendak. Kaum Nazi, dimasukkan ke dalam golongan yang baru bangkit itu.

Masas ini tidak masuk dalam pembagian sosial tradisional, seperti "kelas atas" atau "kelas bawah", tetapi dalam "kelas manusia". Mereka telah menyusup ke golongan yang mensyaratkan kualifikasi tertentu, seperti golongan intelektual. Kendati memaksa ke dalam golongan intelektual, tetapi oleh Ortega disebut "intelektual semu" karena unqualified, unqualifieable dan dilihat dari mentalnya disqualified. Terjadilah apa yang disebut Ortega suatu hyperdemocracy di mana masas bertindak langsung, mengabaikan aturan serta memaksakan keinginan dengan menggunakan tekanan materiil.

Masas muncul sebagai segolongan manusia barbar (biadab) serta dalam bentuk modern barbarism. Tidak ada standar mutu. Mereka ingin menjadi pemimpin, ingin mengatur masyarakat tanpa memiliki kemampuan untuk itu. Maka menurut Ortega lahirlah Magna Charta of Barbarism (piagam kebiadaban).

Di Indonesia disebut preman
Sambil membaca kembali tulisan Ortega tujuh puluh tahun silam, pelan-pelan muncul dalam benak kita gambar tentang terjadinya fenomena yang hampir sama di negeri itu. Reformasi yang ingin memulihkan kehidupan demokratis telah menjadi kebablasan yang dalam istilah Ortega disebut hyperdemocracy. Demokrasi belum memunculkan golongan rakyat yang memiliki standar kualifikasi mental, tetapi lebih berupa "masa tanpa standar kualifikasi".

Rupanya reformasi sudah menukik terlalu dalam sehingga tidak hanya sampai ke akar rumput, tetapi diibaratkan akuarium. Maka pasir dan kotoran dalam akuarium ikut terobok-obok dan muncul ke permukaan. Akuarium menjadi ke- ruh. Lembaga-lembaga yang seharus- nya terhormat telah diduduki oleh me- reka yang tidak memiliki kualifikasi. Kebangkitan masas, the mass atau horde di Eropa di awal abad ke-20 telah ditandingi oleh munculnya apa yang disebut para preman dan premanisme di Indonesia di abad ke-21.

Menurut catatan, sebetulnya kecenderungan ke arah itu sudah diamati Koentjaraningrat yang beberapa puluh tahun lalu menulis tentang hambatan-hambatan mentalitas dalam pembangunan di Indonesia. Ditulis di situ antara lain mentalitas untuk selalu ingin menerabas dan sikap tidak menghargai mutu. Pengamatan profesor antropologi Indonesia di tahun 70-an itu bisa disejajarkan dengan pengamatan Ortega terhadap masyarakat Eropa di awal abad 20.

Apa yang ditulis Koentjaraningrat 30 tahun lalu itu kini sudah menjadi lebih parah lagi. Hal itu sama berbahaya dan merusaknya seperti korupsi yang ingin diberantas. Malah keadaannya mungkin lebih berbahaya karena kurang mencolok seperti kerugian materiil yang ditimbulkan korupsi. Dengan demikian, masyarakat kurang menyadari bahaya yang ditimbulkannya; apalagi mewaspadainya.

Masih ada orang-orang baik
Meski mungkin jumlah orang-orang baik di negeri ini tidak sedikit, namun umumnya mereka tidak muncul atau tidak bisa muncul. Mereka tidak bisa bermain menurut "kultur preman" sehingga tersisihkan menjadi kelompok pinggiran. Istilah "baik-baik" di sini dipakai untuk menyebut mentalitas dan kualitas yang terpuji. Mereka itu antara lain Baharuddin Lopa, Romo YB Mangunwijaya (alm), dan lain lagi yang masih hidup.

Tetapi, kita salah bila hanya menyebut nama-nama besar yang menonjol karena orang-orang baik juga bisa ditemukan pada lapisan bawah negeri ini. Mereka tidak memiliki nama besar dan tidak menduduki jabatan publik tinggi, karena hanya orang biasa atau pegawai "kecil".

Penelitian para mahasiswa mendukung temuan masih hadirnya "orang-orang biasa yang baik" di negeri ini. Mereka hadir tanpa mencolok yang dalam bahasa Jawa disebut kesampar-kesandung, ada di mana-mana. Dalam kehidupan sehari-hari mereka "terlindas dan terinjak" oleh orang lain tanpa mengetahui bahwa mereka sebenarnya memiliki mentalitas mulia dan terpuji.

Bila keadaan dibiarkan, maka bisa diperkirakan, Indonesia akan menjadi jarahan golongan masas itu. Manusia-manusia Indonesia yang baik-baik kurang memperoleh kesempatan untuk tampil sebagai pemimpin dan pengatur masyarakat. Guna memulihkan keterpurukan negeri dan bangsa kita kini, marilah kita bersatu mengangkat dan memunculkan orang-orang baik dan menolak kehadiran massa yang preman.

Satu-dua usaha telah dilakukan, seperti mensyaratkan bahwa presiden harus seorang sarjana. Tetapi, sebagian menolaknya karena kesarjanaan bukan jaminan, bahwa ia akan menjadi pemimpin yang baik. Hal itu ada benarnya karena kita mempunyai pengalaman tentang adanya pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki gelar kesarjanaan, seperti Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Soedjatmoko.

Meski tidak bergelar formal mereka telah menunjukkan diri sebagai orang berkualitas. Agus Salim dengan penguasaan bahasa-bahasa asing yang prima, Sjahrir dengan karya-karya intelektual seperti Indonesische Overpeinzingen (Renungan Indonesia), begitu pula dengan Soedjatmoko yang sampai mendapat kepercayaan internasional untuk menjadi Rektor Universitas PBB.

Kita amat senang dengan pergumulan untuk memunculkan elite, pemimpin, dan golongan yang benar-benar berkualitas, bagaimanapun caranya untuk mencapai hal itu. Kita berharap tetapi juga percaya, bahwa bila bangsa ini benar-benar bersatu padu serta peduli untuk menolak kehadiran masas, dan kemudian memunculkan orang- orang yang baik, akhirnya negeri ini pelan-pelan akan bangkit kembali.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)Satjipto Rahardjo Sosiolog hukum, Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang, Kompas 23 Mei 2003
 

  

Megawati Sukarnoputri

Mbak Pendiam itu Emas

Diam (tak banyak bicara) itu emas, akhir-nya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati. Kendati, mendapat tekanan dan rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam dan sabar. Buahnya, ia pun berhasil mengga-pai singgasana Presiden RI ke-5. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Tampaknya, ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung Karno ini pun semakin sulit ditebak.

 

 PROFIL

M. Jusuf Kalla

Tokoh Utama Perdamaian Malino

Peng-usaha sukses dan kader Golkar ini justru berkibar dalam era reformasi. Dia memang seorang tokoh yang dinilai ‘ber-sih’ dan dapat diterima semua golongan. Tak heran bila putera kelahiran Watampo-ne, Sulawesi Selatan ini mendapat kesem-patan menjabat menteri. Ia pun menjadi tokoh utama perdamaian Malino. Namanya pun disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat calon presiden 2004.

 

  PROFIL

Nurcholis Madjid

Cendekiawan Muslim Milik Bangsa

Dr. Nur-cholish Madjid (Cak Nur) meru-pakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia cendekiawan muslim milik bangsa. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

 

Prof. Dr. M. Amien Rais

‘King Maker’ Pentas Politik Nasional  

Kiprah Prof. Dr. M. Amien Rais dalam pentas politik nasional cukup fenomenal. Kendati Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya, hanya mendapat tujuh persen suara pada pemilu 1999, ia mampu mewarnai peta politik nasional dan nyaris pula jadi presiden pada SU-MPR 1999. Dan, kini ia menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden 2004. Pada awal bergulirnya reformasi, ia didaulat sebagai Bapak Reformasi dengan pernyataan-pernyataannya yang keras. Di tengah derasnya tuntutan desentralisasi, ia pula yang menggagas agar Indonesia menjadi negara federasi.

 

 

Copyright © 2002-2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero