|
|
 |
Satrio Arismunandar
Megawati dan Media Massa
Kompas 23/01/03: Untuk kesekian kalinya, Presiden Megawati Soekarnoputri,
yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P), mengritik keras pers
Indonesia. Dalam pidato politik di depan massa PDI-P di Jakarta Selatan,
21 Januari 2003, ia menyebut pemberitaan pers Indonesia sebagai njomplang
(berat sebelah), njlimet (rumit) dan ruwet (Kompas, 22/1).
Pemberitaan pers dianggap tidak mendidik bangsa tentang pergantian
kepemimpinan secara konstitusional dan terhormat. Lebih tajam lagi, Mega
mempertanyakan, "Apakah pers kita ini bagian dari bangsa Indonesia?"
Ditambahkan, sejak dulu pihaknya berusaha berkomunikasi dengan pers,
tetapi tidak pernah diterima dengan baik.
Dua minggu sebelumnya, di depan peserta Rakornas Sosialisasi Kebijakan
Komunikasi dan Informasi 2003 di Istana Negara, 8 Januari lalu, Megawati
juga mengeluhkan media yang ia anggap "tidak simpatik" terhadap dirinya.
Katanya, "Begini, media 'kan tidak simpatik kepada saya, jadi saya tidak
tahu pernah masuk atau tidak. Saya pernah bicara bahwa bangsa Indonesia
adalah "bangsa setengah", pada bingung semua. Bingung sendiri-sendiri,
interpretasi sendiri-sendiri, saya ketawa sendiri" (Kompas, 9/1).
Kecaman Megawati ini tampaknya dipicu oleh pemberitaan media, tentang
maraknya aksi demonstrasi di berbagai kota, yang menentang kenaikan
serentak harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL), dan
tarif telepon sejak awal Januari. Aksi-aksi ini mengecam kebijakan
pemerintah, dan bahkan menuntut mundurnya Presiden Megawati dan Wakil
Presiden Hamzah Haz.
Dianggap serangan personal
Kritik Megawati ada benarnya. Harus diakui, media massa di Indonesia
memang belum seluruhnya profesional, dan ada sejumlah media yang dalam
pemberitaannya kurang menaati kode etik jurnalistik. Namun, cara Mega
menggeneralisir seluruh media, terkesan kurang proporsional. Untuk itu,
penulis akan menyampaikan beberapa catatan.
Pertama, terkesan Megawati menganggap pemberitaan media massa yang kritis
-khususnya, yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM,
TDL dan tarif telepon-sebagai serangan personal terhadap dirinya. Hal ini
terlihat dari ucapannya bahwa media tidak simpatik kepada "saya," bukan
kepada "pemerintah" atau "kebijakan pemerintah." Megawati di sini tidak
menempatkan dirinya sebagai seorang pejabat publik.
Sejauh pengamatan penulis, sebagian besar pers Indonesia sebenarnya masih
proporsional dalam mengritik Megawati. Dalam arti, yang dikritik adalah
kebijakan atau sikap Megawati sebagai figur publik, misalnya sebagai
Presiden RI atau Ketua Umum PDI-P. Saya tidak pernah melihat adanya media,
yang secara tidak proporsional mengungkit-ungkit masalah pribadi Megawati.
Dalam kasus kenaikan tarif terakhir, yang dikritik adalah kebijakan
pemerintah, di mana Megawati menjadi kepala pemerintahan. Sedangkan, dalam
kasus pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang dikritik adalah kebijakan
Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P.
Ketika itu, DPP PDI-P tidak mendukung kadernya sendiri, tetapi malah
mendukung Sutiyoso untuk menjadi Gubernur DKI. Padahal, Sutiyoso adalah
tersangka kasus Peristiwa 27 Juli 1996, yang telah memakan korban jiwa
sejumlah pendukung Megawati sendiri. Argumen bahwa lingkungan DKI Jakarta
yang keras membutuhkan tokoh eks-militer untuk memimpinnya, tidak cukup
menjelaskan, mengapa harus mendukung Sutiyoso. Kalau toh harus memilih
eks-militer, masih banyak tokoh eks-militer lain yang lebih berkualitas
dari Sutiyoso, dan tidak terkait Peristiwa 27 Juli.
Sebagaimana berlaku di seluruh dunia, seorang figur publik selalu disorot
dan tidak bisa menikmati privacy seperti layaknya rakyat biasa. Ini adalah
harga yang harus dibayar untuk posisi sebagai figur atau pejabat publik.
Apalagi pejabat publik setingkat Presiden, yang digaji dengan uang rakyat,
dan berkewajiban membela kepentingan rakyatnya.
Dalam hal ini, Megawati tampaknya harus belajar membedakan, kritik
terhadap dirinya sebagai pribadi, dan sebagai figur atau pejabat publik.
Rakyat, melalui media massa, berhak mengontrol perilaku dan sepak terjang
Megawati sebagai pejabat publik.
Kegagalan komunikasi
Catatan kedua, komunikasi politik yang tidak memadai tampaknya telah
menjadi salah satu problem pemerintahan Megawati. Dari caranya menyikapi
reaksi publik tentang ucapan dan tindakannya, penulis ragu, apakah
Megawati benar-benar menyadari problem ini. Ketika rakyat bingung atau
tidak memahami makna ucapan atau tindakannya, Megawati malah cenderung
menyalahkan mereka, karena tidak bisa memahami dirinya.
Tugas seorang pemimpin, selain memberi visi, arahan, memutuskan, dan
menjalankan berbagai kebijakan, adalah mengomunikasikan dan
mensosialisasikan kebijakan itu. Lewat komunikasi atau sosialisasi itu,
publik menjadi lebih paham. Dan, yang lebih penting, mereka merasa
dihargai dan dilibatkan. Sangat boleh jadi, dari situ mereka akan
terdorong untuk mendukung penuh kebijakan si pemimpin bersangkutan.
Hal itu, sayangnya, tidak terlihat dalam beberapa kebijakan penting
Kabinet Gotong Royong. Keputusan Pemerintah untuk memberikan R&D (Release
& Discharge) kepada sejumlah debitor kakap; divestasi saham PT Indosat;
dan terakhir, kenaikan harga BBM, TDL dan, tarif telepon; tidak didahului
tahapan komunikasi dan sosialisasi yang memadai. Yang menonjol justru
nuansa tidak adanya transparansi, sehingga memunculkan berbagai spekulasi.
Tentu saja, mengomunikasikan dan mensosialisasikan kebijakan, bukanlah
tugas Megawati sendiri. Seluruh jajaran kabinet, termasuk Menteri Negara
Komunikasi dan Informasi-reinkarnasi bentuk-baru dari Menteri Penerangan
era Orde Baru-wajib menjalankan peran itu. Tetapi, tidak begitu jelas, apa
saja yang dikerjakan institusi ini, kecuali membahas dan menggolkan RUU
Penyiaran, beberapa waktu lalu.
Diamnya Megawati
Sikap "diam" Megawati, dalam sejumlah kasus, juga tidak membantu posisinya.
Sebaliknya, gaya berkomunikasi ini malah berpotensi menimbulkan
kesalahpahaman publik. Ada perbedaan antara "diam" dan "diam." Diamnya
seorang Megawati-yang beroposisi terhadap penguasa otoriter
Soeharto-tidaklah sama dengan diamnya Megawati sebagai Wakil Presiden
(1999-2000), dan Presiden (2000 - sekarang).
Pada era represif Orde Baru, diamnya Mega bisa dianggap sebagai sebentuk
perlawanan taktis, yang cukup efektif. Ketika media massa dibungkam dengan
ancaman breidel, dan saluran komunikasi didominasi penguasa, maka bicara
menjadi tidak banyak berguna, karena tidak akan sampai kepada publik
seperti apa adanya.
Namun, pemimpin yang bijak tahu, kapan saatnya harus diam, dan kapan harus
bicara. Di era kebebasan pers dan reformasi, di mana berbagai informasi
simpang-siur dan publik tak tahu mana yang harus didengar, seorang
pemimpin nasional harus bicara. Publik membutuhkan arah dan kejelasan,
bahkan dukungan moral di tengah keterhimpitan ekonomi yang berat saat ini.
Namun, jika dalam situasi demikian si pemimpin tetap diam, yang terjadi
adalah kesenjangan informasi dan keterasingan. Publik merasa tidak
dilibatkan, tidak diacuhkan, disia-siakan, atau bahkan dikorbankan.
Mungkin, demikianlah perasaan sebagian massa "arus bawah", yang dulu
mati-matian membela kepemimpinan Mega pada Peristiwa 27 Juli, ketika
melihat dukungan penuh DPP PDI-P pada Sutiyoso.
Kini, saatnya bagi Mega untuk membenahi komunikasi politiknya. Dan, yang
lebih penting lagi, adalah meluruskan substansi kebijakan yang akan
dikomunikasikannya, dalam ucapan maupun tindakan. Ini jauh lebih berguna,
daripada sekadar menyalahkan media massa dan rakyat, yang tidak
memahaminya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Satrio Arismunandar, Pendiri
Yayasan Jurnalis Independen (YJI), mantan Sekjen Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) 1995-97, Kini pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik
Indonesia)
|
|
 |
| BERITA |
 |
Tantang Lawan Politiknya
Jakarta 21/01/
03: Pre-siden Mega-wati Sukar-noputri selaku Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat
Partai Demokrasi Indonesia berbicara. Ia mengajak lawan politiknya secara
jantan bertarung di Pemilu 2004. Tantangan itu disampaikan menanggapi
manuver lawan-lawan politiknya yang hendak menjatuhkannya secara
inkonstitusional.
 |
| PROFIL |
 |
Megawati Sukarnoputri
Diam (tak banyak bicara)
itu emas, akhirnya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati.
Kendati, mendapat tekanan dan rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam
dan sabar. Buahnya, ia pun berhasil mengga-pai singgasana Presiden RI
ke-5. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Tampaknya,
ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung Karno ini pun semakin sulit
ditebak.
Garin Nugroho
Dalam dua seri artikel Kompas, Megawati Opera Sabun I dan II ( Mei 2002 ),
penulis mencoba memprediksi penokohan Megawati di tengah drama politik
Indonesia. Lewat salah satu kajian Cultural Studies yang mulai populer,
mencoba membandingkan drama politik dan citra tokoh politik seperti
layaknya dramaturgi dan penokohan opera sabun.
Garin Nugroho
Di salah satu universitas di Australia terdapat sebuah kartun Megawati
Soekarnoputri dalam sosok pose dan senyum lukisan Monalisa yang sangat
terkenal itu. Kartun Mega Monalisawati tersebut, mencerminkan bagaimana
senyum Megawati di tengah politik sedikit bicaranya, ditafsir seperti
layaknya senyum penuh misteri Monalisa. Senyum misteri Monalisa hingga
kini terus mendapat berbagai kajian dalam berbagai perspektif.
Kartun di Australia tersebut tidak saja menjadi analisa genial, namun
sebuah ruang tafsir yang luas, sekaligus sebuah analisa dari jendela lain
terhadap sosok perempuan yang menjadi Presiden Indonesia ini.
LANJUT
|
|