Pemerintahan SBY
100 Hari Tanpa Perubahan Signifikan
= Presiden Harus Berani Ganti Menteri
Sinar Harapan 28/1/05:
Kinerja tim ekonomi kabinet pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
selama 100 hari belum berhasil. Visi presiden yang besar dan dinyatakan
dalam pernyataan-pernyataan populis belum bisa diterjemahkan oleh
menteri-menteri yang tergabung dalam tim ekonomi.
“Dalam jangka menengah, visi Presiden begitu jelas, yakni melakukan
revitalisasi sektor-sektor perekonomian seperti pertanian, perkebunan,
dan usaha kecil dan mikro, tetapi hal ini oleh para menteri ekonomi
tidak mampu dijabarkan dalam kebijakan praktis dan langsung menyentuh
kepentingan rakyat kecil.” kata Staf Pengajar/Pengamat Ekonomi Sekolah
Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Sunarsip kepada SH di Jakarta, Jumat
(28/1).
Menurut Sunarsip, yang terjadi dalam 100 hari ini bussiness as usual atau
segala sesuatu berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan yang berarti.
Tidak ada terobosan yang signifikan sehingga program kerja terlihat
seperti diawang-awang karena tidak menyentuh pada perbaikan secara riil
di lapangan.
Sinkronisasi antara program kerja dengan praktik-praktik di lapangan,
katanya,
masih terdapat kesenjangan yang lebar, hal ini disebabkan tim ekonomi
sangat lemah dalam menangkap peluang yang ada. Dia mencontohkan jika
pemerintah mampu bersifat proaktif dan menyambut positif tawaran
moratorium yang ditawarkan negara-negara Paris Club, ini akan banyak
membantu keuangan pemerintah.
Pemerintah memang memberikan argumen bahwa setelah 3 bulan dilakukan
assesment, tetapi jika dalam jangka waktu yang telah ditentukan ternyata
tidak memperoleh moratorium utang dalam jumlah signifikan bisa diartikan
sebagai kegagalan tim ekonomi pemerintah.
Selanjutnya, jika nantinya terus terjadi ketidaksinkronan, Presiden harus
mau dan berani merombak anggota kabinet terutama tim ekonomi. Kementerian
yang dinilai sebagian titik lemah dan menjadi beban bagi kinerja kabinet
ini, yaitu Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri
BPN/Kepala Bappenas, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan
Menteri BUMN. “Tiga departemen pertama merupakan titik terlemah dalam
menerjemahkan visi Presiden,” kata Sunarsip.
Menurut dia, Presiden Yudhoyono terpilih menjadi presiden karena
peringkat yang tinggi dan citra yang kuat bahwa ia akan membawa perubahan.
Ia mengkhawatirkan jika presiden tidak bisa mengatasi masalah ini maka
mandat kuat yang diperoleh dari rakyat menjadi sia-sia. Beberapa
penelitian membuktikan tingkat popularitas presiden mengalami penurunan
karena memang belum ada gebrakan nyata dalam 100 hari kerja.
Terjebak
Pengamat ekonomi Sri Adiningsih di Yogyakarta, Jumat (28/1) pagi,
mengatakan, selama 100 hari pemerintahan Presiden Yudhoyono, kinerja dari
tim ekonomi dinilai belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
Pemerintah dianggap terjebak dengan sikap meneruskan kebijakan
pemerintahan sebelumnya tanpa melakukan gebrakan yang berarti. Perijinan
investasi, persoalan perpajakan, dsb, belum berubah.
Demikian pula kapabilitas dari Menteri di Tim Ekonomi dipandang kurang
memadai. Maka, Presiden Yudhoyono perlu menyampaikan kepada masyarakat
agar jangan berharap terlalu tinggi kepada pemerintahannya.
“Memang permasalahan dan situasi juga sulit sehingga Tim Ekonomi tidak
bisa melakukan terobosan. Tetapi di luar itu, sikap pemerintah sendiri
ditambah kapabilitas dari personel di Tim Ekonomi saya nilai hanya mampu
melakukan perubahan yang gradual, tidak sedrastis yang ditunggu oleh
masyarakat,” kata Sri Adiningsih.
Dia mencontohkan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi untuk tahun
2005 sebesar 5,5 persen, menurutnya hanya meningkat 0,5 persen
dibandingkan tahun 2004. Dan itu sama saja dengan kenaikan bertahap
sebesar 0,5 persen yang terjadi tanpa stimulan khusus dari pemerintah.
Sri berpendapat periode 100 hari pertama pemerintahan terbukti tidak
bisa dimanfaatkan secara optimal oleh Tim Ekonomi. Memang ada
Infrastructure Summit, BUMN Summit, pertemuan CGI (Consultative Group on
Indonesia), namun dengan permasalahan ekonomi nasional yang memang
kompleks, APBN yang terbatas, membuat pemerintah sulit menelurkan
kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Ia menunjuk kebijakan perijinan
investasi atau perpajakan yang belum beranjak dari persoalan lalu.
“Mungkin kabinet sekarang perlu dikasih waktu lebih lama, toh mereka
punya masa kerja 5 tahun. Perubahan gradual boleh saja, tetapi yang
penting jangan sampai proses reformasi terhenti,” kata Sri.
Hal senada juga diungkapkan oleh anggota DPR Fraksi PKS Komisi VI
Zukiflimansyah kinerja tim ekonomi dalam 100 hari kurang memuaskan.
“Memang pemerintah sibuk dalam menangani masalah Aceh tapi ini tidak
bisa dijadikan pembenaran untuk menterjemahkan visi presiden.” Katanya.
Ia menilai koordinasi dalam tim ekonomi masih lemah ini terbukti
tiap-tiap departemen masih berjalan dengan pemahaman kerja
sendiri-sendiri.
Di sisi lain anggota DPR Fraksi PAN Didik Rachbini tim ekonomi sangat
lamban dalam menyikapi kondisi riil di masyarakat, hal ini menyebabkan
ketidakpuasan publik terhadap pemerintah. Masalah utama bagaimana
meningkatkan keefektifan kepemimpinan di masing-masing departemen dan
kemampuan memfokuskaskan program-program strategis, sementara presiden
harus mampu membuktikan bahwa apa yang diucapkan dalam janji-janji
kampanye harus dibuktikan secara konkret di masyarakat.
Ia menilai rencana strategis belum jelas sehingga masih mengalami
kebingungan dengan apa yang harus dilakukan. Dalam diskusi dengan DPR dan
anggota kabinet terlihat mereka tidak mempunyai fokus strategi yang jelas.
Menyangkut perombakan kabinet, ia menilai hal itu sebagai langkah
terakhir jika memang tim ekonomi gagal menerapkan kebijakan yang
digariskan Presiden. (swo/rvs)
Penegakan HAM
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai belum menunjukkan
komitmennya dalam upaya penegakan hak asasi manusia selama tiga bulan
memerintah.
Itu terbukti dari belum adanya tindakan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung)
terhadap kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM berat yang diajukan oleh
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) HAM. Selain itu, pola yang
digunakan aparatnya juga cenderung bersifat anarki.
Hal tersebut diungkapkan penggiat HAM dari Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat (Elsam) Amiruddin dan Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda
Nusantara yang dihubungi SH dalam kesempatan terpisah, Kamis (27/1).
Garuda Nusantara menilai pemerintah telah gagal dalam usaha untuk
memperbaiki kinerja aparatnya.
Aparat di lapangan sejauh ini masih cenderung menggunakan kekerasan
terhadap masyarakat sipil. Contoh yang paling mutakhir adalah pemukulan
secara membabi-buta yang dilakukan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI)
terhadap Koordinator Government Watch (Gowa) Farid Faqih di Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD). “Tindakan yang dilakukan aparat tersebut justru akan
membuat masyarakat Aceh sulit untuk bangkit karena dihantui rasa
ketakutan atas kekerasan yang akan terjadi,” katanya.
Dukungan
Garuda mengatakan, selama tiga bulan ini, pemerintah juga belum
menampakkan dukungan terhadap Komnas HAM sebagai lembaga penegakan HAM.
Kasus-kasus HAM yang terjadi sepanjang tahun tidak segera ditindaklanjuti
ke pengadilan, karena lambannya kinerja kejaksaan dalam melakukan
penyidikan.
Tidak adanya makanisme hukum dan perhatian pemerintah Yudhoyono dalam
menjawab persoalan pelanggaran HAM tersebut tentunya akan mengecewakan
dan menimbulkan luka terhadap para korban lebih dalam. “Kita juga sudah
melihat kekerasan yang dilakukan kepada penggiat HAM. Dan upaya
pemerintah untuk memberikan perlindungan juga tidak jelas,” papar Garuda.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Amiruddin. Menurutnya, tidak ada
tindakan nyata dari pemerintahan Yudhoyono dalam 100 hari yang
dikumandangkan. Ini ditandai dengan belum adanya instrumen-instrumen yang
menguatkan perlindungan terhadap HAM yang diratifikasi oleh negara.
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkum dan HAM) juga tidak segera
melakukan amendemen terhadap undang-undang yang membelenggu penegakan
HAM. Selain itu, Undang-Undang (UU) perlindungan saksi dan korban juga
belum dibahas sama sekali.
“Bukan belum berbuat. Kalau belum itu sudah ada yang akan diperbuat
tetapi belum dilakukan. Sedangkan pemerintahan Yudhoyono itu bisa
dikatakan tidak ada yang dipebuat selama 100 hari,” tandas Amiruddin. (ina)
|