Presiden Yudhoyono
Pidato Satu Bulan Pemerintahannya
Jakarta 17/11/2004: Program 100 hari pemerintah bukan dan tidak
untuk menyelesaikan semua masalah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengemukakan hal itu dalam pidato satu bulan pemerintahannya berjudul
Mengenali Masalah, Menetapkan Agenda dan Arah, di Istana Negara, Jakarta,
Rabu 17/11/2004 malam pukul 20.30 WIB.
Yudhoyono dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober 2004. Pidato satu
bulan pemerintahannya dipercepat karena mulai hari Kamis hingga Selasa,
18-23 November 2004, Presiden Yudhoyono beserta rombongan akan berada di
Cile dalam rangka KTT APEC.
Saat kampanye dan setelah dilantik menjadi presiden keenam Indonesia,
menggantikan Megawati Soekarnoputri, Presiden Yudhoyono menjanjikan untuk
membuat sebuah gebrakan dalam 100 hari pertama pemerintahannya.
Menurut Kepala Negara program 100 hari tidak mungkin dapat melaksanakan
semua kegiatan, termasuk untuk mengukur keberhasilan pemerintah sekarang,
yang masih harus bekerja keras dalam lima tahun ke depan.
"Hampir semua pihak berbicara program 100 hari. Media massa, termasuk
tayangan televisi, tidak pernah sepi dari ulasan program 100 hari
pemerintah. Bahkan, sebagian kalangan meletakkan program 100 hari ini
sebagai ukuran keberhasilan pemerintah. Saya tak ingin memperdebatkan
masalah ini. Yang jelas program 100 hari pemerintah bukan dan tidak untuk
menyelesaikan semua masalah. Juga tidak mungkin dapat melaksanakan semua
kegiatan, termasuk untuk mengukur keberhasilan pemerintah sekarang yang
insya Allah masih harus bekerja keras lima tahun ke depan," ujarnya.
Hadir dalam kesempatan pidato sekitar 45 menit itu, Menteri Koordinator
Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi,
dan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra (yang sudah pergi
sebelum pidato selesai).
Sepuluh Agenda
Presiden juga mengemukakan 10 agenda (langkah) yang dilakukan pemerintah
dalam 100 hari, terutama bulan pertama. Sepuluh langkah dalam satu bulan
pertama itu adalah melakukan (1) konsolidasi pemerintahan; (2)
memosisikan dan mempelajari semua masalah; (3) me-review sejumlah
kebijakan; (4) menetapkan arah, agenda, dan prioritas; (5) membuat
rencana pembangunan jangka menengah; (6) membuat kontrak tanggung jawab;
(7) menunjukkan kesungguhan dan determinasi yang tinggi dalam menjalankan
tugas dan terapi kejut; (8) menangani masalah aktual dan mendesak; (9)
menyelesaikan masalah kritis yang belum selesai; serta (10) penyesuaian
sistem dan praktik ketatanegaraan yang telah mengalami banyak perubahan.
Menurut Presiden, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, kecuali tiga
menteri yang sudah terlibat dalam Kabinet Gotong Royong, melakukan
orientasi, adaptasi dan melakukan langkah-langkah awal. "Saya pun juga
harus secara cepat mempelajari kebijakan Presiden Megawati, terutama yang
bersifat mendasar dan aktual," katanya.
Presiden pun menyegarkan dan mengangkat kembali visi dan misi yang
dikemukakannya berulang-ulang dalam Kampanye Pemilu 2004. Hal itu
dianggapnya penting agar ada konsistensi, pemahaman utuh, dan bebas dari
manipulasi.
Yudhoyono menjelaskan secara ringkas serta garis besar agenda lima tahun
dan aksi 100 hari bidang per bidang seperti yang kerap dikemukakannya
dalam beberapa kali kesempatan. Di antaranya, menurut Presiden pemerintah
perlu segera memosisikan dan mempelajari semua isu, mulai bidang politik,
ekonomi, sosial, budaya, hukum, HAM, dan hankam, termasuk komitmen serta
masalah yang belum diselesaikan di waktu yang lalu dan masih berlanjut.
Pemerintah juga mempelajari dan me-review sejumlah kebijakan penting,
seperti kebijakan fiskal, perindustrian dan pertanian, pendidikan dan
kesehatan, langkah pemberantasan korupsi, penyelesaian masalah Aceh,
Papua dan terorisme, pembangunan infrastruktur secara nasional, investasi
dan perdagangan, serta kebijakan luar negeri.
Dalam hal penegakan hukum dan keadilan, Yudhoyono kembali mengemukakan
akan memimpin dan mengambil langkah pemberantasan korupsi, pencegahan dan
penindakan pelanggaran hak asasi manusia berat, pemberantasan
penyelundupan, illegal logging, illegal fishing, penanggulangan kejahatan
narkotika, dan kejahatan jalanan.
"Dalam pemberantasan korupsi, pemerintah telah dan sedang mempelajari
semua aspek dan simpul yang mengakibatkan korupsi terus berlangsung. Awal
Desember, insya Allah, instruksi presiden tentang pemberantasan korupsi
akan dikeluarkan, termasuk mekanisme dan kelembagaannya. Agar efektif,
saya meminta para pemimpin benar-benar memimpin dan memberikan contoh
pemberantasan korupsi," ujar Yudhoyono.
Menurut Presiden, setelah pengenalan masalah dan review kebijakan dinilai
cukup, pemerintah harus segera menetapkan arah, agenda, dan prioritas
pembangunan dan pengelolaan pemerintahan lima tahun mendatang.
Presiden berjanji akan menungkan agenda dan prioritas tersebut dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang harus selesai dalam
jangka waktu tiga bulan. Selain itu, menurut Presiden, agar dalam 100
hari pertama ini yang dilakukan pemerintah juga memiliki arah, konsep,
dan rencana yang benar, pemerintah telah menetapkan Agenda 100 Hari
Pertama Kabinet Indonesia Bersatu.
Dalam 100 hari pemerintahnya, SBY mengemukakan harus menyelesaikan dan
mencari solusi berbagai masalah kritis yang memang belum terselesaikan
sebelumnya, seperti tingginya harga minyak di pasar internasional yang
sangat membebani APBN karena tingginya subsidi, solusi terhadap masalah
Karaha Bodas, review APBN 2005 termasuk penetapan angka defisit anggaran
dan peninjauan asumsi harga minyak.
Dia juga mengungkapkan, agar manajemen pemerintah benar-benar dapat
berlangsung secara efektif, selaku presiden, dia telah menetapkan aturan
main (rules of the game) dan kode etik (code of conduct) bagi seluruh
jajaran pemerintahan, baik di kabinet, tingkat pemerintah pusat, maupun
di tingkat pemerintah daerah. *e-ti
|
|
|
|